
Melihat Lily di hadapan nya, dengan linglung Alion menatanya. Lily saat ini terlihat sangat cantik memakai gaun berwarna peach dengan rambut terurai. Alion tak pernah melihat Lily memakai gaun ini. Mengingat malam ini mereka akan ke mall dan bertemu banyak orang. Alion merasa sedikit tak rela.
"Kenapa memakai gaun?" tanya Alion.
"Bukankah ini cantik," kata Lily.
Lily khusus memakai gaun ini untuk terlihat cantik dihadapan Alion. Lily bahkan membutuhkan waktu berjam jam hanya untuk kemudian memutuskan memakai gaun ini.
"Hmm, cantik. Tapi Lily kita akan naik motor jika kamu lupa," uji Alion lembut.
Mendengarnya Lily tersentak. Dia tak memikirkan masalah itu tadi. Dengan sedih Lily memutuskan untuk berganti pakaian.
"Lalu aku akan berganti saja. Tunggu sebentar, Lio," kata Lily lemah.
"Yah tak masalah lagi pula Alion sudah melihatnya," pikir Lily.
"Tunggu," cegah Alion.
Lily yang menatap Alion, memiringkan kepala bingung. Tetapi, kemudian dia melihat Alion melepas jaketnya dan memakaikan nya di pinggang nya. Jaket Alion cukup panjang saat diikat padanya. Hal itu membuat pahanya yang tadinya separuh terlihat tertutup, tapi meski begitu entah kenapa terasa sangat serasi dipakai Lily.
Setelah memakaikan jaketnya, lengan lembut alion mengusap kepala nya.
Dan mengulurkan tangan ya untuk membantu nya menaiki motor. Dengan senyum Lily menyambut uluran tangan Alion. Setelah naik, tanpa sadar Lily langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Alion seperti sudah terbiasa.
Merasakan pelukan itu Alion tersenyum tipis. Setelah memastikan Lily aman, Alion memutar kunci, mengangkat kakinya dan menjalankan motor, meninggalkan rumah Lily.
****
Mall yang mereka tuju berada di pusat kota. Dan merupakan mall terbesar di kota mereka. Jadi peralatan kemah yang mereka butuhkan pasti ada di sana.
Alion dan Lily berjalan berdampingan menyusuri lantai 2, mencari tempat dijualnya peralatan kemah.
Setelah sampai dan melihat sekeliling Lily berkata pada Alion yang ada disampingnya.
"Lio, apa saja yang harus kita beli, haruskah kita membeli paket ini?" tanya Lily.
Alion melihat arah yang ditunjuk Lily, disana terpajang 2 tenda dan peralatan lainnya satu paket lengkap.
Peralatan itu memiliki dominan warna hitam dengan garis merah muda. Sedangkan, disebelahnya memiliki dominan hitam dengan garis biru.
Alion berfikir jika itu bukanlah pilihan buruk hanya saja mereka tak membutuhkan tenda karena pasti pihak sekolah telah menyiapkan nya.
"Kamu suka paket ini?" tanya Alion.
"Hmm, iya aku ingin yang ini," jawab Lily yakin.
"Hallo, ada yang bisa saya bantu," kata pegawai mall.
"Berapa ini?" tanya Alion singkat.
Pegawai mall yang memang sudah cukup berpengalaman menangani berbagai pelanggan. Mendengar pertanyaan singkat Alion mengangguk mengerti.
Dengan lancar dia menjelaskan harga, kentungan dan keunggulan dari peralatan tenda yang di tunjuk Alion.
Lily di samping Alion pun mendengarkan dengan seksama. Semakin Lily mendengar semakin dia tertarik untuk membelinya. Alion yang mengerti arti tatapan Lily mulai ikut mendengarkan dengan seksama.
Alion sebenarnya juga belum pernah membeli peralatan kemah. Namun, Alion bisa melihat apa yang dikatakan pegawai mall itu benar atau tidak.
Tanpa memotong penjelasan pegawai mall, dengan sabar alion menunggunya selesai berbicara, barulah dia mengutarakan keputusannya.
"Kita akan membeli 2 paket ini, bisakah tanpa tenda?" kata Alion.
Pegawai yang mendengar Perkataan Alion sedikit terkejud. Dia banyak menyimpan kata kata baik untuk membujuk pelanggan agar membeli.
Tapi kedua pasangan ini hanya langsung membeli dengan sekali mendengar penjelasannya. Dengan cepat pegawai itu pun menjawab.
"Tentu, tenda ini hanya dipasang sebagai hiasan saja. Jika menginginkannya maka harus di beli terpisah," jawab pegawai itu.
__ADS_1
"Kalau begitu bungkus," kata Alion.
"Baik tunggu sebentar di kasir kami akan segera membungkusnya," kata pegawai mall ramah.
Dengan segera dia meninggalkan kedua asangan itu. Dan menyiakan paket tenda yang mereka berdua inginkan.
Melihat paket besar itu, Alion hanya meminta pengiriman ke rumah.
Menggandeng tangan Lily, Alion meninggalkan tempat itu. Berniat mencari temlat makan. Mengingat Lily pasti belum makan malam Alion tak ingin gadisnya kelaparan saat bersama nya.
****
Di salah satu tempat makan pinggir jalan, Alion memarkirkan sepeda motornya. Saat Alion bertanya pada Lily apa yang ingin dia makan.
Bukan ke restoran, Lily malah berkata ingin makan di pinggir jalan. Tentu saja meski kaya, Alion juga sudah biasa makan ditempat seperti ini.
Apalagi dulu dia sempat hidup mandiri, saat perusahaan ayahnya dalam masalah. Yang Alion tak sangka adalah Lily juga makan di tempat seperti ini. mengingat keluarga Lily juga keluarga berada.
Lily dalam kehiduan ini sebenarnya baru pertama kali makan di tempat seperti ini. Namun, dikehiduan sebelumnya Lily terbiasa makan di pinggir jalan. Mengingat harganya yang murah dan porsi yang mengenyangkan. Makanan seperti inilah yang paling dibutuhkan mahasiswa sepertinya.
Sudah lama tidak makan seperti ini, apalagi sejak dia sibuk mempersiapkan segala hal setelah terlahir kembali. Dengan semangat Lily mengajak Alion untuk makan disini.
"Apakah kamu begitu senangnya," tanya Alion.
"Hum ya, sudah lama aku tak makan seperti ini," kata Lily semangat.
"Kalau begitu makan, jika masih kurang kita bisa membungkusnya nanti," kata Alion lembut.
Lily yang sedang asik makan hanya mengangguk mengiyakan. Mungkin dia bisa membawa untuk dicoba oleh keluarga nya. Sebetulnya keluarga Lily tak membatasi makanan yang Lily makan. Hanya saja dulu kesehatan Lily kurang baik. Jadi, Lily menghindari makan di luar.
Mereka berdua pun menghabiskan makanan itu dan bersiap untuk pulang. Dan tidak lupa Lily meminta dibungkuskan makanan untuk dibawa pulang.
Menyusuri jalanan kota, langit yang tadinya penuh bintang, terlihat tertutup awan gelap. Udara sedikit kering dengan angin kencang berhembus. Dan benar saja detik berikutnya hujan turun dengan sangat deras.
Alion dan Lily yang tidak mengantisiasi bahwa hujan akan turun pun mulai basah. Melihat hujan didepannya, dan merasakan pelukan Lily yang mengerat. Alion mempercepat laju motornya, untuk mencari tempat berteduh.
Melihat tubuh Lily yang basah, Alion merasa menyesal tak membawa mobil tadi. Dengan cekatan Alion melepas jaket dipinggang Lily, dan memakaikannya padanya agar Lily tak kedinginan.
"Maaf aku membuat mu basah, harus nya aku membawa mobil saat membawamu," kata Alion penuh sesal.
"Itu bukan masalah Lio, aku senang malam ini. Lagi pula hujan itu berkah jadi kita tak boleh mengeluh begitu," kata Lily memberi pengertian.
"Hmm, sehabis ini kau harus segera mandi air hangat agar tak sakit," kata Alion.
"Huh kamu cerewet sekali, Lio. Mana Alion yang dingin dan cuek itu," kata Lily menggoda.
"Sudah bisa menggoda, hmm," tanya Alion tak berdaya.
Lily yang ditanya hanya tertawa senang sudah menang dari alion saat ini. Biasanya Alion yang selalu menggodanya. Sekali sekali dia juga ingin menggoda Alion.
****
Setelah sampai di rumah Lily, Alion tak langsung pulang.
Hal itu karena Lily memaksanya untuk masuk dan mengganti pakaiannya yang basah.
Yah tak berselang lama setelah mereka berteduh, hujan berhenti. Langsung saja mereka bergegas pulang takut akan terlalu malam dan hujan susulan bisa datang kapan saja.
Berjalan memasuki rumah, ayah dan ibu Lily rupanya sedang duduk di ruang keluarga. Melihat kedua anak yang basah, dengan pengertian ibu Lily membuatkan minuman hangat. Dan meminta mereka untuk berganti pakaian kering.
Alion yang memang tak membawa baju ganti pun disuruh ke kamar Zayyan dan meminjam bajunya.
Membuka pintu kamarnya Zayyan merasa terkejud. Melihat Alion yang tiba-tiba ada di depan kamarnya. Apa yang Alion lakukan disini.
"Aku di minta bibi meminjam baju," kata Alion tanpa basa basi.
"Hah, kau gila ya aku sudah mentole-"
__ADS_1
Belum juga kata Zayyan selesai, sang ibu sudang memotongnya terlebih dahulu.
"Apa yang kau lakukan, cepat ambilkan baju untuk nak Alion pakai. Nak Alion bisa masuk angin jika terlalu lama memakai pakaian basah. Kamu berikan lah baju yang baru kamu beli itu pada nak Alion biarkan dia bawa tak perlu mengembalikannya," perintah ibu nya panjang lebar.
Zayyan yang mendengarnya ingin menolak. Baju itu telah lama dia taksir, dan baru sekarang mendapatkan nya karena stok yang sedikit. Dan ibunya ingin dia memberikan ada Alion, dia bahkan belum sempat memakainya.
Tetapi, melihat tatapan peringatan ibunya, Zayyan hanya dengan berat hati meminjamkan pakaiannya.
Belum cukup memberikan baju baru yang beru saja dia beli, sang ibu menyuruhnya meminjamkan kamar mandi untuk Alion berganti. Dan dia sebagai pemilik kamar harus turun untuk membawakan minuman hangat untuknya.
Mengalami ketidak adilan berulang kali Zayyan benar-benar ingin marah sekaligus menangis. Tidak cukup harus sering mengalah pada adiknya sekarang dia juga harus mengalah pada Alion musuhnya itu.
Dengan muka sedih Zayyan mulai mengeluh pada ayahnya.
"Ayah lihatlah ibu dia mulai pilih kasih. Aku baru saja membeli baju itu dan belum memakainya tapi harus ku berikan pada Alion," keluh Zayyan.
"Kau ini itu hanya baju beli saja lagi," kata ayah Zayyan.
"Tapi sulit mencarinya karna stok nya sedikit," kata Zayyan.
"Kau ini pria dewasa masih saja suka mengeluh," tegur ibu Zayyan yang baru datang.
"Tuh lihatlah ayah, ibu tak perduli pada anaknya lagi," keluh Zayyan lagi.
"Kau ini, dasar anak nakal," kata ibu Zayyan kesal.
"Hahahaha... Kalian sudah jangan bertengkar," lerai ayah Zayyan.
Meninggalkan keharmonisan keluarga itu, Lily yang baru saja berganti pakaian hendak turun. Menghentikan langkahnya saat bertemu Alion yang keluar dari kamar Zayyan.
"Lio, sudah berganti pakaian. Ingin turun bersama," tanya Lily.
"Hmm, ayo aku juga akan pamit pulang pada orang tuamu," kata Alion.
"Oh, baiklah," jawab Lily.
Setelah bertukar beberapa kata, mereka berdua pun menuruni tangga, dengan Alion berada di belakang Lily. Mendengar langkah kaki di tangga, ketiga orang yang sedang berbincang tanpa sadar menoleh secara bersamaan.
"Oh, kalian sudah turun," sapa ayah Lily.
"Ya paman bibi, terima kasih sudah meminjamkan pakaian dan juga dibuatkan minuman hangat. Sudah malam, Alion ingin pamit ulang," kata Alion sopan.
"Ya pulanglah sana, kau sudah mendapat baju ku kan," usir Zayyan.
"Zayy," peringat ibu Lily.
"Tidak apa bibi, kak Zay pasti tak bermaksud jahat," kata Alion.
Mendengar hal itu Zayyan benar-benar igin muntah. Dengan kesal dia pergi meninggalkan tempat itu.
"Anak itu benar-benar. Maafkan dia ya nak. Untuk baju nya tak perlu kau kembalikan kamu bisa menyimpannya," kata ibu Lily tak enak.
"Baik, bi," balas Alion.
Melihat pembicaraan yang tak kunjung selesai Lily yang sedari tadi diam pun angkat bicara.
"Sudahlah bu, Alion ingin pulang ini sudah cukup malam. Aku akan mengantarnya kedepan," kata Lily.
Mendengar hal itu orang tua Lily pun sadar dan mengangguk.
"Kalau begitu hati-hati," kata orang tua Lily.
Keluar dari rumah.
Alion yang berada di atas motornya menatap Lily, dan berkata dengan suara rendah.
"Aku pulang, terima kasih untuk malam ini selamat malam," kata Alion.
__ADS_1
"Selamat malam juga, Lio. Hati-hati di jalan," balas Lily.