
Keesokan harinya.
Di pinggir hutan tempat berkemah SMA X.
Mentari pagi mulai bersinar dan menghangatkan di setiap tempat yang disinarinya. Burung-burung mulai berkicau dengan merdunya, seolah saling berlomba siapa yang lebih baik. Para hewan yang mulanya tertidur mulai bergerak meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Sedangkan, bagi para hewan yang aktif di malam haru saat ini adalah waktunya bagi mereka untuk tidur.
Terlihat para siswa sibuk dengan kegiatan di pagi hari nya. kegiatan pagi ini dimulai dengan senam pagi bersama sama. Jangan lupakan sarapan pagi agar mereka bisa semangat untuk memulai hari.
Pagi ini mereka tak perlu memasak karena pihak sekolah sudah menyiapkan nya. Namun, untuk makan siang mereka harus berjuang keras untuk mendapatkannya.
Pagi ini kegiatan yang akan dilaksanakan adalah kunjungan ke desa setempat.
Setiap kelompok ditugaskan untuk membantu sebuah keluarga. Dan di keluarga itulah nantinya mereka bisa menikmati makan siang mereka.
Maka dari itu mereka harus berperilaku baik, agar mereka tidak kelaparan nantinya. Karena makan siang mereka bergantung dari kebaikan keluarga yang mereka bantu.
Tentunya tak mungkin pihak sekolah akan membuat siswanya benar benar kelaparan. Itu hanyalah omong kosong agar mereka semangat membantu nantinya.
Setelah sampai di desa, Lily dan Kelompoknya segera mencari keluarga yang harus mereka bantu. Keluarga yang mereka tuju tinggal di ujung desa.
Keluarga itu adalah keluarga tunggal, seorang nenek yang sudah tua.
Setelah melewati beberapa rumah, sampailah kelompok 7 di rumah yang mereka tuju. Berjalan memasuki halaman, terlihat seorang nenek tua yang sedang menyiakan berbagai peralatan. Dengan sopan bagas sang ketua kelompok menyapa nenek itu.
"Salam nenek, kami siswa yang telah ditugaskan kemari untuk membantu nenek hari ini. Saya Bagas disebelah saya ada Alion, Alvaro, Alvano, Pandu, dan Zidan. Sedangkan, untuk kelompok gadis ada Lily, Selli, Angel, Maura, dan Anggi," kata Bagas ramah.
Semua yang telah diperkenalkan Bagas, masing-masing membungkuk ke arah sang nenek untuk memberi salam.
Dengan senyuman sang nenek mengangguk ramah.
"Hmm baiklah, kalian bisa memanggil nenek dengan Panggilan nenek Lastri seperti orang desa memanggil nenek. Kemari lah, masing-masing ambil lah alat di tanah. Setelah ini kita akan langsung berangkat. Hari ini nenek membutuhkan kalian untuk membantu di ladang," terang nenek Lastri.
Tanpa bertanya apa-apa lagi, mendengar kata sang nenek tanpa basa-basi, mereka masing-masing mengambil alat di tanah.
Melihat semua telah mengambilnya. Sang nenek pun berjalan meninggalkan rumah tak lupa menguncinya. Mengikuti di belakang nya ada kelompok 7 dengan berbagai alat di tangan mereka.
Nenek Lastri memiliki seorang putra dan seorang putri yang telah sukses tinggal di kota. Sang putra merupakan CEO sebuah perusahaan ternama. Dan putrinya adalah seorang perawat di rumah sakit terkenal.
Sebenarnya anaknya sangat lah berbakti dan ingin membawa ibunya ke kota untuk tinggal bersama mereka. Tapi sang ibu menolak, dengan alasan rumah ini memiliki banyak kenangan bersama almarhum suaminya. Tak bisa memaksa ibunya, kedua anaknya hanya dengan rutin mengirimkan barang agar sang ibu tak kesulitan. Dan setiap beberapa bulan mereka akan datang untuk menginap.
Nenek Lastri terkenal baik dan cukup kaya di desa ini. Almarhum suaminya telah meninggalkan banyak ladang untuknya. Hampir sebagian besar ladang adalah milik nenek Lastri. Jadi, tak heran jika semua warga menghormatinya. Karena nenek Lastri lah yang menyewakan ladang agar mereka bisa mencari makan.
****
Desa yang dikunjungi oleh SMA X bernama desa Gading. Dulunya hutan di desa itu memiliki kelompok gajah yang banyak. Namun, karena perburuan orang-orang tak bertanggung jawab. Menjadikan populasi gajah menurun dan hampir hilang. Inilah mengapa nama desa ini adalah desa Gading.
Setelah tim 7 sampai di ladang. Mereka dikejutkan dengan hamparan sawah yang sangat indah. Berbeda dengan hutan tempat mereka berkemah yang hanya memiliki pepohonan hijau. Disini memiliki pemandangan yang sangat menajubkan.
__ADS_1
Langsung saja mereka turun ke ladang saat mendengar arahan dari nenek Lastri.
Sudah pasti mereka sangat kesulitan awalnya namun semakin baik setiap saatnya. Pekerjaan untuk kelompok lainnya pun mirip dengan apa yang mereka lakukan. Karena Hampir setiap rumah adalah seorang petani disini.
Sebenarnya ada beberapa rumah yang bekerja sebagai pemburu juga. Namun, sekolah tak mungkin menugaskan mereka pekerjaan berbahaya seperti itu
"Sudah, anak-anak kemari kita makan dulu. Bersihkan tubuh kalian di sumur sebelah sana,” teriak sang nenek.
Mendengar kata sang nenek satu per satu anggota tim 7 mulai naik, dan membersihkan diri di sumur.
"Haaah-hah ini sangat melelahkan," keluh Agas.
"Kau ini nanti nenek Lastri dengar," tegur Alvaro.
"Biar saja dengar, aku tak perduli," kata Agas kesal.
"Sudahlah jangan terlalu ribut. Lihatlah nenek Lastri sudah menyiapkan makanan enak untuk kita disana. Dia pasti kesulitan menyiapkan makanan sebanyak itu. Jangan terlalu banya mengeluh disini," tegur Bagas.
"Sepertinya kamu benar," kata Agas penuh rasa bersalah.
"Ayo cepat nenek sudah menunggu," kata Bagas lagi.
Alion juga sebenarnya merasa sedikit kelelahan. Dibandingkan berkelahi atau saat dia bekerja di depan komputer. Pekerjaan ini memanglah sangat melelahkan. Alion memperhatikan Lily, bulir keringat menetes di dahinya. Hal ini pasti sangat berat baginya, Alion merasa tak tega.
Alion berjalan menghampiri Lily dengan membawa ember berisi air ditangannya.
Dengan segera Lily Menghampiri Alion dan mengulurkan tangannya. Air yang begitu menyegarkan mengalir di tangan nya, Lily mulai membersihkan bagian tubuhnya yang kotor.
"Terima kasih, Lio,” kata Lily dengan senyum.
Lili sedikit kesulitan mengambil air tadi karena dia tak pernah menimba di sumur. Dia memilih menunggu sebentar dan mempelajari dari teman temannya. Namun, Alion telah lebih dulu datang membantunya.
"Hmm, sama-sama. Pergilah ke tempat nenek Lastri dan istirahat lah disana. Aku akan membersihkan diri dulu," kata Alion.
"Haruskah aku membantumu menuangkan air, Lio?" tanya Lily.
"Tidak perlu, pergilah sana," usir Alion lembut.
Lily yang mendengarnya hanya berdiri patuh. Dia tak membantu Alion, tapi juga tidak pergi dari sana. Lily ingin menunggu Alion.
Alion juga tidak berdaya melihat kekeras kepalaan Lily. Awalnya dia menyuruh karena takut Lily kelelahan berdiri. Namun, dengan keras kepalanya Lily malah menunggunya. Alion merasa hangat di hatinya.
Setelah selesai dengan segera dia menarik Lily pergi meninggalkan sumur. Mereka bergabung dengan teman temannya yang sudah beristirahat di gubuk.
Sudah banyak makanan tertata rapi disana. Melihat semua orang sudah berkumpul, dengan semangat mereka mulai makan.
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi setiap siswa SMA X. Namun, dari sini mereka telah belajar banyal hal. Saat mereka bisa begitu mudahnya bermain, mereka masih sering mengeluh bahkan beberapa kali membantah orang tua mereka. Padahal banyak orang yang bersusah payah hanya untuk mencari makanan.
__ADS_1
Pelajaran hidup bagi mereka bahwa mereka harus lebih bersyukur atas apa yang mereka miliki.
****
Malam harinya.
Mengingat para siswa telah lelah seharian. Tak ada kegiatan apapun malam ini, semua orang bisa beristirahat dengan tenang.
Besok adalah hari terakhir mereka berkemah. Kegiatan terakhir adalah menjelajah dan uji nyali di malam harinya. Lalu ditutup dengan menampilkan bakat di depan api unggun.
Di sebuah tenda, anggota OSIS sedang sibuk melakukan rapat membicarakan kegiatan besok.
"Bagaimana medan untuk jelajah dan uji nyali?" tanya Zayyan.
“Semua nya aman Zay, kamu tenang saja," jawab Bobi.
"Kita harus berhati-hati, tak boleh ada kesalahan. Lakukan tugas kalian dengan baik, aku tak menerima kesalahan apapun. Baiklah, kalian semua bisa istirahat sekarang," perintah Zayyan tegas.
Mengakhiri rapat semua orang bubar kembali ke tendanya masing-masing. Zayyan yang masih harus membereskan beberapa hal pun harus tinggal sendiri.
Setelah selesai, Zayyan berniat kembali ke tendanya. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke tenda OSIS.
"Febi? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Zayyan.
Dia cukup heran kenapa teman adiknya ini ke tenda osis di jam yang cukup larut. Seharusnya setia orang sudah tidur karena kelelahan telah bekerja di siang hari.
Tapi mengingat dia adalah teman adiknya. Zayyan memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu.
"Begini kak Zayyan aku ingin meminta suatu bantuan padamu," kata Febi tenang.
"Baiklah, kamu bisa duduk dulu disana. Dan katakan bantuan apa yang kau butuhkan. Sampai kamu harus kesini selarut ini,” kata Zayyan.
"Bukankah besok ada acara uji nyali. Begini kakak tahu bukan Rena itu penakut, ceroboh dan buta arah. Aku ingin meminta peta agar Rena bisa mempelajarinya lebih dulu,” pinta Febi memelas.
Zayyan tahu perihal Rena, teman Lily yang satu itu memanglah paling ceroboh. Salah-salah dia bisa terpisah dengan kelompoknya dan tersesat.
Zayyan sebenarnya tak keberatan untuk membantu. Lagi pula bagus juga untuk mencegah hal yang tak diinginkan. Tapi entah kenapa Zayyan merasa perasaan yang aneh sejak tadi.
"Baiklah, aku akan memberikannya. Namun, kamu tak boleh memberi tahu orang lain,” putus Zayan.
"Tentu kak, terima kasih. Oh, haruskah aku memberikan juga untuk Lily. Dia berada di kelompok yang berbeda jadi sedikit sulit untuk bicara dengannya hari ini. Namun aku bisa mengusahakannya besok,” kata Febi penuh perhatian.
Mendengar hal itu, Zayyan benar-benar menghilangkan perasaan buruknya tadi. Ini adalah teman-teman adiknya tak mungkin ada hal buruk terjadi.
"Tak perlu, ada Alion yang akan menjaganya disana. Lagipula ada banyak anggota OSIS yang akan berjaga nantinya," tolak Zayyan.
"Kakak benar sekali Alion pasti akan menjaga Lily dengan baik," kata Febi dengan nada ambigu.
__ADS_1
Tanpa Zayyan sadari kata terakhir dari Febi memiliki maksud tersembunyi. Tentu saja itu akan menjadi cerita untuk besok.