Ternyata

Ternyata
bab 35


__ADS_3

Pagi tiba nara sudah bersiap dengan kopernya untuk pergi ke bandara.


Nara pergi sendiri karena keluarga wijaya meminta nara untuk menemani justin di rumah sakit menjalani perawatan di sana.


Keluarga nara akan menyusulnya saat pernikahan tiba 3 hari lagi.


Setelah pesawat jet keluarga wijaya mendarat nara di jemput reza untuk pergi ke rumah sakit.


Tidak ada pembicaraan di perjalanan nara hanya diam. Walau reza mengajaknya untuk mengobrol. Fikiran nara entah kemana nara hanya melihat ke luar jendela mobil.


Saat sampai di depan pintu kamar rawat justin nara masih diam. Reza menarik tangan nara untuk masuk ke dalam kamar.


Terlihat pemuda tampan itu sedang duduk di atas ranjang king size dengan infus masih tertancap di tangannya.


Reza pun meninggalkan nara di ruangan justin membiarkan ruang untuk mereka berbicara berdua.


Nara menghampiri justin di sisi ranjang


"akhirnya kamu datang queen " ucapnya sambil tersenyum


"iya justin " ucap nara datar sambil berdiri mematung di depan justin


"kamu duduk di sebelah aku queen !" ucapnya sambil menepuk tempat kosong d sebelahnya.


Aku pun duduk di sebelahnya dan justin langsung memelukku erat.

__ADS_1


"aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu " ucapnya sambil menangis


"maaf justin, tolong maafkan aku !" ucapku sambil menangis juga


"ngg kamu ngg salah aku yang tak bisa hidup denganmu " sambil melepaskan pelukkannya


"aku harap kamu jangan melakukan hal yang bodoh lagi aku mohon " ucapku memohon


"iya aku berjanji asalkan kamu selalu di sisiku ?" ucapnya sambil mengusap pipiku


Aku pun menganggukkan kepalaku


"aku berjanji " ucapku


"queen aku sangat mencintaimu !" ucapnya sambil mengusap bibirku


Aku pun hanya mengangguk dan memejamkan mataku.


Justin menciumku sekilas, aku pun membuka mata kulihat justin tersenyum padaku.


"queen aku mencintaimu " ucapnya menatapku sambil memberiku sesuatu


"ayo di buka !" titahnya


Aku pun membuka kotak tersebut

__ADS_1


"ini ?" sambil ku angkat kalung berbentuk hati


"itu kalung yang kamu inginkan saat kita menemani kak dian "


" terima kasih justin " meneteskan air mata


"sini aku pakaikan ya ?" sambil mengambil kalung itu di tanganku


Aku membalikkan badanku dan mengangkat rambut panjangku. Justin pun memakaikan kalung itu di leherku.


Ku lihat kalung itu melingkar di leherku. justin tersenyum melihat ku sambil mencium keningku.


"mmm, justin !" panggilku menatapnya


"iya sayang " jawabnya


"apa kamu tahu apa yang terjadi padaku setelah kelulusan ?" tanyaku


"iya aku tahu sayang, tapi aku berjanji akan menjagamu oleh sebab itu aku meminta keluargaku untuk segera menikahkanku denganmu. Aku takut kamu diambil orang lagi karena aku kalah cepat waktu itu !" ucapnya


Aku hanya mengangguk


Setelah, drama selesai dokter masuk memeriksa justin aku pun beranjak dari ranjang bermaksud untuk pindah duduk di sofa.


Seperti biasa posesif justin kambuh. Dia menyuruhku diam di ranjang dan memeluk pinggangku.

__ADS_1


Entah, sihir apa yang dia pakai membuatku mengantuk. Aku pun memejamkan mataku dan menjatuhkan kepala ku ke pundak justin. Mungkin karena rasa lelah hingga rasa kantuk itu sulit aku tahan.


Sebenarnya malam itu aku tidak bisa tidur memikirkan bagaimana sikapku saat bertemu dengan justin. Pagi pun tiba aku masih belum bisa memejamkan mataku. Ditambah perjalanan jauh indo-jerman dan langsung menuju rumah sakit membuatku sangat lelah. Saat justin berbicara kepadaku pun aku mati-matian menahan rasa kantuk itu.


__ADS_2