Ternyata

Ternyata
bab 49


__ADS_3

Malam pun datang membawa cahaya rembulan ke bumi.


Aku turun ke bawah untuk memasak, karena tugas bi asih dan bi minah hanya membereskan rumah dan pakaian kami. Jadi setiap pagi mereka datang dan pulang saat makan siang. Karena, justin tidak suka dengan banyak orang berada di rumahnya.


Aku memasak steak tuna dan asparagus dan untuk penutup aku membuat puding buah. Aku pun memotong asparagus dan memasukkannya ke pan. Saat aku sedang menumisnya tiba-tiba justin datang dan memelukku.


Hangat yang kurasakan dia menciumi leherku. Aku hanya tersenyum padanya sambil tanga ku masih sibuk dengan masakkanku.


"sayang maaf,," ucapnya sambil menciumi pundakku


"untuk apa ?" tanyaku sambil menaruh masakkanku ke dalam piring


"ini ...!" ucapnya sambil menunjuk leherku


"kenapa ? " tanyaku bingung sambil aku meraba leherku.


Aku pun lari ke ruang tamu dan bercemin di sana. Karena cermin di sana lebih dekat dari pada cermin di kamar ku yang ada di atas.

__ADS_1


Aku melotot melihat banyak sekali kissmark di sana.


Justin memelukku dan mengusap pucuk kepalaku sambil mencium pundakku.


"maaf ya sayang !" ucapnya lagi


Aku hanya menghembuskan nafas kasarku. Dan kembali ke dapur membawa makanan ke meja makan dengan justin mengekoriku dari belakang.


Dia pun meminta aku menyuapinya dan makan bekas gigitannya. Setelah menikah justin menjadi lebih manja. Sikapnya yang dingin sekarang telah hilang bila bersamaku. Tapi, tetap saja sifat pemarahnya itu tak bisa dia hilangkan membuatku selalu merasa takut. Oleh sebab itu aku tidak mau membuatnya marah. Karena, pasti aku akan mendapat hukuman darinya seperti tadi sore. Sungguh lelah sekali mengimbangi permainanya yang tidak cepat lelah.


"udah nyuci piringnya ?" tanyaku saat justin duduk di sampingku


"kamu buat itu sayang ?" tanyanya pada makanan di atas meja


"iyah, tadi aku bikin puding dan cake di cafe tadi !" jawabku


"aku beruntung mempunyai istri seperti kamu sayang !" ucapnya menatap mataku

__ADS_1


"aku pun beruntung mempunyai suami seperti kamu !" ucapku menggenggam tangannya


"aku mencintaimu sayang " sambil mengecup bibirku kilas


Kami pun menonton tv sambil memakan dessert di ruang tv. Tetapi kami tidak menonton siaran di dalam televisi itu. Setelah kami sama-sama mendapat email masuk untuk memeriksa document.


Aku sudah mengerjakan pekerjaanku sedangkan justin masih fokus pada pekerjaannya. Aku pun mengambil laptop justin dan membantunya.


Dia tersenyum senang karena aku bisa membantu dirinya. Aku tahu pekerjaannya terbengkalai karena diriku juga oleh sebab itu aku menebusnya dengan ini.


Pekerjaan telah selesai justin menggendongku ke kamar kami. Pekerjaan justin ternyata lebih banyak dari pada yang aku bayangkan. Padahal dulu sewaktu di jerman dia selalu menemaniku ke mana pun aku pergi dan di mansionnya pun dia selalu menemaniku menonton dvd.


Aku tidak tahu dia bekerja keras seperti ini setiap harinya. Karena, aku tidak pernah memperhatikannya. Saat dia tertidur lelap pelukkannku kulihat wajahnya yang lelah.


Aku sungguh menyesal hingga saat ini aku belum bisa mencintainya. Aku hanya berusaha menjadi istri yang baik saja untuknya.


Entah mengapa hatiku masih tersimpan nama tommy

__ADS_1


__ADS_2