Ternyata

Ternyata
bab 43


__ADS_3

Aku terbangun dari mimpi indah dan ku regangkan tanganku. Tetapi, tanganku menyentuh sesuatu yang keras.


Kulihat tanganku ternyata menyentuh kepala justin yang sedang melihatku.


"justin, kamu sudah bangun ?" tanyaku


"iya sayang, mmuuach " jawabnya sambil mencium bibirku


"morning kiss sayang !" tambanya lagi


aku hanya tersenyum padanya dan bangun dari tempat tidurku.


Sebentar, kapan spreinya di ganti dan kenapa di luar sinar mentari baru muncul bukankah kemarin masih malam tanyaku dalam hati


"sayang ayo mandi, hari ini kita pulang ke rumah kita. pelayan sudah menyiapkan segalanya untuk kita pergi !" ucapnya seketika lamunanku buyar


"iya sayang aku mandi " aku pun pergi ke kamar mandi dan justin mengekoriku dari belakang


"kenapa kamu ikut justin ?" tanyaku

__ADS_1


"biar cepet mandinya bareng sayang !" jawabnya


"ngg mau nanti kamu berbuat macem-macem lagi !" tolakku


"nolak keinginan suami dosa loh sayang !" ucapnya berlalu meninggalkanku di depan kamar mandi


Ya sudahlah, pasrah aja batinku.


Selesai mandi aku pun dan justin segera ke ruang pakaian dan memakai baju couple.


"kamu nyiapin ini semua justin ?" tanyaku sambil menunjuk dress yang motifnya sama dengan kemeja justin.


"iya, biar semua orang tahu kamu pasanganku di indo !" jawabnya datar sambil mengusap lembut pucuk rambutku


"iya sayang, keluargamu sudah ada di pesawat jet ku !" sambil mencium keningku


Justin pun menggenggam tanganku dan menariknya menuju mobil yang sudah menunggu kami. Di perjalanan aku bertanya padanya kenapa kita tidak tinggal lebih lama di jerman.


Dia pun berkata jika dirinya ingin segera membawaku untuk melihat dan segera tinggal di rumah yang ia bangun untukku.

__ADS_1


Kulihat keluargaku sudah berada di dalam pesawat menunggu kedatangan diriku.


Kami pun segera berangkat menuju indonesia.


Di dalam pesawat justin selalu merangkul pinggangku. Saat sarapan pun tangannya tidak pernah lepas dari pinggangku membuatku pasrah menahan malu sat kak dian, kak tiara dan juga mama, papa meledekku habis-habisan dengan romantisnya pengantin baru.


Sementara justin hanya memasang wajah datar. Sungguh aku bingung dengannya kenapa di dunia ini ada seorang manusia minim ekspresi seperti dirinya.


Setelah menempuh perjalanan panjang kami pun akhirnya sampai mendarat dengan selamat di indonesia. Kami pun langsung pulang ke rumah kami masing-masing. Sedangkan aku di bawa justin menuju rumah kami.


Sungguh aku terkejut ternyata justin membangun rumah kami dekat dengan rumah orang tuaku. Aku tidak tahu jika justin sudah mempersiapkan segalanya untukku.


Padahal aku sempat marah padanya. Karena, aku ingin tinggal sementara di rumah orang tuaku.


Tapi, justin langsung mebawaku tinggal di rumahya. Ternyata jarak yang dekat membuatku bisa menginap sesuka hatiku ke rumah orang tuaku.


Justin hanya tersenyum melihat kelakuanku yang tadinya cemberut menjadi ceria kembali.


Justin pun berkata telah mendaftarkan ku dan dirinya ke universitas yang ada di bandung untuk melanjutkan s2 kami.

__ADS_1


Karena, aku dan justin lulusan terbaik di jerman membuatku bisa langsung masuk dengan mudahnya ke universitas tersebut. Jadwalnya pun tak sepadat seperti kuliahku di jerman. Kami pun bisa kuliah sambil mengurus perusahaan.


Aku senang karena justin sudah memikirkan semua apa yang aku inginkan. Dia tidak melarangku untuk tidak bekerja atau kuliah tetapi sebaliknya dia selalu mendukungku untuk aku mencapai itu semua.


__ADS_2