
Baru beberapa langkah mereka menginjakkan kakinya di dalam cafe, Nanda menangkap wajah seseorang yang telah lama tidak ia lihat sedang berjalan ke salah satu ruangan private room. Kakinya sontak terpaku di tempat. Tak mampu beranjak walau sejengkal. Apalagi saat wajah itu sempat menoleh ke arah dirinya membuat wajah Nanda pias seketika. Dalam hati Nanda membatin, semoga saja pria itu tidak mengenalinya.
"Nanda, hei, kamu kenapa? Ayo, masuk!" ajak Gathan yang kini telah menggenggam tangannya.
"Ah, i-iya, mas." jawab Nanda terbata membuat Gathan mengerutkan keningnya, heran.
Lalu Gathan membalik badannya menghadap Nanda.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit? Atau luka kamu terasa perih?" tanya Gathan lagi.
"I-iya, mas. Perih banget. Nanda tunggu di dalam aja ya, di tempat Nanda sama anak-anak istirahat dulu. Mas pasti lama nanti meeting-nya. Mending Nanda nungguin di tempat lain biar nggak ganggu mas kerja." kilah Nanda beralasan agar Gathan tidak menaruh curiga padanya.
Gathan menganggukkan kepalanya.
"Kamu istirahat di ruang mama aja. Kebetulan mama udah nungguin kamu."
"Oh, mama Lavina ada di dalam. Emang Nanda boleh masuk, mas?" tanya Nanda polos.
"Astaga, Nda ... kamu itu udah jadi menantu mama jadi kamu bebas mau keluar masuk cafe ini. Apalagi mama emang udah nungguin kamu jadi nggak masalah kamu mau masuk." tukas Gathan menjelaskan. Gathan benar-benar heran dengan pola pikir Nanda yang kelewat ... entahlah, Gathan sendiri bingung. Tapi satu yang ia pahami dari sifat Nanda, ia tidak mau memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk berbuat seenaknya. Padahal dengan status yang ia miliki, ia bisa melakukan apa saja apalagi mamanya benar-benar menyayanginya. Ia yakin, apapun yang Nanda pinta, akan Lavina berikan.
Nanda melirik lagi ke arah belakang Gathan, Nanda pun bernafas lega saat seseorang itu sudah tidak berada di tempatnya. Ia yakin, orang itu sudah tidak mengingatnya lagi sebab ia sudah pergi selama belasan tahun yang lalu. Apalagi kehadirannya tidak pernah diharapkan orang itu, sudah pasti orang itu telah melupakannya dan tak ingin mengingatnya lagi.
"Kalo gitu, Nanda masuk ke ruangan mama dulu ya, mas!" ujar Nanda seraya tersenyum tipis.
"Mau diantar?" tawar Gathan membuat Nanda makin menunduk malu apalagi ada beberapa rekan kerjanya dulu yang menatapnya dari jauh.
"Ng-nggak usah, mas. Nanda bisa sendiri kok. Mas buruan gih, pasti tamunya udah pada nungguin." usir Nanda halus.
"Ya udah, kamu ke dalam ya! Mas meeting dulu. Kalau udah, nanti mas susul ke ruangan mama." tukasnya yang diangguki oleh Nanda.
__ADS_1
Lalu Gathan pun segera berlalu menuju riang privat room yang tadi dimasuki oleh seseorang yang Nanda kenali.
'Apa mas Gathan kenal sama papa Doni? Semoga papa Doni nggak ngenalin aku.' gumam Nanda dalam hati. Bukan kenapa ia berharap Doni tidak mengenalnya, sebab ia sangat tau kalau Doni begitu membencinya. Ia takut bila Doni tau kalau Gathan adalah suami dirinya, maka Doni akan memutuskan kerja sama yang akan mereka jalin.
"Cie ... yang udah jadi menantu Bu bos, makin cantik aja." goda Mila saat melihat Nanda hendak berjalan menuju ruangan Lavina.
"Ssst ... udah ih, nggak enak didengar yang lain." tukas Nanda berbisik.
"Emang kenapa nggak enak? Orang lain pasti pada pamer kalau berhasil jadi menantu orang kaya apalagi punya suami setampan anak Bu bos, lah kamu kok malah nggak enak. Aneh banget kamu itu, Nda." tukas Mila tak habis pikir.
"Iya kamu ini, Nda. Kamu nyadar nggak, kamu itu Cinderella versi nyata jadi harus bangga dan bahagia." imbuh Ayu yang baru saja muncul.
'Iya kalau aku istri satu-satunya, mungkin aku akan merasa jadi wanita paling bahagia di dunia, tapi nyatanya, ternyata aku kedua. Kalau orang-orang tau, pasti mereka mengira aku ini seorang pelakor.' Nanda membatin.
"Hei, ngapain kalian di sini?" tanya Alfi yang baru muncul. "Eh ada Nanda. Rupanya kamu di sini. Udah ditungguin Bu Lavina tuh. Buruan ke ruangannya sana." ucap Alfi seraya menunjuk ke arah ruangan Lavina.
Nanda pun segera pamit dengan teman-temannya dan masuk ke ruangan Lavina.
"Tuan, wakil Presdir TJ Group sudah tiba." ucap asisten pribadi direktur utama KSM Group, Doni Kusuma.
Doni tersentak dari lamunannya lalu ia berdiri untuk menyambut wakil direktur TJ Group itu yang tidak lain adalah Gathan Adriano Tjokroaminoto.
"Ah, selamat datang tuan! Ayo, silahkan duduk!" Doni mempersilahkan Gathan untuk duduk di kursinya setelah mereka bersalaman terlebih dahulu.
"Terima kasih, tuan. Maaf, saya sedikit terlambat." ujar Gathan meminta pengertian.
"Tidak masalah, tuan. Saya juga belum lama tiba." ujar Doni seraya tersenyum hangat. Lalu mata Doni sibuk memandang ke arah pintu masuk.
"Apa ada yang Anda tunggu, tuan?" tanya Doni penasaran membuat Doni tersentak.
__ADS_1
"Ah, tidak. Tapi kalau saya tidak salah lihat, Anda tadi bersama sekretaris Anda. Mengapa ia tidak kunjung masuk juga?" Gathan mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Doni.u
'Sekretaris?'
Melihat tuannya yang sepertinya belum sadar siapa yang dimaksud, Tio sang asisten pribadi Gathan pun turut berbicara.
"Tuan, mungkin yang dimaksud tuan Doni adalah itu nona muda." tukas Tio memberitahukan.
Lalu Gathan terkekeh kecil, "Oh, itu. Dia istri saya tuan, bukan sekretaris. Dia langsung menemui mama saya di ruangannya. Anda pasti sudah tau bukan kalau cafe ini milik mama saya." ujar Gathan memberitahukan.
Doni terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh, saya pikir sekretaris Anda. Karena itu, saya bingung, mengapa ia tak kunjung masuk. " sahut Doni sumringah.
Saat sedang terkekeh, Gathan tidak memalingkan wajahnya dari Doni. Ia heran mengapa ia merasa begitu familiar dengan wajah Doni, seperti pernah melihatnya sebelumnya. Tapi ia yakin, ini kali pertama pertemuan mereka.
Sedangkan Doni, pikirannya berkecamuk, mengapa wajah itu begitu familiar di matanya. Seakan dia adalah sosok yang telah lama tidak dilihatnya. Bukan hanya itu, dadanya tiba-tiba sesak saat melihat sorot mata itu. Sorot penuh muka dan kesedihan. Tapi ia benar-benar tidak ingat, siapa sosok gadis itu. Atau ia mirip seseorang yang berasal dari masa lalunya.
Sementara itu, di ruangan Lavina, Lavina menyambut Nanda dengan senyum mengembang. Tapi senyum sumringahnya tiba-tiba surut saat melihat kaki Nanda yang terkena luka bakar. Nanda sudah menjelaskannya, tapi Lavina tidak percaya begitu saja. Entah mengapa, ia justru curiga pada Freya.
"Besok mama jemput ke rumah, ya! Mama akan mengajak kamu ke dokter kulit kenalan mama. Luka bakar kamu itu, bukan hanya butuh diobati, tapi juga perlu penanganan tepat supaya bekasnya bisa benar-benar hilang. " tukas Lavina yang tidak ingin tubuh menantu kesayangannya memiliki bekas luka yang akan mengurangi kecantikannya.
"Apa itu perlu, ma? Mama tidak perlu khawatir, bekas luka ini pasti akan hilang kok." Nanda mencoba menenangkan Lavina.
"Iya, kalau bisa. Kalau tidak. Menurut kata mama, okay. Ini untuk kebaikan kamu, sayang. Mama ingin anak perempuan mama ini selalu terlihat cantik." ujar Lavina membuat Nanda tersenyum haru karena begitu disayangi Lavina. Bahkan Lavina menganggapnya seperti putrinya sendiri.
"Baik, ma. Nanda akan menurut saja apapun yang menurut mama baik. Nanda yakin, apapun itu, semua terbaik untuk Nanda." tukas Nanda dengan senyum lebarnya.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...