
Saat sedang asik berbincang dengan kerabat Nanda, tiba-tiba ponsel Gathan berbunyi nyaring. Lantas ia pun permisi untuk mengangkat panggilan itu.
"Bos, sesuai instruksi bos, saya sudah menginterogasi Tio dan menanyakan keberadaan Freya dan ayahnya. Awalnya dia bilang nggak tau kemana perginya Freya. Dia juga terkejut Freya telah mencelakai istri bos. Terus dia ingat alamat rumah mendiang orang tuanya dulu. Jadi dia kasi alamat itu. Terus saya sudah suruh orang pergi kesana untuk mencari tahu dan sesuai dugaan, mereka memang ada di sana. Sepertinya mereka sengaja tidak membawa kendaraan agar keberadaan mereka tidak diketahui. Mereka juga mematikan semua alat komunikasi karena itu keberadaan mereka sulit dilacak." jelas Erwin di sambungan telepon.
Gathan menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Kerja bagus." ujar Gathan menyeringai. "Jemput aku di rumah sakit sekarang. Kita akan segera berangkat ke sana dan memberi mereka kejutan."imbuhnya lagi.
"Siap bos. Laksanakan!" sahut Erwin penuh semangat.
Setelah panggilan ditutup, Gathan pun segera pamit kepada semua orang yang ada di sana. Ia juga menitipkan Nanda sebentar selama ia pergi. Ia tidak mau Nanda ditinggal sendirian. Ia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan selama ia pergi.
Saat Gathan sedang melintasi koridor rumah sakit dengan langkah panjang, ia berpapasan dengan Doni yang baru saja datang.
"Than, kamu mau kemana?" tanya Doni penasaran saat melihat Gathan berjalan dengan tergesa.
"Kami sudah mengetahui keberadaan penipu dan orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Nanda, pa. Jadi kami akan segera ke sana untuk meringkusnya." ujar Gathan.
"Papa ikut. Papa ingin melihat bagaimana wajah orang-orang kurang ajar itu." ujar Doni yang juga ingin ikut dengan Gathan.
Gathan pun menyetujuinya. Mereka pun segera bergegas ke lobi rumah sakit. Tak lama kemudian, mobil Gathan yang dikemudikan Erwin pun tiba. Mereka pun segera masuk ke dalamnya. Kemudian Erwin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi meninggalkan rumah sakit menuju alamat keberadaan Freya dan Reza. Tak lupa Gathan menelpon polisi agar segera menyusul mereka.
Butuh waktu hampir 3 jam untuk menuju lokasi keberadaan Freya dan Reza. Saat di perjalanan, Erwin telah memastikan terlebih dahulu pada orang suruhannya agar mengawasi gerak-gerik kedua orang itu. Setelah memastikan mereka masih berada di dalam rumah tua itu, Gathan meminta Erwin menabrak pagar rumah tua itu sehingga mengakibatkan kedua orang yang bersembunyi di dalam rumah itu terkejut bukan main.
Brakkk ...
Reza yang sedang menonton televisi dan Freya yang sedang melamun di kamar sontak berdiri dengan mimik wajah kebingungan. Reza dan Freya pun segera berlari menuju pintu rumah untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Mata Reza dan Freya sontak membelalak saat melihat 3 orang pria yang turun dari dalam mobil. Mereka hanya mengenali 2 orang yaitu Gathan dan Erwin, tapi tidak yang satunya. Beberapa menit kemudian, disusul sebuah mobil hitam lalu turun seorang lagi yang sebenarnya merupakan orang suruhan Erwin.
Tubuh Reza sudah menegang sempurna, sedangkan Freya sudah bergetar panas dingin dengan peluh yang mulai bercucuran pelipisnya. Rasanya Freya ingin segera beranjak dari sana dan berlari sejauh mungkin tetapi entah mengapa kakinya seakan dipaku ke bumi, tidak dapat bergerak sama sekali.
__ADS_1
Mata Reza pun jelas terlihat panik. Ia pun segera berlari masuk ke dalam rumah sambil menarik tangan Freya dan segera mengunci pintu dari dalam membuat Gathan tersenyum sinis melihat tingkah kedua orang itu.
"Buka breng-sek! Cepat keluar kalau tidak mau aku berbuat kasar!" teriak Gathan tenang di depan pintu.
Reza dan Freya yang sudah sangat panik bingung hendak bersembunyi dimana. Di belakang memang ada pintu keluar menuju tempat mereka menjemur cucian, tapi di sana tidak ada jalan keluar sebab di belakang tembok itu merupakan rawa. Tidak mungkin mereka memanjat tembok lalu melompat ke rawa-rawa yang tidak mereka ketahui kedalaman dan keamanannya. Bukannya selamat, justru bisa-bisa mereka celaka. Ibarat pepatah, lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya.
Diantara kepanikannya, Reza melihat sebilah pisau yang tergeletak di rak piring. Ia pun mengambil pisau itu dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Pa, buat apa pisau itu? Jangan macam-macam, pa! Yang ada, kita beneran ditangkap polisi." ucap Freya yang sudah panik melihat Reza menyembunyikan pisau dibalik tubuhnya.
"Jangan banyak bicara! Kau pikir mereka kesini untuk apa? Pasti mereka akan membalas semua apa yang telah kita lakukan." bentak Reza yang sudah panik. Jantungnya pun sudah berdetak tidak karuan.
Braakkkk ...
Melihat orang di dalam rumah seperti tidak ada itikad baik untuk meminta maaf atau menyerah diri sama sekali membuat Gathan meminta Erwin mendobrak pintu rumah itu. Rumah itu sudah cukup tua, jadi tidak sulit untuk mendobrak hingga pintunya langsung rusak dan terpelanting ke lantai.
Mereka bertiga pun bergegas masuk. Reza pun akhirnya keluar setelah tau ketiga orang itu sudah masuk ke dalam rumah. Dengan takut-takut, Freya mengikuti langkah Reza dan bersembunyi di balik tubuhnya.
"Maaf nak Gathan, kalian mau apa ke sini? Mengapa kalian masuk sampai mendobrak pintu?" Reza berusaha tenang walaupun tetap tak bisa menutupi kepanikannya.
"Apakah aku tidak boleh mengunjungi calon mantan mertua dan juga calon mantan istriku?" sarkas Gathan dengan menekan kata calon dan mantan sambil berkacak pinggang.
Freya membelalakkan matanya saat mendengar kalimat yang baru saja Gathan ucapkan.
"Mas, aku nggak mau diceraikan!" pekik Freya dari balik tubuh Reza.
"Memangnya setelah apa yang kau lakukan pada Nanda aku masih akan menerimamu sebagai istriku?" desis Gathan murka dengan mata melotot tajam.
"Mas, aku ... aku ... "
"Sudahlah Freya, tidak ada lagi yang mesti aku pertahankan saat ini. Mungkin, kalau kau tidak mencelakai Nanda , aku masih bisa memaafkan segala perbuatan kalian. Tapi kini tidak lagi. Apa yang telah kau lakukan sudah sangat keterlaluan. Kau tau, calon buah hati kami sampai harus pergi selamanya karena ulahmu. Nanda keguguran. Kami kehilangan calon buah hati kami dan itu gara-gara kamu." teriak Gathan dengan mata berapi-api.
__ADS_1
'Apa? Ha-mil? Breng-sek kalian!'
"Tapi aku tidak melakukan apa-apa." kilah Freya yang masih tidak mau mengakui perbuatannya.
"Kau masih mau berkilah, heh? Kau pikir aku tidak tau kau lah yang berusaha menabrak Nanda? Kau pikir kami tidak memiliki bukti untuk menjebloskan kamu ke dalam penjara!"
"Tapi mas ... "
"Dengar ini baik-baik, mulai hari ini, aku talak tiga kamu Freya. Kali ini kita sudah bercerai dan kau ... bukan lagi istriku." tegas Gathan dengan suara meninggi membuat Freya membulatkan matanya.
"Nggak ... nggak ... kamu nggak bisa ceraikan aku gitu aja, mas! Dan kamu ... kamu ... Aaargh ... " Freya berteriak frustasi sambil memegang kepalanya. "Ya , aku yang menabrak Nanda, kenapa hah? Kau mau marah? Hahahah ... Kau jahat mas. Satu tahun aku jadi istrimu tapi kau tak pernah menyentuhku, tapi jal@ng itu, baru beberapa bulan kau menikahinya dan ternyata dia hamil? Kurangku apa mas sebenarnya? Apa? Aku tidak kalah cantik darinya bahkan aku lebih seksi, tapi kau malah bercinta dengannya, tapi tidak dengan ku. Apa lebihnya dia daripada aku? Breng-sek kalian! " teriak Freya. "Bahkan dia hanya anak yatim piatu, tidak memiliki apa-apa, tapi kau malah memilih dia. Dia itu gadis yang nggak jelas siapa orang tuanya. Jangan-jangan ia hanya anak pelacur yang dibuang ibunya di panti asuhan." desisnya sinis.
"Tutup mulutmu! Kaulah yang jal@ng! Anakku masih punya ayah dan aku adalah ayah Nanda." bentak Doni yang tidak terima anaknya dihina.
Freya mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan Doni itu.
"Kenapa ? Kau tak percaya?" sinis Doni membuat Freya bungkam.
"Freya, sudah berkali-kali aku bilang padamu, aku tidak bisa menyentuhmu karena aku tidak mencintaimu. Dan aku hanya akan menyentuhmu saat aku sudah mulai mencintaimu. Aku begitu menghargaimu karena itu aku tak mau sembarangan menyentuhmu. Aku tidak mau menjadikanmu hanya sebagai pemuas napsuku. Dan mengapa aku mau menyentuh Nanda sebab aku mencintainya. Aku bukanlah seperti laki-laki lainnya yang bisa sembarang bercinta dengan wanita lain tanpa rasa cinta sebab itu namanya bukan bercinta tapi having ***. Dan aku tidak mau itu. Aku tidak sebrengsek itu yang memanfaatkan seorang wanita untuk memuaskan napsuku." tegas Gathan membuat Freya terdiam. "Tapi aku bersyukur aku tidak pernah melakukannya padamu sebab rupanya selama ini kalian telah berkonspirasi untuk menipuku. Kalian ... demi harta kalian telah menipuku mentah-mentah, sungguh keterlaluan. Bajing-an kalian berdua!"
"Diam semuanya!" teriak Reza yang sudah muak melihat pertengkaran itu.
Lalu dengan langkah panjang, Reza segera melayangkan pisau di tangannya ke arah Gathan. Namun, Doni yang lebih dahulu melihat pisau itu, langsung menerjang tangan Reza hingga tubuhnya limbung ke samping dan pisau pun terpental ke lantai.
Erwin yang melihat itupun murka dan langsung mencengkram kerah baju Reza dan memukul rahangnya kemudian menerjang perutnya hingga Reza tersungkur ke lantai.
"Papa ... " teriak Freya dengan mata membulat saat melihat Reza sudah terkapar di lantai.
Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil di luar yang diikuti suara hentakan sepatu yang berlarian ke dalam rumah. Ternyata polisi yang dihubungi Gathan tadi telah tiba dan mereka pun segera meringkus Freya dan Reza.
"Lepas!" teriak Freya saat polisi menarik tangannya dan memborgolnya. "Mas, lepasin aku mas! Tolong lepasin aku! Aku mohon maafkan aku, mas! Aku janji aku nggak akan ganggu kehidupan kalian lagi tapi aku mohon lepasin aku. Aku nggak mau dipenjara, mas!" mohon Freya dengan air mata bercucuran. "Lepasin aku breng-sek!" teriak Freya saat permohonannya tidak digubris Gathan sama sekali.
__ADS_1