Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.44 Perasaan tak nyaman


__ADS_3

Sesuai perkataan Gathan yang ingin mengajak Nanda makan bersama tadi, ternyata saat memasuki ruangan Gathan, Nanda melihat sebuah meja yang dikelilingi sofa di ruangan itu telah dipenuhi aneka makanan yang terhidang rapi. Gathan pun membimbing Nanda untuk duduk di sofa panjang bersampingan dengan dirinya.


"Mas udah siapin semua?" Nanda menaikkan alisnya sambil tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya. Ia pikir Gathan akan mengajaknya makan di luar atau baru akan memesan. Tapi ternyata semua telah terhidang rapi di atas meja.


"Hmm ... tadi mas minta tolong sekretaris mas yang pesenin. Semoga kamu suka." ujar Gathan dengan seulas senyum.


Nanda memperhatikan semua lauk yang terhidang di atas meja.


"Kayaknya enak semua, mas. Nanda nggak pilih-pilih makanan kok, mas nggak perlu khawatir. Asalkan halal, Nanda sih oke saja. Tapi apa ini nggak kebanyakan, mas?" ujar Nanda sambil memperhatikan semua makanan yang terhidang di atas meja. Bukan 2 atau 3 macam menu, tapi 7 jenis menu. Nanda sampai bingung sendiri akan menyantap yang mana sebab ia tidak terbiasa menyantap makanan yang terlalu beragam.


"Mas nggak tau. Mas cuma pesan sama Mona supaya pesan macam-macam menu soalnya mas belum tau kesukaan kamu apa." ujarnya jujur. Memang tadi saat meminta sekretarisnya memesankan makan siang, Gathan sempat kebingungan memikirkan menu apa yang harus ia pesan. Akhirnya ia minta Mona pilihkan saja menu yang sekiranya enak menurutnya.


"Ya udah, kita cuci tangan dulu yuk, mas!" ajak Nanda. Gathan pun mengangguk seraya menuntun Nanda menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Setelah itu mereka kembali lagi ke tempat dan lanjut makan siang. Seperti biasa, Nanda selalu melayani Gathan sepenuh hati. Hal itulah yang membuat Gathan makin menyukai Nanda. Ia merasa begitu dihargai dan dipedulikan, tidak seperti saat dengan Freya. Satu tahun sudah ia mencoba membuka hati berharap Freya dapat membuatnya nyaman dan menyukainya, tapi hal itu tak pernah didapatkan olehnya. Freya cenderung memikirkan diri sendiri. Ia lebih memprioritaskan dirinya sendiri membuat Gathan seakan hanyalah mesin ATM bagi istri pertamanya itu. Makin hari ia makin merasakan perbedaan antara perlakuan Nanda dan Freya, jadi jangan salahkan bila ia sampai jatuh cinta pada Nanda, bukannya pada dirinya, sebab Nanda bukan hanya mampu membuatnya bergairah, tapi juga merasa berarti dan dihargai.


Sementara itu, di suatu tempat tampak Freya hendak bertemu dengan seseorang yang sudah ditunggunya sejak 30 menit yang lalu. Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu pun datang dengan senyuman tipisnya. Setibanya di hadapan Freya, orang itu langsung duduk di kursi yang disediakan.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya seseorang itu. Freya pun menggelengkan kepalanya. "Mau pesan apa?" tanya seseorang itu saat tau Freya belum makan.


"Nggak usah kak, Fre nggak lapar. Kakak pesan aja makanan untuk kakak. Fre udah pesan minum." ujar Freya seraya mengangkat gelasnya yang berisi iced sugar brown coffee.


Lalu seseorang itupun segera memesan makan siangnya dan menyantapnya dalam diam. Setelah selesai barulah Freya membuka suara meminta sesuatu yang dipesannya.


"Apa barangnya kakak bawa?" tanya Freya.


Seseorang itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah botol kecil pada Freya.


Sebelum Freya hendak pergi, sebenarnya seseorang itu hendak menghentikan langkahnya. Ia ingin memberitahukan sesuatu yang mungkin akan mengejutkan bagi adiknya itu. Menurut sudut pandangnya dari apa yang dilihatnya hari ini, apalagi dari sikap Gathan ke istri mudanya itu setibanya di kantor, menunjukkan bahwa Gathan bukan hanya sekedar perhatian tapi juga sudah ada getar-getar cinta yang mulai tumbuh dan berkembang di antara mereka berdua.


Seseorang itu ingin sekali memberitahukannya pada Freya, tapi ia tak bisa mematahkan hati adiknya itu. Walaupun mereka telah terpisah sekian tahun lamanya dan belum lama bisa berjumpa lagi, tapi ia tetap menyayangi Freya. Sebenarnya ia juga tak habis pikir dengan kenekatan Freya. Padahal menurutnya apabila memang benar Gathan tidak mencintainya, bukankah lebih baik ia tidak menyentuh Freya. Ia menilai sebenarnya Gathan tidak mau merusak Freya. Ia begitu menghargai Freya, tapi Freya malah berpikir sebaliknya. Dan kini, Freya justru ingin menjerumuskan dirinya sendiri. Entah apa yang diharapkannya kini, berhasil atau tidak. Bila ia berharap rencana Freya berhasil, maka sama saja ia menjerumuskan adiknya ke dalam pernikahan semu tanpa cinta, sedangkan bila ia berharap rencana ini gagal, makan dapat dipastikan adiknya akan semakin menggila karena obsesi juga kegilaannya pada harta.


'Kakak harap, kamu segera menyadari kalau jalan yang kau pilih itu salah, Fre. Kakak hanya ingin yang terbaik untukmu dan bagi kakak ... Gathan itu bukanlah yang terbaik untukmu. Bukan karena ia tidak baik, tapi karena cintanya tak pernah ada untukmu. Kau pantas mendapatkan seseorang yang dapat mencintaimu apa adanya, Fre.' gumam seseorang itu dalam hati. Tak lama kemudian, seseorang itu pun pergi dari sana.

__ADS_1


...***...


Nanda sudah kembali lagi ke Cafe Starla. Ia pun kembali mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Nanda merupakan gadis yang bertanggung jawab jadi ia sudah terbiasa mengerjakan segala pekerjaannya dengan baik dan benar. Tepat pukul 4 sore, Nanda telah dalam perjalanan ke rumah diantar sopir keluarga yang ditugaskan Gathan untuk menjemput.


Deru suara mobil terdengar memasuki pelataran rumah mewah Gathan. Nanda yang baru selesai berpakaian pun , berlarian keluar dari dalam kamar menuju ke depan pintu untuk menyambut kepulangan Gathan. Namun, baru saja Nanda tiba di ujung tangga paling bawah, ia melihat ternyata Freya telah terlebih dahulu berdiri di depan pintu dan menyambut Gathan. Sungguh pemandangan yang aneh, bukan hanya bagi Nanda, tapi juga bagi Gathan dan Surti yang juga berdiri tak jauh dari Freya.


'Itu Nyi pelet ngapain disana pake sok perhatian segala. Dasar Nyi pelet.' gumam Surti saat melihat Freya menyambut kepulangan Gathan.


Nanda yang tak ingin mengganggu pun segera kembali lagi ke dalam kamar. Ia menutup pintu kamarnya dengan perlahan lalu duduk di depan meja rias. Entah mengapa, sore ini perasaan Nanda terasa tidak nyaman. Seperti akan terjadi sesuatu, tapi apa? Gathan sudah pulang ke rumah dan tampaknya ia baik-baik saja.


"Apa terjadi sesuatu di panti ya?" gumam Nanda. Lalu ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi bunda Rieke. Setelah berbincang sebentar, Nanda pun segera menutup panggilan itu.


"Di panti aman-aman saja. Tidak ada sesuatu yang terjadi. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja." gumam Nanda seraya menyisir rambutnya dengan pikiran menerawang.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2