Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.70


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, kini Nanda sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Semenjak Nanda masuk rumah sakit, sikap Gathan kian protektif. Bahkan kemana-mana, ia tidak diizinkan seorang diri. Membuat Nanda bingung sendiri dibuatnya.


"Mau kemana?" tanya Gathan saat melihat istrinya itu ingin turun dari ranjang mereka.


Kini Nanda telah dipindahkan ke kamar utama. Semua barang-barang Freya telah ia minta Surti singkirkan. Awalnya Nanda menolak, sebab ia takut kamar itu banyak menyimpan kenangan Gathan dan Freya tapi Gathan meyakinkannya, ia dan Freya tidak pernah melakukan apapun di ruangan itu selain tidur di satu ranjang yang sama, tak lebih jadi kamarnya memang aman dan bersih.


"Nanda cuma mau ke toilet sebentar, mas. Udah kebelet ini." ujar Nanda.


Lalu tanpa kata, Gathan menggendong Nanda dan menurunkannya di toilet.


"Mas!" teriak Nanda yang juga kaget tiba-tiba saja tubuhnya melayang di udara.


"Apa sayang?"


"Turunin, aku masih bisa jalan. Nggak perlu digendong gini." cetus Nanda yang malu-malu meong karena Gathan terlalu memanjakannya.


"Kamu belum benar-benar pulih, sayang. Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu."


"Kan bisa dipapah aja nggak perlu digendong. Udah, keluar sana. Jangan bilang, mas mau nungguin Nanda di dalam sini?" Nanda memberengut membuat Gathan gemas dan mencubit hidungnya.


"Kalau iya kenapa? Nggak boleh?" goda Gathan sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Ia, jahil bener! Keluar dulu, please! Nanda udah nggak tahan, cepetan sana!"


"Hahaha ... iya iya! Istri mas gemesin banget sih!"


Gathan pun akhirnya keluar dan berdiri di depan pintu kamar mandi sambil terkekeh. Ia bersandar di dalam pintu sambil menahan pintunya supaya Nanda tidak tiba-tiba membukanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang hendak dibuka, Gathan pun segera membukanya dan lagi-lagi ia menggendong Nanda dan meletakkannya di atas ranjang.


"Mas, jangan terlalu manjain Nanda dong nanti Nanda malah terlalu bergantung sama kamu terus nggak mau jauh-jauh dari mas. Kan mas sendiri nanti yang repot!" ujar Nanda lalu Gathan pun duduk di samping Nanda dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Mas justru senang jadi mas bisa liat kamu dan jagain kamu sepanjang waktu."


"Ck ... kalau mas sibuk jagain Nanda sepanjang waktu, terus kerjaan gimana? Emang duit bisa datang sendiri gitu?" desis Nanda sambil memicingkan mata.


"Kan kamu nanti bisa ikutan mas ke tempat kerja." sahut Gathan santai.


"Terus orang-orang ngatain Nanda lebay gitu ngebuntutin suaminya kemana-mana. Terus dibilangin istri posesif, takut suaminya dicolong jurik pelakor juga."


"Belum juga ikut, udah negatif thinking aja. Nggak mungkinlah orang-orang kayak gitu semua. Kalau pun ada yang kayak gitu, artinya mereka itu iri sama kamu." ujar Gathan. "Tau nggak kenapa mas nggak mau jauh dari kamu?" Nanda menggeleng karena memang benar-benar nggak tau.


"Mas cuma ingin memastikan dengan mata kepala mas sendiri keamanan kamu. Mas takut kecolongan lagi terus ada yang celakain kamu atau terjadi sesuatu sama kamu di saat mas nggak ada di sisi. Kamu tau, waktu itu mas takut sekali. Amat sangat takut. Mas takut kehilangan kamu. Mas takut kamu ninggalin mas sendirian. Mas nggak mau peristiwa kayak gitu terulang lagi, sayang. Mas benar-benar takut." ujarnya dengan sorot mata penuh kesungguhan. Bahkan mata Gathan sampai berkaca-kaca karena teringat kembali peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Nanda terhenyak saat melihat sorot mata sendu Gathan yang berkaca-kaca. Ia dapat melihat kesungguhan dalam setiap sorot mata dan kata-katanya itu. Nanda pun terharu dan menempelkan dirinya ke tubuh Gathan. Gathan pun menyambut dekapan itu dengan pelukan erat sambil melemparkan kecupan-kecupan sayang di puncak kepala Nanda. Dalam hati, ia bersyukur diberi kesempatan untuk kembali bersama dengan kekasih halalnya itu. Karena itu,via bertekad akan membahagiakan dan memanjakan Nanda seumur hidupnya. Setelah sekian banyak penderitaan dan kesedihan yang istrinya itu alami, ia ingin menggantikan semua itu dengan limpahan kebahagiaan yang belum pernah dirasainya. Ia juga ingin menghapuskan segala masa lalu kelam dan kesedihan itu agar yang diingatnya hanyalah bahagia. Walaupun tidak bisa menghapus sepenuhnya, tapi minimal ia dapat membuat wanita itu tidak sampai terkenang lagi akan masa-masa kelam dalam hidupnya.


"Kemana?" tanyanya.


"Siap-siap aja dulu. Mas jamin, kamu pasti suka. Mulai sekarang dan seterusnya mas hanya akan melimpahkan dirimu dengan kebahagiaan jadi ayo, buruan!" ucap Gathan lagi.


Nanda pun menurut saja dan segera berganti pakaian yang ternyata Gathan telah menyiapkan sebuah gaun berwarna tosca untuknya.


Setelah siap, Gathan pun mempersilahkan Nanda masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil itu telah ada sopir baru yang tidak dikenali Nanda.


"Lho mas, pak sopirnya baru ya? Emang kak Erwin kemana?" tanya Nanda penasaran saat mereka telah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Iya, dia pak Tarno, sopir baru kita." ujar Gathan. "Pak Tarno, perkenalkan, dia Nanda, istri saya."


"Selamat siang Bu Nanda. Perkenalkan saya Tarno. Mulai sekarang, saya yang akan jadi sopir bapak dan ibu." ujarnya memperkenalkan diri.


"Iya pak. Duh, panggil saya Nanda aja pak, nggak usah ada embel-embel ibu kayak gitu, kan bapak lebih tua usianya dari saya. Nggak papa kok." ujar Nanda seraya tersenyum lebar.


"Tapi kan ibu majikan saya sekarang jadi nggak sopan dengarnya."


"Nggak papa kok pak. Tapi ya udah, terserah bapak. Senyamannya aja deh." yang ditanggapi Pak Tarno dengan senyuman.


Lalu pak Tarno pun mulai mengemudikan mobil itu menuju sebuah tempat yang telah lebih dahulu diinformasikan padanya.


"Mas, emang kak Erwin kemana?" tanya Nanda penasaran. "Dia nggak kerja sama kita lagi?" imbuhnya lagi.


Mata Gathan memicing tak suka saat Nanda menanyakan keberadaan Erwin. Walaupun ia tahu Nanda hanya penasaran, tapi entah mengapa ia tak suka saat Nanda menyebutkan nama laki-laki lain di hadapannya.


Gathan menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


"Dia lagi daftar kuliah lagi."


"Hah! Serius! Wah, kak Erwin hebat ya! Tapi kenapa pake dipecat segala sih mas? Kan kak Erwin butuh uang untuk biaya kuliahnya. Jangan dipecat dong mas!"


"Siapa yang pecat?"


"Lah ini, kerjaannya mas ganti pak Tarno." bisik Nanda tak enak hati. Takut pak Tarno berpikir macam-macam dengannya.


"Mas nggak pecat Erwin, sayang. Justru sekarang kerjaannya jauh lebih baik. Sekarang dia bantuin mas kerja di kantor. Jadi sambil kuliah, dia bakal dilatih untuk bantu mas di kantor. Setelah, dirasa mampu, baru ia akan dilepas secara mandiri membantu tugas-tugas mas. Mas pingin jadiin dia asisten pribadi mas nantinya gantiin Tio. Sementara ini mas dibantu orang lain. Tio juga udah mas pekerjakan kembali. Apalagi dia udah berjasa bantu kasi informasi keberadaan Freya dan Reza. Kalau Tio nggak kasi tau, mungkin sampai sekarang kedua orang itu masih bersantai ria di rumah tua itu." tukas Gathan sambil menyandarkan kepala Nanda di pundaknya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2