Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.65 Badai belum benar-benar berlalu


__ADS_3

"Beri aku waktu, mas? Kita sudah berpisah bertahun-tahun, tidak mudah untuk memulai semuanya kembali. Telah banyak yang berubah. Termasuk perasaanmu, bisa saja yang kau rasakan saat ini hanyalah sebuah perasaan bersalah, bukannya cinta seperti yang kau gaungkan." tukas Nuri lemah. Ya, dia butuh waktu untuk mempertimbangkan segalanya. Apalagi kini mereka bukan hanya harus memikirkan perasaan diri mereka sendiri, tapi juga ada orang lain. Apalagi selama ini, ia meyakini takkan pernah bertemu lagi dengan pria yang masih berstatus suaminya itu. Ini benar-benar pertemuan tak terduga. Sedari bertahun-tahun yang lalu ia telah mengikhlaskan segalanya, termasuk perasaan cintanya. Walaupun hingga kini perasaan itu masih tersimpan rapi di tempatnya, Nuri tidak ingin gegabah. Ia tak sanggup kembali patah hati. Ia bukan lagi anak ABG yang punya banyak waktu untuk memikirkan masalah percintaan. Ini bukan masanya lagi.


"Untuk masalah memaafkan, aku telah memaafkanmu sejak bertahun-tahun yang lalu jadi mas tidak perlu selalu merasa bersalah. Begitu juga Nanda, aku sadar, ia tidak bersalah sama sekali. Justru ia adalah korban dari keegoisan kita para orang dewasa. Mungkin Allah memang menakdirkan kita untuk bertemu dengan cara seperti ini. Bukan hanya sekedar untuk bertemu, tapi juga menyelesaikan permasalahan dan saling memaafkan." imbuh Nuri lagi membuat Doni tertunduk lesu.


Doni menatap nanar Nuri yang sedang menyeka sisa-sisa air matanya. Lalu ia tersenyum walaupun terlihat sekali dipaksakan. Kemudian, Doni kembali melirik seorang pemuda yang masih tampak setia menemani Nuri. Beberapa praduga melintas di benak Doni apalagi setelah mendengar pemuda itu memanggil Nuri dengan panggilan ibu.


'Apa dia putraku Atau dia putra Nuri dengan lelaki lain? Jangan-jangan Nuri menikah kembali dengan orang lain! Tapi aku belum menceraikan Nuri. Bagaimana bisa ia menikah lagi, sedangkan ia masih berstatus istriku? Apa Nuri menikah siri?' begitulah beragam dugaan yang melintas di benak Doni membuat kepalanya pusing sendiri.


Tak ingin berasumsi sembarangan, Doni pun menanyakannya secara langsung pada Nuri.


"Baiklah, bila itu yang kau inginkan. Mas mohon, kau mau mempertimbangkannya dengan baik. Ini murni mas lakukan karena mas masih mencintai kamu, bukan karena rasa bersalah. Dan mas ingin memulai semuanya kembali dari awal. Mas ingin menebus semua kesalahan mas di masa lalu. Mas ingin memperbaiki semua dan mengobati luka hatimu. Dan ... mas ingin menghabiskan sisa hidup mas hanya dengan kamu." ucap Doni sungguh-sungguh membuat Nuri terdiam berusaha mencerna semuanya. "Oh ya, sayang, mas boleh nanya sesuatu ke kamu?" tanya Doni hati-hati.


Nuri mengangguk mempersilahkan.


"Sebenarnya, kemana saja kamu selama ini? Dan ... siapa pemuda itu? Apa dia ... anak kita?" tanya Doni.


Pemuda yang dimaksud langsung mendongakkan kepalanya menatap Doni tanpa ekspresi. Mulutnya tertutup rapat, seperti enggan bicara dengan Doni satu patah kata pun.


Nuri terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan kata dan mengungkapkan semua.


Nuri menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sembari menatap lekat mata Doni. Doni masih terdiam di tempat dengan matanya yang masih nampak merah.


"Perkenalkan mas, dia ... Januar. Dia ... anakku." ujar Nuri membuat Doni membulatkan matanya.


Baru saja Doni ingin membuka suara dan mengajukan pertanyaan, Nuri terlebih dahulu menginterupsinya agar tidak berbicara sebelum ia selesai bercerita.

__ADS_1


Doni pun akhirnya kembali diam mendengarkan.


"Tapi ... dia bukan anakmu. Bukankah mas tau, kandunganku lemah. Dan kepergianku tempo hari ada hubungannya dengan rahimku yang tidak memungkinkan untuk hamil. Di saat aku sedang terpuruk karena perbuatanmu, aku justru mengalami hal yang makin membuatku terpuruk. Aku ... aku mengidap kanker rahim, mas." ujar Nuri membuat nafas Doni tercekat. Dadanya seperti diremas. Ia tidak pernah mengetahui istrinya mengalami hal yang begitu buruk. Ia menyesali mengapa ia justru tidak berada di sisi istrinya di saat-saat terburuk istrinya. Doni hanya bisa tergugu dengan mata memerah sembari mendengarkan kata demi kata yang mengalir dari bibir Nuri.


"Hal itulah yang makin membuatku bertekad pergi sebab aku takkan mungkin lagi memberikanmu keturunan. Sedangkan kau tau sendiri mas, mama Risa sangat ingin merasakan menimang cucu. Aku merasa sebagai menantu yang tak berguna. Akhirnya, aku memilih pergi. Aku pikir, dengan begitu kau bisa kembali pada perempuan yang telah memberikanmu keturunan atau ... atau kau bisa menikah lagi dengan perempuan lain dan memberikan mama cucu." tutur Nuri dengan berlinang air mata.


Ia tak menyangka, hari ini akan hadir. Hari dimana ia mengungkapkan segala kepahitan yang telah ia tanggung belasan tahun yang lalu. Sebenarnya berat rasa Nuri menceritakannya sebab ini sama saja mengorek luka lamanya yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Bahkan, tak ada seorang pun yang mengetahui penderitaan yang ia tanggung selama ini. Ia menyimpan rapat-rapat masa lalu itu.


"Setelah aku pergi, aku mencoba menjalani berbagai pengobatan tradisional. Namun semuanya sia-sia, hingga akhirnya jalan terakhir yang harus aku pilih hanya dengan mengangkat rahimku. Aku ... aku kini hanya seorang wanita tanpa rahim, mas. Aku ... mandul. Aku tidak bisa memberikanmu keturunan. Akhirnya aku menikmati kesendirianku dalam kesepian, hingga suatu hari, aku menolong seorang perempuan yang tengah hamil. Suaminya meninggal karena kecelakaan kerja. Dia tidak memiliki tempat tinggal jadi aku mengajaknya tinggal bersamaku. Tapi ... nasibnya sungguh malang. Ia meninggal sesaat setelah melahirkan. Semenjak itu, aku menganggap Januar seperti anakku sendiri. Januar ibarat pelita dalam hidupku yang sepi. Di saat aku tidak memiliki siapa-siapa di sisiku, dia hadir jadi pelipur laraku. Januar, dia putraku. Putra kesayanganku." pungkasnya dengan mata berbinar.


Lalu Januar menggenggam erat tangan Nuri dan menciumnya takdzim.


"Ibu juga pelipur lara, Januar. Tanpa ibu, siapakah Januar ini. Mungkin Januar akan berakhir di panti asuhan menjadi seorang yatim piatu. Bagi Januar, ibu adalah ibu yang terbaik di dunia. Januar berjanji, akan selalu membahagiakan ibu seumur hidup Januar." ucapnya pasti dengan mata berkaca-kaca.


Semua orang yang berada di dalam ruangan tampak berkaca-kaca. Mereka tak menyangka, kehidupan Nuri begitu pelik.


"Besan?" beo Nuri.


"Ya, bukankah Anda ibunya Nanda juga jadi Anda itu besanku, bukan? Yah, walaupun Anda bukan ibu kandungnya, aku harap Anda bisa menerima Nanda. Dia anak yang sangat baik. Aku yakin, Anda akan sangat menyukainya. Dan aku pun sangat bangga memiliki besan seperti dirimu. Aku harap, kita bisa menjalin silaturahmi dan hubungan kekeluargaan ke depannya." ungkap Lavina penuh harap.


Nuri tersenyum penuh haru. Padahal Lavina baru kali ini berjumpa dengannya, tapi ia sudah menganggapnya seperti keluarga.


"Dengan senang hati." sahut Nuri.


"Sayang, boleh mas menganggap Januar sebagai anak mas juga?" Doni meminta izin pada Nuri. Bagaimana pun, anak Nuri juga anaknya, bukan. Apalagi selama ini, Januar lah yang jadi pelipur lara istrinya itu. Ia bersyukur, berkat kehadirannya, Nuri jadi memiliki semangat hidup.

__ADS_1


"Tentu. Tidak masalah." ucapnya yakin. "Januar, salim sama ayah." titah Nuri.


Januar pun menurut dan mencium tangan Doni dengan takdzim membuat mata Doni berkaca-kaca. Lalu Doni menarik tangan Januar dan memeluknya erat.


"Januar, bisakah Januar panggil ayah!"


Januar tampak ragu, lalu ia memberanikan diri memanggil Doni ayah membuat Doni terisak bahagia.


"Ayah ... "


"Ya ... Ini ayah. Sekarang Januar juga punya ayah." ujarnya seraya terisak. Lalu Doni melepaskan pelukannya dan memegang pundak Januar, "Januar, boleh ayah minta tolong?"


Januar mengangguk pelan.


"Tolong bujuk ibu biar mau kembali pada ayah, Jan! Kamu pasti pingin kan punya keluarga yang lengkap? Kamu juga pingin kan ibu ada yang mendampingi? Kamu tenang aja, ayah akan berusaha membahagiakan ibu. Ayah janji!" ujarnya mencoba membujuk Nuri melalui Januar.


Lantas Januar menoleh ke arah Nuri. Ia sebenarnya tau kalau ibunya masih sangat mencintai ayahnya sebab sesekali kadang Januar mendengar isak tangis sang ibu sambil menatap lekat selembar foto yang merupakan foto pernikahan Nuri dan Doni. Januar pun mengangguk, mengiyakan sebab ia pun ingin ibunya bahagia. Ia ingin melihat ibunya kembali dengan cintanya. Nuri tentu melotot melihat bagaimana Januar dengan mudahnya menyetujui permintaan Doni.


"Alhamdulillah ... Terima kasih, nak! Kamu memang anak ayah." ucapnya sumringah lalu ia melirik Nuri dan mengerlingkan sebelah matanya membuat Nuri mendengus dan memalingkan wajahnya sambil mengulum senyum.


Namun, detik-detik kebahagiaan itu tiba-tiba terinterupsi saat layar patient monitor menunjukkan detak jantung Nanda melemah membuat semua orang yang berada di dalam ruangan termasuk Gathan kalang kabut. Gathan pun segera menekan tombol darurat dan tak lama kemudian dokter dan perawat pun berdatangan untuk memeriksa kondisi Nanda.


Gathan menjambak rambutnya frustasi, ia benar-benar khawatir sekarang. Dalam hati Gathan menggeram menahan emosi, 'Semua ini karena perempuan itu! Aku takkan pernah memaafkannya.' batinnya saat ingat semua ini terjadi akibat perbuatan Freya. Ia jadi amat sangat kesal karena sudah hampir 2x24 jam tapi Freya dan Reza belum berhasil ditemukan keberadaannya.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🙏...


__ADS_2