
Seperti biasa, Nanda bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan segala kebutuhan Gathan. Apalagi pagi ini Gathan akan pergi ke luar kota untuk mengikuti presentasi dengan perusahaan asing yang ingin menanamkan modalnya di perusahaan yang ada di Indonesia. Tentu Gathan takkan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Perusahaan mereka memang sudah cukup besar namun masih skala nasional dan masih banyak perusahaan yang lebih besar dari perusahaan TJ Group. Sedangkan cita-cita Gathan yaitu membesarkan perusahaannya hingga ke mancanegara dan kini kesempatan emasnya telah datang. Untuk itu, Gathan di didampingi Erwin akan berangkat ke luar kota untuk mengikuti presentasi dengan investor asing itu.
"Nda, kamu sakit?" tanya Gathan saat melihat wajah pucat istrinya. Gathan yang saat itu tengah duduk di ruang tamu sambil membaca koran pagi itu pun lantas berdiri dan menghampiri sang istri. Gathan menyentuhkan telapak tangannya di dahi Nanda tapi tidak panas membuat Gathan khawatir.
"Nanda nggak sakit kok mas. Mungkin bawa'an tamu bulanan soalnya lagi ini baru dapet." cicit Nanda sambil tersenyum tipis. Ya, saat mandi pagi tadi ia melihat bercak darah di dalaman miliknya. Lagi-lagi harapan Nanda patah saat melihat bercak itu. Padahal sebelumnya telah senang saat menyadari ia telat beberapa hari, tapi ternyata harapan tinggallah harapan. Sebagai pejuang 2 garis merah, ia lagi-lagi kecewa.
Mendengar cicitan sang istri, tentu Gathan langsung memahami kemana arah pembicaraan sang istri. Pasti ini mengenai calon buah hati yang gagal lagi mereka miliki. Gathan pun langsung memeluk tubuh Nanda dengan erat. Ia mengecupi puncak kepala hingga dahi Nanda sambil tersenyum lembut. Ia paham bagaimana perasaan istrinya saat ini.
Dipandanginya wajah pucat itu sambil mengusap pipinya yang sedikit berisi.
"Jangan terlalu dipikirkan! Bila sudah rejekinya, dia pasti akan kembali hadir di tengah-tengah kita. Sabar aja, mas yakin, cepat atau lambat, ia akan hadir." tukas Gathan sambil tersenyum manis.
Nanda mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah teduh suaminya lalu ia membalas tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih mas karena selalu menguatkanku." ujarnya lalu kembali memeluk Gathan.
"Sayang, sepertinya presentasinya selesai agak sore. Lalu sepulang presentasi, rencananya mas akan bertemu dengan teman lama di sana, jadi kemungkinan pulangnya agak larut, kamu nggak papa kan!" tukas Gathan sambil menatap lekat wajah Nanda.
Nanda menghela nafas panjang, entah mengapa rasanya ia ingin selalu di dekat suaminya itu. Tapi ia juga tidak bisa melarang apa yang ingin suaminya lakukan. Nanda hanya bisa mengangguk pasrah sambil tersenyum.
"Jangan cemberut dong!"goda Gathan.
"Siapa yang cemberut?" kilah Nanda.
__ADS_1
"Masih mau bohong."
"Siapa bohong? Perasaan mas aja. Eh, tunggu, temen mas itu cowok atau cewek?" tanya Nanda tiba-tiba dengan perasaan was-was.
"Kalau cewek kenapa?"
"Nggak boleh." sergah Nanda cepat membuat alis Gathan terangkat kemudian terkekeh.
"Ish, malah ketawa! Pokoknya nggak boleh. Kalaupun masih mau ketemu, Nanda harus ikut. Titik."
"Pake koma nggak?"
"Nggak pake."
"Yah ... " desahnya membuat mata Nanda melotot.
"Siapa?"
"Siapa lagi? Kalau nggak terima ya udah, sana. Pergi sana!" kesal Nanda lalu ia segera membalik badannya dan berjalan menuju kamar sambil menghentakkan kakinya. Saat tiba di pintu, Nanda langsung membanting pintu kamar dengan kencang hingga membuat Surti yang berada tak jauh dari sana tersentak kaget.
Gathan yang baru kali ini melihat istrinya marah pun lantas terkekeh dan langsung berlari menuju ke kamarnya di lantai dua.
Setibanya di kamar, Gathan membelalakkan matanya saat melihat Nanda sedang mengemas pakaiannya ke dalam sebuah travel bag. Panik, Gathan pun bergegas menghampiri sang istri. Ia tak menyangka keusilannya berakhir dengan Nanda yang marah besar padanya.
__ADS_1
"Sayang, hei sayang, kamu lagi ngapain? Kamu mau kemana, hm?" tanyanya panik.
"Kemana? Terserah Nanda dong mau kemana. Mas kan mau ketemuan terus senang-senang sama cewek jadi Nanda mending pergi aja. Kebetulan Januar mau ngajakin liburan bareng."
"Eh, liburan bareng? No, mas nggak ngizinin." cegah Gathan tak suka. Walaupun status Januar sekarang adik Nanda, tapi mereka tidak satu darah. Selain itu, usia Januar memang 2 tahun lebih muda dari Nanda, tapi tetap membuat Gathan khawatir.
"Lha, kenapa? Januar kan adik Nanda, kenapa nggak boleh?" tanya Nanda sambil mengerutkan bibirnya.
"Mas nggak suka. Tentang masalah yang tadi itu mas cuma bercanda, sayang, temen mas itu cowok. Namanya Hadi. Kalau nggak percaya, nih telepon langsung orangnya!" ujar Gathan sambil menunjukkan ponselnya yang tertera kontak bernama Hadi.
Nanda terdiam dengan mata memicing tajam. Kemudian dengan kesal, Nanda memukuli dada Gathan.
"Mas nakal banget sih ngusilin Nanda." serunya kesal.
"Awww ... sakit sayang, ampun. Ampun ... ampun, sayang." desis Gathan yang pura-pura kesakitan.
"Mas ... aaakh ... " tiba-tiba saja Nanda meringis memegangi perutnya.
"Nanda ... sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit? Perut kamu kenapa?" tanya Gathan khawatir.
Brukkk ...
Tiba-tiba saja Nanda pingsan dan hampir saja jatuh ke lantai andai saja tidak dipegang Gathan.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰 🥰🥰...