
Satu jam sebelumnya,
Nanda merasa sangat bosan saat berada di apartemen. Tak ada hiburan. Tak ada teman mengobrol. Ia benar-benar sendirian saat ini. Bila beberapa hari yang lalu ia ditemani Ely, pekerja rumah tangga yang datang pagi dan pulang di sore hari, tapi karena ada keluarganya yang sakit, Ely jadi hanya bekerja sampai tengah hari saja.
Nanda memang sudah makan siang, tapi tiba-tiba ia ingin memakan camilan dan membeli susu varian rasa coconut delight jadi ia berinisiatif pergi untuk pergi ke minimarket yang tak jauh dari apartemen milik Gathan. Tapi sebelum itu, ia hendak meminta izin terlebih dahulu. Setelah mendapatkan izin, barulah Nanda bersiap. Ia mencangklong tas selempannya yang berisi dompet dan ponselnya di pundak kiri, lalu keluar dari unitnya.
Jarak minimarket hanya berselang 2 buah bangunan dari apartemen jadi ia hanya butuh beberapa menit untuk berjalan kaki menuju minimarket itu.
Setibanya di minimarket, Nanda pun mulai memilah beberapa cemilan yang sedang diinginkannya seperti keripik kentang, cheese creakers, dan beberapa roti isi, tak lupa 2 kotak susu coconut delight kesukaannya. Nanda juga membeli beberapa keperluan dapur, setelah selesai, ia langsung menuju kasir dan melakukan pembayaran.
Selesai melakukan pembayaran, Nanda pun segera keluar dari minimarket itu sambil menjinjing 2 buah kantong berisi belanjaannya. Jalan yang dilalui Nanda tidak ada trotoar jadi ia hanya menepi saja. Jalan itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk dilalui 2 buah kendaraan roda empat sekaligus.
Baru beberapa langkah Nanda berjalan, tiba-tiba ada sebuah teriakan dan yang membuatnya tersentak sebab ada sebuah mobil melaju cukup kencang ke arahnya. Namun, karena terlalu terkejut Nanda justru terpaku di tempatnya hingga tiba-tiba seseorang yang berteriak itu mendorongnya hingga mereka jatuh terguling ke tepi jalan.
"Awaasss .... !!!" teriak seseorang saat ia melihat sebuah mobil mini Cooper melaju cukup kencang ke arah Nanda.
Brakkk ...
"Aaargh ... " ringis Nanda saat tubuhnya terguling dan kepalanya terbentur pembatas jalan.
Begitu pula wanita paruh baya yang mendorongnya tadi ikut jatuh terguling dan membentur jalanan beraspal. Setelah melihat kedua orang itu terkapar di jalan, mobil yang dikendarai Freya itu segera meninggalkan lokasi dengan kecepatan tinggi.
Nanda berusaha untuk bangkit, tapi kepalanya begitu sakit, pandangannya kabur, dan perutnya terasa begitu nyeri.
"Nak, kamu nggak papa?" tanya wanita paruh baya itu panik sambil berusaha membantu Nanda untuk duduk.
"Aakh ... sak-kittt ... " ringis Nanda sambil meremas perutnya.
Beberapa kendaraan sampai berhenti saat melihat kedua orang yang terkapar di pinggir jalan itu. Pun penjaga apartemen dan beberapa orang yang berlalu lalang langsung menghampiri Nanda dan wanita itu.
__ADS_1
Mata wanita paruh baya itu membelalak saat melihat darah segar mengalir begitu deras di paha Nanda. Pun orang-orang yang melihat ikut meringis ngilu melihatnya.
"Nak, ... kamu pendarahan." ucapnya panik. Lalu matanya beredar ke sekeliling.
"Tolong, tolong antarkan gadis ini ke rumah sakit. Ia harus segera ditangani." ucap wanita paruh baya tersebut.
"Bu, saya sudah menghentikan taksi. Mari kami bantu masuk ke dalam taksi itu." ujar seseorang yang ikut khawatir melihat keadaan Nanda.
Lalu orang-orang itu membantu Nanda masuk ke dalam taksi itu dan membaringkan kepalanya di atas paha wanita paruh baya itu.
"Bu ... tolong ... anak saya." lirih Nanda lemah dengan bibir memucat. Tubuhnya mulai dingin dengan pandangan sayu. Ia telah kehabisan banyak darah. Ibu itu makin terkejut saat melihat kepala Nanda pun mengeluarkan banyak darah.
"Pak, tolong antar kami ke rumah sakit terdekat ya!" ujar wanita itu dengan bibir bergetar. Melihat banyaknya darah yang mengalir di paha dan kepala Nanda, cukup membuat wanita itu bergetar takut. Ia takut terjadi sesuatu pada Nanda. Apalagi saat melihat mata Nanda mulai memejam.
"Hei nak, buka matamu! Bertahanlah, kamu harus kuat, demi anakmu." lirih wanita itu yang sudah mengeluarkan air matanya.
"Anakku ... Mas ... anak kita, tolong selamatkan anak kita. " racau Nanda lemah dengan tatapan sayu yang hampir menutup rapat membuat wanita itu makin panik.
"Iya Bu, saya usahakan. Tapi jalanan memang sedang sedikit macet. Mohon bersabar." sahut sopir itu yang sebenarnya ikut mengkhawatirkan kondisi Nanda.
Sedangkan di perusahaan TJ Group, saat melihat cangkirnya jatuh hingga pecahannya berhamburan, membuat Gathan seketika panik. Padahal baru hampir satu jam yang lalu ia berbicara dengan Nanda via telepon, tapi entah mengapa ia tiba-tiba mengkhawatirkan Nanda. Jantungnya berdegup kencang. Perasaannya begitu tidak enak. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Nanda.
Gathan pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Nanda. Tapi hingga tiga kali panggilan, panggilannya tak kunjung diangkat oleh Nanda hingga ia mencoba kembali mencoba menghubungi Nanda untuk keempat kalinya barulah terdengar panggilannya diangkat. Tapi yang membuatnya terkejut adalah panggilan itu diangkat oleh seorang pria.
"Assalamu'alaikum, Nda." ucap Gathan saat panggilan itu diangkat.
"Halo, wa'alaikum salam." ujar seorang membuat Gathan terkejut sebab yang mengangkat panggilannya bukanlah Nanda tetapi seorang laki-laki.
"Halo, bukankah ini nomor ponsel istri saya? Siapa Anda? Mengapa Anda yang mengangkat panggilan saya?" cecar Gathan dengan alis bertaut.
__ADS_1
"Oh, Anda suami pemilik ponsel ini! Maaf pak, saya Dudung, security baru apartemen Bintang. Saat ini istri Anda sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia mengalami kecelakaan dan tasnya tertinggal di lokasi kecelakaan." ujar Dudung.
Deg ...
"A-apa? Istri saya kecelakaan?" tanya Gathan dengan jantung berdegup kencang. Bahkan ia sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri.
"Iya pak, kejadiannya sekitar 10 menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi ia sampai di rumah sakit Cinta Medika. Istri Anda diantar seorang ibu-ibu dengan taksi." jelas Dudung sambil menyebutkan nama rumah sakit yang tak begitu jauh dari apartemen Bintang.
Mendengar penuturan itu, Gathan pun mengucapkan terima kasih dan segera menutup panggilannya. Setelah itu, ia pun bergegas menghubungi Erwin untuk mengantarkannya ke rumah sakit Cinta Medika.
Dalam perjalanan, ia tak lupa menghubungi Lavina dan memberitahukan kabar mengejutkan itu. Lavina begitu shock. Setelah memberikan informasi tersebut, Gathan menutup telepon dan mengusap wajahnya kasar.
Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut, sangat takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya.
'Ya Allah, tolonglah Nanda. Tolonglah istriku. Selamatkan ia, selamatkan buah hati kami. Hamba mohon ya Allah.' Doa Gathan dalam hati.
Sementara itu, Nanda kini telah menjalani tindakan medis. Pendarahan Nanda cukup hebat, membuatnya langsung dibawa ke ruang unit gawat darurat untuk menjalani observasi terlebih dahulu.
"Bu, sebaiknya ibu juga menjalani pemeriksaan. Sepertinya ibu mengalami benturan cukup berat di bagian kepala soalnya baju bagian belakang ibu sudah basah karena aliran darah." ujar seorang perawat saat melihat baju putih yang dikenakan penolong Nanda itu telah hampir tertutup sempurna dengan darah yang mengalir dari lehernya.
"Apa? Benarkah?" tanya wanita itu tak percaya sebab ia terlalu mengkhawatirkan Nanda hingga ia tidak menyadari kondisinya sendiri.
"Iya Bu, benar. Mari, ikut dengan saya. Saya akan mengantarkan ibu ke dokter. Bila tidak segera ditindaklanjuti, takutnya berakibat fatal." ujar perawat itu.
"Tapi ... " wanita itu bingung, ia tidak bisa meninggalkan Nanda. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Nanda atau dia membutuhkan sesuatu atau juga ada yang mencarinya. Apalagi saat ini tak ada seorang pun yang menemani Nanda. Wanita itu tidak mengenal Nanda, pun keluarganya. Ia tadi hanya spontan ingin menolong Nanda. Ia baru saja keluar dari apartemen hendak menyebrang menuju cafe miliknya di seberang jalan. Tapi saat ia menoleh ke kanan, ia melihat dengan mata kepala sendiri, seorang wanita hendak menabrak Nanda dengan mobilnya. Ia pun reflek berteriak sambil berlarian dan mendorong tubuh Nanda dengan cepat hingga mereka jatuh terguling ke tepi jalan.
"Ibu tenang saja, saya akan segera mengabari ibu kalau butuh sesuatu atau terjadi sesuatu pada pasien di dalam." ujar perawat itu mengerti kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah wanita paruh baya itu.
"Baiklah." wanita itupun akhirnya mengikuti langkah kaki perawat itu menuju ke ruangan salah satu dokter yang akan menangani luka di kepala dan siku wanita itu.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...