
Semenjak malam dimana Freya hendak menjebak Gathan, semenjak itu pula Gathan menghindari Freya. Bahkan beberapa malam ini, Gathan lebih memilih tidur di kamar Nanda. Ia sudah meminta Surti memindahkan sebagian pakaiannya ke kamar Nanda sehingga ia tidak perlu repot-repot ke kamar lamanya untuk mengambil keperluannya.
Bukan hanya itu, bahkan malam ini Gathan mengajak Nanda menginap di kediaman orang tuanya membuat pasangan Lavina dan Ganindra senang bukan main.
"Nanda, mama seneng deh akhirnya kalian mau menginap di sini." ujar Lavina dengan wajah ceria. Kentara sekali kalau ia begitu berbahagia bukan hanya karena melihat kedatangan anak dan menantunya, tetapi juga karena melihat sikap Gathan yang sepertinya sudah mencair kepada Nanda.
"Iya, ma. Nanda juga seneng. Nanda juga nggak nyangka tiba-tiba aja mas Gathan mengajak menginap di sini." ujar Nanda saat Lavina memeluknya erat. "Oh iya, apa kabar pa?" sapa Lavina pada Ganindra yang menatap interaksi mereka dengan tersenyum.
"Alhamdulillah, baik. Seperti yang kamu lihat. Tapi ... akan lebih baik lagi kalau kalian bisa memberikan kami cucu yang lucu." tukas Ganindra dengan tersenyum jahil.
Mendengar perkataan ayah mertuanya, membuat wajah Nanda seketika memanas, hingga pipinya pun memerah. Ia pun mulai berpikir, mungkinkah calon buah hati mereka telah hadir di dalam rahimnya sebab ini sudah memasuki Minggu ke-3 setelah pertama kali ia menyerahkan dirinya kepada Gathan. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk memeriksakan diri, tetapi ia pikir masih terlalu dini untuk memeriksakannya. Ia berharap, buah hatinya telah hadir, mertuanya pasti akan sangat bahagia saat mendengar kabar itu.
"Doakan saja kami, pa, semoga disegerakan." sahut Gathan seraya tersenyum tipis.
"Wah wah wah, gunung es nya udah meleleh nih! Udah bisa senyum. Menantu mama emang hebat euy. Gimana, nggak nyesel kan menikah dengan gadis pilihan mama?" goda Lavina seraya tersenyum jahil
Gathan salah tingkah mendengar godaan mamanya. Mungkin inilah moment yang pas untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada orang tuanya karena telah mempersunting Nanda sebagai istrinya. Tapi ... ia masih merasa terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Gathan nggak pernah menyesali sesuatu." sahutnya asal membuat Lavina mendengus.
"Mama yakin, suatu hari kamu akan merasakan suatu penyesalan, entah penyesalan apapun itu. Jangan terlalu takabur jadi orang, Than!" celetuk Lavina.
"Segala sesuatu itu ada konsekuensi dan setiap keputusan yang Gathan ambil selalu melalui pertimbangan jadi Gathan takkan pernah menyesali sesuatu." ujarnya santai membuat Lavina makin geram dengan putra semata wayangnya itu.
"Udah ah, ngomong sama kamu itu emang nggak selalu nyebelin. Yuk, Nda, ikut mama siapin makan malam aja!" ajak Lavina pada Nanda yang menurut saja pada mertuanya itu. Apalagi mertuanya lah yang memiliki andil besar membuat hidupnya kini menjadi lebih berarti dan bahagia. Karena itulah, ia makin menghormati dan menyayangi Lavina seperti ibunya sendiri.
"Baik, ma." sahut Nanda seraya tersenyum manis. Lalu ia mengikuti langkah Lavina menuju dapur. Tampak art kediaman Gathan telah selesai masak. Kini giliran mereka menghidangkan menu-menu masakan itu.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, Lavina pun meminta Nanda segera memanggil Gathan dan Ganindra agar segera makan malam.
...***...
"Surti, mana kedua orang itu?" tanya Freya sepulangnya dari jalan-jalan. Di tangannya tampak Freya menjinjing beberapa paper bag mulai dari tas, baju, dompet, dan sepatu yang kesemuanya adalah merk ternama dan harganya tidaklah main-main.
Paham siapa yang Freya tanyakan, Surti pun menjawab jujur pertanyaan Freya.
"Itu Nya, non Nanda dan tuan Gathan pergi menginap di rumah orang tua tuan Gathan." ujar Surti jujur.
Mata Freya seketika membelalak dan giginya bergemeletuk. Ia sungguh kesal melihat sikap Gathan akhir-akhir ini apalagi semenjak malam ia memberi obat per@ngsang itu, Gathan benar-benar menghindari dirinya. Bahkan kini ia pergi ke kediaman orang tuanya bersama madu yang sangat dibencinya.
Kesal saat tau Gathan tak ada di rumah, Freya segera menghubungi teman-temannya. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu di club' malam. Sepertinya malam ini ia akan melepas lelah dan amarahnya di sana.
Sementara Freya tengah menghabiskan malam di sebuah club' malam bersama teman-temannya, maka di kediaman Ganindra dan Lavina, tampak pasangan suami istri yang tengah dimabuk cinta sedang bergerak aktif saling berbagi peluh sambil mengejar pelepasan terbaiknya alih-alih membuatkan cucu untuk kedua orang tuanya.
"Sebentar, mas belum, iya iya, sebentar lagi sayang, ah iya ... aaaahhh ... " desis Gathan saat ia menyusul mencapai puncak.
Selesai mendapatkan pelepasan, Gathan langsung ambruk di sisi Nanda seraya tersenyum. Ditariknya tubuh Nanda mendekat lalu didekapnya tubuh polos itu sambil mengecup sayang puncak kepalanya.
"Makasih, sayang. Semoga usaha kita segera membuahkan hasil." lirih Gathan lalu kembali mengecup dahi dan bibir Nanda.
"Aamiin ... Semoga dikabulkan Allah ya, mas." sahut Nanda dengan tersenyum manis.
"Sepertinya supaya hasilnya lebih cepat , kita harus lebih sering melakukannya, Nda. Gimana kalau kita lakuin lagi?" ujar Gathan dengan seringai di bibirnya.
Nanda mendelik tajam lalu mencubit lengan Gathan gemas.
__ADS_1
"Itu mah maunya mas. Emang nggak capek apa? Nanda aja udah capek banget gini. Udah berapa kali tadi, coba?" protes Nanda dengan mata memicing.
Gathan terkekeh mendengar protesan Nanda.
"Emang mas mau kok. Kalau nggak mau nggak mungkin mas minta lagi dan lagi." sahutnya masih terkekeh. "Untuk urusan itu, nggak ada kata capek. Justru capek mas menguap entah kemana setelah kita bercinta. Kamu udah bikin mas candu, tau nggak." ujar Gathan tak kalah gemas sambil mencubit kedua pipi Nanda.
"Ish, mas nakal banget sih! Emang itu maunya, mas aja. Dasar encum." ledek Nanda dengan air sorot mata mendelik tajam.
"Sekali lagi ya, please!" mohon Gathan dengan memelas.
Akhirnya Nanda pun pasrah dan memberikan apa yang ingin Gathan lakukan.
"Sekali lagi terima kasih, sayang." lirih Gathan setelah menyudahi sesi bercinta mereka.
...***...
Hari sudah cukup siang, tapi Gathan tampak masih sibuk berkutat dengan beberapa berkas di hadapannya.
"Tio, bagaimana, sudah kau cek keadaan Reza di rumah sakit? Adakah kemungkinan kakinya bisa sembuh?" tanya Gathan seraya meletakkan beberapa berkas yang dipegangnya ke tumpukan di sebelah kiri.
"Sudah tuan tapi menurut dokter, kemungkinan untuk sembuh sangatlah tipis bahkan mungkin tiada. " ujar Tio seraya menundukkan wajahnya.
Gathan meraup kasar wajahnya, ia ingin segera lepas dari jerat ini tetapi seakan semesta tidak mengizinkan.
"Ya sudah, terima kasih atas bantuannya. Silahkan kembali ke meja kerjamu!" titah Gathan seraya mengibaskan sebelah tangannya ke udara.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...