
Dengan canggung, Gathan ingin membalas sedikit pelukan itu. Sebelah tangannya digunakan untuk mengusap punggung Freya, sedangkan lengan satu lagi menahan pinggang Freya. Nanda mematung memperhatikan kedua insan yang sedang meleburkan rindu itu. Ingin ia beranjak dari sana, tapi kakinya seolah dipaku sangat kuat sehingga ia tak dapat bergeser se-inci pun.
"Mas, kalian kok tega sih ninggalin aku? Kalian bersenang-senang di sana, sedangkan aku kesepian di sini." lirih Freya sambil terisak. "Fre tau, mas nggak pernah cinta sama Fre, tapi apa mas nggak bisa adil sama Fre? Gimana mas bisa jatuh cinta sama Fre kalau mas aja nggak mau membuka hati mas untuk Fre?" bisiknya makin lirih di dalam pelukan Gathan.
Tak mau hatinya makin sakit melihat Freya dan Gathan yang berpelukan, Nanda menyeret kakinya menuju kamarnya. Nanda menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Dengan langkah gontai, ia membaringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidurnya dengan sebelah tangan menutup matanya.
"Apakah keindahan semasa di Bali akan terulang lagi? Apakah mas Gathan akan tetap mencintaiku? Atau mas Gathan akan menjauhiku demi menjaga perasaan mbak Freya?" desahannya dalam kegalauan.
Gathan bingung sendiri harus berkata apa. Ia hanya diam mendengarkan segala keluh kesah Freya.
"Maaf." satu kata yang meluncur dari bibir Gathan. Tak ada kata lain. setelah Freya diam tak bersuara lagi.
"Mas ... " rengek Freya lagi sepertinya ia tak puas dengan jawaban Gathan.
"Aku mau mandi dulu." tukasnya seraya melepaskan pelukan Freya. Lalu Gathan berlalu menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Saat Gathan mandi, Freya pun turut melucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya hingga tak meninggalkan satu helai pun. Lalu ia mengambil kunci kamar mandi cadangan di dalam laci nakas dan memasukkannya di lubang kunci. Suara shower yang mengalir membuat Gathan tak menyadari kalau Freya telah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa rasa malu, Freya mendekap tubuh Gathan yang hanya tertutupi segitiga hitamnya membuat Gathan mematung.
Gathan ingin melepaskan belitan tangan Freya di perutnya, tapi Freya justru makin mengeratkan pelukannya.
"Jangan lepas mas, aku mohon!" desis Freya lirih. Ia terlanjur nyaman saat kulitnya dan Gathan saling bersentuhan. Begitu hangat dan menggairahkan. Bahkan tanpa melakukan pergerakan apapun, tubuhnya sudah terbakar gairah. Tubuh Gathan yang selalu tertutup kemeja ataupun kaos kadang membuat Freya penasaran ingin melihatnya secara polos. Sedang dibalut pakaian saja, otot-ototnya tercetak jelas membuat darahnya berdesir apalagi dalam keadaan polos seperti ini, sungguh menggairahkan.
"Ini tidak benar, Fre!" dalam hati Gathan mulai menahan kesal. Apalagi ia sadar, kalau Freya sekarang sedang dalam keadaan polos. Apakah ia tidak mempunyai rasa malu sebagai seorang perempuan? Walaupun Gathan adalah suaminya, tapi rasanya sikap seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang perempuan.
"Apanya yang tidak benar, mas? Aku juga istrimu. Aku yakin, di sana Mas sudah melakukannya bukan dengan gadis kecil itu? Kenapa dengan dia mas mau, sedangkan aku tidak? Aku juga berhak mendapatkan nafkah batin darimu? Aku juga ingin melakukan hubungan suami istri dengan mu karena aku juga ISTRIMU terlepas dari aku hanyalah istri siri tapi tetap saja AKU ISTRIMU, MAS, AKUNISTRIMU!" pekik Freya kesal dengan nafas memburu dan gigi bergemeletuk.
Melihat tubuh Gathan mematung tanpa memberikan reaksi apa-apa, Freya pun dengan gencar melakukan serangannya. Ia mengusap tubuh Gathan dengan seduktif berharap bisa membangkitkan gairah Gathan. Dalam hati, Freya mengumpat marah, Gathan tadi tidak berkilah atau pun mengiyakan tuduhannya kalau Gathan pasti sudah melakukan hubungan suami-istri dengan Nanda. Dalam hati ia penasaran, apakah memang mereka sudah melakukannya atau belum. Kalau sudah, sungguh mereka kurang ajar pikirnya. Ia saja yang sudah 1 tahun menemani tidak pernah disentuh, lalu jal@ng itu dengan mudah mendapatkan haknya.
Dalam hati, Gathan merapal doa semoga Nanda memaafkan dirinya. Ia akan mencoba berlaku adil. Ia akan mencoba memberikan hak Freya. Ia akan sangat berdosa bila tidak memberikan apa yang memang jadi hak Freya.
Gathan memejamkan matanya dengan satu tangan bertumpu pada dinding kamar mandi. Air shower mengucur deras membasahi semua tubuh mereka. Freya kini berpindah ke depan Gathan. Dipeluknya tubuh kekar Gathan sambil menggerakkan tangannya di atas dada Gathan, mengukir pola-pola abstrak sambil menggesekkan bagian bawahnya ke milik Gathan.
__ADS_1
Freya senang bukan main tidak mendapatkan penolakan kali ini. Ia merasa menang kali ini. Ia yakin hari ini ia akan berhasil memiliki Gathan seutuhnya. Ia yakin rencana dirinya akan berhasil. Ia yakin tanpa rencana ayahnya, ia akan mendapatkan Gathan seutuhnya. Ia yakin, dengan ini semua rencana mereka akan berjalan lancar. Ia bahkan telah meminum obat penyubur kandungan, berharap setelah ini ia akan segera hamil.
Freya menyelipkan tangannya di belakang tengkuk Gathan dan menariknya perlahan agar ia dapat menyatukan bibirnya dan bibir Gathan. Tinggal satu inci lagi bibir itu menyatu, tiba-tiba Gathan memalingkan wajahnya ke arah lain membuat Freya menggeram kesal. Namun emosi itu ia tahan, ia tidak mau merusak rencananya sendiri. Dapat ia rasakan, gairah Gathan belum naik. Bahkan torpedonya saja masih di posisi semula membuatnya kembali berpikir, mungkinkah memang Gathan tidak tertarik dengan seorang perempuan?
Tak mau menyerah, Freya berjongkok di depan Gathan dan hendak menurunkan celana Gathan. Ia bermaksud melakukanya dengan mulutnya, siapa tau torpedo itu tiba-tiba bangkit, tapi baru saja Freya memegang karet celana Gathan, Gathan sudah mencengkeram erat tangan Freya dan menghempasnya pelan membuat Freya tersentak.
"Jangan melakukan hal yang di luar batas, Fre! Aku tidak menyukai itu." desis Gathan dengan gigi bergemeletuk. "Maaf, aku tidak bisa melakukannya denganmu." imbuhnya lagi. Lalu ia berlalu mengambil handuk dan melingkarkan di pinggang. Tanpa menoleh lagi, ia keluar dari kamar mandi , meninggalkan Freya yang wajahnya telah memerah karena murka.
"Sial@n ... ! Breng-sek! Apakah kau memang seorang gay, hah? Apa susahnya bercinta denganku? Aaargh ... padahal aku sudah meletakkan harga diriku serendah-rendahnya demi mendapatkanmu lalu kau memperlakukan ku seperti ini! Breng-sek kau, Gathan! Aku takkan pernah melepaskanmu. Takkan pernah. Aku akan melakukan rencana papa. Akan ku buat kau bertekuk lutut padaku." teriak Freya emosi di bawah pancuran air membuat suara itu teredam tidak terdengar dari luar.
Selesai berpakaian, dengan acuh Gathan meninggalkan kamarnya dan menuju ruang kerjanya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1