Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.81 Happy family


__ADS_3

Mendengar kabar kehamilan Nanda, sontak saja malam harinya semua keluarga besar Nanda dan Gathan berkumpul di kediaman Lavina. Tepat ba'da Maghrib Gathan pun pulang dengan wajah sumringah. Kabar bahagia pagi tadi sukses membuat hatinya begitu membuncah.


"Malam sayang." ucap Gathan seraya menghampiri sang istri yang tengah bercengkrama dengan Aileena dan Nuri. Lalu Gathan menyapukan kecupan han6di puncak kepala Nanda membuat Nanda mendongak untuk melihatnya.


"Mas Gathan, udah pulang." ucap Nanda sumringah.


"Cie cie ... romantisnya." goda Aileena membuat wajah Nanda bersemu merah. Sedangkan Gathan hanya tersenyum tipis.


"Eh, bunda Ai, maaf Bun, nggak sadar tadi kalau ada bunda Ai sama ibu Nuri." ucap Gathan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ya, semenjak dalam perjalanan pulang tadi, fokus dirinya hanya pada Nanda saja. Sampai setibanya di rumah pun, yang ada di mata dan pikirannya hanya Nanda, oleh sebab itu setibanya di rumah orang tuanya, yang dicari Gathan pertama kali hanyalah Nanda.


"Hhmmm ... mentang deh yang sedang dimabuk cinta, sampai-samoai bunda sama ibu kayak makhluk nggak kasat mata." ujar Nuri yang diiyakan Aileena membuat semua yang mendengarnya tergelak.


"Ah, Jeng Nuri bisa aja! Kayak nggak pernah muda aja." bela Lavina membuat yang lainnya pun kembali tergelak.


"Gimana Than, presentasinya? Lancar?' tanya Ganindra penasaran sekaligus antusias.


Gathan pun tersenyum lebar, "Rejeki anak istri, pa, Alhamdulillah semua lancar dan perusahaan kita yang memenangkannya." ucap Gathan tak kalah antusias.


"Wah, selamat ya Gathan! Memang benar, dibalik pria yang sukses pasti ada sosok istri yang hebat dan kini ditambah kehadiran calon buah hati, om yakin, kamu bakal lebih sukses lagi." tutur Fatur yang dibenarkan semua orang.


"Terima kasih, om. Memang benar kata om, semenjak kehadiran Nanda, hidupku menjadi lebih indah dan bersemangat. Pekerjaanku juga makin lancar." ucap Gathan. "Tapi semua itu tidak lepas dari campur tangan mama, kalau mama nggak menjodohkan kami dan memintaku segera menikahi Nanda, pasti hidupku takkan sebahagia ini." ungkap Gathan jujur. "Terima kasih, ma. Jodoh pilihan mama memang yang terbaik." ucap Gathan tulus membuat Lavina dan Nanda sampai berkaca-kaca.


Kini semua orang tengah malam malam bersama. Berbagai menu menggugah selera telah terhidang di meja makan. Semua orang makan bersama sambil berbincang bahagia.


"Sayang, kamu harus banyak makan, kamu kan sekarang bukan hanya makan buat diri sendiri tapi ada dedek bayi yang juga ikutan makan." ujar Gathan seraya memasukkan banyak sayur, ikan, udang ke dalam piring Nanda membuat Nanda membolakan matanya.

__ADS_1


"Mas, ini kebanyakan. Jangan mentang-mentang Nanda hamil jadi dikasi makan sebanyak ini."


"Kamu itu butuh banyak makanan dan nutrisi, biar kamu dan calon buah hati kita sehat."


"Nggak, ini kebanyakan mas, Nanda pasti nanti nggak hmmmppp .... mmm ... " Nanda mendelik kesal saat tiba-tiba saja Gathan menyuapkannya sesendok penuh nasi yang telah dicampur sayur dan ikan.


"Aaa ... makan udangnya, sayang." Gathan meminta Nanda membuka mulutnya. Dengan patuh, Nanda membuka mulutnya walaupun dengan ekspresi kesal di wajahnya.


"Jangan marah-marah, Nda! Entar anak kamu jadi mirip bapaknya semua, nggak ada mirip kamu sama sekali." ledek Khanza.


"Iya kah, Tan? Tapi bukannya bagus, kan mas Gathan orangnya ganteng, berarti Nanda harus lebih sering-sering marah sama mas Gathan dong."


"Iya kalau anak kamu cowok, kalau cewek gimana? Mau princess nya mirip bapaknya semua, cewek muka ganteng." ledek Khanza lagi.


Nanda sontak menggeleng dengan cepat, "Ikh, Tante kok gitu sih! Ya udah, Nanda nggak marah-marah lagi. Nanda sayang-sayang nih." lantas Nanda mengambil alih sendok di tangan Gathan dan berbalik menyuapinya tapi dengan gerakan cepat membuat Gathan harus mengunyah dengan cepat-cepat.


"Biar nasinya cepat habis, Bun. Mas Gathan sih ngambilin nasinya banyak banget. Sedang hamil bukan berarti makannya harus banyak, iya kan Bun? Kan bunda lebih berpengalaman." tukas Nanda meminta pembelaan.


"Iya nak Gathan, benar kata Nanda. Sedang hamil bukan berarti makannya harus banyak karena yang penting itu nutrisinya terpenuhi. Makan saja sewajarnya, kalau lapar lagi baru deh makan lagi. Karena saat hamil itu kadang bikin bumil mudah lapar, tapi bukan sekali makan harus banyak yang ada perut malah sakit." tukas Aileena menasihati. Gathan pun mendengarkan dengan seksama. Walaupun ini kehamilan kedua Nanda, tapi ini merupakan pengalaman pertamanya jadi ia butuh bimbingan dari yang sudah berpengalaman.


"Terima kasih Bun nasihatnya. Mungkin lain kali bunda bakal sering kami repotin, selain mama tentunya." ujar Gathan membuat semua orang tertawa.


Makan malam telah usai 2 jam yang lalu. Bahkan para tamu lun sudah kembali ke rumah masing-masing. Untuk beberapa hari ini, Nanda dan Gathan diminta tinggal di rumah orang tua Gathan terlebih dahulu. Terlalu antusias, Lavina tak ingin kehilangan momen mengurus menantu kesayangannya itu. Bahkan demi Nanda dan calon cucunya mendapatkan asupan gizi yang cukup, Lavina sampai turun tangan sendiri untuk menyiapkan makannya, baik itu sarapan, makan siang, maupun makan malam.


Karena sudah lelah, Nanda pun beringsut untuk naik ke kamar Gathan yang ada di lantai 2. Baru saja ia pamit dengan kedua mertuanya, Gathan tiba-tiba saja menggendong Nanda ala bridal style menaiki undakan tangga menuju kamar mereka.

__ADS_1


"Mas." pekik Nanda kaget saat tiba-tiba saja tubuhnya melayang di udara. Ternyata itu ulah Gathan. Dengan santainya, ia menggendong Nanda tepat di hadapan kedua orang tuanya. Lavina dan Ganindra hanya tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala tak menyangka putranya yang kaku dan dingin bisa sebucin itu pada istrinya. Mereka merasa sangat bahagia tidak salah dalam memilihkan jodoh untuk anaknya. Sebab di luar sana, begitu banyak kisah perjodohan yang berakhir tidak bahagia bahkan ada yang sampai berakhir tragis. Awal mula saat Lavina ingin menjodohkan Gathan dan Nanda, sebenarnya ia sempat khawatir. Khawatir keduanya tidak bahagia. Khawatir rumah tangga mereka kacau balau apalagi saat itu Gathan telah memiliki istri. Namun kekhawatiran itu lenyap sudah. Kini ia merasa tenang ternyata keduanya mampu menghadapi semua rintangan dan berakhir saling mencintai.


"Apa sayang?" tanya Gathan santai saat mereka telah berada di pangkal undakan tangga.


"Ish, malu mas, masih ada mama papa kok main gendong-gendong aja."


"Kan kamu lagi hamil jadi nggak boleh capek."


"Kalau cuma naik turun tangga aja nggak masalah kok, mas. Nggak usah lebay deh."


"Mas bukan lebay, sayang." tukas Gathan seraya membaringkan tubuh Nanda di atas ranjang dengan pelan. "Tapi mas itu khawatir. Mas terlalu takut kehilangan lagi. Mas ingin menjaga dan melindungi kamu dan anak kita. Kalian bertiga itu ibarat jantung mas, mas bisa mati bila terjadi sesuatu dengan kalian. Seandainya mas bisa, mas ingin selalu menjaga kalian, tapi itu nggak mungkin sebab mas pun punya tanggung jawab di kantor. Jadi, selama kita sedang bersama, sebisa mungkin mas ingin selalu menjaga, membantu, melindungi, melayani, bahkan kalau kamu minta kemana-mana mas gendong pun mas bersedia, tapi itu nggak mungkin kan." ujarnya lagi seraya mencubit ujung hidung Nanda dengan gemas.


Mendengar setiap penuturan Gathan sontak saja membuat hati Nanda menghangat hingga matanya berkaca-kaca. Perasaannya membuncah. Bahagianya begitu luar biasa. Ia tak menyangka, lelaki luar biasa ini adalah suaminya. Ia bahagia, sangat bahagia.


"Maafin Nanda ya mas karena tidak mengerti perasaan, mas. Terimakasih atas segalanya. Jadi makin cinta deh sama mas suami." tukas Nanda sambil terkekeh.


"Tak perlu berterima kasih karena itu semua kewajiban, mas. Kamu udah membawa kebahagiaan dalam hidup, mas. Maka dari itu, mas akan membalasnya berkali-kali lipat. Mas juga jadi makin cinta deh sama istri mas." bisik Gathan di depan wajah Nanda. Kemudian Gathan pun menyapukan bibirnya di atas bibir Nanda. Ciuman itu begitu lembut, tiada napsu di dalamnya. Hanya ada cinta dak kasih sayang yang tak terukur yang tersalur dalam luma*tan lembut nan syahdu. Mereka saling mengecup, saling memagut, saling melum*at, saling membuai dan berakhir dengan pelukan mesra. Andai saja dokter di rumah sakit tadi tidak menasihati Gathan untuk menahan diri, mungkin mereka telah menyatukan diri mereka dalam gairah cinta yang bergelora. Tapi karena rasa cinta dan kasih sayang yang tak terhingga Gathan pada Nanda dan calon kedua buah hatinya, maka ia lebih memilih menahan segala hasrat yang sempat membara.


"Sabar ya, mas! Cuma sementara kok." goda Nanda membuat Gathan terkekeh gemas.


"Bukannya kamu yang mesti sabar? Emangnya mas nggak tau kalo istri mas lagi pingin." godanya balik membuat wajah Nanda merah padam dengan bibir mengerucut.


"Idih, sembarangan. Dah ah, Nanda ngantuk. Selamat malam mas suami."


"Selamat malam juga istri mas tersayang." ucap Gathan lalu ia mengecup puncak kepala Nanda dan membiarkan Nanda tertidur terlebih dahulu.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🙏...


__ADS_2