
Setibanya di rumah sakit, Gathan langsung saja melompat dari dalam mobilnya. Tak peduli mobil yang belum benar-benar berhenti apalagi terparkir sempurna. Sebab yang ada dipikirannya saat ini hanyalah istrinya, Nanda. Sekelebat bayangan kesakitan Nanda membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Berbagai asumsi dan pikiran negatif seakan memenuhi otak dan pikirannya.
'Ya Allah, tolong selamatkanlah anak dan istriku.' lirih Gathan seraya berlarian menuju pusat informasi rumah sakit Cinta Medika.
Ia pun segera menanyakan keberadaan sang istri.
"Dok, bisa beritahu saya istri saya, namanya Nanda, dia dibawa ke ruang mana ya?" tanya Doni dengan nafas memburu.
"Siapa tadi namanya, pak? Bu Nanda?" tanya sang resepsionis, Gathan pun mengangguk. Lalu resepsionis itu pun segera mencari data pasien atas nama Nanda, tapi ia tak menemukannya.
"Tapi di sini tidak ada pasien atas nama Bu Nanda, pak. Apa benar istri Anda benar-benar dibawa ke rumah sakit ini?" tanya Resepsionis itu untuk memastikan.
"Benar, dia korban kecelakaan. Mungkin baru sekitar 30 menit yang lalu dibawa kemari." ujar Gathan yang sudah dibanjiri peluh. Kakinya tidak bisa diam. Ingin rasanya ia segera berlari mencari istrinya ke setiap ruangan, tapi itu tak mungkin, bukan. Bukannya cepat menemukan, justru membuang waktu dan tenaga.
"Oh korban kecelakaan barusan. Perempuan itu dibawa ke unit gawat darurat yang ada di lantai 2, pak. Silahkan bapak cek ke sana." tukas resepsionis itu. Setelah mengucapkan terima kasih, dengan tergesa, Gathan masuk ke dalam lift menuju lantai 2.
Setibanya di lantai 2, Gathan menanyakan pada perawat yang lewat posisi unit gawat darurat itu. Setelah mendapatkan petunjuk, Gathan lun berlari lagi menuju lokasi yang dimaksud.
Dengan nafas memburu, kini Gathan telah berdiri di depan UGD. Tapi ia bingung karena tak ada seorang pun yang bisa ia tanyain di sana. Ada beberapa ruangan, ia tidak tahu dimana istrinya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya. seorang perawat saat melihat Gathan yang berdiri di depan ruang UGD dengan raut bingung.
"Oh, saya mencari istri saya. Katanya ia dibawa ke UGD lantai 2 ini, tapi saya tidak tau di ruangan yang mana." ujar Gathan menjelaskan.
Perawat itu mengangguk, "Apa dia seorang perempuan muda dan merupakan korban kecelakaan barusan?" tanya perawat itu.
"Iya, benar. Dia istri saya." sahut Gathan cepat.
"Mohon bapak tunggu sebentar ya, pak. Sekarang istri Anda sedang menjalani observasi terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan lanjutan. Oh iya, istri Anda tadi dibawa oleh seorang ibu-ibu dan dia pun ikut terluka. Katanya ia ikut terjatuh saat menyelamatkan istri Anda dari mobil yang hendak menabraknya." jelas perawat itu membuat Gathan membelalakkan matanya karena terkejut saat mendengar penuturan perawat itu kalau ada yang sengaja ingin menabrak istrinya.
__ADS_1
"Apa? Lalu bagaimana dengan kondisi ibu itu?" tanya Gathan yang khawatir dengan sang penolong.
"Beliau terluka di kepala bagian belakang cukup dalam. Untungnya tidak mengenai area vital sehingga tidak berakibat fatal. Juga ada luka di sepanjang lengan sampai siku, tapi tidak terlalu parah. Kalau bapak ingin melihat kondisi ibu itu sembari menunggu informasi dari dokter yang menangani istri Anda, bapak bisa ikut dengan saya" ujar perawat itu.
Lalu Gathan pun mengikuti langkah sang perawat menuju ke salah satu ruangan yang tidak jauh dari UGD.
"Selamat sore bu, perkenalkan saya Gathan, suami dari perempuan yang baru saja ibu selamatkan." ujar Gathan sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Oh, iya, perkenalkan saya Nuri." ujar wanita itu lalu Gathan duduk di sebuah kursi yang bersebelahan dengan kursi bu Nuri itu.
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak Bu atas pertolongan ibu. Entah bagaimana keadaan istri saya bila ibu tidak menolongnya." ujar Gathan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah kewajiban sesama manusia untuk saling menolong." tukasnya lembut. "Oh ya nak Gathan, bagaimana keadaan istri Anda? Oh ya, kalau boleh tau, nama istri Anda siapa?" lanjut Nuri.
"Nama istri saya Nanda, Bu." Gathan menjeda kata-katanya. "Tapi saya belum tau bagaimana keadaannya sebab sekarang masih tahap observasi." imbuh Gathan. "Oh ya Bu, kalau boleh, bisakah ibu menjelaskan sedikit kronologis terjadinya kecelakaan itu?" tanya Gathan yang penasaran dengan apa yang menimpa istrinya. Apa benar ada yang berusaha mencelakakan istrinya?
Gathan terkejut saat mendengar penuturan Nuri, 'Mobil mini Cooper? Jangan-jangan itu Freya! Kalau sampai benar, aku takkan pernah memaafkanmu. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nanda dan calon anakku, tunggu saja, aku pasti akan membalasmu.' batin Gathan dengan gigi menggertak kencang.
"Ibu nggak salah, ibu cuma bermaksud menolong istri saya. Mohon doanya ya Bu, semoga istri dan calon anak saya baik-baik saja." ujar Gathan penuh harapan mencoba mengabaikan sementara dugaan dan kemarahannya.
Nuri menatap nanar Gathan, dalam hati ia pun mendoakan hal yang sama. Tapi melihat banyaknya darah yang mengalir tadi, kecil kemungkinan calon buah hati Gathan dan Nanda dapat selamat. Tapi Nuri tetap berusaha mendoakan yang terbaik.
"Iya nak, semoga istri Nak Gathan dan calon buah hati kalian baik-baik saja. " ucap Nuri tulus.
Tok tok tok ...
"Pak, dokter sudah selesai observasi dan ingin bicara dengan Anda segera." ujar perawat yang tadi mengantarnya ke ruangan Nuri.
Gathan sontak berdiri, lalu pamit dengan Nuri untuk mengetahui kondisi sang istri.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Gathan to the point saat ia telah berdiri di hadapan dokter yang memeriksa Nanda.
"Anda?"
"Suami. Saya suaminya."
"Oh baiklah, tolong ikut saya sebentar. Ada hal penting yang harus saya sampaikan."
Lalu Gathan pun mengikuti langkah dokter itu dengan jantung yang bertalu-talu. Ia kini benar-benar khawatir. Tak lama kemudian, Lavina dan Ganindra menyusul Gathan saat melihat Gathan berjalan ke ruangan dokter.
Dokter itu mempersilahkan Gathan duduk dan mulai menjelaskan.
"Pertama-tama, kondisi istri Anda saat ini sangat mengkhawatirkan. Ia kehilangan banyak darah. Selain itu, maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan istri Anda. Benturan yang diterima istri Anda sangat kuat sehingga berdampak buruk pada janin juga bagian kepalanya. Karena itu, kami meminta izin Anda untuk mengangkat janin itu segera!" ujar Dokter itu membuat nafas Gathan tercekat. Pun Lavina dan Ganindra yang baru tau kalau Nanda sedang mengandung sebab Gathan memang belum sempat memberikan kabar baik itu. Kabar yang seharusnya membuat orang tuanya bahagia, kini malah menjadi kabar yang memilukan hati.
Gathan termenung, sambil meremas kedua tangannya, lalu ia mengangkat wajahnya menatap lekat wajah dokter itu.
"Apakah istri saya akan baik-baik saja?" tanya Gathan dengan bibir bergetar.
"Kami hanya bisa berusaha. Istri Anda kehilangan banyak darah. Yang jadi masalah saat ini, jenis darah istri Anda itu langka. Tidak ada stok di bank darah. Golongan darahnya AB-. Kami belum bisa melakukan operasi bila belum memiliki stok darah. Apakah ada salah satu dari kalian memiliki golongan darah ini?" tanya dokter itu dengan mimik wajah serius.
Ketiga orang itu menggeleng membuat Gathan frustasi. Kemana ia harus mencarinya, pikirnya.
"Berarti tinggal satu jalan, panggil saudara atau orang tuanya kemari, kemungkinan besar salah satu dari mereka memiliki golongan darah yang sama. Setelah kita memiliki pendonor dan stok darah mencukupi, barulah operasi pengangkatan janin dan kepala istri Anda dapat dilaksanakan." tukas dokter itu membuat Gathan, Lavina, dan Ganindra bingung. Apalagi setahu mereka, Nanda sejak kecil berada di panti asuhan. Kecil kemungkinan orang tuanya masih ada.
Tapi Gathan tak ingin putus asa. Ia bahkan menghubungi semua rekan dan kerabatnya berharap ada yang memiliki golongan darah serupa. Ia juga terus berpikir, kemudian ia tiba-tiba mengingat sesuatu. Gathan pun segera meminta tolong agar Lavina dan Ganindra menjaga Nanda untuk sementara sebab ia harus pergi untuk memeriksa sesuatu.
...***...
...Happy reading 🥰 🥰🥰...
__ADS_1