Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.55 Hebat!


__ADS_3

Brak ...


Tiba-tiba saja Tio masuk ke ruangan Gathan dan langsung bersimpuh di hadapannya dengan wajah murah penuh penyesalan. Gathan menaikkan alisnya sebelah lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


Gathan diam saja memperhatikan apa yang ingin dilakukan asisten pribadinya itu dengan tatapan memicing.


"Tuan ... " Tio menelan ludahnya sendiri, bingung harus memulai dari mana.


"Kalau kau hanya ingin diam membisu seperti itu lebih baik keluar. Kalau perlu jangan tampakkan lagi wajahmu itu. Aku mempekerjakan asisten pribadi bukan sekedar untuk membantuku bekerja, tetapi juga untuk menjadi orang kepercayaanku. Namun, kau ... justru sebaliknya." sinis Gathan membuat Tio makin tercekat dengan mata membelalak.


"Tuan ... aku mohon, maafkan aku. Aku mohon jangan pecat aku." mohon Tio dengan kepala tertunduk lesu. Bagaimana pun ia masih membutuhkan pekerjaan ini. Berkat pekerjaannya ini, ia dapat membantu dan menjadi donatur tetap di panti asuhan tempat ia dibesarkan. Bila ia dipecat dari sini, artinya ia harus mencari kerja di tempat lain dan harus memulainya dari awal. Belum lagi belum tentu pekerjaan barunya itu dapat menghasilkan gaji yang besar seperti di Tj Group.


"Mengapa aku harus memecatmu? Apa kau sudah membuat kesalahan fatal?" ucap Gathan datar dengan sorot mata tajam.


"Tuan, aku yakin, kau telah menyadari pengkhianatan yang aku lakukan. Aku mohon maafkan aku. Aku bersumpah, aku tidak pernah mencoba ingin mengkhianatimu. Aku terpaksa melakukan itu." lirihnya dengan wajah tertunduk dalam.


Gathan berdecak, "Terpaksa tapi berkali-kali. Aku bahkan tidak dapat mengenali mana kejujuran dan mana kebohongan sebab kau sangat pandai berdusta."


"Aku mohon maafkan aku. Aku tau, aku salah."

__ADS_1


"Bila kau ingin aku memaafkanmu, maka jelaskan semua yang kau ketahui! Tanpa ada satupun yang kau tutupi." titah Gathan tegas seraya berdiri lalu memutari mejanya. Ia pun menyandarkan bokongnya di meja kerja dengan tangan bersedekap di depan dada.


Tio mengangguk dan mulai menjelaskan dengan gamblang tentang Freya yang merupakan adiknya yang telah lama terpisah dan baru kembali bertemu saat Gathan memintanya mengurus perihal Reza yang tengah dirawat di rumah sakit karena kecelakaan yang diakibatkan oleh dirinya.


Dari sanalah pertemuan keduanya makin intense. Awalnya memang kaki Reza mengalami cedera tapi itu tidak sampai mengalami kecacatan hingga pada suatu malam Freya memintanya ia mengatakan pada Gathan bahwa Reza mengalami kelumpuhan agar mereka bisa mengikat Gathan untuk menikahinya. Awalnya Tio menolak tapi Freya marah dan menuduhnya tidak menyayanginya lagi. Hingga akhirnya dengan terpaksa Tio membantu mereka. Saat itu pula ia baru tau kalau Reza telah merencanakan semua ini sejak awal termasuk perihal peristiwa kecelakaan itu. Alasannya tak lain karena Gathan merupakan putra tunggal pengusaha kaya. Menjadi bagian dari keluarga Tjokroaminoto tentu akan memberikan berkah luar biasa bagi mereka. Hidup mereka pasti akan terjamin tanpa perlu bekerja keras.


Brakkk ...


Gathan menggebrak meja sekuat tenaga hingga kaca yang melapisi meja itu retak. Bahkan jemari Gathan tampak mengeluarkan darah karena goresan retakan kaca membuat Tio tercekat dan memucat di tempat.


"Apa kalian anggap aku ini lelucon yang seenaknya kalian permainkan?" bentak Gathan dengan suara menggelegar membuat Tio kian tercekat. "Hahahah ... kalian sungguh hebat. Sepertinya kalian lebih pantas menjadi aktris dan aktor sebab sandiwara yang kalian lakonkan sungguh-sungguh sempurna. Kalian seenaknya mempermainkanku , mempermainkan kepercayaanku, mempermainkan hidupku, bajing@n kalian semua." ucap Gathan dingin.


"Maafkan saya tuan, maafkan adik saya, maafkan Freya." mohon Tio dengan wajah memelas.


"Tuan, saya mohon maafkan saya tuan, jangan pecat saya tuan. Saya membutuhkan pekerjaan ini, tuan. Tolong jangan pecat saya?" mohon Tio dengan suara memelas. Dia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Bagaimana dengan nasib anak-anak bila ia kehilangan pekerjaan? Dia tidak bisa mengorbankan nasib anak-anak yang kini menjadi tanggungannya.


"Maafkan? Pernahkah kau berpikir bagaimana perasaanku saat tau kalau selama satu tahun ini kalian permainkan? Kau pikir aku hanya diam karena aku tak punya hati, hah? Aku sangat menjunjung tinggi kepercayaan dan kalian telah menghancurkannya. Aku mempercayai kalian tapi kalian justru menipuku mentah-mentah. Kau membutuhkan pekerjaan tapi kau menipu atasanmu sendiri. Kalian memang benar-benar breng-sek." sinis Gathan dengan mata berkilat emosi. "Keluarlah sebelum kesabaranku habis!" titahnya dingin lalu memalingkan wajahnya enggan melihat wajah Tio.


Tio tertunduk lesu. Ia berdiri lalu berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka, Tio menoleh sebentar menatap Gathan.

__ADS_1


"Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Maaf karena menghancurkan kepercayaanmu. Aku sungguh-sungguh menyesal." lirih Tio dengan penuh penyesalan.


...***...


Usai mengusir Tio pergi dari kantornya, Gathan segera menelpon Surti untuk menanyakan keberadaan Freya yang ternyata saat itu tidak sedang berada di rumah. Ia pun segera meminta Erwin mengantarkannya ke suatu tempat. Butuh lebih dari satu jam untuk mencapai tempat tujuan. Di dalam mobil, Gathan menggertakkan giginya dengan tangan mengepal. Kenyataan yang diperolehnya secara langsung dari Tio tadi membuat emosinya yang selama ini tersimpan rapi, seakan tidak sabar ingin meledak.


Gathan benar-benar tidak menyangka jika selama ini ia telah dipermainkan. Sandiwara yang begitu apik, bahkan ia sampai tidak menyadarinya. Gathan bukanlah tipe seorang yang mudah menaruh curiga. Tingkat kepekaannya memang serendah itu terhadap kehidupan sosial, tapi tidak bila itu urusan pekerjaan. Penyebabnya tidak lain karena kurangnya interaksi sosial Gathan terhadap lingkungan sosialnya. Bahkan sejak zaman sekolah pun, ia hanya sibuk berkutat dengan buku, dibandingkan dengan teman-temannya.


Setibanya di tempat tujuan, penjaga langsung membukakan pintu gerbang. Mereka langsung tau siapa yang ada di dalam mobil saat melihat sang sopir. Setelah mobil terparkir rapi, Gathan pun bergegas turun dari mobil dan melirik sinis mobil Freya yang juga terparkir rapi di sana.


Tanpa ragu, Gathan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang bercat nuansa putih gading itu. Pelayan yang ada di dalam rumah membelalakkan matanya saat melihat Gathan dan ia ingin segera berlari menuju taman belakang untuk memberitahukan tentang kedatangan Gathan, namun Gathan lebih dahulu menghentikan langkahnya sambil menatap tajam membuat pelayan itu menegang.


Gathan dapat membaca situasi apa yang akan ia hadapi saat ini. Dan sesuai dugaannya, di depan matanya, ia melihat Reza sedang berdiri sambil berbincang dengan Freya di taman belakang.


Prok prok prok ...


Gathan bertepuk tangan sambil tersenyum sinis menatap kedua orang yang kini sedang menegang sekaligus memucat saat melihat Gathan memergoki mereka sedang berbincang santai di taman belakang.


"Hebat. Benar-benar hebat." cibirnya dengan satu sudut bibir naik ke atas.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2