Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.71 Bahagia akhirnya datang


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam lamanya, pak Tarno membelokkan mobilnya ke gerbang sebuah rumah. Gerbang berwarna coklat itu terlihat kokoh dan cukup tinggi. Nanda begitu familiar saat melihat gerbang itu tapi ia masih belum mengenalinya. Hingga mobil berhenti telat di depan sebuah rumah yang begitu megah. Rumah itu menganut tipe modern klasik yang didominasi cat berwarna putih gading dan coklat di beberapa bagian.


Gathan membimbing Nanda untuk turun dari dalam mobil itu. Nanda berdiri kaku menatap ke arah rumah megah itu. Seketika ingatan Nanda berputar ke belasan tahun yang lalu. Memorinya berputar layaknya memutar kaset film. Ia seakan melihat dirinya sendiri yang sedang bermain sepeda pemberian sang nenek. Tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah. Nanda yang belum begitu mahir mengendarai sepeda lantas menabrak mobil yang baru saja berhenti itu. Hingga seseorang turun dari dalamnya dan memandangnya dengan penuh benci dan emosi. Nanda meringis saat mengingat bagaimana ia dimarahi ayahnya karena menabrak mobilnya dengan sepeda miliknya.


Matanya berputar ke area taman bunga. Di sana ia biasanya menemani sang nenek menanam dan menyirami bunga-bunga kesayangan sang nenek. Tapi itu terjadi belasan tahun yang lalu. Bunga itu sepertinya sudah bertambah atau berganti dengan yang baru, Nanda tak tahu. Namun yang pasti, taman itu terlihat terawat. Nanda seketika meneteskan air matanya saat melihat ke arah taman itu. Sekilas, ia bisa melihat bayang-bayang sang nenek yang mengajarinya menanam bunga. Ia juga membantu neneknya menyirami bunga-bunga itu. Karena itulah ia pun jadi begitu menyukai bunga.


Mata Nanda berkaca-kaca saat sekelebat memori masa kecilnya melintas di benaknya. Ada tangis tapi juga ada canda tawa yang ia dapatkan di rumah penuh kenangan itu. Nanda masih terpaku di tempatnya. Ia merasa ragu untuk melangkah walaupun hanya sejengkal saja. Ia belum mengerti, mengapa Gathan mengajaknya ke sini.


Sebuah tepukan mendarat di pundak Nanda membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. Nanda menoleh ke belakang, seulas senyum hangat terlukis indah di wajah Gathan. Hati Nanda yang tadi sempat tertekan seketika menjadi tenang. Sebesar itukah efek seorang Gathan di dalam hidupnya? Nanda tak tahu. Namun yang pasti, kehadiran Gathan begitu berarti bagi dirinya.


"Mikirin apa, hm?" bisik Gathan yang kini menopangkan dagunya di atas pundak Nanda hingga hawa panas dari nafas lelaki itu menerpa leher hingga telinganya. Wajah Nanda seketika memerah saat mendapatkan perlakuan manis itu.


"Ah, tidak ada. Nanda nggak lagi mikirin apa-apa kok." dusta Nanda dengan gugup.


"Jangan pernah menutupi satu hal pun dari mas ,Nda! Apa yang kau inginkan, apa yang kau pikirkan, apa yang kau harapkan, katakan saja semua pada mas. Jangan anggap mas sekedar suami saja, tapi jadikan mas sebagai tempat mengadu, tempat bertukar pikiran, tempat berkeluh-kesah, tempat meminta pendapat dan saran, dan tempat bergantungmu. Mas akan senang hati melakukannya. Because you're so precious, sayang. Jadi mulai sekarang, berusahalah lebih terbuka pada mas. Ingat sayang, mas bukanlah orang lain Begitu pula mas, mas akan selalu berusaha terbuka padamu." tukas Gathan di telinga Nanda.

__ADS_1


Nanda mengangguk pelan. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Nanda menggenggam erat jemari Gathan yang menggenggamnya erat sambil menghembuskan nafas panjang.


"Nanda ... Nanda hanya teringat kenangan masa kecil Nanda dulu, mas. Menurut om Dika, Nanda tinggal di sini sejak usia 3 tahun jadi Nanda tinggal di sini hampir 7 tahun. Nanda punya banyak kenangan indah sama kakek, nenek, dan om Dika di sini. Mereka sangat menyayangi Nanda. Duh, Nanda jadi kangen kakek dan nenek. Kapan-kapan, mas temenin Nanda ke makam kakek dan nenek ya!" pinta Nanda dengan wajah memelas.


"Katakan saja, kapanpun mas bersedia. Ayo kita masuk dulu! Semua orang pasti udah dari tadi nungguin kita." tukas Gathan sambil merengkuh pinggang Nanda dan membawanya ke depan rumah.


"Semua orang?" tanya Nanda penasaran dengan alis berkerut.


"Ya, semua orang " jawab Gathan sambil tersenyum lebar.


"Surprise!!!" seru semua orang sambil menembakkan confetti ke udara membuat ruangan yang tadinya sunyi jadi riuh seketika.


Nanda sontak saja membelalakkan matanya. Lalu seorang pria yang masih tampak gagah di usia senjanya datang mendekat ke arah Nanda dan memeluknya erat.


"Welcome home, sayang! Selamat datang di rumah ini. Rumah penuh kenangan kita. Hmmm ... baru saja beberapa hari nggak ketemu, udah kangen banget." ujar Doni saat ia merenggangkan pelukannya.

__ADS_1


"Papa, ini ..." mata Nanda berkaca-kaca saat melihat satu persatu orang yang menatapnya dengan tersenyum.


"Hmmm ... ini kejutan penyambutan khusus untukmu. Semoga kamu suka, Nda. Selama ini papa nggak pernah membahagiakan kamu apalagi ngasi kejutan spesial. Jadi kali ini, papa ingin membuat sesuatu yang spesial untuk kamu. Sambutan atas kembalinya kamu ke dalam pelukan papa. Walaupun nggak bisa sepenuhnya karena kamu udah ada suami sekarang, tapi papa senang. Akhirnya papa bisa memiliki kesempatan membahagiakan kamu." tukas Doni lalu ia mengecup keningnya.


"Selamat datang, sayang. Selamat kembali." kini Aileena yang datang menghampiri dan memeluk Nanda. Bergantian dengan Nuri, Rere, Khanza, bahkan Adnan pun ikut datang. Walaupun ia hanya menjadi seorang papa dalam waktu yang singkat, tapi rasa sayang itu masih ada di hati Adnan. Belum lagi, akibat perbuatannya lah, ibu Nanda meninggal. Rasa sesak itu terkadang mengganggu benaknya apalagi saat tau Nanda menghilang karena diabaikan ayah biologisnya sendiri.


Lalu Doni meminta Gathan menuntun Nanda masuk ke dalam rumah. Ternyata semua orang sedang mempersiapkan pesta penyambutannya dengan membuat acara barbeque di taman belakang.


Di sana tampak kedua mertuanya sedang duduk berbincang dengan para remaja anak-anak Aileena, Rere, Nuri, dan Khanza. Mereka pun melambaikan tangan seraya tersenyum lebar saat melihat Nanda.


Bahkan anak Nuri pun sudah begitu akrab dengan semua orang. Rupanya, beberapa hari ini, Nuri sudah berusaha berdamai dengan Doni. Mereka sudah tinggal bersama tapi tidak sekamar. Sepertinya mereka masih membutuhkan waktu untuk benar-benar berdamai dengan masa lalu. Meskipun mereka telah saling memaafkan, tapi tak semudah itu benar-benar kembali bersama setelah belasan tahun berpisah. Doni maklum akan hal itu dan menerimanya. Yang penting baginya, Nuri tidak jauh dari jangkauannya. Tapi ia memiliki niat, bila Nuri benar-benar mau kembali padanya, ia akan mengulangi akad supaya hidup mereka jauh lebih harmonis ke depannya. Pun Nanda sudah ada yang menjaga, jadi ia tidak terlalu khawatir lagi, tapi sesekali ia tetap mendatanginya untuk memberikan perhatian seorang ayah yang belum pernah Nanda rasakan selama ini. Kini hidup masing-masing orang sudah jauh lebih baik. Perlahan tapi pasti, bahagia akhirnya datang ke dalam kehidupan mereka yang ikhlas dan sabar.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🙏...

__ADS_1


__ADS_2