Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.45 Gathan vs Freya


__ADS_3

Malam kian larut dan seperti biasa, setelah makan malam Gathan akan masuk ke dalam ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen yang belum sempat diselesaikannya di kantor. Dan seperti biasa juga Nanda akan membuatkan secangkir teh melati kesukaan Gathan berikut menyiapkan beberapa potong kue untuk menemani Gathan bekerja.


Saat baru saja Nanda menuangkan gula ke dalam teh yang baru saja di sedihnya, tiba-tiba Freya datang dan menghentikan kegiatannya.


"Ini untuk mas Gathan, kan?" tanya Freya dengan memasang wajah ramah.


Nanda mengangguk seraya tersenyum tipis.


"Iya, mbak." sahut Nanda singkat sambil melanjutkan kegiatannya.


"Sini, biar aku aja. Kamu istirahat saja. Biar mbak yang anterin ini." ujar Freya yang langsung mengambil alih sendok yang hendak digunakan Nanda untuk mengaduk teh itu.


"Tapi mbak ... "


"Tapi kenapa? Kamu mau melarang aku, hm? Apa perlu aku ingatkan lagi kalau aku juga istri mas Gathan jadi kamu nggak punya hak untuk melarang aku. Oh, jangan-jangan kamu mau membuat mas Gathan menjauhi aku, hah? Kamu mau merusak hubunganku dengan mas Gathan? Kamu mau memisahkan kami? Ingat ini jal@ng kecil, aku ini istri pertama jadi disini kau lah pelakornya. Bila sampai hubungan kami hancur maka tak ada yang bisa disalahkan selain dirimu sebab kaulah orang ketiga itu. Istri muda tapi udah merasa nyonya. Benar-benar nggak tau malu." tukas Freya dengan suara meninggi. Beruntung letak dapur jauh dari ruang kerja Gathan jadi Gathan tidak mendengarkan pertikaian kedua istrinya itu.


"Bu-bukan begitu mbak. Ya sudah kalau mbak Freya mau mengantarkannya. Kalau begitu saya permisi." ujar Nanda dengan wajah pias.


Nanda bukanlah gadis yang kuat seperti tokoh-tokoh di karya othor yang lain. Nanda sosok yang rapuh. Kisah hidup di masa lalunya membuatnya menjadi sosok yang lemah dan rapuh. Tapi dibalik kerapuhannya, tersimpan kekuatan seorang wanita yang besar, yaitu rasa sabar. Tidak seperti sosok ibunya dulu yang tidak tahan dengan peliknya hidup sehingga lebih memilih jalan yang tak patut hingga berakhir dengan tragis. Tapi Nanda memiliki kesabaran luar biasa. Ia tak pernah menyerah dengan hidup. Ia selalu berusaha menerima segala ketetapan atasnya dengan ikhlas. Walaupun berat beban yang ia tanggung, ia akan terus berjuang. Ia yakin, asalkan ia terus sabar, suatu hari nanti bahagia itu pasti akan datang padanya.


Freya menyeringai senang melihat Nanda membalik badan dan pergi dari hadapannya. Saat punggung Nanda telah menjauh sempurna, Freya segera mengeluarkan botol kecil yang disimpan di balik br@ miliknya sebab ia memakai piyama mini bertali spaghetti dan tak ada saku baik di celana maupun atasannya. Lalu ia segera menuangkan isi dari botol itu ke dalam cangkir yang berisi teh milik Gathan kemudian membuang botol itu ke dalam tempat sampah. Cairan itu tidak berwarna juga tidak berasa jadi kecil kemungkinan Gathan akan menyadari apa yang telah ia campurkan di dalam teh itu. Diaduknya sebentar teh tersebut dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.

__ADS_1


Setelah merasa semua sesuai rencananya, Freya pun segera membawa nampan berisi teh dan kue tersebut ke ruang kerja Gathan. Ia terlebih dahulu mengetuk pintu setelah dipersilahkan masuk , Freya pun segera membuka pintu membuat bibir Gathan yang tadinya melengkung ke atas seketika menjadi datar.


Gathan mengernyit bingung, tidak biasanya Freya yang datang ke kamarnya membawakan teh dan kue. Tapi kali ini, justru Freya lah yang masuk ke ruang kerjanya, bukannya Nanda yang sebenarnya sudah ia nantikan kehadirannya sejak tadi.


"Kenapa mas? Kecewa bukan Nanda yang membawakan teh dan kue untukmu?" lirih Freya sambil menyimpan teh dan kue itu di atas meja. Freya memasang mimik muka sendu membuat Gathan tak enak hati.


"Ah, bukan seperti itu, Fre! Aku hanya heran saja sebab ... "


"Biasanya bukan aku yang mengantarkan, begitu maksudnya." cetus Freya berpura-pura sedih.


Gathan menghela nafas panjang. Lebih baik ia tak melanjutkan pembicaraan itu dari pada ujung-ujungnya bertengkar.


Lalu Gathan beranjak dari kursi kerjanya kemudian duduk di salah satu sofa single. Freya yang sudah duduk di sofa panjang berdecak kesal dalam hati merasa heran mengapa Gathan seperti begitu menjaga jarak dengan dirinya. Sebegitu tidak menarikkah dirinya sampai suaminya sendiri tidak menyukai kehadirannya pun berdekatan dengannya.


"Sudahlah, tak usah pikirkan. Aku juga minta maaf karena belum bisa menjadi suami yang baik untukmu." sahut Gathan yang ikut merasa bersalah.


Untuk mencairkan suasana, Gathan pun meminum teh yang dibawakan Freya. Disesapnya sedikit demi sedikit teh itu sambil melirik Freya yang tampak tersenyum manis padanya. Dirasainya teh itu dengan seksama di atas lidahnya. Teh itu rasanya memang sama seperti buatan Nanda tetapi mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang beda. Tapi entah itu apa, Gathan pun tak mengerti.


Lalu Gathan mulai menyantap kue yang tersimpan di atas piring. Saat sedang mengunyah, tiba-tiba Gathan merasakan ada sesuatu yang berbeda di tubuhnya. Tubuhnya merasa perlahan memanas. Dapat ia rasakan libidonya naik drastis. Bahkan matanya kini sudah berkabut gairah membuat Gathan menjatuhkan kuenya. Ia coba untuk mengendalikan diri. Ia memang baru pertama kali merasakan ini, tapi ia tidak bodoh, ia sangat tau gejala ini merupakan suatu efek dari obat perangsang.


Mata Gathan memicing tajam tepat menghunus ke bola mata Freya. Ia segera mengangkat cangkir berisi teh itu dan melemparkannya ke lantai hingga cangkir itu pecah berhamburan ke lantai.

__ADS_1


"Apakah sebegitu inginnya dirimu untuk aku tiduri, hm sampai kau melakukan perbuatan hina ini?" tukas Gathan tajam penuh intimidasi.


"A-apa maksudmu, mas?" tanya Freya terbata-bata.


"Tidak usah pura-pura bodoh, Fre. Aku tau apa yang telah kau masukkan di dalam tehku ini. Apakah sebegitu inginnya dirimu bercinta denganku, hm? Kalau kau memang sangat ingin, baiklah, akan aku turuti keinginanmu." tukas Gathan dingin dengan gigi bergemeletuk.


Gathan tetap berusaha tenang walaupun jantungnya sudah berdebar tidak menentu. Sekuat tenaga, Gathan mencoba mengendalikan diri. Biarpun Freya sedang mengenakan pakaian super seksi, tapi tak lantas membuatnya langsung menerjang Freya dengan liar. Pengendalian diri Gathan memang patut diacungi jempol.


Lalu Gathan segera berdiri dan menarik tangan Freya secara paksa menuju kamar mereka. Setibanya di kamar, Gathan langsung menghempaskan tangan Freya hingga ia terjerembab ke lantai yang dingin. Wajah Freya sudah memucat. Ia menelan ludah berkali-kali karena merasa takut melihat ekspresi Gathan saat ini. Gathan tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Apakah efek obat itu juga dapat meningkatkan emosi dan menjadikan orang itu seperti psikopat? Freya benar-benar merasa ketakutan saat ini. Freya bergerak mundur saat Gathan melangkahkan kakinya mendekati Freya dan mengangkatnya seperti karung beras dan melemparkannya ke atas ranjang.


"Mas ... ka-kamu mau apa?" tanya Freya terbata dengan wajah sudah seputih kapas.


"Aku mau apa katamu? Kau bertanya aku mau apa? Bukankah ini yang kau mau? " sarkas Gathan dengan tersenyum sinis.


Lalu tanpa kata Gathan merobek pakaian Freya dan melemparkannya ke sembarang arah. Ia juga menarik semua kain yang melekat pada tubuh Freya lalu tanpa kata Gathan mengungkung tubuh Freya di bawahnya membuat kinerja jantung Freya berkerja hingga berkali-kali lipat. Ia pikir, mungkin inilah akhirnya. Ia pikir, misinya akan segera berhasil apalagi saat ia melihat tangan Gathan mulai menjelajahi lehernya dengan gerakan seduktif.


Tapi ...


"Aaargh ... " pekik Freya saat tangan yang tadi menjelajahi kulit lehernya kini justru menjadi gerakan mencekik.


"Kau tau Fre, aku begitu menghargaimu. Aku begitu menjagamu. Aku selalu memberikan apa yang mau minta, bukankah kau tau alasannya. Lalu mengapa kau bertindak nekat seperti ini, kenapa Fre? Kau tau, aku itu tak mau merusakmu. Aku begitu menghargai kehormatanmu. Aku ingin saat berpisah nanti kita tidak terbebani karena hal apapun. Aku bahkan tak pernah mau menyentuhmu karena aku merasa tidak memiliki hak atas tubuhmu. Aku ingin kau menjadi wanita yang spesial bagi pasangan mu kelak. Pasangan yang mencintaimu apa adanya. Dan itu bukan aku karena aku tidak pernah mencintaimu. Jangan rusak dirimu sendiri demi b@jingan seperti aku." tukas Gathan frustasi lalu ia melepaskan tangannya dari leher Freya dan keluar dari kamar itu meninggalkan Freya yang nampak terengah-engah karena terlalu shock dengan apa yang baru saja Gathan lakukan dan katakan

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2