
2 hari sudah berlalu semenjak Nanda mulai sadarkan diri. Gathan juga sudah menceritakan perihal calon buah hati mereka yang tidak dapat mereka selamatkan. Awalnya Nanda memang merasa terpuruk dan hancur. Ia merasa gagal sebagai seorang ibu. Ia juga merasa gagal menjaga amanah yang dititipkan di rahimnya. Tapi Gathan dan keluarga terus memberikan nasihat dan dukungan. Mereka meyakinkan Nanda kalau kini buah hati mereka sudah tenang di sisi Allah. Ia akan menjadi syafaat bagi kedua orang tuanya dan menarik mereka menuju ke surga-Nya Allah. Allah SWT juga berjanji memberikan pahala kepada Ibu yang sabar ketika mengalami stillbirth atau keguguran. Apalagi kecelakaan itu murni bukan kesalahannya.
Setelah mendapatkan nasihat-nasihat itu, Nanda mulai mengikhlaskan. Walaupun terkadang ia masih sering murung memikirkan calon buah hatinya yang telah tiada, tapi Nanda meyakinkan diri, mungkin Allah lebih menyayangi calon buah hatinya itu karena itu ia dipanggil terlebih dahulu. Dalam hati, ia terus berdoa semoga buah hatinya tenang di alam sana.
"Sayang, kita makan dulu, ya!" ujar Gathan seraya membawa dua buah paper bag yang entah isinya apa. Tapi dari kalimat Gathan, Nanda dapat memastikan kalau itu isinya makan siang.
"Kamu kapan belinya mas? Kok Nanda nggak tau mas Gathan keluar?" tanya Nanda dengan alis naik mencuat naik.
Gathan terkekeh, "Ya emang mas nggak kemana-mana dari tadi."
"Terus itu?" tunjuk Nanda pada paper bag yang sudah Gathan letakkan di atas meja. Lalu Gathan mulai mengeluarkan satu persatu isinya.
"Mas minta tolong sama Erwin. Ini di masakkin mama langsung spesial buat menantu kesayangannya." ujar Gathan. "Tadinya mas minta pesenin di resto aja, tapi belum sempat mas hubungi Erwin, eh mama telpon terus kasi tau kalau mama udah masak banyak khusus kamu. Jadi mas minta Erwin aja ambilnya soalnya mama ada keperluan mendadak jadi nggak bisa nganterin." jelas Gathan.
Lalu Gathan membantu Nanda duduk dengan meletakkan dua buah bantal di belakangnya agar Nanda dapat bersandar secara nyaman. Gathan juga membuka meja portabel yang khusus disediakan pihak rumah sakit untuk mempermudah pasien makan tanpa harus turun dari ranjang. Gathan pun mulai menghidangkan satu persatu makan siang yang dikirim sang mama.
"Aaa ... " Gathan meminta Nanda membuka mulutnya. Ia berniat menyuapinya.
"Nanda makan sendiri aja, mas. Udah agak mendingan kok tangannya." ujar Nanda. Ia tidak enak hati, selama sakit, Gathan menyuapinya persis menyuapi seorang anak kecil.
Gathan menggeleng-gelengkan kepalanya. Jelas ia menolak mentah-mentah keinginan Nanda itu. Sedangkan tangan kanannya saja masih tertancap jarum infus, pasti tangannya tidak bisa bergerak dengan leluasa, pikirnya.
"Nurut apa kata mas. Atau mau mas siapin pakai mulut mas aja?" ancam Gathan dengan menaikkan alisnya sebelah.
Nanda membelalakkan matanya dengan pipi bersemu merah. Makan model apaan itu. Masa' nyuapin pakai mulut.
"Ck ... mas aneh-aneh aja ish! Pasti mau aji mumpung itu. Dasar omes!" ejek Nanda sambil mencebikkan bibirnya.
"Ngapain aji mumpung? Kalau mau cium ya tinggal cium aja nggak perlu main aji mumpung. Udah halal kan so mas bebas mau cium kamu kapan aja dan dimana aja." sahut Gathan santai.
"Tapi itu tadi kata mas mau suapin Nanda pa ... happpph ... " belum sempat Nanda menyelesaikan kalimatnya, Gathan justru sudah menyuapkan sesendok penuh nasi dengan lauknya membuat Nanda mengunyah sambil memberengut kesal.
__ADS_1
Gathan terkekeh geli saat melihat wajah lucu Nanda dengan pipi yang menggembung. Kelihatan sekali Nanda kesulitan mengunyah makanan itu.
"Mau dibantuin nggak?" tawar Gathan membuat Nanda mengerutkan keningnya. "Kalau mau mas bantu, sini ... " Lalu Gathan mendekatkan wajahnya dan membuka mulutnya membuat Nanda menggeser wajahnya ke samping dan cepat-cepat menelan nasi di dalam mulutnya.
"Mas jorok oh, masa' mau bantuin kayak gitu!" Nanda mendelik tajam ke arah Gathan yang justru malah tergelak melihat ekspresi Nanda.
"Jorok? Jorok kenapa? Emang mas ngapain?" usil Gathan.
"Dih, pura-pura nggak tau padahal ... "
"Padahal apa?"
"Ya itu, mas tadi mau ... mau ... "
"Mau bantuin kamu ngunyah? Idih, makanya jangan mikir sembarangan. Mas emang mau bantu tapi bantu usilin biar kamu cepetan ngunyahnya." ledek Gathan. "Nih, sayang, cobain supnya, mumpung masih hangat." ujar Gathan seraya mendekatkan mangkuk sup dan menyendokkannya ke mulut sang istri.
Nanda pun menerimanya dengan senang hati. Ia senang sekali diperhatikan seperti ini oleh suaminya. Di awal pernikahan, ia pikir pernikahannya akan berjalan tidak lancar. Ia pikir ia takkan pernah mendapatkan cinta dan perhatian dari suaminya. Apalagi saat itu ada Freya yang ternyata istri pertama Gathan. Tapi ternyata, kini semua ia dapatkan. Suaminya mencintai, menyayangi, dan begitu perhatian padanya. Walaupun kisah cintanya tidak semulus dan seglowing muka artis-artis Korea, tapi kisah cintanya tetaplah berkesan dan luar biasa. Selama ini Nanda tak berani bermimpi hal yang indah-indah, namun Allah sungguh sangat baik padanya. Ia bukan hanya diberikan seorang suami yang begitu mencintainya, tapi ia juga memiliki mertua yang luar biasa, dan kini ia pun dipertemukan kembali dengan ayahnya yang kini juga menyayanginya. Ada juga om tampannya yang masih seperti dulu begitu menyayanginya. Ia juga mendapatkan ibu sambung sebaik Nuri.
"Maafin Nanda ya mas udah ngerepotin, mas!" ujar Nanda tak enak hati karena harus merepotkan suaminya.
Mata Gathan memicing tak suka. Ngerepotin? Bukankah ini kewajiban seorang suami merawat istrinya yang sedang sakit. Apalagi sakitnya sang istri ada andil dirinya. Sebab kalau ia tidak memiliki masalah dengan Freya, pasti Nanda takkan mengalami hal buruk seperti ini.
"Sayang, ingat ini, tidak ada kata merepotkan bagi seorang suami yang merawat istrinya yang sedang sakit. Ini sudah kewajiban dan tanggung jawab mas sebagai suami. Begitu pula sebaliknya. Jadi jangan mikir macam-macam, oke!" tegas Gathan membuat Nanda mengangguk.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Gathan pun sontak tersenyum lebar membuat Nanda bingung bercampur penasaran.
"Mas ada kejutan untuk kamu. Semoga kamu suka."
Lalu Gathan segera membuka pintu. Dari balik pintu beberapa pasangan paruh baya masuk ke ruangannya diikuti beberapa remaja di belakangnya. Bibir Nanda melengkung ke atas dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa wanita paruh baya itu pun langsung berhambur memeluk Nanda sambil terisak-isak.
__ADS_1
"Ya Allah Nanda, bunda Ai kangen sama kamu. Kamu kemana aja, sayang! Kenapa kamu ngilang gitu aja? Apa Nanda udah nggak sayang bunda Ai lagi?" lirih Aileena yang begitu terharu akhirnya bisa berjumpa dengan Nanda kembali.
"Bun ... bunda Ai. Ma-maaf, maafin Nanda. Nanda juga kangen bunda Ai." lirih Nanda tergugu di pelukan Aileena.
"Nanda, Nanda kok tega sama ate Rere? Kamu tau, ate sampai sakit tau waktu Nanda ngilang. Kalau nggak percaya, tanya aja tu sama om kamu." ujar Rere sambil mencebik dengan berlinangan air mata.
"Ate, maaf. Maafin Nanda." lirih Nanda sambil membalas pelukan Rere.
"Sama Tante Khanza, Nanda masih inget kan?"
"Iya te, masih. Bunda Ai, ate Rere, Tante Khanza, maafin Nanda yang udah buat kalian cemas. Makasih, bunda, ate, sama Tante masih ingat sama Nanda."
"Iya sayang, kami ngerti kenapa kamu sampai ambil keputusan itu." ujar Aileena sambil mengusap kepala Nanda dengan sayang.
Lalu yang lain pun satu persatu menyapa Nanda, seperti Fatur, Doni, Rama, juga putra-putri mereka.
"Kak Nanda masih ingat Fareez kan?" tanya Fareezky yang masih mengenakan seragam SMA-nya.
"Fareez? Ini beneran Fareez?" tanya Nanda dan Fareezky mengangguk. "Ya Allah, kamu udah gede banget. Cakep banget lagi, pasti banyak nih yang ngefans. Jangan-jangan udah punya pacar nih!"
"Yang fans sih banyak, maklumlah orang ganteng." ujarnya sambil terkekeh. "Tapi kalau pacaran belum, kak. Kata bunda, belajar dulu yang rajin. Apalagi bunda sampai ngancam, kalau Fareez pacaran entar uang saku dibekuin, auto nggak berani deh Fareez kak." ujarnya sambil melirik Aileena yang sedang berbincang dengan Gathan. "Padahal sebenarnya Fareez nggak takut kak, kan tinggal minta aja sama ayah Adnan. Pasti dikasih." bisiknya sambil terkekeh. "Tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Nanda penasaran.
"Itu kan sama aja nggak menjaga kepercayaan bunda kan kak? Jadi Fareez patuh sama titah bunda, kan apa kata bunda itu yang terbaik buat Fareez." ujarnya membuat Nanda tersenyum lebar.
"Anak baik. Bener kata Fareez, apapun yang dilakukan bunda itu memang yang terbaik buat Fareez."
Saat semua orang sedang berbincang, Gathan tiba-tiba menerima telepon dari seseorang. Saat menerima panggilan itu, wajah cerah Gathan tiba-tiba berubah menjadi menggelap. Setelah panggilan ditutup, Gathan segera pamit dan menitipkan Nanda pada kerabat dekat Nanda. Ia sungguh tak menyangka, ternyata banyak yang menyayangi istrinya itu. Setelah yakin Nanda dititipkan pada orang yang tepat, Gathan pun bergegas pergi sambil menyeringai.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...