
Sementara itu, di hotel tempat Nanda dan Gathan menginap, tampak Gathan berbaring menyamping dengan bertumpu pada satu lengannya menghadap tepat ke arah Nanda yang nampak pulas tertidur. Pesta pernikahan anak sahabat Lavina akan diadakan besok, jadi hari ini dapat mereka berdua manfaatkan untuk bersantai sejenak dan melepas lelah. Apalagi sudah sekian lama Gathan tidak merasakan yang namanya berlibur ataupun bersantai ria.
Dipandanginya dengan lekat wajah Nanda yang tampak polos tanpa polesan apapun setelah membersihkan diri sore tadi. Mungkin masih faktor jetlag, selepas mandi sore Nanda malah kembali tertidur. Padahal tadi siang setibanya di hotel, saat Gathan meminta gadis itu berbaring di sampingnya, tampak sekali raut cemas, was-was, bingung, takut, semua bercampur aduk menjadi satu. Hingga akhirnya titah dari sang suami berbunyi membuatnya terpaksa menyeret langkah kakinya menuju tempat tidur di sisi Gathan.
Awalnya, Nanda seakan enggan memejamkan mata, tapi perlahan, rasa kantuk mulai menguasai matanya hingga akhirnya Nanda tertidur dengan sendirinya. Gathan yang sedari tadi hanya memejamkan matanya saja mulai membuka matanya saat tidak merasakan pergerakan sama sekali di sisinya. Bahkan nafas teratur Nanda mulai terdengar jelas di heningnya suasana kamar hotel itu.
Setelah jarum jam menunjukkan pukul 4 lewat 35 menit sore hari, barulah Nanda mulai mengerjapkan matanya. Dipandanginya sekelilingnya, ia merasa asing dengan suasana ini. Hingga pada saat tangan Nanda hendak bergerak ke samping, ia tiba-tiba terlonjak hingga jatuh ke lantai.
Brukkk ...
"Awww ... " ringis Nanda saat bokong dan telapak tanganya bersinggungan dengan lantai.
"Kamu nggak papa?" tanya Gathan yang saat ini telah duduk dengan tubuh hanya berbalut kaos singlet dan celana jeans pendek.
"Eng ... nggak papa, mas." sahutnya dengan cengiran khasnya yang memamerkan lesung pipinya di kedua sisi.
Gathan geleng-geleng kepala melihat tingkah Nanda. Lalu ia pun meminta Nanda segera membersihkan diri.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Nanda pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dress selutut berlengan sebatas siku berwarna navy. Ia pun segera menuju meja rias dan menyisir rambut hitam panjangnya lalu mengusap sedikit bedak dan lipstik berwarna soft pink ke atas bibirnya.
Tanpa ia sadari, setiap kegiatannya itu tak luput dari tatapan mata Gathan yang penuh arti. Entah dapat dorongan dari mana, tiba-tiba Gathan beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke arah Nanda. Nanda terpaku saat matanya bersirobok dengan mata Gathan yang telah berdiri di belakangnya. Diambilnya rambut panjang itu ke sisi kanan leher Nanda, lalu Gathan sedikit membungkukkan badannya dan mulai melabuhkan kecupan hangat dan basah di sisi kiri leher Nanda membuatnya meremang seketika. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup dengan kencang. Jemarinya tampak meremas ujung dress yang dikenakannya saat gelenyar aneh menguasai raganya.
Gathan mengangkat kepalanya setelah beberapa saat. Dipandanginya leher yang awalnya putih mulus itu yang kini sudah dihiasi beberapa stempel cherry membuatnya tanpa sadar tersenyum tipis. Sebenarnya Gathan belum rela menghentikan kegiatan itu, tapi tidak mungkin ia melanjutkannya di sore ini, bukan. Gathan kini merasa aneh pada dirinya sendiri, mengapa dengan Nanda ia dengan mudah melakukan hal-hal yang bersifat intim seperti itu. Ia sudah sering berhadapan dengan banyak wanita bahkan yang lebih kaya maupun lebih cantik dari Nanda sekalipun, tapi ia tak pernah sedikitpun memiliki ketertarikan kepada mereka. Hanya Nanda dan hanya dengan Nanda ia memiliki keinginan seperti itu. Tanpa perlu berpakaian seksi ataupun terbuka, Nanda mampu memacu hasratnya agar bangkit seketika.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Gathan sontak saja membuat pipi Nanda memanas hingga rona merah menjalar sampai ke telinga. Tak mampu menolak, justru ia terbuai akan setiap perlakuan kecil Gathan yang sungguh di luar dugaannya. Seperti saat ini, setelah melabuhkan beberapa kecupan di leher hingga meninggalkan beberapa stempel cherry di lehernya, Gathan mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Nanda yang terpantul dari cermin hias dihadapannya. Diusapnya pipi Nanda yang memerah menggunakan jemarinya, membuat rona merah itu kian menjalar-jalar. Gathan tersenyum tipis memperhatikannya.
"Mau jalan-jalan sore?" tawar Gathan dengan ekspresi datarnya seperti biasa.
"Bo-boleh." sahut Nanda kikuk.
Nanda tertunduk malu saat berjalan bersisian dengan Gathan, namun sebelum keluar dari kamar merek, Gathan terlebih dahulu mengangkat dagu Nanda dan memintanya untuk mengangkat wajahnya dan bersikap rileks. Nanda pun menurut. Senang melihat sikap penurut Nanda, ia pun segera melabuhkan kecupan singkat di bibir merah muda Nanda membuat Nanda terkesiap untuk kesekian kalinya. Nanda menggigit bibirnya menahan malu karena sikap Gathan yang sungguh tak terduga.
"Jangan gigit bibirmu! Aku tidak mau bibir kesayanganku terluka karena gigitanmu." bisik Gathan di telinga Nanda membuatnya lagi-lagi merasakan gelenyar aneh di dalam dadanya.
Gathan dan Nanda berjalan beriringan keluar dari dalam hotel dengan lengan Gathan yang melingkar mesra di pinggang Nanda. Mereka terlihat begitu serasi dan romantis. Dengan diantar sopir khusus tamu hotel, Gathan mengajak Nanda menikmati indahnya pantai Ubud.
__ADS_1
Senja yang mulai merangkak naik membuat semburat berwarna oranye menghiasi langit di kala itu. Gathan pun mengajak Nanda berdiri di tepi pantai tepat menghadap ke arah sunset yang terlihat begitu memukau. Seperti pasangan kekasih lainnya, Gathan berdiri di belakang Nanda sambil memeluk tubuhnya dari belakang. Nafas hangat Gathan yang menerpa lehernya kadang kala membuat Nanda hampir kehilangan fokus. Namun ia begitu menikmati setiap momen indah itu.
Nanda gadis yang belum pernah merasakan indahnya pacaran, begitu pula Gathan. Karena itu mereka kadang bingung menafsirkan perasaan diri mereka sendiri. Yang mereka tahu, mereka merasakan kenyamanan satu sama lain. Bahkan setiap sentuhan yang dilakukan Gathan sungguh tak mampu Nanda tolak dan justru mampu membuatnya mabuk kepayang. Mereka hanya bisa meraba debaran diri mereka sendiri, mereka sadar, mereka memiliki ketertarikan satu sama lain. Namun mereka belum dapat memastikan apakah ini adalah cinta atau bukan. Yang pasti, mereka senang dan nyaman saat bersama.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah yang terdapat di pusat kota Jakarta, terdapat seorang wanita yang sibuk menggenggam ponselnya dan menekannya hingga berulang-ulang. Kakinya tidak bisa diam. Ia sibuk mondar-mandir kesana-kemari. Hatinya tak tenang. Benar-benar tidak tenang. Belum ia berhasil membuat Gathan jatuh ke dalam genggamannya secara utuh, sudah datang Nanda yang sudah dianggapnya sebagai pengganggu.
Ditekannya lagi nomor itu untuk kesekian kalinya, tapi tetap saja yang menjawab adalah operator seluler.
"Sial! Breng-sek! B@jingan kalian semua. Aaargh ... " umpat Freya frustasi.
Freya kini benar-benar frustasi. Entah mengapa, ia berpikir kalau posisinya kini kain terjepit Di benaknya kini terbayang, apa saja yang akan dilakukan Nanda dan Gathan nanti.
"Bagaimana bila Gathan benar-benar melakukan itu?" gumamnya sambil menggigit kukunya.
"Ah, tidak ... itu tidak mungkin. Gathan tidak pernah tertarik dengan perempuan. Dengan diriku yang jauh lebih cantik dan seksi saja dia tidak tertarik apalagi dengan gadis udik itu. Walaupun ia cantik, tapi tetap saja tidak mungkin. Aku yang sudah memakai pakaian nyaris tel@njang saja, ia tidak tertarik apalagi dia. Ya, itu tidak mungkin. Hahaha ... kau takkan berhasil wahai nenek sihir. Kau takkan pernah berhasil dengan misimu itu." tawa Freya yang sibuk dengan asumsinya sendiri.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...