
"Apa Anda serius ingin pulang? Apa di benak Anda tidak merasakan sesuatu? Sesuatu yang menyesakkan dan ... menyakitkan. Apa ... " Gathan menjeda kata-katanya untuk menarik nafas membuat Doni yang hendak beranjak pergi membalik badannya menatap lekat Gathan. "Apa Anda tidak merasa penasaran siapa istri saya sebenarnya? Mengapa dari sekian banyak orang justru golongan darahnya sama dengan Anda padahal golongan darah kalian itu termasuk langka dan hanya ada 0,36 % dari jumlah orang di seluruh dunia. Apa Anda tidak penasaran sama sekali?" ujar Gathan dengan tatapan mata kosong menatap lurus ke depan, tapi bukan ke arah Doni.
Dahi Doni berkerut bingung, pun Radika yang berusaha mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir Gathan.
'Apa maksudnya?" batin Doni.
'Jangan-jangan ... ' batin Radika.
Bruk ...
Radika tiba-tiba kembali masuk ke dalam ruangan dimana Nanda berada. Ditatapnya Nanda yang masih setia memejamkan matanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras tak bisa dibendung. Radika lantas menggenggam erat jemari tangan kanan Nanda yang di lengannya tertancap jarum transfusi darah.
Bulir-bulir itu mengalir seperti mata air, begitu deras. Hati Radika seakan diremas melihat keponakan tersayangnya yang sekian lama tidak ditemuinya justru kini sedang meregang nyawa dan dalam keadaan koma.
"Nan ... Nanda ... ini benar kamu, sayang. Ini benar-benar keponakan Om Dika kah? Keponakan Om tersayang. Ini Om Dika, sayang. Om sangat merindukan kamu. Bangun sayang ... Maafkan om yang lalai menjaga kamu. Maafkan Om yang baru tidak bisa menemukan keberadaanmu." tukas Radika seraya terisak.
Doni yang masih berada di luar membelalakkan matanya. Antara percaya dan tidak percaya, benarkah itu putrinya yang telah lama menghilang?
__ADS_1
Doni mendengarkan dengan lamat apa yang Radika ucapkan di dalam sana. Seperti orang linglung, ia justru mematung di tempatnya. Lalu Gathan mendekat ke arah Doni yang masih mematung dan menyodorkan dua lembar foto yang sebelumnya tersimpan di dalam dompet Nanda.
"Ini ... Anda tau bukan foto siapa ini? Ini adalah foto yang selalu menemani Nanda selama beberapa tahun ini. Foto orang-orang yang dirindukannya. Foto yang selalu jadi pengantar tidurnya di setiap malam. Anda pasti bisa mengenali orang yang ada di dalam foto itu, bukan?" tukas Gathan lirih. "Sebenarnya saya tidak mau memberitahukan rahasia ini, mengingat bagaimana sikap Anda pada istri saya saat ia kecil. Anda mengabaikannya, menelantarkannya, tidak mempedulikannya, dan tidak pernah menyayanginya. Tapi ... ia tetap menyayangi Anda. Ia tetap merindukan Anda. Tak peduli bagaimana sikap Anda di masa lalu, ia selalu mendoakan kesehatan dan keselamatan Anda. Apakah Anda masih ingin mengabaikannya kali ini?" tukas Gathan dingin dengan sorot mata tajam. Hati dan jiwanya yang terpuruk, ditambah kenyataan mengenai masa lalu sang istri yang menyakitkan dan menyedihkan membuat emosi Gathan seakan menggelegak.
Mata Doni kian membelalakkan. Tangannya bergetar saat menyambut dan melihat foto siapa itu. Tidak diragukan lagi, itu foto masa muda dirinya dan juga Delima. Foto itu sudah terlihat mengabur dan usang, namun ia masih dapat mengenali dirinya sendiri dan Delima.
Air mata turun tak dapat dicegah. Tubuh Doni bergetar hebat saat mengetahui fakta itu. Jantungnya seakan diremas begitu kencang. Sakit ... Perih ... Ia tidak menyangka takdir mempertemukan dirinya dan putrinya dengan cara begini. Ia tidak menyangka, perempuan yang ia selamatkan dengan darahnya itu putri kandungnya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan kondisi putrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Ia baru saja mengalami kecelakaan. Ia baru saja menjalani operasi pasca keguguran dan benturan. Dan ... ia sedang mengalami koma.
Doni terjatuh hingga lututnya membentur lantai dengan kencang. Mengapa nasib Nanda-nya seperti ini?
"Than, ada apa ini? Apa maksudnya?" tiba-tiba Lavina menepuk pundak Gathan dan menanyainya. Lavina kesulitan mencerna pantang sebenarnya kedua orang itu bicarakan. Ganindra pun demikian, tapi ia diam saja sambil menunggu penjelasan Gathan.
"Ma, Pa, sebenarnya ayah Nanda masih hidup dan orang itu adalah tuan Doni Kusuma ini. Pemilik KSM Group." tukas Gathan memberitahukan fakta tak terduga pada kedua orang tuanya. Sontak saja, hal itu membuat Lavina dan Ganindra terkejut hingga membelalakkan matanya.
"Benarkah?" tanya Lavina lagi dan Gathan mengangguk pelan. Melihat kondisi Nanda, membuat sekujur tubuhnya melemah.
"Se-sejak kapan kau tau dia putriku?" tanya Doni terbata. Ia takut jika Gathan telah mengetahui fakta ini sejak lama.
__ADS_1
"Baru saja. Tepat saat saya mencoba mencari pendonor yang memungkinkan besar cocok. Foto itu ... foto itulah yang menjadi petunjuk. Ditambah, Nanda pernah bercerita tentang ayahnya yang tidak menyukai kehadirannya tanpa tau alasannya. Awalnya saya tidak mengenali foto masa muda Anda walaupun terlihat familiar. Tapi saat membaca tulisan di belakang foto itu barulah saya yakin itu adalah Anda. Saat saya baru saja menyadarinya, di saat itu juga Anda menghubungi saya." ujarnya menceritakan sejak kapan ia mengetahui fakta ini.
Doni mengepalkan tangannya erat hingga buku-bukunya memutih. Lalu ia memukul lantai dengan kuat hingga jemarinya membiru dan terluka. Ia meraung dan merintih menyesali apa yang terjadi pada putrinya kini.
Doni bergegas berdiri dan menghampiri sisi kiri Nanda dan menggenggam erat jemarinya. Di pergelangan tangan kirinya tertancap jarum infus 6ang berfungsi sebagai sumber makanan bagi Nanda yang tengah koma.
"Nda, ini papa sayang. Ini papa. Maafin, papa. Maafin papa. Maafin papa. Papa sayang sama kamu, nak. Papa sangat menyayangi kamu. Papa ... papa merindukan kamu. Sungguh. Maafkan papa nak yang sudah menyia-nyiakan kamu. Papa menyesal, nak. Papa amat sangat menyesal. Bangun sayang, bangunlah. Papa rela kamu hukum papa dengan cara apapun asal kamu bangun. Hukum papa, nak. Hukum papa. Pukul papa atau penjarakan papa kalau perlu. Papa rela, papa ikhlas, asal kamu sembuh nak. Kalaupun kamu tidak mau memaafkan papa pun papa rela asal kamu bangun, nak. Asal kamu sembuh. Tolong bangunlah, sayang. Tolong bangunlah. Di sini, banyak yang menantikan kehadiranmu. Semua orang menyayangi kamu. Lihatlah, sekarang, bukan hanya suami Nanda saja yang sayang sama Nanda, tapi ada papa dan Om Dika juga. Dan masih banyak yang lain. Bangunlah sayang. Bangun ... " ujar Doni tergugu. Ia sampai menyeka air matanya berkali-kali. Air mata itu terus-menerus mengalir tanpa henti.
Bagaimana hati Doni tak hancur, setelah sekian tahun lamanya tak kunjung menemukan sang putri, setelah sekian lama mencari tapi tak kunjung bertemu, kini saat mereka dipertemukan kembali justru dalam keadaan seperti ini. Anaknya, putrinya, buah hatinya, walaupun kehadirannya tanpa cinta, tapi cinta itu sebenarnya telah lama hadir untuknya.
Bila diingat, saat ia mengetahui kehamilan Delima, ia selalu memberikan uang untuk memenuhi kebutuhan Delima dan calon anaknya. Tanpa sadar, ia mengkhawatirkan kehamilan Delima. Ia pun tidak pernah meminta menggugurkan kandungannya. Mungkin bila itu lelaki lain, pasti akan langsung meminta menggugurkannya. Tapi ia tidak. Saat ia terpaksa pergi, barulah ia tidak memberikannya lagi. Tapi saat bertemu kembali, ia kembali memberikan uang agar Delima dapat memenuhi kebutuhan Nanda. Mungkin saat itu, tanpa sadar batinnya telah terikat, namun karena ego , ia justru mengabaikannya dan tidak menganggapnya ada. Ditambah kehilangan seseorang yang dicintainya, membuat egonya makin memuncak sehingga ia kerap menyakiti Nanda kecil.
Namun kini, Doni sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Seharusnya ia tidak bersikap seperti itu. Seharusnya ia bertanggung jawab. Seharusnya ia menerima kehadiran Nanda. Sebab Nanda tidak bersalah. Semua adalah salahnya. Ini murni kesalahannya
"Maafin papa, Nda. Maafin papa. Papa memang orang breng-sek. Papamu emang baji-ngan. Maafkan si breng-sek ini, Nda. Maafkan papa mu yang jahat ini. Bangunlah, sayang. Bukalah matamu. Papa merindukanmu. Papa benar-benar merindukan dan menyayangimu." lirih Doni dengan air mata tak terbendung.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...