Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.56 Mengetuk pintu langit


__ADS_3

Tanpa ragu, Gathan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang bercat nuansa putih gading itu. Pelayan yang ada di dalam rumah membelalakkan matanya saat melihat Gathan dan ia ingin segera berlari menuju taman belakang untuk memberitahukan tentang kedatangan Gathan, namun Gathan lebih dahulu menghentikan langkahnya sambil menatap tajam membuat pelayan itu menegang.


Gathan dapat membaca situasi apa yang akan ia hadapi saat ini. Dan sesuai dugaannya, di depan matanya, ia melihat Reza sedang berdiri sambil berbincang dengan Freya di taman belakang.


Prok prok prok ...


Gathan bertepuk tangan sambil tersenyum sinis menatap kedua orang yang kini sedang menegang sekaligus memucat saat melihat Gathan memergoki mereka sedang berbincang santai di taman belakang.


"Hebat. Benar-benar hebat." cibirnya dengan satu sudut bibir naik ke atas.


Brukkk ...


Tiba-tiba Reza terjatuh ke lantai. Ia berpura-pura kesulitan berdiri kembali membuat Gathan tersenyum mengejek. Sadar akan maksud Reza, Freya pun segera berjongkok berusaha membantu Reza untuk berdiri.


"Mas, bantuin papa! Tadi Freya sedang bantu papa latihan berjalan. Papa seminggu ini udah bisa berdiri tapi belum kuat untuk jalan." dusta Freya lancar bagai jalan tol.


"Oh ... sedang latihan berjalan. Bukannya kaki papa memang sehat ya! Sebenarnya yang cacat itu ... kaki atau mentalnya?" cibir Gathan seraya mendudukkan bokongnya di salah satu kursi taman. Kaki kanannya dilipat di atas kaki kiri dengan tangan kanan bertopang di atas pegangan kursi sambil meremas dagunya.


Mata Freya dan Reza melotot tajam saat mendengar cibiran itu.


'Apa mas Gathan sudah tau tentang kebohongan kami?' gumam Freya dengan tubuh menegang kaku.


"Mas ... apa-apaan kamu? Kamu pikir, kami menipu kamu? Bukannya asisten kamu selalu mengirimkan laporan tentang hasil pemeriksaan rutin papa?" desis Freya dengan wajah memerah. Bukan memerah karena marah tapi sebaliknya, ia kini sedang merasa ketar-ketir, takut kebohongan mereka selama ini terungkap. "Kamu keterlaluan, mas!" imbuhnya lagi.


Lalu Freya membantu Reza dengan memapahnya berdiri dan mendudukkannya di kursi dekat Gathan.


"Sudah ... sudah, mungkin nak Gathan salah paham karena melihat papa berdiri tadi." sergah Reza dengan wajah pucatnya.


"Tapi pa ... "


"Sudah ... " sergah Reza lagi dengan suara meninggi.


Gathan terkekeh sinis melihat sandiwara yang tengah dilakoni ayah dan anak itu. Ternyata mereka berdua begitu cocok, anak dan ayah angkat sama-sama penipu.

__ADS_1


"Sudah tertangkap basah tapi masih mencoba berakting." cibirnya sinis sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian pikir aku sebodoh itu untuk kalian tipu, hm? Cukup 1 tahun ini kalian menipuku mentah-mentah, tapi tidak untuk lain kali. Berhenti membual dan bersandiwara sebab aku sudah tau segala kebusukan kalian." desis Gathan dengan kilat kemarahan di matanya.


"Apa maksudmu, mas?"


"Apa maksudmu, nak?"


Seru Freya dan Reza bersamaan dengan nafas tercekat.


"Apakah aku perlu menempuh jalur hukum untuk membuktikan kalau kalian telah menipuku selama ini? Sudah memanipulasi kecelakaan? Memerasku dengan alasan untuk pengobatan? Menjeratku dalam pernikahan?" ujar Gathan dingin. "Atau aku perlu benar-benar membuat cacat kaki pak Reza yang terhormat agar kalian mau mengakui kebohongan kalian?" desisnya lagi dengan seringai yang mengerikan membuat Freya dan Reza sampai bergidik ngeri.


"Mas ... kami ... kami ... " Freya bingung harus mengatakan apa. Sepertinya ia sudah mati kutu dan tak dapat berkilah. Tapi kalau ia mengakui kesalahannya, ia yakin Gathan pasti akan segera menceraikannya. Ia tidak mau berpisah dari Gathan. Ia tidak mau hidup susah. Apalagi statusnya hanya istri siri, bila ia dicerai


"Nak, Gathan, mohon maafkan kami nak, maafkan papa dan Freya."


"Pa ... " Seru Freya. Ia tidak mau kalau sampai papanya mengungkapkan semuanya.


"Stop Fre, sudah saatnya Papa jujur. Semoga saja dengan begini bisa menyelamatkan pernikahanmu." potong Reza.


"Nak Gathan, maafkan papa, Papa terpaksa melakukan ini, sebab ... sebab sebenarnya Freya sudah lama menyukaimu. Jadi papa sengaja melakukan ini agar kau dapat menjadi suaminya. Papa tau, kau tak mencintainya saat itu tapi papa pikir dengan seiring bergantinya waktu, perlahan kau akan jatuh cinta padanya. Freya benar-benar mencintaimu nak Gathan. Jadi tolong maafkan kami." ujar Reza dengan wajah memelas. Mendengar Reza mengatakan itu, Freya pun segera memasang wajah memelas.


Gathan berdecih saat mendengar bualan yang keluar dari mulut kedua orang itu. Ingin ia segera menjebloskan kedua orang itu ke dalam penjara, tapi ia belum memiliki bukti yang kuat. Penuturan Tio pagi tadi memang sempat ia rekam, namun itu belum bisa menjadi bukti atas perbuatan penipuan Reza dan Freya.


Malas menanggapi bualan kedua orang itu, Gathan pun segera berdiri dan melangkahkan kakinya hendak pergi dari sarang penyamun itu. Ia harus mendapatkan bukti itu segera. Ia telah meminta bantuan seseorang untuk menyelidiki semuanya.


Melihat kepergian Gathan, Reza dan Freya menggeram marah.


"Kau ini, bagaimana menaklukkan seorang lelaki saja tidak becus." desis Reza kesal saat melihat Gathan sepertinya tidak memiliki rasa sedikit pun pada Freya.


"Aku udah usaha, pa, tapi emang mas Gathan susah sekali ditaklukkan. Freya bahkan udah coba saran papa pakai obat perangs@ng tapi pengendalian mas Gathan kuat banget. Dia bahkan masih sempat ngancam Freya di tengah-tengah ketidaksadarannya." tukas Freya tidak terima diremehkan Reza.


"Bodoh! Kau lihat sendiri, sepertinya dia sudah tau semuanya tapi karena tidak ada bukti dia tidak bisa berbuat banyak. Kita harus melakukan sesuatu sebelum dia tiba-tiba menceraikanmu. Saat ini memang dia belum bisa karena masih terikat perjanjian, tapi saat ia mulai jengah, bisa saja tiba-tiba dia mengatakan talaq padamu.


Sesuai perkiraan Reza, memang Gathan telah bersiap untuk mentalaq Freya. Tapi ia ingin melakukannya secara sekaligus. Setelah menemukan bukti kecurangan kedua orang itu, di saat itu pula ia akan menceraikan Freya.

__ADS_1


...***...


Seperti kebiasaannya akhir-akhir ini, sebelum tidur, Gathan akan sedikit berbincang dengan Nanda terkait kegiatannya sehari-hari khususnya yang luput dari pandangan Nanda seperti saat bekerja atau yang lebih sering disebut pillow talk.


Gathan pun menceritakan apa yang terjadi di ruang kerjanya termasuk perihal kejujuran Tio terhadapnya.


Nanda terkejut saat mendengarnya. Ia pun iba dengan apa yang menimpa Tio saat ini.


"Mas, Nanda tau mas marah dengan perbuatan Tio, tapi tidakkah mas kasihan sama anak-anak asuhnya di panti ? Mas, Nanda juga tumbuh dan besar di panti, mas, jadi Nanda tau banget gimana kebingungannya Tio saat ini. Tidakkah mas bisa memberikan kesempatan untuk Tio kembali bekerja atau minimal memberikan pekerjaan lainnya di perusahaan mas?" saran Nanda membuat Gathan sedikit tertegun dan memikirkan jalan keluarnya.


"Baiklah, akan mas pertimbangan. Sepertinya mas akan rolling jabatan ke posisi yang lain seperti saranmu tadi." tukas Gathan menyetujui saran Nanda yang dibalas Nanda dengan sebuah senyuman hangat karena sarannya diterima.


...***...


"Kak Doni mana, bik?" tanya Radika saat memasuki rumah mendiang orang tuanya.


"Tadi bibik liat masuk ke kamar non Nanda, tuan." sahut sang art.


Radika menghela nafas berat, seperti inilah kebiasaan kakaknya 11 tahun terakhir, tidur di kamar Nanda untuk mengobati kerinduannya selama ini.


tok tok tok ...


Terdengar suara ketukan di luar pintu, Doni pun segera mempersilahkan sang pengetuk pintu untuk masuk.


Radika menatap iba kakaknya yang tampak sedang termenung memandangi foto bocah yang sedang mengenakan seragam SD. Senyum bocah itu tampak begitu cerah dan riang. Radika masih ingat foto itu, foto yang diambilnya saat bocah itu baru masuk SD kelas 1. Atas permintaan Doni, ia mencuci foto itu dalam ukuran cukup besar dan menempelkannya di dinding kamar Nanda. Tepat di seberang ranjang tempat dimana Nanda kecil tidur.


"Kak, kakak nggak bisa gini terus." ucap Radika.


"Jadi kakak harus gimana? Sampai sekarang Kakak belum dapat petunjuk keberadaan Nanda sama sekali. Kakak merindukannya, Ka. Kakak juga merindukan Nuri. Kemana sebenarnya mereka berdua? Kakak bingung harus mencari kemana lagi. Sudah 11 tahun Nanda hilang dan udah belasan tahun juga Nuri pergi. Kakak bingung, Ka." desah Doni frustasi. Bahkan kini ia sampai menitikkan air matanya merasa menyesal telah menyakiti hati kedua perempuan itu.


"Kakak harus kuat. Kakak harus sehat. Dika yakin, cepat atau lambat, mereka semua akan kembali dan hidup kakak akan menjadi lebih indah dan berwarna. Kakak harus terus berdoa. Bila manusia tidak dapat membantu, ketuk pintu langit melalui sepertiga malam, semoga kakak segera mendapatkan petunjuk untuk menemukan mereka berdua." pungkas Radika pelan sebelum keluar dari kamar Nanda yang sedang ditempati Doni untuk melepas kerinduannya.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2