
Lalu Doni kembali duduk di samping Nanda, sedangkan Radika hendak pamit kembali ke ruangannya. Tapi baru saja Radika hendak membuka pintu, tubuhnya langsung membeku saat melihat seorang wanita yang duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang anak laki-laki. Tangan wanita itu tampak menggantung di udara. Sepertinya ia hendak mengetuk pintu kamar rawat Nanda. Begitu juga wanita itu yang langsung membeku di tempatnya saat matanya bersirobok dengan mata Radika.
"M-mbak Nuri ... " seru Radika dengan penuh keterkejutan di matanya. Matanya melebar sempurna, mencoba menelisik benarkah yang ada di hadapannya kini adalah kakak iparnya yang telah sekian lama dicari kakaknya. Wanita yang dicintai setengah mati oleh kakaknya.
"Di-ka ... " ucap Nuri tergagap membuat anak lelaki di belakang kursi rodanya mengerutkan kening.
"Ibu kenal om ini?" tanya sang pemuda yang tengah mengenakan kemeja kotak-kotak hitam-putih dan celana bahan biru dongker.
"Eh, itu-itu ... " Nuri kebingungan sendiri bagaimana cara menjelaskannya.
Doni yang tadi sedang menunduk seraya menggenggam tangan Nanda seketika terhenyak saat mendengar seruan Radika yang mengucapkan satu nama yang begitu dirindukannya. Dan ia makin menegang saat mendengar suara seseorang yang selama ini dicarinya. Suara seseorang yang begitu dirindukannya. Suara seseorang yang teramat sangat dicintainya. Suara seseorang yang ... amat sangat berarti baginya.
Doni pun lantas menoleh ke arah pintu dimana suara itu berasal. Matanya seketika merah dan memanas, nafasnya tercekat, tubuhnya bergetar, jantungnya berdegup dengan kencang. Tak ada satu katapun yang dapat mewakilkan betapa ia merindukan wanita itu, wanita yang kini masih berada di ambang pintu dengan duduk di kursi rodanya.
Doni lantas segera berdiri, takut kembali kehilangan, ia berlari secepatnya menuju kursi roda itu dan menjatuhkan lututnya persis di depan kursi roda wanita itu yang tidak lain adalah istrinya. Istri yang telah lama menghilang, tapi kini ... ia kembali lagi.
"Sa-sayang, ini benar-benar kamu? Ini benar-benar kamu kan, sayang? Nuri, mas merindukanmu, sungguh, mas amat sangat merindukanmu. Maafkan segala khilaf dan salah , mas sayang. Tolong jangan pergi lagi! Tolong jangan menghilang lagi! Maafkan mas, sayang! Tolong ... " Doni tergugu sambil menumpukan wajahnya di atas pangkuan Nuri. Nuri yang masih berada dalam keterkejutannya, hanya bisa mematung. Ia bingung harus berbuat apa dan bagaimana.
Namun setelah beberapa menit berlalu, apalagi saat melihat Doni tergugu di pangkuannya. Matanya ikut memanas. Bulir-bulir bening pun turun tanpa dapat dicegah. Tangannya yang berada di atas pangkuan mengepal erat. Rasa sakit itu memang masih ada, tapi tak sesakit dulu. Amarah itu telah sirna seiring bergantinya waktu.
__ADS_1
Gathan dan Lavina yang masih di dalam ruangan hanya bisa mengerutkan kening. Mereka tidak memahami situasi yang terjadi saat ini. Dalam hati, mereka bertanya-tanya, ada hubungan apa penolong Nanda itu dengan Doni, papa Nanda. Hubungan mereka memang sangat pelik dan rumit. Hanya keluarga besar saja yang tau mengenai setiap permasalahan yang ada di dalam keluarga Kusuma. Sedangkan Bunda Rieke telah pulang ke panti asuhan. Bagaimana pun ia memiliki tanggung jawab mengurus anak-anak kecil di panti asuhannya. Jadi ia hanya berpesan, agar segera mengabarinya bila terjadi sesuatu pada Nanda atau Nanda sadarkan diri.
Pemuda yang dari tadi berada di belakang Nuri makin tercengang bingung. Tujuannya mengantar ibunya ke kamar ini awalnya untuk menemani ibunya melihat keadaan perempuan yang diselamatkannya dari peristiwa kecelakaan. Tapi yang terjadi justru hal tak terduga ini. Dalam hati, pemuda itu bertanya-tanya, siapakah kedua orang ini. Sepertinya mereka mengenali ibunya. Apalagi pria yang sedang menangis di pangkuan ibunya, apakah ia memiliki hubungan dengan sang ibu?
"Nuri, bicara sayang! Jangan hanya diam! Kamu kemana saja selama ini? Mas mencarimu kemana-mana tapi mas tak kunjung menemukanmu. Mas hampir gila, Sayang. Mas hampir putus asa. Mas benar-benar menyesali perbuatan mas di masa lalu, mohon bicara sayang. Mohon maafkan, mas! Mas nggak ingin kehilanganmu lagi." lirihnya dengan air mata berderai.
Nuri memandang lekat wajah Doni yang berada di hadapannya kini. Dapat ia lihat, Doni begitu tulus. Apa yang ia ungkapkan tulus dari dalam hati. Bukan kebohongan apalagi dusta. Ini ungkapan isi hatinya yang sebenarnya. Dengan berurai air kata dan tangan bergetar, ia menyapukan telapak tangannya ke atas surai Doni.
Belasan tahun ia pergi meninggalkan lelaki ini, ia pikir ia telah dilupakan, ia pikir, hatinya telah berpaling dari dirinya, tapi nyatanya, ia masih mengingatnya dan mencintainya seperti dulu. Ia pikir, hanya hatinya saja yang tersiksa atas perasaan cinta dan perpisahan, tapi ternyata lelaki ini pun tersiksa dan terluka. Terlihat jelas dari air mata yang jatuh berderai tanpa henti dari matanya. Perlu dicatat, lelaki itu tidak mudah untuk menangis dan saat ia menitikan air mata itu artinya ia sudah kehabisan kata untuk mengungkapkan perasaannya. Lelaki tidak seperti wanita yang mudah mengeluarkan air mata, tapi sekalinya ia mengeluarkan air mata, yakinlah apa yang diungkapkannya itu adalah sebuah ketulusan.
"Mas ... maafin aku. Maafin aku yang ninggalin kamu dengan egois. Maafin aku yang pergi tanpa pamit. Maafin aku." ujar Nuri lirih. Ia tergugu. Dadanya sesak menahan semburat pilu sekaligus bahagia bisa melihat orang yang dicintainya kembali.
Doni menggeleng cepat. Ia tidak membenarkan perkataan Nuri. Itu tidak benar. Semua itu memang salahnya jadi wajar Nuri meninggalkannya. Ia yang salah sepenuhnya di sini.
"Nanda?" sekejap Nuri teringat tujuannya datang ke kamar itu. Terlalu larut dalam kesedihan, membuat keduanya lupa kalau mereka masih berdiri di ambang pintu, lalu Doni mengajak Nuri masuk. Sesekali ia melirik ke arah pemuda yang mendorong kursi roda Nuri. Ia pun penasaran mengapa Nuri ada di sini dan mengapa ia berada di kursi roda. Ia akan menanyakannya nanti.
"Kita masuk dulu ya, sayang. Mas akan jelaskan semuanya. Dosa mas udah terlalu banyak sayang, bukan hanya pada kamu, tapi pada Nanda yang masih setia dalam tidur panjangnya."
"Maksudnya? Nanda kenapa dan siapa Nanda? Apa hubungan mas sama Nanda?" Nuri tidak mengingat nama anak Doni di masa lalu. Rasa sakitnya, membuatnya mencoba membuang jauh-jauh semua yang berhubungan dengan Doni, tapi manusia hanya bisa berencana, tapi bila Allah tidak menyetujuinya, apa bisa dikata. Segigih apapun Nuri mencoba melupakan Doni, tapi ia tetap tak bisa melenyapkan nama itu dari hati dan pikirannya. Tetapi untuk yang berhubungan dengannya, perlahan ia lupa, apalagi ia hanya satu kali bertemu dengan Nanda.
__ADS_1
Doni mengerutkan keningnya, ia baru sadar, mengapa Nuri di depan kamar rawat Nanda? Apa ia mengenal Nanda?
"Ka-mu, mengenal Nanda?" tanya Doni penasaran.
"Ibu inilah yang menolong Nanda dari peristiwa kecelakaan itu, pak Doni." Gathan yang lebih dahulu menyahuti pertanyaan Doni. Doni begitu terkejut, ia tidak menyangka justru Nuri lah yang menyelamatkan Nanda dari peristiwa kecelakaan itu. Sepertinya takdir sedang berbaik hati padanya sebab takdir inilah yang membawanya dapat menemui dua orang yang begitu ia rindukan dan berarti dalam hidupnya.
"Nanda ... Nanda sebenarnya anak mas dari ... perempuan yang membuatmu kecewa saat itu, sayang. Dia anak kecil yang kamu cari tau tempo hari." ujar Doni lirih dengan kepala tertunduk lemah.
Sontak saja, Nuri tercekat. Dadanya bergemuruh, ia jadi kembali teringat pada masa lalunya yang menyakitkan.
"Ja-jadi kalian telah ... " air mata Nuri kembali mengalir deras. Nafasnya tercekat. Ini lebih menyakitkan dari saat mengetahui kalau Doni telah memiliki anak dari perempuan lain. Ia pikir permintaan maafnya tadi tulus, ternyata ... Nuri pikir Doni telah menikahi Delima dan melupakan dirinya.
"Jangan salah menduga, sayang!"
"Jangan panggil aku sayang! Aku pikir, mas masih setia, ternyata ... "
"Bu ... " pemuda yang sejak tadi berdiri di belakang Nuri berjalan ke depan Nuri dan memeluknya.
"Dengarkan aku dulu, sayang! Ini tidak seperti yang ada di pikiranmu! Dia memang anak mas, tapi ... mas pun telah membuatnya menderita. Setelah ibunya meninggal, keluarga mas memang mengasuhnya, tapi karena kepergianmu, mas jadi berlaku jahat dan menyalahkannya atas segala yang menimpa diri mas. Dan puncaknya, saat mama dan papa meninggal, mas lagi-lagi menyalahkannya. Hingga akhirnya, ia memilih pergi saat usianya baru 10 tahun. Dan mas baru bertemu lagi dengannya hari ini. Bukan bertemu, tapi lebih tepatnya mengetahui dan melihatnya. Kalau bukan karena suaminya yang merupakan rekan kerja mas, mas takkan pernah tau. Bahkan mas baru tau ternyata selama 11 tahun ini, Nanda hidup di panti asuhan kecil di pinggir kota. Sumpah, semenjak kepergianmu, mas tidak pernah lagi mengkhianati mu. Yang mas inginkan di sisi mas hanya kamu, sayang. Tidak ada yang lain. Hanya kamu. Mas mohon, kembalilah. Mari kita bangun istana kecil kita kembali. Dan ... mohon jangan salahkan Nanda. Dia tidak bersalah. Dia sudah kehilangan ibunya sejak kecil, lalu ia juga tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mas. Cukup mas saja yang sudah membuatnya menderita sepanjang hidupnya, mas mohon agar kamu mau menerima mas dan Nanda. Mas mohon, sayang!" ujar Doni seraya memelas.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...