Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.67 Impian yang tercapai


__ADS_3

"Pa, sini, pa! Tolong panggil Nanda, pa! Ajak Nanda pulang, pa! Bilang ke dia, jangan tinggalin aku, pa! Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan dia. Dia hidup aku, pa! Dia cintaku. Dia hartaku yang paling berharga. Aku sangat mencintainya, pa. Sangat. Bilang ke dia, papa pun mencintainya. Bukankah dia belum pernah merasakan kasih sayang, papa. Bilang pa, papa pun mencintai dan menyayanginya. Katakan sejujurnya, pa. Ajak Nanda kembali, pa! Gathan mohon! Ajak Nanda kembali." Lirih Gathan yang kini sudah ambruk ke lantai sambil bersimpuh di bawah kaki Doni yang ikut menangis pilu melihat kondisi anak dan menantunya.


Doni pun segera berjalan ke sisi kiri Nanda dan menggenggam erat jemarinya. Doni menekuk lututnya agar posisi wajahnya sejajar kepala Nanda.


"Nda, ini papa, nak! Ini papa. Bangunlah, sayang. Papa merindukanmu. Maafkan kesalahan papa, nak. Papa benar-benar menyesal telah mengabaikan Nanda. Papa benar-benar menyesal telah bersikap kasar dan tidak bersikap layaknya seorang ayah pada anaknya. Maafkan papa, nak. Bangunlah Nda, papa kangen. Suamimu juga sangat merindukan kamu. Lihatlah, suamimu jelek sekali saat menangis. Kamu pasti lucu melihatnya, Nda. Ah, papa pun pasti keliatan jelek juga sekarang. Bangunlah sayang. Memangnya Nanda nggak pingin ketemu papa lagi? Apa Nanda nggak pingin ketemu papa? Bangunlah sayang. Maafkan salah dan khilaf papa selama ini. Izinkan papa menghabiskan sisa umur papa dengan memanjakanmu, nak. Izinkan papa menebus semua kesalahan papa. Papa mohon nak, bangunlah. Papa mohon bangunlah, sayang Bangunlah, kami semua merindukanmu. Kami semua menyayangimu." lirih Doni dengan mata yang kembali basah oleh air mata.


Sementara itu, Nanda yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan adiknya tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia seakan mendengar namanya disebut hingga berkali-kali. Ia mendongakkan kepalanya mencoba menajamkan pendengarannya. Matanya bergulir kesana-kemari mencari asal sumber suara, tapi ia tak kunjung menemukannya.


"Kak Nanda, kenapa berhenti?" tanya adiknya saat melihat Nanda berhenti berjalan.


"Adek ada dengar suara seseorang yang memanggil nama kakak nggak?" tanya Nanda dan adiknya menggeleng. "Mama?" Nanda mengalihkan pandangannya pada Delima.


"Itu mungkin hanya perasaanmu saja." ujar Delima membuat Nanda bingung. Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.


'Nda, ini papa, nak! Ini papa. Bangunlah, sayang. Papa merindukanmu. Maafkan kesalahan papa, nak.'


Suara yang memanggil namanya kembali terdengar, tapi kali ini suaranya berbeda dari yang sebelumnya.


'Nda, ini papa, nak! Ini papa. Bangunlah, sayang.'


Nanda kembali menghentikan langkahnya. Nanda pun memejamkan matanya dan menajamkan pendengarannya.


'Papa ... ' gumam Nanda dengan mata terpejam.


Seketika mata Nanda terbuka lebar. Suara itu, suara seseorang yang sangat ia rindukan. Suara itu, suara itu ...


"Papa ... " lirih Nanda dengan mata berbinar. "Ma, itu papa. Papa manggil Nanda, ma. Papa bilang papa merindukan Nanda." imbuhnya.


"Kamu pasti salah dengar, Nda. Papa nggak pernah sayang kamu. Papa nggak pernah merindukan kamu. Ayo, lebih baik kamu ikut mama dan adek!" ajak Delima.

__ADS_1


"Nggak ma, itu bener suara papa. Ada suara mas Gathan juga. Mereka manggil Nanda, ma. Mereka membutuhkan Nanda."


"Mama dan adek juga butuh kamu, Nda."


'Nda, bangunlah! Kami semua merindukanmu. Kamu semua menyayangimu.'


Nanda bingung, di satu sisi ia merindukan dan menyayangi mama dan adiknya. Di satu sisi, ia pun begitu merindukan ayahnya. Baru kali ini ayahnya menyebut dirinya sebagai ayah. Sesuatu yang sangat ia rindukan dan impikan.


Melihat Nanda yang tercenung bingung, Delima pun mendekat dan menggenggam tangannya.


"Pulanglah, sayang. Di sini bukan tempatmu. Di sanalah rumahmu yang sebenarnya. Maafkan mama yang menghalangi jalan pulangmu. Pulanglah, sayang. Temui mereka. Mereka memang benar-benar merindukanmu. Mama senang sayang, akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu setelah sekian lama kamu mengalami kepahitan. Maafkan mama yang sudah menjadikan hidupmu sulit. Ini semua terjadi akibat kesalahan dan keegoisan mama. Kamu berhak bahagia, sayang. Pulanglah! Selamat tinggal!" lirih Delima dengan mata sendunya.


"Dadah kak, selamat tinggal. Adek sayang kakak." ujar adik Nanda yang sekarang digandeng Delima.


Perlahan tapi pasti, Delima dan gadis kecil itu menjauh dan lama-kelamaan bayangannya menghilang bersamaan semilir angin yang berhembus meninggalkan Nanda yang masih terpaku di tempatnya.


Seketika, Gathan dan Doni membelalakkan matanya saat mendengar suara lirih Nanda yang menyebut kata papa.


"Nanda, itu kamu nak? Iya nak, ini papa! Kamu sudah bangun, nak!" seru Doni tak percaya saat mendengar Nanda menyebut namanya lirih. Suaranya sangat pelan nyaris tak terdengar, tapi karena posisi mereka begitu dekat dengan kepala Nanda jadi mereka masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Nanda, ini mas sayang. Kamu udah bangun, sayang. Dok, barusan Nanda menyebut kata papa. Apa Nanda sudah sadarkan diri, dok?" seru Gathan penuh semangat.


Dokter pun segera memeriksakan kondisi Nanda secara menyeluruh. Perlahan, Nanda mengerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya yang terasa silau karena cahaya lampu yang menyorot langsung dari atas kepalanya.


"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanya Gathan was-was.


"Syukurlah, kondisinya sudah jauh lebih baik. Tapi tetap masih dalam masa pemantauan. Kami nanti akan kemari lagi untuk memeriksanya. Kalau begitu saya permisi." pamit dokter yang memeriksa Nanda.


"Mas Gathan." panggilnya saat matanya menangkap sosok Gathan tak jauh dari posisi dokter yang sedang memeriksanya.

__ADS_1


Gathan pun segera mendekat, setelah dokter keluar.


"Iya, sayang. Ini mas. Apa ada yang sakit?" tanya Gathan.


"Pusing." ujarnya lirih. "Mas, tadi ... tadi Nanda mimpiin papa. Nanda ... Nanda mimpi papa manggil-manggil Nanda." ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca. Ia belum sadar di sisi kirinya berdiri sosok yang dikiranya hanya mimpi itu.


Gathan lantas tersenyum lebar dengan mata yang juga berkaca-kaca.


"Kamu nggak mimpi, sayang. Itu bukan mimpi. Itu benar-benar papa kamu. Itu papa Doni. Papa Doni ada di sini, di samping kamu. Bahkan, papa Doni yang mendonorkan darah untukmu, sayang." ucap Gathan lembut seraya membelai kepala Nanda yang tidak tertutup perban sambil menunjuk ke sisi kiri dengan dagunya.


Nanda membelalakkan matanya tak percaya. Lalu ia memutar sedikit lehernya untuk melihat ke sisi kiri. Nanda sontak membulatkan matanya saat melihat sosok lelaki yang sangat ia rindukan itu. Sosok itu terlihat sudah mulai menua. Tampak kerutan samar di wajahnya. Matanya membengkak, seperti habis menangis.


"Ini ... ini nggak mimpi kan, mas? Ini bukan mimpi kan? Itu beneran papa kan? Mas, Nanda nggak sedang berhalusinasi kan? Itu ... itu benar-benar papa kan?" lirihnya sambil terisak.


"Ini benar papa, nak. Ini benar-benar papa. Ini papa. Maafkan papa, nak. Maafkan kesalahan papa di masa lalu, nak. Papa merindukan mu, sayang. Papa sangat merindukanmu." lirih Doni dengan air mata yang bercucuran.


"Papa ... " seru Nanda meraung menangis saat Doni memeluk tubuhnya. Walaupun tidak erat karena takut membuat Nanda kesakitan, tapi kehangatannya tetap terasa. Kehangatan yang telah lama ia rindukan. Kehangatan yang telah lama ia harapkan.


"Ini benar-benar papa kan? Pa, ini papa Nanda kan? Papa ... papa ... papa ... "


"Iya sayang, ini benar-benar papa. Maafkan papa nak yang sudah membuatmu menderita. Maafkan papa nak karena telah mengabaikanmu. Maafkan papa, nak. Maafkan papa dan terima kasih telah kembali. Terima kasih sayang. Papa sangat bahagia bisa berjumpa denganmu kembali." lirih Doni sambil menyeka air mata di pipi Nanda membuat Nanda tersenyum manis.


"Nanda juga sangat merindukan papa. Nanda juga sangat menyayangi papa. Papa ... papa ... papa ... " lirihnya seraya menyebut kata papa berkali-kali. Setelah sekian lama, akhirnya impiannya tercapai. Berjumpa dengan sang papa. Memanggil sang papa. Memeluk tubuh sang papa. Impiannya, akhirnya tercapai.


''Ya Allah, terima kasih atas karunia yang tak terhingga ini. Akhirnya ... akhirnya ... aku dapat bertemu, memanggil, memeluk, dan merasakan kasih sayang seorang papa. Terima kasih, Ya Allah. Ini benar-benar luar biasa.'


...***...


...Happy reading 🥰🙏🥰...

__ADS_1


__ADS_2