Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.48 Kamuflase


__ADS_3

Sudah satu Minggu Gathan dan Nanda tidur di rumah orang tua Gathan, selama itu pula kemarahan Freya makin menjadi-jadi. Apalagi karena kegagalannya tempo hari, ayahnya jadi memarahinya membuatnya kian bertambah benci dan kesal kepada Nanda dan Gathan.


Seperti biasanya, Gathan mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Walaupun ia hanya menjabat sebagai wakil Presdir, mewakili ayahnya sendiri, tetapi ia tetap mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan benar. Bahkan untuk mencapai ke posisi itu, ia harus merangkak dari pegawai biasa dahulu. Setelah mengabdikan diri beberapa tahun, barulah ia dapat naik ke posisi saat ini.


"Apa jadwalku siang ini?" tanya Gathan pada Tio, sang asisten.


"Jadwal tuan siang ini meninjau lokasi proyek pembangunan kantor anak cabang KSM Group yang akan ditemani pemimpin KSM Group sendiri." ujar Tio seraya menundukkan wajahnya.


"Ada lagi?"


"Tidak ada tuan."


"Tio, anak buahmu masih sering mengikuti Freya kan?" tanya Gathan sambil menatap lekat mata Tio yang menunduk.


"Iya, tuan. Masih."


"Apa kegiatannya akhir-akhir ini? Sepertinya kau mulai jarang melaporkan semua kegiatannya." tanya Gathan penuh selidik.


"Maaf tuan, saya jarang melaporkan sebab tak ada kegiatan yang berarti. Semuanya sama seperti sebelum-sebelumnya. Ke salon, ke mall, bertemu teman-temannya di cafe atau restoran, dan ke rumah ayahnya." papar Tio.


Gathan menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja kerjanya. "Apa ada orang lain yang ia temui? Maksudku orang yang mencurigakan atau seorang lelaki?"


"Tidak ada tuan. Teman-teman yang ditemuinya juga itu-itu saja. Mereka sering melakukan perjalanan kesana-kemari untuk wisata kuliner atau mengunjungi tempat-tempat menarik guna membuat konten di akun sosial media mereka." tutur Tio.


Gathan menganggukkan kepalanya, paham. Sebab ia tau Freya merupakan seorang sosialita atau selebgram jadi sudah tentu ia gemar membuat konten guna meraup follower sebanyak-banyaknya.


"Baiklah, kalau begitu silahkan keluar." titah Gathan. Lalu Tio pun segera berpamitan untuk kembali ke mejanya, tapi baru saja Tio hendak memutar handle pintu, suara Gathan mengehentikan langkahnya.


" Ingat, laporkan apa saja kepada ku terutama saat ia mengunjungi suatu tempat atau orang-orang yang bukan teman sesama sosialitanya.


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi." ucap Tio sebelum keluar dari ruangan Gathan meninggalkan Gathan yang tengah merenungkan semua permasalahannya sambil bersandar di kursi kebesarannya.


tring ...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Gathan, segera saja Gathan membuka pesan itu. Senyum mengembang saat Gathan membaca setiap kata yang tertulis di pesan itu.

__ADS_1


...Jangan lupa makan siangnya, mas!...


...Semangat!...


Tak ingin membuat Nanda lama menunggu, Gathan pun segera membalas serangkaian pesan itu walaupun hanya dengan satu kata singkat sebab ia tidak terbiasa mengeluarkan banyak kata apalagi banyak bicara.


...Ok!...


Nanda hanya bisa berdecak kesal saat membaca pesan balasan itu. Terlalu singkat, padat, dan jelas. Tapi ini jauh lebih baik dari pada mode batu on-nya kumat. Dapat Nanda rasakan perbedaan interaksi Gathan dengan dirinya dan orang lain. Bila dengan dirinya walaupun di depan orang lain ia banyak diam, tapi saat berdua Gathan begitu lembut dan perhatian. Juga sudah cukup banyak bicara walaupun seperlunya, tapi bila dengan orang lain, Gathan justru bersikap dingin dan kaku, lebih parah dari si map plastik laminating. 😁


Seperti perkataan Tio tadi, siang it selepas makan siang, Gathan ditemani. sekretarisnya harus melakukan peninjauan proyek pembangunan kantor yang merupakan anak cabang dari KSM Group. Di lokasi, tampak pemimpin KSM Group telah berdiri mengawasi para pekerja yang sudah memulai pekerjaannya seja beberapa hari yang lalu.


"Selamat siang pak Doni. Maaf kami sedikit terlambat." ujar Gathan seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Oh, pak Gathan, tidak masalah. Saya juga belum lama tiba di sini." ujar Doni yang tak lagi merasa sungkan dengan sikap kaku Gathan.


"Bagaimana pak, apakah semuanya berjalan sesuai harapan Anda?"


"Sejauh ini iya. Semoga proses pembangunan ini lancar dan tak ada kendala." ujar Doni dan Gathan mengangguk. "Anda masih muda tapi begitu pekerja keras, istri Anda pasti sangat beruntung memiliki Anda." ujar Doni basa-basi.


"Bukan istri saya yang beruntung, tapi diri saya sendiri. Bapak bisa lihat sendiri bagaimana sikap saya, tapi bersyukurnya istri saya bisa menyikapinya dengan baik."


"Masih ada? Maksud Anda ia telah tiada?"


"Oh, bukan. Bukan seperti itu. Tapi dia pergi. Pergi meninggalkan papa breng-seknya ini. Saya bukanlah orang tua yang bertanggung jawab jadi anak saya meninggalkan saya padahal saat itu usianya masih sangat kecil." desah Doni frustasi.


"Apakah Anda tidak mencoba mencarinya?" tanya Gathan penasaran.


"Sudah, tapi kami tidak menemukan jejaknya. Saya sungguh menyesal karena tidak pernah bersikap sebagaimana seorang ayah semestinya. Justru saya selalu menyakitinya. Saya hanya bisa berdoa, semoga kehidupannya baik dan semoga ia dikelilingi orang-orang baik yang tulus menyayanginya."


"Aamiin."


...***...


Hari ini Gathan pulang lebih cepat l. Dari lokasi proyek, Gathan langsung meminta Erwin mengantarnya menuju ke cafe Starla. Di saat bersamaan, saat Gathan tiba, ternyata Nanda telah bersiap-siap untuk pulang.

__ADS_1


"Lho mas, kok ada di sini? " tanya Nanda heran seraya mencium punggung tangan Gathan.


"Tadi dari lokasi proyek. Kebetulan jarak proyek tidak jauh dari sini, jadi pulangnya mas langsung ke sini aja. Ayo kita pulang!" ajak Gathan.


"Pulang kemana, mas? Rumah mas atau rumah mama?" tanya Nanda sambil mencangklong tas selempangnya.


"Rumah mas aja. Udah seminggu kita nggak pulang."


"Iya, mas. Nanda juga ngerasa nggak enak sama mbak Freya. Entar dia kira Nanda nguasain mas , padahal sebaliknya." ujar Nanda sambil terkekeh.


"Sebaliknya bagaimana, hm?" Gathan menarik tangan Nanda yang baru saja berjalan hendak menuju pintu ruangannya hingga kepala Nanda membentur dada bidang Gathan.


"Eh ... itu ... anu ... " Nanda gelagapan sendiri karena kata-katanya sendiri.


"Mas ngusaian kamu, hm? Benar kah? Tapi kamu suka kan?" bisik Gathan di telinga Nanda.


"Ia, mas modus ea!" Nanda mentoyor dahi Gathan gemas.


"Jawab dulu, kamu suka kan mas kuasain? Ayo jujur aja!" lirih Gathan seraya mengangkat dagu Nanda hingga mata mereka berdua saling bersirobok.


"Mmm ... kalau pertanyaannya Nanda balik, gimana? Mas suka nggak nguasain Nanda?" ujar Nanda dengan senyum menggoda.


"Sepertinya kamu sudah mulai nakal ya!" ucap Gathan gemas lalu tanpa ragu, Gathan menyergap bibir Nanda dengan bibirnya dan melum@tny@ lembut. Sensasi menggelitik seketika membuat Nanda meremang. Takut ada yang melihat, Nanda mendorong dada bidang Gathan yang tengah asik mencumbunya.


"Mas, udah ih, entar ada yang lihat!" tukas Nanda dengan bibir mengerucut.


"Kalau nggak mau dicium lagi, bibirnya tolong kondisikan sebelum mas benar-benar khilaf di sini."


"Ck ... jangan jadikan khilaf sebagai alasan! Emang mas nya aja yang sekarang udah mulai me-sum di segala tempat. Nggak bisa lihat situasi dan kondisi lagi. Kalau khilaf bisa ngomong, pasti dia udah protes soalnya sering banget dia dikambinghitamkan orang-orang kayak mas Gathan ini." ujar Nanda dengan ekspresi bersungut-sungut.


Gathan terkekeh mendengarkan celotehan Nanda yang ada benarnya. Memang orang-orang zaman sekarang, setiap habis melakukan kesalahan selalu beralasan khilaf. Termasuk berselingkuh, saat belum ketahuan ya lanjut, tapi saat udah ketahuan bilangnya khilaf. Khilaf ndasmu! hahaha ...


Setibanya di rumah, tampak pemandangan berbeda di rumah itu. Gathan dan Nanda melihat, Freya ada di rumah sambil membaca majalah, tidak seperti biasanya yang suka keluyuran.


Melihat Gathan dan Nanda pulang, Freya langsung mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Gathan. Ia juga mengucapkan permintaan maafnya karena sudah membuat Gathan kesal. Freya juga menghampiri Nanda dan memeluknya erat. Ia juga meminta maaf karena sudah membuatnya tak nyaman dengan sikapnya selama ini. Nanda pun menerima pelukan itu dengan senang hati. Dalam hati Nanda berharap, Freya benar-benar berubah dan mau bersikap baik padanya. Nanda dan Gathan pikir, Freya sudah benar-benar berubah dan menyesali perbuatannya yang salah, tapi tanpa Nanda sadari, sikap baik ini hanyalah kamuflase yang akan menjadi awal masalah besar yang akan menimpa Nanda nanti.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2