Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.41 I Miss you


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Gathan dan Nanda ke Jakarta. Tapi sebelum itu, Gathan menyempatkan diri mengajak Nanda jalan-jalan sekalian membeli buah tangan untuk keluarga mereka termasuk bunda Rieke dan anak-anak panti. Gathan mulai menyadari kalau selama ini ia tidak memperhatikan istri kecilnya itu termasuk mencukupi segala kebutuhannya. Bahkan selembar pakaian pun belum pernah ia belikan.


Gathan mengambil penerbangan sore hari ke Jakarta jadi dari pagi sampai siang dapat ia manfaatkan untuk mengajak Nanda ke pusat oleh-oleh di Kota Bali. Ternyata tidak sulit membahagiakan Nanda tapi cukup mengajaknya ke pusat oleh-oleh seperti saat ini. Mata Nanda seketika berbinar saat melihat aneka oleh-oleh khas Bali seperti tas anyaman, baju khas Bali, gantungan kunci, pernak-pernik untuk anak-anak.


Awalnya Nanda ragu saat ingin melihat-lihat karena ia pikir uangnya pasti takkan cukup untuk membeli berbagai macam barang sebagai oleh-oleh, tetapi Gathan justru mendorong Nanda agar tak sungkan memilih apapun itu sebab ia yang akan membayarnya.


Setelah selesai dari toko pernak pernik, Gathan mengajak Nanda ke pusat jajanan khas Bali. Nanda pun membeli aneka makanan khas Bali seperti pia susu, pia legong, brem, kacang disko, dan lain-lain.


Hari sudah siang, sebelum pulang, Gathan terlebih dahulu mengajak Nanda beristirahat setelah makan siang. Kini Nanda sedang berbaring di atas dada Gathan. Wajahnya tampak murung memikirkan apakah keindahan beberapa hari ini akan ia rasakan lagi bila mereka kembali ke Jakarta.


"Kenapa murung, hm?" tanya Gathan sembari mengusap puncak kepala Nanda. Merasa nyaman, Nanda makin merapatkan tubuh polosnya di tubuh Gathan membuat tombak sakit Gathan kembali menegang.


"Mas, apakah mas akan kembali dingin lagi saat di rumah? Apakah ... mas akan kembali menjaga jarak sama Nanda? Dan apakah kita nggak bisa seperti ini lagi nanti?" tanya Nanda dengan wajah murung. Dibenamkannya wajahnya ke dada Nanda hingga tanpa sadar setitik air mata keluar dari pelupuk mata Nanda.


Merasakan dadanya dialiri air yang sangat ia yakini itu adalah air mata, seketika Gathan terhenyak. Ia mulai berpikir, apakah sikapnya selama ini menyakiti Nanda? Gathan merutuki dirinya sendiri, bahkan ia tidak pernah tidur di kamar Nanda walau satu kali saja. Padahal Nanda telah beberapa bulan menjadi istrinya. Kalau Lavina tidak mengatur waktu untuk dirinya ke Bali, mungkin selamanya ia akan menjaga jarak dan takkan pernah merasakan keindahan dan kenikmatan bercinta dengan seseorang yang sudah mengisi hatinya itu.


"Nda, apakah mas selama ini menyakitimu? Maaf kalau mas secara tidak sadar menyakitimu dan kurang memperhatikanmu. Juga tidak memberikan apa yang seharusnya sudah kamu dapatkan. Bahkan baru kali ini mas membelikan mu baju." Gathan menghela nafas panjang sejenak dan menghembuskannya. "Untuk pertanyaanmu tadi, insya Allah mas akan usahakan tidak bersikap dingin lagi. Tapi maaf kalau di hadapan orang lain, mas nggak bisa hilangkan sikap itu. Mas hanya bisa bersikap hangat dengan orang-orang yang memang bisa memberikan rasa nyaman sama mas. Mas akan usahakan lebih memperhatikan dirimu walaupun tidak bisa sepenuhnya apalagi mas harus menjaga perasaan Freya. Bagaimana pun, Freya tetaplah istri mas. Dan nanti mas juga akan mengatur waktu tidur denganmu juga agar kalian merasa adil. Walaupun tidak bisa adil sepenuhnya karena ada hal-hal yang tidak bisa mas bagi." imbuh Gathan lagi.


"Hal-hal seperti apa?" tanya Nanda sambil mendongakkan wajahnya memandang lekat wajah Gathan.


"Hal-hal seperti ini. " selesai mengatakan itu Gathan langsung membungkam mulut Nanda dengan ciuman panjang dan dalam. Seperti biasa ciuman itu berakhir dengan pergulatan panas di tengah hari.


Selesai mendapatkan apa yang diinginkannya, Gathan menyatukan dahi mereka.

__ADS_1


"Hal-hal seperti ini tidak bisa mas bagi sebab mas hanya tertarik dan nyaman melakukannya sama kamu. Entah mengapa, mas pun heran. Kata orang, lelaki bisa bercinta dengan wanita mana saja tanpa melibatkan perasaan, tapi mas ... mas nggak bisa. Mas hanya bisa melakukannya sama kamu. Hanya denganmu. Mas tidak mau yang lain. Tidak bisa yang lain." tukasnya lirih di depan wajah Nanda lalu ditutupnya penuturan itu dengan sebuah kecupan mesra.


...***...


Pesawat yang membawa Nanda dan Gathan telah lepas landas meninggalkan bandara internasional Ngurah Rai pukul 16.45 sore tadi. Setelah pesawat berhasil mendarat dengan sempurna di bandara internasional Soekarno-Hatta, tampak Erwin telah menanti kepulangan Nanda dan Gathan di ruang tunggu.


Erwin pun membantu Gathan membawakan kopernya, sedangkan Gathan membawakan koper milik Nanda. Nanda sudah mengatakan ingin membawanya sendiri, tetapi Gathan berkeras ingin membawakannya.


Setelah koper Nanda dan Gathan telah dimasukkan ke bagasi mobil, Nanda dan Gathan pun masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di bangku belakang, sedangkan Erwin di bangku kemudi. Saat mobil melaju menuju rumah, kini pikiran Nanda kembali melayang.bIa khawatir Freya marah dengannya seperti tempo hari karena telah pergi berdua dengan Gathan. Ia juga khawatir, Freya marah sebab ia dan Gathan telah melakukan hubungan suami-istri, sedangkan ia saja sampai saat ini belum pernah disentuh Gathan.


"Bagaimana keadaan rumah, Win?" tanya Gathan mulai membuka suara.


"Semua aman bos. Tidak ada masalah. Kalau bos, bagaimana bulan madunya? Berhasil?" goda Erwin sambil mengulum senyum. Gathan dan Nanda terdiam, tetapi wajah mereka memerah. Erwin dapat melihat itu dari kaca spion yang ada di atas wajahnya. Ia pun makin mengulum senyum merasa yakin kalau sudah terjadi sesuatu antara Nanda dan Gathan.


"Ekhem ... " Gathan berdeham untuk memecah kecanggungan. Lalu tatapan matanya beralih ke Nanda yang kembali murung.


"Mas ... gimana kalau mbak Freya marah-marah lagi sama Nanda?" tanya Nanda dengan raut wajah gusar.


"Kamu jangan khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja. Lagipula ini kan bukan sengaja keinginan kita jadi tak perlu terlalu kau pikirkan. Oke!"


Nanda mengangguk sembari mengeratkan rangkulannya di lengan Gathan.


Erwin menaikkan alisnya ke atas. Baru kali ini ia melihat Gathan berinisiatif merangkul seorang wanita. Ia juga berinisiatif mengajak Nanda berbicara, tidak seperti saat dengan Freya. Erwin meyakini kalau Gathan sebenarnya sudah jatuh hati pada sosok Nanda. Diam-diam dalam hati, Erwin berdoa semoga rumah tangga Nanda dan Gathan langgeng hingga maut memisahkan.

__ADS_1


"Hiks ... hiks ... hiks ... " terdengar tangisan lirih saat Gathan baru masuk ke dalam rumahnya.


"Surti, siapa itu nangis?" tanya Gathan.


"Mas kayaknya itu suara mbak Freya deh!" tebak Nanda.


"Benar begitu Surti?" tanya Gathan pada Surti.


"I-iya , tuan." sahut Surti terbata.


"Memang apa yang terjadi?"


"Kami tidak tau, tuan. Tau-tau, nyonya nangis gitu aja.” ungkap Surti.


Khawatir terjadi sesuatu pada Freya, Gathan pun segera berlari menaiki tangga setapak demi setapak menuju kamar mereka berdua. Dibukanya lebar pintu kamar dan Gathan terkejut saat melihat wajah Freya bersimbah air mata


"Freya, apa yang terjadi?" tanya Gathan penasaran.


Mendengar suara Gathan, Freya lantas segera berdiri dan berlari memeluk tubuh Gathan membuat Nanda yang berada di luar pintu terkejut melihatnya.


"Mas Gathan, i Miss you ." lirih Freya sambil memeluk Gathan.


...***...

__ADS_1


...Mohon maaf kalau ada typo ya kakak2. Kalau ada typo, bisa ditandai aja, soalnya udh 2hr ini othor migrain jd GK konsen pas ngetik. Terima kasih..πŸ™β˜ΊοΈ...


...Happy reading πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...


__ADS_2