Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.61 Apa ... ???


__ADS_3

Lampu indikator ruang operasi Nanda menyala, tanda tindakan operasi telah dimulai. Tampak Gathan, Lavina, Ganindra, bunda Rieke dan Doni yang belum beranjak dari sana ikut menunggu. Entah apa tujuannya, ia hanya ingin berada di sana. Sedangkan bunda Rieke baru saja datang setelah mendapatkan kabar buruk itu dari Lavina. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah, berdoa, dan menanti. Berharap tindakan operasi ini berjalan lancar dan berhasil. Sedangkan Nuri, kini ia masih berada di ruangannya. Kondisinya masih belum memungkinkan untuknya keluar apalagi pulang.


Detik demi detik telah berganti, tidak terasa sudah 3 jam berlalu, tapi belum ada tanda-tanda kalau operasi akan segera selesai. Resah gelisah menggelayuti hati dan pikiran semua orang yang menunggu di depan ruang operasi.


Sebenarnya bibir Lavina sedari tadi gatal dan berkedut ingin menanyakan kronologis terjadinya kecelakaan itu. Gathan hanya menyebutkan kalau kecelakaan itu merupakan perbuatan Freya. Tapi ia belum menjelaskan secara rinci, bahkan Lavina masih penasaran bukankah tempo hari katanya Gathan telah mengusir Nanda, lalu mengapa Nanda justru bersamanya di apartemen milik Gathan semasa kuliah? Namun ia sadar, ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya. Melihat raut wajah Gathan yang terlihat begitu khawatir saja sudah cukup membuatnya tak kuasa menahan kesedihannya. Mengapa nasib percintaan putranya begitu rumit dan menyedihkan seperti ini? Lavina hanya bisa menggumamkan kata-kata itu dalam benaknya.


Berbeda dengan Ganindra, ia telah tau segala kebusukan Freya melalui Erwin yang Gathan tugaskan menemani ayahnya membuat laporan di kepolisian. Setelah membuat laporan, Ganindra langsung kembali ke rumah sakit. Bagaimana pun, saat ini adalah saat-saat terpenting dan tergenting dalam hidup putranya. Ia tidak ingin meninggalkan anaknya dalam keterpurukan seperti itu. Ia ingin menemani dan menguatkan sang putra yang baru kali ini merasakan kepahitan dan ujian berat dari sang pencipta.


Sementara Gathan dan yang lainnya tampak begitu tegang dan khawatir menunggu hasil operasi Nanda di rumah sakit, di tempat lain tampak seorang gadis bersembunyi di sebuah rumah kecil yang terletak di pinggir kota. Ia tidak sendiri, tapi juga bersama sang ayah angkat. Ia terus mengurung diri di dalam kamar yang jauh dari kata kemewahan. Kamar itu begitu kecil, tidak seperti kamarnya di kediaman Reza apalagi Gathan.


Tubuhnya bergetar, peluh mengucur di sepanjang tubuhnya yang dingin. Ketakutan menjalar membuat Freya menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.vIa takut dan khawatir. Ia memang gagal menabrak Nanda, tapi saat melihatnya jatuh terguling dengan cairan merah kental mengalir deras dari pangkal paha juga kepalanya membuat Freya ketakutan sendiri.


Sesaat sebelum Nanda di bawa ke rumah sakit, Freya memarkirkan mobilnya di tempat agak tersembunyi lalu ia kembali lagi untuk melihat keadaan Nanda. Awalnya ia merasa senang membuat Nanda celaka, tapi saat melihat keadaan Nanda seperti itu, tubuhnya sontak bergetar. Bayangan masa lalu saat ibunya meninggal karena pendarahan akibat kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya membuat Freya tercekat. Ia pun bergegas berlari dan kembali ke kediaman Reza. Reza mengamuk saat mendengar kebodohan Freya. Bila sudah begini, semua rencananya pasti akan hancur. Akhirnya, mereka memilih mengasingkan diri di gubuk kecil yang merupakan rumah tua peninggalan kedua orang tuanya.


"Aaargh ... keluar kau Freya! Dasar anak bodoh kau! Lihat akibat perbuatan bodohmu, kita jadi terdampar di sini. Di rumah tua menjijikkan ini." teriak Reza seraya menghempaskan kaleng bir yang baru saja ia tandaskan.

__ADS_1


"Percuma aku menyekolahkanmu tinggi-tinggi, tapi otakmu tetap saja di dengkul. Kau lihat di berita sekarang, kita menjadi DPO atas kasus penipuan dan percobaan pembunuhan. Dasar anak bodoh!" desis Reza murka sambil menerjang kaki meja membuat meja yang telah usang itu patah seketika.


Mendengar Reza mengamuk di luar, Freya makin mengeratkan lilitan selimutnya. Tubuhnya makin bergetar hebat. Apalagi saat sekelebat bayangan Nanda yang bersimbah darah muncul di pelupuk matanya, membuat Freya makin bergetar ketakutan.


"Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku." gumamnya tanpa henti


Sedangkan di rumah sakit, tampak lampu indikator mati. Baik Gathan, Lavina, Ganindra, Bunda Rieke, dan Doni sontak berdiri menunggu kabar dari sang dokter yang sepertinya telah selesai mengoperasi Nanda. Dengan perasaan was-was mereka berdiri di depan pintu ruang operasi, hingga tak lama kemudian tampak seorang dokter pria dengan berpakaian serba hijau keluar dari ruangan serba putih itu, disusul seorang dokter lagi di belakangnya membuat jantung Gathan kian seperti diremas.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Gathan to the point pada dokter spesialis obgyn itu.


"Kami telah berhasil mengangkat janin itu, tapi karena benturan itu cukup kencang, mengakibatkan dinding rahim pasien sedikit terluka. Butuh waktu sedikit lama untuk dapat pulih total karena itu untuk sementara, pasien sangat disarankan untuk mencegah kehamilan sebab itu akan berisiko. Tapi bapak jangan khawatir, ini bukan berarti istri Anda tidak bisa hamil kembali. Istri Anda hanya perlu rutin minum obat dan memeriksakan diri." tukas dokter bernama Radika itu.


Lalu Radika melirik dokter lain yang berada di belakangnya. Membuat Gathan mengerutkan keningnya.


"Tapi ada hal yang lebih serius." ujar Radika menjeda kata-katanya. "Rekan saya akan menjelaskan detilnya." imbuhnya lagi.

__ADS_1


Lalu dokter spesialis bedah saraf maju. Ia menerangkan bahwa operasi di bagian kepala Nanda telah berhasil. Kemudian ia juga menerangkan mengenai kondisi Nanda yang mengalami koma pasca trauma akibat benturan di kepalanya. Hal tersebut cukup mengguncang batin Gathan. Tanpa sadar, setitik air mata mengalir dari pelupuk matanya. Begitu pula Lavina yang langsung meraung di dalam dekapan Ganindra. Bunda Rieke pun terisak hingga menyebut nama Nanda hingga berkali-kali membuat Doni yang entah mengapa ikut sesak mendengarkannya. Apalagi saat nama itu digumamkan Bunda Rieke.


Gathan pun meminta izin pada dokter untuk melihat keadaan istrinya sebentar. Gathan sudah tak sanggup menahan rasa sesak dan kepedihan di dadanya, lantas meraung sambil menggenggam tangan Nanda. Dokter Radika yang kembali masuk ke dalam ruangan itu pun ikut sesak melihat kesedihan yang terlihat begitu kentara di wajah Gathan. Apalagi saat menatap wajah Nanda yang terbalut perban di area dahi juga luka-luka di area pipi, membuat hatinya ngilu. Semakin menatap, makin besar pula rasa sakit itu. Padahal ia telah banyak menangani banyak pasien, tapi baru pasien kali ini yang membuatnya merasakan ada sesuatu yang berbeda.


'Siapa sebenarnya perempuan ini? Mengapa aku seperti begitu familiar dengannya? Semacam ada ikatan batin sebab di saat yang sama saat kecelakaan itu terjadi tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang.' batin Radika bermonolog.


Gathan melirik ke arah Radika yang tengah mematung, lalu ia mengajaknya keluar untuk membicarakan sesuatu. Saat telah berada di luar, tiba-tiba Doni berpamitan hendak pulang membuat batin Gathan seketika berkecamuk.


"Apa Anda serius ingin pulang? Apa di benak Anda tidak merasakan sesuatu? Sesuatu yang menyesakkan dan ... menyakitkan. Apa ... " Gathan menjeda kata-katanya untuk menarik nafas membuat Doni yang hendak beranjak pergi membalik badannya menatap lekat Gathan. "Apa Anda tidak merasa penasaran siapa istri saya sebenarnya? Mengapa dari sekian banyak orang justru golongan darahnya sama denganmu padahal golongan darah kalian itu termasuk langka dan hanya ada 0,36 % dari jumlah orang di seluruh dunia. Apa Anda tidak penasaran sama sekali?" ujar Gathan dengan tatapan mata kosong menatap lurus ke depan, tapi bukan ke arah Doni.


Dahi Doni berkerut bingung, pun Radika yang berusaha mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir Gathan.


'Apa maksudnya?" batin Doni.


'Jangan-jangan ... ' batin Radika.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2