
Perlahan tangan Gathan bergerak ke ujung selimut yang menutupi leher Nanda, lu dengan sekali hentakan, selimut itu sudah tersingkap kemudian ia lemparkan sembarangan.
Gathan tertegun di tempat saat melihat pemandangan super indah di depannya. Wajah Nanda memerah menahan rasa malu yang membuncah. Ia sudah layaknya bak wanita penggoda yang sedang menjajakan dirinya. Namun, ia menjajakan dirinya pada orang yang berhak dan layak. Ya, biarkan saja malam ini ia berlaku bak sang penggoda, penggoda sang suami.
Nanda menggigit bibir bawahnya saat melihat bagaimana cara Gathan memandangnya. Kabut gairah itu tak dapat Gathan sembunyikan. Kemudian tangan Nanda terulur membelai dari ujung jemari Gathan hingga naik terus ke atas. Terang saja apa yang dilakukan Nanda membuat Gathan menegang. Bahkan Gathan sampai menelan ludahnya sendiri, tak menduga istrinya yang biasanya terlihat pasrah, justru kini lebih berinisiatif. Mungkinkah ini hadiah atas kesabarannya menunggu? Ataukah ini ungkapan besarnya rasa cinta dan kepercayaan Nanda padanya? Gathan tidak tahu.
Ingin Gathan melemparkan pertanyaan, tapi lidahnya justru kelu melihat keindahan yang terpampang di hadapannya. Kata-kata yang ingin ia lontarkan justru ikut tertelan dengan pergerakan jakunnya yang naik turun.
Nafasnya kian memburu seiring pergerakan tangan Nanda yang menelusuri lengannya dengan gerakan lembut nan seduktif. Hingga jemari itu mencapai rahang Gathan. Bergerak menggoda, menimbulkan sensasi berbeda dalam diri Gathan. Sensasi ini ... ini merupakan kali pertama ia merasakan sensasi yang jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya. Bila biasanya dirinya lah yang bergerak aktif, namun kini ia seakan jadi kucing penurut. Ia hanya bergerak pasif. Menikmati setiap gelenyar yang mengalir di darahnya.
Gathan menatap lekat wajah cantik Nanda yang bersemu merah. Didiamkannya, sampai sebatas mana Nanda akan bekerja?
Dengan bertumpu pada bahu Gathan, Nanda menarik diri untuk duduk, lalu mendorong tubuh Gathan hingga telentang. Dengan malu-malu, Nanda mendekatkan wajahnya dengan mata terpejam dan menyatukannya bibirnya dan bibir Gathan. Dikecupnya bibir itu secara perlahan, atas dan bawah bergantian. Dengan jantung yang berdebar, Nanda mencoba menyusuri rahang Gathan hingga membuat sang suami melenguh.
Gathan tak ingin sepenuhnya pasif, ia pun berinisiatif membantu sang istri agar mereka berdua sama-sama merasakan keindahan surgawi. Tangan Gathan bergerak menyusuri inci demi inci kulit Nanda, dari rahang, leher, tulang selangka, hingga bermukim di atas gundukan intimnya. Ujung jemari Gathan mulai menyentuh kismis yang ada di puncak bukit Nanda yang masih tertutup lingerie maron dengan gerakan yang ... begitulah. Nanda menggelinjang hingga kepalanya mendongak ke atas di sela-sela pergerakannya.
Lagi-lagi Nanda menggigit bibirnya membuat kabut asmara Gathan makin berkobar indah. Gathan yang mulai tak sabar, mulai melucuti singlet yang digunakannya, lalu dengan sekali sentakan sreeettt ... lingerie maron Nanda pun telah sobek dan teronggok di lantai membuat wajah Nanda kian merah. Bagaikan seluruh aliran darahnya berkumpul di satu titik yaitu wajahnya. Nanda menyembunyikan wajahnya di dada Gathan membuat pria itu terkekeh.
"Malu, hm?" bisik Gathan di dekat telinga Nanda.
Nanda tak menjawab. Tanpa perlu dijawab pun Gathan sudah pasti tau jawabannya.
__ADS_1
Lalu Gathan meletakkan telapak tangannya di punggung Nanda dan menyusurinya. Memberikan sengatan pancingan agar rasa kepercayaan diri Nanda kembali.
"Let's do it, baby! Let's make love! Let's make a baby! Let's ... "
Belum selesai Gathan berucap lirih, Nanda telah lebih dahulu membungkam mulutnya dengan penuh gairah. Tak mau kalah, Gathan pun membalas tak kalah panas dan bergairah hingga kamar hotel itu pun riuh dengan bunyi decapan. Saling mengeksplor, saling melu*mat, saling memagut, saling mencecap, saling berbagi rasa dengan pertautan lidah.
Tangan keduanya kini kian aktif, bahkan tanpa ragu Nanda menarik celana pendek berikut segitiga terakhir yang membuat keduanya kini sama-sama polos.
Sang penggoda, ya kini Nanda sedang menjelma menjadi sang penggoda.
Bukankah istri yang berinisiatif terlebih dahulu akan mendapatkan ganjaran berupa diampuninya dosa-dosa yang telah lalu dan sesudahnya.
Dengan berpegang teguh pada prinsip itu, akhirnya Nanda pun memberanikan diri untuk berinisiatif alih-alih memberikan hadiah karena suaminya telah mau bersabar selama 6 bulan ini. Tidak mudah bagi lelaki terutama yang telah berumah tangga untuk menahan syahwatnya. Karena itu bagi yang belum menikah, dilarang untuk mencoba-coba sebab sekali mencoba pasti kembali ingin mencoba hingga terus ketagihan dan itu tentu tak boleh.
Baru kali ini Nanda mendominasi, baru kali ini Nanda memimpin, baru kali ini Nanda mengeksplorasi setiap inci tubuh suaminya, dan kali ini ia benar-benar mengenali setiap bagian tubuh suaminya hingga yang paling tersembunyi sekalipun.
Nanda memposisikan tubuhnya di atas tubuh Gathan, ia menggesekkan miliknya pada milik Gathan hingga Gathan tak henti-hentinya melenguh. Lalu ia mengangkat sedikit bokongnya ke atas sambil memposisikan torpedo sang suami tepat di depan pintu masuk surgawi miliknya. Kemudian dengan sekali hentakan, torpedo itu telah masuk ke lubang surgawi hingga keduanya melenguh bersamaan.
Dengan perlahan, Nanda menggerakkan bokongnya naik turun. Semakin lama, Nanda makin menaikkan tempo kecepatannya hingga keduanya tiada hentinya mende*sahkan nama masing-masing.
"Yah Nda ... Yah, sayang. Yes, faster baby! Yes, you can do it! Ahhh ... uhhh ... ahhh ... "
__ADS_1
"Mas .... Mas Gathan ... aaakhhh ... massss .... iya ... iya ... ahhhh ... "
Gathan merasakan kedutaan di bawah sana. Ya, ia tahu Nanda telah mencapai puncaknya terlebih dahulu. Bahkan sudah beberapa kali Nanda mencapai puncaknya sendiri. Tak ingin Nanda kepayahan sendiri, Gathan pun membalikkan posisinya hingga kini dirinya lah yang memimpin pertempuran. Bagaimana pun, dirinya adalah pemimpin, jadi sudah jadi tugasnya memimpin. Sudah cukup istrinya yang memimpin, kini ia lah sang pemegang kendali.
Gathan mulai bergerak naik turun dengan tempo teratur namun cepat. Dihentaknya milik Nanda hingga wanitanya itu tak berhenti melenguh. Makin cepat makin mendesak, makin terasa nikmat. Akhirnya Gathan mulai dekat ke puncaknya, ia pun semakin melesatkan dan memperdalam miliknya hingga tak lama kemudian benih-benih Gathan dan Nanda junior pun menyembur memenuhi rahim hangat milik Nanda seiring lenguhan panjang keduanya.
Kini keduanya telah basah oleh peluh. Nafas keduanya pun tersengal-sengal sebagai bukti pertempuran yang baru saja mereka lalui memang sangat sengit dan menggairahkan.
"Terima kasih, sayang. I love you." lirih Gathan tepat di depan wajah Nanda membuat Nanda tersenyum sambil tersipu.
"Love you, too, mas." balas Nanda lalu keduanya pun saling berpelukan untuk menyampaikan asa yang yang kian membuncah tak peduli tubuh yang lengket karena peluh. Yang penting mereka bahagia.
...***...
Haredang nggak?
Nggak ya?
Othor gk lihai buat yg hot hot pop. 😁
Anak othor emg udah 3 tapi othor masih volos. 🤭
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰 🥰🥰...