Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.60 Pelangi sehabis badai


__ADS_3

Kini Gathan tengah dalam perjalanan menuju ke apartemen miliknya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung hari sudah menjelang malam jadi jalanan tidak padat merayap seperti sore tadi yang memang merupakan jamnya orang-orang pulang baik dari bekerja, kuliah, sekolah, dan lain-lain.


Kali ini Gathan menyetir sendiri, sedangkan Erwin sedang ia tugaskan sesuatu. Sepanjang perjalanan otaknya terus berpikir, mengingat suatu hal yang pernah dibahasnya bersama Nanda saat mereka melakukan pillow talk. Yah, pillow talk antar suami istri memang bagus, bukan hanya untuk mengakrabkan diri, tapi juga untuk lebih saling mengenal satu sama lain dan membuat pasangan lebih harmonis dan bahagia. Saat pillow talk kadang kita bukan hanya berbagi cerita, tapi juga berbagi sesuatu yang disimpan dalam relung hati terdalam.


Seperti malam itu, Gathan tiba-tiba mengingat perihal foto orang tua Nanda, jadi ia mencoba menanyakan perihal orang tuanya itu. Dari cerita itu, ia tau, kalau ibunya telah meninggal saat usianya belum genap 3 tahun mengajak sang adik yang masih ada di dalam kandungannya.


Mengenai sang ayah, Nanda bercerita bahwa sebenarnya ayahnya masih ada, tapi ayahnya membencinya sedari kecil. Dia memiliki nenek dan kakek, lalu seorang paman. Nenek dan kakeknya meninggal sebelum ia pergi dari rumah ayahnya.


Gathan meringis pilu saat mendengar cerita bagaimana ayahnya yang tidak menyukai melihat keberadaannya, karena itu, walaupun ia memiliki seorang paman yang menyayanginya, ia tetap memilih pergi saat berusia 10 tahun.


Saat ia pergi itulah, ia bertemu dengan bunda Rieke yang kasihan melihatnya terduduk sendiri di halte saat hari sedang hujan deras.


Oleh sebab itu, Gathan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya untuk melihat foto ayah Nanda. Ia berharap mengenal sosok yang disebut Nanda sebagai ayah itu. Ia berharap ayahnya masih ada saat ini dan bersedia menolong terlepas ia sangat membenci Nanda.


Gathan sebenarnya penasaran bagaimana jalan hidup Nanda kecil. Apa alasan sang ayah membenci dirinya? Tidak mungkin ada asap kalau tak ada api, bukan? Pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi kebencian sang ayah itu pada Nanda. Tapi biarlah itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang, dia harus mencari tau keberadaan ayah Nanda. Hanya foto itu yang bisa ia jadikan petunjuk saat ini.


Setibanya di basemen apartemen, Gathan langsung keluar dan berlari menuju mini lobi kemudian masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya menuju lantai dimana unitnya berada.


Gathan membuka pintu apartemen dengan kasar, tak peduli belum tertutup sempurna sebab tujuannya saat ini adalah mencari foto ayah Nanda. Gathan memeriksa satu persatu barang Nanda untuk menemukan fotonya. Namun ia tak menemukannya di manapun. Gathan juga memeriksa di bawah bantal, kalau-kalau saja Nanda menyimpannya di sana setelah melepas rindu, tapi tak ada juga. Di lemari pakaian, di laci nakas, semua tak ada.


Gathan menjambak rambutnya frustasi mencoba berpikir dimana lagi sekiranya Nanda menyimpan foto yang pastinya sangat berharga bagi istrinya itu.


Seketika Gathan teringat, ada satu benda yang belum ia periksa.


"Tas ... ya, tas Nanda. Semoga saja foto ayah Nanda ada di dalam tas itu." gumamnya.


Gathan yang masih mengenakan kemeja lengkap dengan dasi, walaupun tanpa jas yang membalut, segera merenggangkan dasinya untuk melegakan nafasnya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan menghubungi bagian keamanan apartemen Bintang.


"Iya, ada yang bisa saya bantu pak?" sahut bagian keamanan saat tau panggilan itu berasal dari salah satu penghuni apartemen tempatnya berjaga.

__ADS_1


"Apa tas istri saya masih berada di sana?" tanya Gathan to the point.


"Oh, ini pak Gathan. Ada pak. Ada di sini." tukasnya menyahut.


"Aku akan turun kesana mengambilnya." tukas Gathan kemudian menutup panggilan itu tanpa basa-basi.


Setibanya di lobi apartemen, Gathan langsung menuju ruang keamanan. Lalu ia segera memeriksa isi tas Nanda, berharap foto orang tuanya ada di dalam sana. Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya Gathan menemukan foto itu di dalam dompetnya.


Gathan mengambil foto itu dan memperhatikan secara seksama orang yang ada di dalam foto itu. Foto itu terlihat sangat lusuh, belum lagi bekas sobekan yang disambung dengan selotip membuat Gathan susah mengenalnya. Pria di dalam foto itu terlihat masih sangat muda, tentu ia akan makin kesulitan mengenalinya. Tapi ... wajah itu sedikit familiar di mata Gathan. Dan memang mirip dengan Nanda, seperti Nanda versi pria.


Kemudian Gathan membalik foto itu dan menemukan sesuatu di belakangnya.


...Doni Kusuma...


"Apa mungkin?" gumam Gathan bertanya-tanya dalam benaknya.


Hingga suara dering telepon menginterupsi lamunannya. Gathan pun segera mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Dahinya seketika berkerut dengan alis bertaut.


"Halo pak Gathan, assalamu'alaikum." sapa Doni saat panggilannya diangkat oleh Gathan.


"Iya pak, wa'alaikum salam." sahut Gathan dengan ekspresi yang entahlah.


"Pak Gathan, maaf saya baru membaca pesan Anda. Saya to the point saja, golongan darah saya kebetulan AB- karena itu saya menghubungi Anda untuk menawarkan diri menjadi pendonor bagi istri Anda. Apa bapak masih membutuhkannya?" tanya Doni tanpa ragu.


Kerutan di dahinya makin terlihat jelas saat mendengar penuturan Doni. Lalu Gathan membalik lagi foto itu dan memperhatikannya dengan lamat-lamat. Jantungnya seketika berdegup dengan kencang saat mendapati fakta tak terduga ini.


"Pak Doni ayahnya Nanda?" lirihnya dalam hati.


Tidak mendapatkan sahutan dari Gathan membuat dahi Doni berkerut dalam. Ia melihat layar ponselnya, ternyata masih terhubung. Ia pikir panggilannya sudah tidak terputus.

__ADS_1


"Halo pak Gathan! Apakah Anda masih di sana?" panggil Doni membuyarkan lamunan Gathan.


"Oh iya pak Doni, maaf saya masih kalut. Kalau boleh, saya mohon bantuan Anda pak. Istri saya sedang kritis sekarang dan kami belum menemukan pendonor yang sesuai." ujar Gathan penuh harapan.


"Baiklah, katakan lokasi rumah sakitnya. Saya akan segera meluncur ke sana." pungkasnya pasti. Gathan pun mengiyakan dan segera menyebutkan nama rumah sakit dan letak kamarnya.


Gathan pun bergegas kembali ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Gathan tak henti berpikir. Ia berharap Nanda dapat ia selamatkan. Ia juga berharap, dapat mempertemukan Nanda dengan ayahnya. Bagaimana pun Gathan tau, Nanda begitu merindukan ayahnya terlepas ayahnya pernah tidak menginginkan kehadirannya. Begitu juga Doni, ia yakin Doni sangat merindukan Nanda. Apalagi saat ia teringat percakapan terakhirnya saat ia sedang meninjau proyek bersama Doni.


Wah, Anda memang suami idaman! Seandainya putri saya masih ada, mungkin sudah saya jodohkan lebih dahulu dengan Anda." tukas Doni seraya terkekeh.


"Masih ada? Maksud Anda ia telah tiada?"


"Oh, bukan. Bukan seperti itu. Tapi dia pergi. Pergi meninggalkan papa breng-seknya ini. Saya bukanlah orang tua yang bertanggung jawab jadi anak saya meninggalkan saya padahal saat itu usianya masih sangat kecil." desah Doni penuh penyesalan.


"Apakah Anda tidak mencoba mencarinya?" tanya Gathan penasaran.


"Sudah, tapi kami tidak menemukan jejaknya. Saya sungguh menyesal karena tidak pernah bersikap sebagaimana seorang ayah semestinya. Justru saya selalu menyakitinya. Saya hanya bisa berdoa, semoga kehidupannya baik dan semoga ia dikelilingi orang-orang baik yang tulus menyayanginya."


"Aamiin."


Setibanya di rumah sakit, di saat bersamaan pula Doni tiba sehingga mereka pun berjalan berbarengan menuju ruang dokter untuk menjalani pemeriksaan terlebih dahulu sebelum dilakukannya proses pengambilan darah.


Lavina dan Ganindra senang akhirnya Gathan mendapatkan pendonor darah sehingga operasi Nanda dapat segera dipersiapkan.


Operasi kali ini dipimpin dokter obgyn senior yang ternyata adik dari Doni sendiri, yaitu dokter Radika. Gathan sangat-sangat terkejut. Sepertinya ada pelangi sehabis badai. Sepertinya peristiwa kecelakaan ini memberikan hikmah tersendiri, yaitu dipertemukannya Nanda dan kedua orang yang berarti dalam hidupnya. Tapi Gathan belum mengungkapkan ini semua. Ia ingin fokus dulu pada proses pengobatan Nanda. Ia ingin kabar bahagia ini menjadi penutup luka Nanda yang pasti akan sangat sedih karena kehilangan calon buah hati mereka. Pun dengan orang tuanya, Gathan belum mengungkapkannya.


Gathan hanya meminta sang ayah segera melaporkan Reza dan Freya ke pihak kepolisian, bukan hanya karena kasus penipuan, tapi juga kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan Freya pada Nanda yang mengakibatkan calon buah hatinya tidak dapat diselamatkan dan membuat istrinya tercinta dalam keadaan kritis. Gathan sudah menyerahkan barang bukti, termasuk rekaman CCTV di sekitar apartemen yang pastinya akan membuat Freya takkan bisa berkutik.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2