Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.66 Bangunlah sayang!


__ADS_3

Di sebuah hamparan padang ilalang yang begitu luas, terlihat seorang wanita cantik yang berjalan sendirian di tengah-tengahnya. Ia berjalan membelah hamparan yang tingginya sebatas dada itu dengan pandangan ke sana ke mari. Entah apa yang dicarinya, ia hanya berjalan terus dengan tatapan kosong.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba angin sepoi menerpa wajahnya hingga menerbangkan helaian rambutnya. Seiring sapuan angin itu, terdengar sebuah seruan merdu menyapa indra pendengarannya. Gadis ah lebih tepatnya wanita muda nan cantik itu pun mengedarkan pandangannya mengitari ke sekeliling. Ia mencari-cari dari mana sumber suara itu terdengar hingga ia melihat sosok cantik yang tampak begitu familiar di matanya. Sosok cantik itu mengenakan pakaian serba putih yang panjang hingga sebatas mata kaki. Rambutnya tergerai panjang, hitam, dan terlihat lembut saat tersapu angin.


Wanita muda itu mematung di tempat saat sosok cantik itu tampak mendekat ke arahnya. Matanya membelalak sempurna saat sosok itu telah berdiri di depannya dengan tersenyum lebar.


"Hai, Nanda sayang! Mama senang akhirnya bisa kembali berjumpa denganmu. Mama sangat merindukanmu, sayang." seru perempuan itu dengan mata berbinar.


Nanda mematung di tempatnya dengan mata membelalak. Lalu matanya mengedar ke sekeliling, tempat itu ... terasa asing baginya. Tapi sosok di depannya itu tidaklah asing. Walaupun ia ditinggalkan sejak kecil, tapi ingatan tentang wajah itu tak pernah hilang dari memorinya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari, sebelum ia memejamkan matanya, ia selalu memandangi foto itu. Ibarat lagu Nina Bobo, ia selalu menggunakan foto kedua orang tuanya itu sebagai penghantar tidurnya.


Wajah itu masih tampak muda. Tidak ada gurat yang menunjukkan penuaan di setiap sisinya. Lebih tepatnya tidak ada perubahan. Masih sama persis. Hal itulah yang membuat Nanda langsung bisa mengenalinya.


Ya, wanita muda itu adalah Nanda. Ia pun bingung mengapa tiba-tiba berada di tempat yang begitu asing itu. Walaupun tempat itu terlihat indah, namun nuansa asing begitu mengusik benaknya. Nanda mencoba mencerna sebenarnya apa yang telah terjadi. Lalu ia mencoba mengurai satu persatu ingatannya hingga sampailah ia di ingatan detik-detik ia di dorong seseorang karena berusaha menyelamatkannya dari sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya.


Nanda ingat, saat itu ia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Tubuhnya bersimbah darah dan yang lebih parahnya ... Nanda lantas memegang perutnya yang datar. Tidak ada tonjolan di sana. Walaupun belum membuncit, tapi perutnya sudah ada tonjolan padat yang menandakan ada kehidupan baru di rahimnya.


Air matanya jatuh tak tertahan saat mengingat detik-detik itu. Anaknya telah tiada. Apakah ini surga, pikir Nanda. Apakah ia telah tiada karena itu ia bisa berjumpa dengan sang mama yang masih tampak mengembangkan senyum memandang wajahnya. Lalu Nanda membalas tatapan itu. Kemudian dengan sejuta kerinduan, Nanda menghambur ke dalam pelukan sang mama yang telah merentangkan tangannya, seakan telah bersiap menyambutnya ke dalam pelukan hangatnya.


"Mama ... " lirih Nanda sambil terisak.

__ADS_1


"Iya, sayang. Ini mama. Mama kamu." sahut wanita yang merupakan ibu Nanda itu. Delima. Ia adalah Delima. Tak lama kemudian, datang seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua mendekati mereka.


"Mama ... " panggilnya membuat Delima dan Nanda saling menguraikan pelukannya.


Lalu Nanda mengalihkan pandangannya kepada gadis kecil yang memanggil ibunya dengan panggilan mama itu. Nanda mengalihkan pandangannya ke arah Delima. Seakan tau apa yang ingin Nanda tanyakan, Delima pun segera memberikan jawaban.


"Ini adikmu, sayang. Dia adikmu." ujar Delima memberitahu. "Sayang, ini kak Nanda. Katanya kamu pingin ketemu sama kakak. Nih, kakak udah datang." ujar Delima pada gadis kecil itu.


Gadis kecil yang mengenakan gaun putih selutut itu pun mendongakkan kepalanya menatap Nanda dengan mata berbinar cerah. Lalu ia menyunggingkan senyum secerah mentari pagi membuat Nanda ikut mengembangkan senyum.


"Kakak ... " panggilnya membuat Nanda mengulurkan tangannya untuk menangkup kedua belah pipi gadis kecil itu.


"Kakak, temenin adek main ya! Kakak ikut adek sama mama aja. Adek nggak ada temen main, kak. Adek mau main sama kak Nanda. Kak Nanda mau kan ikut adek dan mama?" tanya gadis kecil itu polos membuat Nanda sedikit linglung. Ia pikir, bila adik dan ibunya yang telah tiada saja ada di sini, mungkin anaknya pun ada di sini jadi apa salahnya tinggal di sini. Mungkin ia juga bisa bertemu buah hatinya di sini.


"Ayo, sayang!" sahut Nanda sambil menggandeng tangan gadis kecil itu.


Sementara itu, di sebuah ruangan serba putih, tampak beberapa dokter dan para perawat sedang berjuang mengembalikan kestabilan kondisi organ vital Nanda yang melemah. Terutama kondisi jantung dan tekanan darahnya, yang menurun drastis. Peluh tampak membanjiri dahi dokter yang berjuang memompa jantung Nanda dengan alat pacu jantung atau defribrillator. Alat itu digunakan untuk mengirimkan kejutan berupa listrik ke jantung untuk membantu merangsang agar detak jantung dan otot jantung kembali berfungsi dengan normal.


Setelah sekian menit berlalu berjuang, nampaknya kondisi Nanda tak kunjung stabil. Lalu dokter itu mengambil tindakan dengan memanggil keluarga terdekat untuk masuk ke dalam dan mengajak Nanda bicara siapa tau dengan mengajak Nanda bicara bisa membangunkannya dari alam bawah sadarnya.

__ADS_1


"Bagaimana dokter keadaan istri saya?" tanya Gathan panik saat melihat seorang dokter membuka pintu ruang UGD. Saat ini Radika tidak ikut menangani kondisi Nanda, sebab ia pun memiliki jadwal operasi.


"Kondisinya tidak baik. Anda bisa masuk bersama orang terdekatnya untuk mengajaknya bicara. Semoga saja ia bisa bangun dari alam bawah sadarnya." tukas dokter itu sambil menyeka peluhnya menggunakan tisu dan membuangnya di tempat sampah.


Tanpa pikir panjang, Gathan segera menarik tangan Doni dan mengajaknya masuk ke dalam. Mata Gathan berkaca-kaca saat melihat tubuh ringkih istrinya dipasangi banyak selang dan alat medis lainnya.


Gathan pun segera menghambur ke sisi kanan Nanda dengan Doni yang berdiri di sampingnya. Sama seperti Gathan, Doni pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat melihat kondisi Nanda yang melemah.


"Sayang, ini mas Gathan sayang! Bangunlah, sayang. Jangan begini! Jangan buat mas panik begini, sayang! Mas nggak sanggup bila harus kehilangan kamu. Sayang, bangun sayang. Mas merindukanmu. Bangunlah sayang! Please, jangan begini! Jangan tinggalkan mas sendiri! Tolonglah!" lirih Gathan dengan menangis tersedu-sedu sambil menggenggam jemari Nanda. Ia melabuhkan kecupan demi kecupan-kecupan ke punggung tangan itu, berharap Nanda merasakannya dan bangun dari tidur lelapnya.


"Sayang, bangunlah! Kamu tau nggak, mas ada kejutan untuk kamu. Kamu pasti akan suka kejutan ini. Mas mengajak seseorang yang sekian lama kamu rindukan, sayang. Kamu tau nggak, bukan kamu sendiri yang merindukannya, tapi dia juga. Kamu bisa nebak nggak, siapa orang itu? Mas kasih clue ya! Dia laki-laki yang paling kamu rindukan. Dia ... laki-laki yang fotonya selalu kamu pandangi sebelum tidur. Ya, benar sayang, tebakan kamu benar! Dia papa kamu, sayang. Makanya kamu bangun, sayang. Kamu pingin ketemu papa, kan! Papa kamu ada di sini sekarang. Dia juga ikut jagain kamu, sayang. Bangunlah, sayang! Oh, kamu pingin ngomong sama papa ya? Baiklah, mas panggilin papa, ya!" ujarnya sambil menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Masa bodoh lelaki dingin seperti dirinya terlihat cengeng kali ini. Ini bukan hanya masalah hidup dan mati istrinya, tapi juga dirinya. Ia akan ikut mati bila istrinya mati. Walaupun bukan mati secara sebenarnya, tapi ia yakin, hatinya akan benar-benar mati bila wanita yang dicintainya itu sampai pergi meninggalkannya.


"Pa, sini, pa! Tolong panggil Nanda, pa! Ajak Nanda pulang, pa! Bilang ke dia, jangan tinggalin aku, pa! Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan dia. Dia hidup aku, pa! Dia cintaku. Dia hartaku yang paling berharga. Aku sangat mencintainya, pa. Sangat. Bilang ke dia, papa pun mencintainya. Bukankah dia belum pernah merasakan kasih sayang, papa. Bilang pa, papa pun mencintai dan menyayanginya. Katakan sejujurnya, pa. Ajak Nanda kembali, pa! Gathan mohon! Ajak Nanda kembali." Lirih Gathan yang kini sudah ambruk ke lantai sambil bersimpuh di bawah kaki Doni yang ikut menangis pilu melihat kondisi anak dan menantunya.


...****...


Ampun dah, othor yang ngetik kok othor yg mewek nih! Kira-kira ada yg samaan nggak ya! 😭😭😭


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2