
Sesaat sebelumnya,
Melihat sebuah mobil hitam tiba masuk ke pekarangan rumah, segera saja Nanda masuk ke dalam mobil tanpa melihat sang sopir lagi. Namun, baru beberapa meter mobil berjalan, Nanda tersentak saat melihat dari kaca spion ternyata bukan pak Tarno yang menyetir. Nanda pikir itu pak Tarno sebab sudah hampir satu jam yang lalu Gathan mengatakan Pak Tarno akan segera menjemputnya untuk mengantarkannya ke kantor. Tapi mengapa yang datang justru ... Tio.
"Pak Tio?" panggil Nanda akhirnya saat melihat Tio lah yang menyetir mobil itu.
Tio lantas tersenyum canggung sambil menelan ludahnya.
"Emmm ... nona Nanda." peluh mulai mengalir di pelipisnya. Tangan Tio pun dingin.
"Kok pak Tio yang jemput, bukannya Pak Tarno?" tanya Nanda heran. Ia tak ada pikiran buruk, hanya merasa aneh.
Tio menarik nafas dalam-dalam, lalu ia pun mulai menjelaskan.
"Mohon maaf sebelumnya nona Nanda karena saya terpaksa membawa Anda tanpa izin baik dengan tuan Gathan maupun dengan non Nanda sendiri." ucapnya masih belum bisa dimengerti Nanda.
"Memang Anda ingin membawa saya kemana? Mengapa Anda membawa saya diam-diam? Pak Tio tidak bermaksud menculik saya kan?" tanya Nanda dengan tangan meremas ujung dress yang dipakainya.
"Eh, itu, tentu tidak, non. Tenang saja, saya tidak ada niat jahat kok. Beneran, sumpah. Saya ... saya hanya ingin memenuhi keinginan adik saya, Freya." ucap Tio sendu.
"Mbak Freya?" tanya Nanda bingung campur ragu. Apalagi saat ingat peristiwa terakhir yang mengakibatkan dirinya kehilangan calon buah hati mereka dan juga dirinya yang sempat mengalami koma.
__ADS_1
"Iya non. Tenang saja, ini tidak seperti yang sebelumnya. Freya ... dia sangat menyesali perbuatannya jadi dia ingin sekali meminta maaf pada non Nanda. Dia sudah beberapa kali memohon agar saya mempertemukan dia dengan non Nanda, tapi saya tidak tahu bagaimana caranya apalagi setahu saya tuan Gathan sudah sangat marah dengan dirinya. Saya rasa non Nanda pun begitu. Karena itu saat saya mendengar tuan Gathan meminta sopirnya menjemput non Nanda, saya terpaksa memberikan sopir itu minuman yang telah diberi obat tidur supaya saya bisa menjemput nona dan mempertemukannya dengan Freya. Mohon maafkan saya atas kelancangan saya. Saya mohon, agar non Nanda mau menemui adik saya. Hanya dia keluarga saya satu-satunya non, saya mohon kabulkan permintaan saya satu ini. Mungkin ini untuk pertama dan terakhir kalinya saya memohon. Saya mohon, nona mau membantu saya dan menemui Freya di penjara." ucap Tio penuh penyesalan dan permohonan.
Nanda cukup terkejut mendengar penuturan Tio itu. Ia memang marah dan kecewa, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja permintaan itu. Akhirnya Nanda pun mengangguk hingga ia lupa mengabari Gathan terlebih dahulu. Apalagi saat berada di kantor polisi, mereka tidak diperkenankan membawa hp ke dalam lapas jadi ia tidak tau kalau Gathan telah menelponnya berulang kali.
"Nanda ... " cicit Freya berkaca-kaca saat melihat Nanda telah duduk menunggu dirinya.
Tanpa rasa malu, Freya lantas segera memeluk kaki Nanda seraya menggumamkan permohonan maaf.
"Nanda, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Aku tau, salahku sudah terlalu banyak padamu, maafkan aku karena telah berusaha mencelakakan dirimu hingga kamu harus kehilangan calon bayi kalian. Aku mohon maafkan aku." ucap Freya dengan bercucuran air mata.
Nanda yang merasa tak enak melihat Freya memeluk kakinya pun lantas memintanya berdiri dan duduk di kursi.
Patuh, Freya pun bangkit dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Nanda. Hanya ada sebuah meja yang jadi pembatas. Tio masih berada di ruangan yang sama tapi ia berdiri di sudut ruangan sekedar untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
"Nanda, mbak tau kamu pasti sangat membenci mbak kan karena sudah membuat kalian kehilangan calon buah hati kalian. Maaf, maafkan mbak, maafkan segala kesalahan mbak selama ini. Mbak tau, mbak nggak pantas mendapatkan pengampunan itu, tapi tetap mbak harus mengungkapkan permintaan maaf juga penyesalan mbak. Mbak sadar, mbak memang wanita yang jahat. Mbak egois dan mbak terlalu terobsesi pada mas Gathan yang memiliki sifat nyaris sempurna juga kaya raya terlepas dari sifat acuh dan dinginnya. Karena itu, mbak marah dan cemburu saat tau ternyata kalian masih bersama. Mbak marah dan cemburu saat tau ternyata kalian saling mencintai. Mbak juga marah dan cemburu saat tau kamu telah disentuh mas Gathan. Karena itulah, mbak sampai hilang akal dan melakukan kebodohan yang akhirnya jadi penyesalan terbesar mbak Mbak emang bodoh dan terlampau egois, maafkan mbak, Nanda. Mbak tidak berharap kamu mau memaafkan mbak apalagi mengurangi masa tahanan mbak, nggak sama sekali. Mbak hanya ingin minta maaf. Terima kasih ya, Nanda karena telah bersedia menemui mbak. Terima kasih banyak." ucapnya sendu dan bersungguh-sungguh dengan wajah tertunduk dalam.
Nanda terdiam lama lantas mengulurkan tangannya menggenggam tangan Freya yang berada di atas meja. Freya mendongak. Wajah Freya kini benar-benar terlihat berbeda. Ia memang masih cantik tapi sekarang wajahnya jauh lebih tirus, kusam, kurus, tak terurus. Batin Nanda mencelos melihatnya. Dari sorot matanya, dapat Nanda lihat kalau Freya benar-benar menyesali perbuatannya.
"Nanda ... Nanda bingung harus mengatakan apa. Nanda memang sangat marah dan kecewa atas apa yang mbak lakukan itu. Karena perbuatan mbak, nyawa bayi yang tak berdosa harus pergi sebelum sempat melihat dunia. Tapi ... Nanda tidak bisa tidak memaafkan mbak. Apalagi Nanda juga salah di sini. Andai Nanda bisa menasihati mas Gathan agar berlaku adil, mbak pasti takkan sampai berbuat nekad seperti ini. Atau bahkan sebenarnya kehadiran Nanda lah yang membuat hubungan kalian kacau. Nanda juga minta maaf ya mbak. Nanda harap, sekeluarnya mbak dari sini, mbak bisa mendapatkan seseorang yang dapat mencintai dan menyayangi serta menerima mbak Freya apa adanya. Maaf, karena Nanda sudah hadir diantara kalian dan jadi yang kedua." ucap Nanda sungguh-sungguh dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu nggak salah, Nda. Mungkin memang takdirnya begini. Kamulah jodoh mas Gathan yang sebenarnya."
__ADS_1
"Mbak, boleh Nanda tanya satu hal?" tanya Nanda hati-hati.
"Apa? Kalau mbak bisa jawabnya, pasti mbak akan jawab."
"Mbak, apa mbak Freya mencintai mas Gathan?"
Freya tersenyum tipis lalu menggeleng, "Nggak, Nanda. Mbak nggak pernah mencintai mas Gathan. Sepertinya mbak hanya terobsesi. Obsesi yang salah. Oh ya, untuk doanya tadi, mbak ucapkan terima kasih. Semoga kalian pun selalu bahagia."
"Aamiin ... "
Setelah sedikit berbincang, Nanda pun berpamitan dan berjanji kapan-kapan akan datang kembali.
Baru saja Nanda keluar dari kantor polisi, Nanda terkejut saat melihat seseorang yang sedang bersandar di pintu mobil dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. Seseorang itu menatapnya tajam dengan rahang mengeras. Nanda mengerjapkan matanya sambil menggigit bibir merasa bersalah. Ia pikir, sosok itu akan memarahinya, tapi ternyata sosok itu justru segera menarik tubuhnya dan memeluknya erat. Terdengar hembusan nafas penuh kelegaan dari sosok itu membuat Nanda hanya bisa tersenyum tipis.
"Sepertinya mas harus memutasi Tio pindah ke kantor cabang luar pulau." ucap Gathan membuat Nanda mengerutkan keningnya. Pun Tio, dia sudah panas dingin mendengarnya. Tapi ia tidak bisa menolak bila hal itu sampai terjadi. Itu adalah konsekuensi perbuatannya yang membawa istri bosnya tanpa izin.
Nanda hanya diam, enggan berkomentar. Dia sudah merasa bersalah karena lupa mengabari keberadaan dirinya pada suaminya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1