
Selepas dari pantai, Gathan tidak langsung mengajak Nanda pulang ke hotel. Tetapi ia terlebih dahulu mengajaknya makan malam di sebuah restoran ternama di daerah Ubud. Suasana malam yang cerah karena bintang-bintang yang berkilauan di langit, membuat indah suasana malam itu. Apalagi mereka makan di area roof top restoran membuat Nanda berdecak kagum. Bukan hanya karena restoran yang mewah fan pemandangan yang indah, tapi juga karena ini merupakan pertama kalinya ia merasakan makan malam di luar ditemani seorang lelaki yang juga merupakan suaminya.
Nanda tak berhenti tersenyum lebar sejak dari pantai hingga ke restoran. Memimpikan makan malam di restoran mewah saja tak pernah apalagi ditemani seorang lelaki, ini merupakan malam teristimewa dalam hidupnya. Andai ada penghargaan malam teristimewa dalam hidup, makan malam ini sepertinya pantas mendapatkan award karena sungguh, ini adalah momen paling indah dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, seorang pramusaji wanita datang memberikan daftar menu. Awalnya Gathan menanyakan menu apa yang ingin Nanda pesan, namun saat melihat daftar menu, Nanda justru garuk-garuk kepala sambil menyengir lebar karena ia tidak paham jenis makanan seperti apa yang tertera di dalam menu. Akhirnya, Gathan-lah yang memilihkan menu apa saja yang sekiranya dapat dimakan.
"Bagaimana?" tanya Gathan pada Nanda saat satu suap cream soup masuk ke dalam mulut Nanda.
Mata Nanda berbinar-binar indah, sungguh inilah yang ia suka dari Nanda, selain kepolosannya, ia juga suka ekspresi Nanda yang jujur. Bila suka maka matanya akan berbinar, bila tidak matanya akan terlihat biasa saja. Namun ia tidak akan menunjukkan ketidaksukaannya secara gamblang, lebih ke menghargai.
"Suka, mas. Enak. Makasih ya, mas." ucap Nanda jujur. "Daging ini juga enak." imbuhnya lagi sambil mengunyah blackpepper beef yang barusan dipotongkan Gathan untuknya.
Gathan tersenyum tipis sambil mengunyah blackpepper beef miliknya.
Melihat ada cream soup yang tertinggal di sudut bibir Nanda, reflek tangan Gathan bergerak dan mengusapnya perlahan menggunakan ibu jarinya membuat kinerja jantung Nanda meningkat dua kali lipat.
"Mas ... " panggil Nanda membuat Gathan yang awalnya sedang menyantap saladnya segera mengangkat wajah dan menatap lekat Nanda.
"Makasih banyak ya, mas. Makasih banget. Ini indah. Nanda suka. Suka banget malah." ucapnya dengan mata berbinar cerah.
Gathan hanya mengulas senyum tipis sambil menatap lekat wajah Nanda.
"Kamu ... baru pertama makan malam kayak gini?" tanya Gathan penasaran.
Nanda mengangguk mantap.
"Mas, ini ... namanya kencan ya?" tanya Nanda hati-hati.
"Menurutmu?"
Nanda menggigit bibirnya.
"Iya."
__ADS_1
"Ya sudah kalau sudah tau."
Bola mata Nanda makin berkilat indah. Kencan? Ia seakan sedang bermimpi sedang berkencan dengan seorang pria yang sangat tampan di sini. Di tempat yang mewah ini. Ditemani pendar lampu warna-warni dan kilau bintang di langit.
"Sekali lagi makasih ya, mas. Nanda nggak akan pernah melupakan malam ini. Ini sangat-sangat indah."
...***...
Malam kian larut. Sebelum pulang, Gathan terlebih dahulu mengajak Nanda berkeliling ke beberapa tempat yang biasa dijadikan objek wisata. Setelah melihat jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 10, Gathan pun segera mengajak Nanda pulang. Walaupun rasanya belum puas, tapi Nanda sudah sangat bersyukur bisa menikmati keindahan malam di pulau Dewata. Pulau yang menjadi icon pariwisata nomor satu di Indonesia.
Setibanya di kamar hotel, Nanda segera membersihkan diri, kemudian di susul Gathan.
Tak sampai 15 menit, Gathan pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh bagian bawah terbalut handuk putih. Tampak tetesan air mengalir di dadanya yang bidang dan bisepnya yang kokoh. Nanda yang sedang mengaplikasikan cream malam di wajahnya di depan meja rias sontak berhenti saat matanya menangkap tubuh indah Gathan yang tengah berjalan santai keluar dari kamar mandi.
"Baju mas ada di sini." tunjuk Nanda ke arah ranjang dengan wajah tertunduk menutupi rona merah akibat terpesona pada tubuh atletis Gathan.
Melihat Nanda yang tengah menunduk, entah mengapa langkah kaki Gathan malah berbelok ke arah Nanda sekarang. Ia berdiri sambil berdiam diri di belakang Nanda. Nanda pikir Gathan telah berlalu dari sana jadi ia memberanikan diri mengangkat wajahnya. Tapi saat menatap cermin tiba-tiba matanya malah bersirobok dengan mata Gathan.
"M ...mas kok malah berdiri di situ?" tanya Nanda terbata. Tenggorokannya tiba-tiba kering.
"Mas, pake baju dulu gih!" Nanda membalik berdiri dan mengambilkan pakaian untuk Gathan dan menyodorkannya ke arah Gathan.
Bukannya menerima baju itu, Gathan justru meraih tangan Nanda dan menariknya mendekat hingga dada mereka saling bertabrakan. Lalu sebelah tangan Gathan meraih pinggang Nanda dan menarik pinggangnya hingga tubuh mereka makin merapat. Nanda memberanikan diri mengangkat wajahnya hingga kedua pasang mata itu saling bertatapan. Deru nafas Gathan terdengar jelas di telinga Nanda, bahkan sampai terhirup di rongga hidung Nanda dengan sempurna.
"Nda ... aku menginginkanmu. Boleh?" lirih Gathan tepat di depan wajah Nanda.
Nanda yang sedang terpaku tak mampu mencerna kata-kata Gathan. Tapi ia reflek mengangguk. Membuat Gathan tersenyum puas. Lalu Gathan menarik tengkuk Nanda dan menyatukan bibir mereka.
Gathan pun memagut dan *****@* bibir Nanda dengan mesra. Tangannya yang tadi melingkari pinggang Nanda kini telah bergerak menelusuri kulit tubuh Nanda yang terbuka.
Lum@tan itu makin lama makin terasa menuntut apalagi saat tangan Gathan berhasil masuk ke dalam piyama Nanda. Di dalam sana, tangan Gathan berhasil menemukan surga dunia berupa dua gundukan kenyal yang terasa sangat pas di genggamannya. Direm@snya gundukan kenyal itu dengan pelan sehingga terdengar suara er@ngan dari bibir Nanda membuat tubuh Gathan kian memanas pun Nanda yang kian terbakar hasratnya.
Gathan melepaskan ciumannya dan dengan pelan menggiring Nanda agar berbaring di atas ranjang. Dipandanginya wajah Nanda yang tengah tersengal akibat ulahnya dengan lekat . Diusapnya bibir Nanda yang nampak membengkak dikecupnya sekilas bibir itu lalu beralih ke dahi, kedua mata, hidung, pipi, hingga beralih ke leher. Nanda merasakan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya. Nafasnya kian memburu dengan wajah memerah apalagi saat jemari Gathan dengan perlahan membuka kancing baju Nanda satu persatu membuat Nanda menggigit bibirnya sendiri, merasa malu, sebab untuk pertama kalinya akan ada seorang lelaki yang melihat tubuhnya yang selalu tertutup.
__ADS_1
Gathan menelan ludahnya bulat-bulat saat melihat gundukan kenyal itu terlihat tegak menantang. Indah, itulah satu kata yang dapat mendeskripsikan betapa indahnya aset kembar milik Nanda itu. Nanda tidak pernah menggunakan pakaian ketat apalagi kekurangan bahan jadi keindahan rupa maupun bentuk tubuh Nanda sangat terjaga membuat darah Gathan berdesir hebat. Tanpa ragu, Gathan meraup gundukan kenyal itu ke dalam mulutnya. Disesapnya gundukan itu bagaikan seorang bayi yang tengah kehausan. Tubuh Nanda melenting ke atas saat sensasi aneh menjalari sekujur tubuhnya. Suara des@han dan er@ngan kini memenuhi ruangan mewah itu.
Kedua tangan Nanda mencengkram erat seprai saat salah satu tangan Gathan sibuk merem@s salah satu aset kembarnya. Sedangkan tangan yang lain sibuk memainkan kedelai Nanda yang masih tertutup sempurna oleh celana piyamanya. Nafas Nanda pun Gathan kian memburu seiring semakin memanasnya permainan yang Gathan mainkan. Sungguh, ini pun sensasi pertama yang Gathan rasakan dan ingin lakukan. Ia tak pernah berpikir akan melakukan hal ini dengan seorang gadis.
Kepala Gathan makin turun membuat tubuh Nanda makin bergetar karena hasrat yang kian bergelora. Tak sabar menuju puncak permainan, Gathan menurunkan celana Nanda hingga kini tubuh Nanda polos sempurna. dan menekuk kedua lututnya.
Dadanya kian bergemuruh, matanya pun kian berkabut gair@h. Sebenarnya Gathan ragu ingin membenamkan wajahnya di sana, tapi napsunya sudah kian memburu, ia benar-benar ingin menikmati sensasi pertama mereka dengan sebaik mungkin. Ia menginginkan Nanda seutuhnya. Ia ingin menyentuh setiap inci tubuh gadis itu yang telah menjadi istrinya itu. Ia ingin menikmati miliknya sepuasnya. Ia ingin menikmati Nanda-nya tanpa ada bagian yang tertinggal. Gathan pun segera membenamkan wajahnya di sana, di tempat paling sensitif bagi setiap perempuan tanpa terkecuali.
Nanda ingin mencegah, ia malu, sangat malu, tapi ia tak memiliki daya apalagi tenaga untuk mencegahnya. Ia hanya bisa pasrah menikmati apa saja yang ingin dilakukan suaminya itu. Bukankah ia sudah sah milik suaminya. Jadi suaminya berhak menikmati setiap inci tubuhnya tanpa terkecuali.
Tubuh Nanda tiba-tiba menegang hebat saat ada sensasi hangat yang ingin menerobos keluar dari inti miliknya.
"Ahhh ... Massshhh ... ahhhh ... " racau Nanda saat sensasi itu berhasil meledak dari dalam tubuhnya.
Setelah berhasil membuat gadisnya berhasil mencapai puncak, Gathan pun mulai memposisikan dirinya dengan bertumpu pada kedua lututnya. Tombak saktinya kini sudah bersiap untuk menerobos masuk ke dalam sarang milik Nanda. Dipandanginya wajah cantik Nanda yang memerah lalu didekatkannya wajah itu.
"Maaf kalau aku akan sedikit menyakiti mu. Aku akan melakukannya dengan pelan." bisik Gathan membuat Nanda mengerjap-ngerjapkan matanya. Gathan pun tersenyum manis saat melihat ekspresi Nanda yang menggemaskan menurutnya.
Dalam hitungan ketiga, Gathan mulai memasuki Nanda dengan perlahan. Dinding penghalang yang kokoh, membuat Gathan sedikit kesulitan memasuki Nanda dengan sempurna. Nanda meringis saat tombak pusaka Gathan berusaha menerobos masuk. Gathan pun segera membungkam bibir Nanda untuk mengalihkan rasa sakit yang mungkin akan makin terasa saat dinding itu berhasil dia terobos. Gathan menarik dirinya pelan lalu dengan sekali hentakan ia berhasil menerobos dinding pertahanan Nanda dengan sempurna. Bulir air mata berjatuhan dari sudut mata Nanda saat Gathan berhasil menerobos masuk. Gathan melepaskan ciumannya dan mengecup kedua belah mata Nanda. Ia belum bergerak. Ia masih menyesuaikan diri agar Nanda mulai terbiasa dengan keberadaannya.
"Maaf." lirih Gathan saat melihat Nanda nampak kesakitan.
Nanda menggeleng seraya tersenyum.
"Ini sudah kewajibanku, mas. Nanda milik, mas jadi mas bebas melakukan apa saja pada Nanda termasuk meminta hak mas Gathan atas tubuh ini." balas Nanda membuat Gathan tersenyum manis. Lalu dipeluknya tubuh Nanda dengan erat seraya menggerakkan pinggulnya naik turun secara perlahan namun makin lama makin cepat. Hingga des@han demi des@han lolos dari bibir Nanda. Pun Gathan tak berhenti mendes@hkan nama Nanda saat bagian bawahnya semakin meningkatkan hentakkan.
"Ahhh ... mas ... ahhh ... ahhh ... mas ... Mas Gathan ... "
"Yaaa ... Nanda ... ahhh ... ahhh ... ahhh ... Nanda ... "
Hingga tak lama kemudian, keduanya pun tiba di puncak secara bersamaan membuat nafas mereka tersengal dengan peluh membasahi sekujur tubuh mereka. Dengan dada yang naik turun, Gathan tersenyum manis saat melihat wajah Nanda yang bukan hanya memerah, tapi juga basah karena peluh. Sungguh ia merasa amat sangat senang. Sensasi pertama yang sangat luar biasa. Dalam hati ia berterima kasih pada ibunya sebab telah memilihkan wanita yang luar biasa sebagai istrinya. Walaupun Nanda bukan dari kalangan berada, tapi Nanda sungguh terjaga. Bahkan hampir semua yang pertama bagi Nanda ia yang mendapatkannya, sama seperti dirinya, semua yang pertama baginya, ia lakukan dengan Nanda. Setelah melalui semua ini, Gathan mulai meyakini kalau ia telah jatuh hati pada istri pilihan mamanya ini.
"Terima kasih, sayang and ... I LOVE YOU." bisik Gathan tepat di depan wajah Nanda membuat Nanda mematung seketika.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🙏...