
Setelah melakukan aktivitas panas dan bergelora, kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu pun merebahkan tubuhnya di kasur sambil berpelukan. Nanda menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Gathan sambil menetralkan nafasnya yang masih menderu. Bahkan jantung keduanya pun masih berpacu kencang sebagai efek kegiatan yang baru saja mereka lakukan.
"Mas ... " Panggil Nanda sambil membenarkan posisinya agar terasa lebih nyaman.
"Hmm ... " sahut Gathan dengan gumaman. Jemarinya ada di rambut Nanda. Sibuk membelai, memelintir, dan mengusap sayang.
"Yang tadi, kata mas mau lanjut cerita." tukasnya menagih penjelasan Gathan yang tertunda karena kegiatan membuat cucu untuk kedua orang tuanya. Eh, bukan kegiatan membuat cucu, kan calon cucu Lavina dan Ganindra udah ada di dalam perut Nanda. Tapi Nanda belum memberitahukannya.
"Oh, iya, tapi ... kamu emang nggak mau makan dulu?" tanya Gathan saat ia ingat tadi ia mendengar suara perut yang bernyanyi merdu saat ia tengah asyik-asyiknya menghentak gorong-gorong wanitanya itu.
Wajah Nanda seketika bersemu merah. Malu. Tentu saja ia malu, saat bibirnya sibuk mendes@h, eh perutnya malah meronta. Sentuhan Gathan memang sungguh luar biasa. Perut yang lapar jadi tidak terasa, berganti menjadi haus dahaga ingin bercinta. Tapi perut tak bisa bohong, apalagi di dalam sana sudah ada nyawa baru yang membutuhkan nutrisi, suara perut keroncong jadi pertanda, ia harus makan segera.
Gathan terkekeh melihat ekspresi malu-malu Nanda, lalunia segera mengambil ponselnya dan membuka aplikasi Makan Yuk dan memesan beberapa menu makan malam. Sembari menunggu makan malam mereka tiba, Gathan pun melanjutkan ceritanya yang tertunda.
Flashback on
"Bos, teman saya telepon, katanya nyonya dan Tio kembali melakukan pertemuan." lapor Erwin siang itu saat mereka tengah berada di restoran hotel untuk makan siang.
Gathan yang sedang menunggu pesanannya diantarkan, langsung menegakkan badannya menghadap Erwin.
"Lalu?"
"Sekarang mereka masih di cafe itu. Teman saya juga sudah menempelkan perekam di bawah meja. Teman saya sudah menyelidiki melalui rekaman CCTV sebelum-sebelumnya, setiap melakukan pertemuan, mereka selalu duduk di meja yang sama. Dan ternyata dugaannya benar, kali ini pun mereka kembali bertemu dan duduk di sana." tukas Erwin menjelaskan dengan antusias sambil menunjukkan foto pertemuan kedua orang itu.
Gathan masih bersikap tenang, tapi sorot mata itu tak bisa berbohong. Ada kemarahan yang berkilat di netranya yang hitam sekelam malam. Entah kemarahan jenis apa yang Gathan pendam. Hanya ia yang tau.
Tak lama kemudian, saat Gathan telah kembali ke kamar hotel, ponselnya berdering. Erwin mengabarkan bahwa temannya telah mendapatkan rekaman itu. Ia pun segera mengirimkan rekaman suara dan beberapa foto pada Gathan.
Gathan mengepalkan tangannya saat mendengarkan rekaman itu.
"Kak, letakkan ini di meja kerja Gathan."
"Apa ini?"
"Ini foto-foto yang bisa membuat Gathan menendang jal@ng kecil itu dari kehidupannya."
__ADS_1
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Fre. Kakak tidak ingin kamu kenapa-kenapa."
"Kakak nggak usah banyak ikut campur. Cukup lakukan aja apa yang Freya mau. Kalau memang kakak sayang Freya, maka kakak harus membantu Freya."
"Tapi ini nggak benar, Fre. Lagipula kasihan gadis itu. Dia gadis yang baik. Kamu tau sendiri, dia pun sama seperti kita. Bahkan kau masihjauh lebih beruntung."
"Apa kakak nggak mau bantu Freya lagi?"
"Bukan gitu, Fre ... "
"Kalau begitu, lakukan saja apa yang Freya mau. Udah, Freya mau pulang dulu. Segera letakkan itu sebelum Gathan pulang dan kembali ke kantor."
Malam harinya,
"Than, aku udah dapatkan semua informasi yang kamu mau." tukas seseorang di seberang telepon.
"Bagus. Kau selalu bekerja dengan cepat. Jadi adakah informasi penting tentang dia?"
"Banyak."
"Fine." telepon pun ditutup hingga keesokan harinya mereka pun bertemu di tempat yang telah ditentukan Gathan. Bahkan ia rela pulang lebih awal dari jadwal seharusnya demi segera menyelesaikan masalah ini.
"Jadi apa informasi yang kau dapatkan?" tanya Gathan to the point saat ia telah duduk di kursi berseberangan dengan Reno. (Masih ingat Reno sopir sekaligus body guard bayaran Aglian yang ia tugaskan untuk menjaga Anggi? Inget dong yang kebut-kebutan bareng Erika? hehehe ... )
"Tio tinggal di panti asuhan semenjak kedua orang tuanya meninggal akibat kebakaran besar yang terjadi di pemukiman mereka. Dia memiliki adik perempuan tapi saat berumur 10 tahun adiknya di adopsi oleh keluarga yang cukup kaya. Namanya Freya. Dan saat aku cari tahu ternyata adiknya ini menjadi ... "
"Istri siriku?" potong Gathan seraya mengerutkan keningnya dan Reno pun mengangguk.
"Beberapa tahun lalu, bisnis ayah angkatnya bangkrut. Lebih tepatnya semenjak mendiang istrinya meninggal. Karena desakan ekonomi dan kehidupan hedon ayah dan anak itu, Freya akhirnya diminta menjalin hubungan dengan pria-pria kaya. Dan sepertinya kini kau lah targetnya." ujar Reno menjelaskan membuat Gathan cukup shock mendengarnya.
"By the way, bagaimana bisa kau menikahinya?" tanya Reno penasaran lalu Gathan pun menceritakannya.
"Sepertinya itu semua merupakan jebakan. Tapi pertemuan Tio dan adiknya ini baru setahun belakangan ini. Sepertinya mereka justru bertemu lagi saat kau meminta asistenmu itu mengurus masalah ayahnya yang masuk rumah sakit. Jadi Freya memanfaatkan kakaknya demi kepentingannya sendiri. Karena rasa sayang kakak pada adik, akhirnya si Tio ini terpaksa membantu. Bisa kita dengar bukan bagaimana kakaknya berusaha menasihati adiknya agar tidak melanjutkan rencananya." ujar Reno memberikan pendapat. Gathan pun menyadarinya. Mungkin karena itulah, Tio selalu memandangnya dengan perasaan bersalah. Sebab dari awal ia tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan adiknya itu.
"Kira-kira, apakah kondisi kaki ayahnya memang tidak dapat pulih?"
__ADS_1
"Gue nggak tau. Mending ini loe selidiki ini sendiri. Gue nggak bisa banyak bantu sebab gue masih banyak pekerjaan yang lain. Ini saja sebenarnya waktu libur gue. Tapi gue malah bela-belain bantu loe jadi sekarang giliran loe yang melanjutkan penyelidikan." pungkas Reno sebelum ia berdiri lalu pergi dari hadapan Gathan yang tampak sedang memikirkan rencana selanjutnya.
Flashback off
Gathan baru saja selesai ceritanya bertepatan dengan bunyi bell yang ditekan. Ternyata itu makanan pesanannya telah sampai. Gathan pun segera menghidangkannya dan mengajak Nanda makan. Nanda pun makan dengan sangat lahap membuat Gathan mengerutkan keningnya. Ia heran melihat nafsu makan Nanda yang naik drastis.
"Kamu nggak makan siang tadi?" tanya Gathan akhirnya.
"Makan." sahut Nanda singkat saat ia selesai menenggak air putih miliknya.
Nanda mengangkat wajahnya menatap Gathan yang masih mengerutkan keningnya. Seketika Nanda menyadari, ia telah makan begitu banyak. Ia yang tidak pernah nambah saat makan, kali ini bahkan nambah sampai 3 kali.
Nanda tersenyum canggung diperhatikan seperti itu. Ia memang belum sempat mengatakan perihal kehamilannya.
"Ekhem ... " Nanda merelakskan tenggorokannya terlebih dahulu sebelum menyampaikan kabar bahagia ini. "Mas ... mas jangan liatin gitu dong, Nanda kan malu." cicitnya dengan wajah memerah. "Nanda makan banyak kan wajar, mas." Nanda terdiam sejenak memperhatikan wajah Gathan yang masih tampak penasaran. "Kan ... kan Nanda makannya bukan buat Nanda sendiri."
"Maksudnya?"
Lalu Nanda berdiri dan berjalan ke sisi Gathan. Ia pun menarik tangan Gathan dan meletakkannya di atas perutnya.
"Usaha mas ternyata berhasil." bisik Nanda. Gathan terdiam mencoba mencerna kata-kata Nanda sambil memperhatikan perutnya yang masih datar.
Tak lama kemudian, mata Gathan berbinar cerah.
"Sayang, kamu ... kamu ... "
Nanda mengangguk cepat seraya tersenyum lebar.
"Nanda hamil." ujarnya membuat Gathan sontak berdiri dan memeluk tubuh Nanda dengan erat.
"Masya Allah. Alhamdulillah ya Allah. Selamat ya, sayang dan terima kasih. Mas bahagia sekali." ujarnya sambil mengecupi seluruh bagian wajah Nanda dengan perasaan yang membuncah.
...***...
...Happy reading 🥰🙏💪...
__ADS_1