Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua
Ch.54 Kedatangan Lavina


__ADS_3

Semenjak tau tentang kabar kehamilan Nanda, membuat Gathan menjadi overprotektif istrinya itu. Tapi berita ini masih ia rahasiakan dari keluarganya. Seperti pagi ini ia bangun lebih awal lalu ia segera menghubungi Erwin untuk membelikan mereka sarapan sebab di kulkas tidak tersedia apapun. Sudah lama ia tidak mengunjungi apartemennya itu jadi ia tidak menyimpan stok makanan.


Nanda mengerjapkan matanya saat bias cahaya mentari masuk melalui celah-celah gorden dan jendela kaca apartemen milik Gathan. Seketika ia tersentak saat menyadari kalau hari sudah siang. Di liriknya sisi ranjang tempat Gathan berbaring semalam, ternyata dia sudah tidak ada. Bahkan spreinya terasa dingin, artinya suaminya telah bangun sejak lama. Nanda merasa bersalah karena telah bangun kesiangan dan membuat suaminya bangun lebih dahulu.


Nanda pun bergegas bangun dari tempat tidur dan merapikan rambutnya dengan jemarinya. Lalu ia meraih ikat rambut dan mengikat asal rambutnya. Setelah itu ia pun bergegas menuju keluar kamar untuk mencari Gathan. Ia khawatir suaminya berangkat kerja tanpa sempat sarapan terlebih dahulu.


"Good morning, babe." sapa Gathan saat melihat istrinya itu memasuki area dapur.


Nanda membelalakkan matanya saat melihat Gathan justru sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.


"Mas ... ini ... " serunya tak percaya saat melihat beberapa hidangan telah tersaji rapi di atas meja makan.


Gathan tersenyum canggung saat melihat Nanda yang terkejut dengan aksinya. Yah, wajar saja Nanda terkejut sebab ini untuk pertama kalinya ia menyiapkan sarapan untuk istrinya. Bahkan pertama kali dalam hidupnya. Bila biasanya ia yang dilayani, maka kali ini ia justru jadi orang yang melayani.


Nanda tersenyum geli saat melihat cara penyajian sang suami. Terlihat rapi karena menang Gathan orangnya rapi, teliti, dan begitu hati-hati.


"Jangan bengong mulu! Cuci muka dulu sana terus sarapan. Ingat lho, kamu itu sedang hamil jadi harus banyak makan. Tapi bukan makan asal kenyang aja, tapi harus sehat dan bergizi." tugas Gathan tegas namun sarat akan perhatian.


Nanda pun mengangguk dan segera menuju wastafel untuk mencuci muka. Lalu ia lap wajah basahnya dengan tisu hingga kering dan membuang sampahnya di tempatnya.


Nanda langsung mengambil posisi duduk di sisi kanan Gathan. Lalu ia meraih piring Gathan dan mengisinya dengan nasi dan lauknya yang sepertinya merupakan pelengkap nasi uduk itu.


"Ini mas beli?" tanya Nanda sambil memasukkan irisan timun dan sambal ke dalam piring Gathan yang berisi nasi.


"Hmmm ... " sahut Gathan datar.


"Kapan mas belinya? Kenapa nggak bangunin Nanda aja buat masak?" tanya Nanda seraya meminum air putih yang telah Gathan siapkan sebelumnya.

__ADS_1


"Mas nggak keluar sendiri kok, tapi minta tolong Erwin. Lagipula mas nggak tega liat kamu kayaknya lelap banget. Pasti kamu kecapekan banget ya sayang. Maafin mas ya sayang udah buat kamu terpaksa jalan kaki gitu. Mana lagi hamil. Beruntung kamu nggak papa, gimana kalau terjadi sesuatu, pasti mas bakalan sangat menyesal." tukas Gathan seraya menggenggam erat tangan Nanda dan mengecupnya.


"Iya mas, yang penting kan aku nggak papa. Mas nggak usah khawatir banget kayak gitu. Ayo kita lanjutin makannya lagi. Mas mau ke kantor kan hari ini?"


Gathan mengangguk lalu melanjutkan makannya. Saat makannya hampir selesai, ponsel Gathan berdering hingga beberapa kali membuat Gathan menyegerakan sarapannya laku memeriksa panggilan masuk yang ternyata dari Lavina dan. Freya.


Terdengar deringan ponselnya kembali berbunyi, saat dilihatnya ternyata itu dari Freya. Gathan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu ia tekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo, Fre, ada apa?" tanya Gathan mencoba tuk tetap bersabar dan bersikap biasa saja pada Freya. Ia tak ingin Freya menaruh curiga hingga membuatnya mencurigai dirinya.


"Kamu dimana, mas?" tanya Freya khawatir. Semenjak keluar semalam, Gathan tidak kembali lagi ke kantor membuatnya khawatir


"Aku semalam tidur di kantor, Fre. Ada apa menghubungiku pagi-pagi kayak gini." dusta Gathan.


"Kan aku cuma mencemaskan kamu, mas. Lagian ini ada mama di rumah. Mama nanyain kamu, aku bingung harus jawab apa." tukas Freya membuat Gathan mengusap di rambutnya frustasi.


"Kamu tahan aja mama di rumah, sebentar lagi aku pulang. Kamu jangan bilang apa-apa. Biar aku aja yang jelasin semuanya." titah Gathan sebelum menutup panggilannya.


Di kediaman Gathan,


Tampak Lavina duduk sambil berkacak pinggang saat melihat kedatangan Gathan. Kamu Gathan segera menghampiri ibunya dan mencium punggung tangannya tapi Lavina justru menepisnya.


"Kemana Nanda , Gathan? Kau kemanakan dia?" desis Lavina marah saat mengetahui kalau menantu kesayangannya itu tidak tinggal di rumah ini lagi.


"Dia ... dia ... "


"Dia kemana? Cepat jawab!" bentak Lavina dengan mata berkilat emosi.

__ADS_1


Gathan menghela nafas berat lalu ia berlalu menuju kamarnya dan kembali lagi seraya membawa beberapa lembar foto lalu menyerahkannya pada Lavina. Lavina menerima foto itu dengan kasar dan memperhatikannya satu persatu. Lavina tersenyum sinis lalu merobeknya dan menghamburkannya ke udara hingga berceceran di lantai.


"Apa maksudmu memberikan foto-foto itu? Apakah kau menuduhnya berselingkuh? Semudah itu kau percaya?" bentak Lavina murka. "Lalu dimana menantuku sekarang?" ulang Lavina lagi.


"Maaf ma, Gathan telah mengusirnya."


plakkk ...


Freya terbelalak saat melihat Lavina mendaratkan telapak tangannya di atas pipi Gathan.


"Dasar bodoh! Mengapa kau begitu bodoh, hah? Tak taukah kau kalau foto itu sengaja diambil untuk membuat kesalahan pahaman diantara kalian. Ada orang yang hendak menghancurkan rumah tangga kalian. Lalu kau dengan entengnya mengusir Nanda. Tidakkah memikirkan bagaimana nasibnya di luar sana? Bagaimana bila terjadi sesuatu pada dia?" pekik Lavina menumpahkan segala kekesalannya dengan mata berapi-api.


Gathan pun mencoba meminta maaf tapi tak dihiraukan Lavina. Lavina justru mengancam tidak akan mengakui Gathan sebagai putranya lagi bila Nanda tidak segera ditemukan.


Dalam diam, Freya tersenyum penuh kemenangan dalam hati karena berhasil membuat Nanda terusir dari rumah itu .


...***...


Setelah kepergian Lavina, Gathan segera bersiap menuju ke kantornya. Freya pun berusaha mengambil hati Gathan dengan melayaninya tapi Gathan justru mengabaikannya.


'Sebenarnya apa kelebihan gadis itu dibanding diriku hingga kau bisa menerima dirinya, tapi tidak dengan aku mas?' gumam Freya penuh kebingungan.


Sedangkan di kantor, Gathan makin bersikap dingin dengan Tio. Tio tentu dapat merasakan perbedaan aura Gathan yang bahkan sampai membuat buku kuduknya berdiri. Tatapan Gathan juga kian tajam seperti menyiratkan amarah yang terpendam padanya.


'Apakah tuan Gathan sudah menyadari perbuatanku selama ini? Bagaimana bila benar dan ia memecatku dari sini? Apakah aku harus diam saja atau segera mengatakan yang sejujurnya?' gumam Tio dengan tatapan kosong menghadap layar komputer. Ia benar,-benar bingung saat ini. Di satu sisi ia ingin adiknya bahagia, tapi di sisi lain ia tidak membenarkan apa yang telah dilakukan adik dan ayah angkat adiknya tersebut.


'Aku harus apa ya Tuhan?' gumam Tio frustasi.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2