
Sudah lebih dari seminggu ini Freya benar-benar bersikap baik baik di hadapan Gathan maupun Nanda. Gathan dan Nanda pikir, Freya memang sudah menyesali perbuatannya dan mencoba untuk berubah menjadi lebih baik.
"Selamat malam, mas, Nanda." ucap Freya seraya tersenyum manis. Kini ia sedang membantu Surti menghidangkan makan malam untuk mereka.
Gathan hanya mengangguk tanpa berkata sepatah katapun.
"Selamat malam juga mbak." sahut Nanda ramah.
"Mas, sini, Freya aja yang ambilin nasinya." ujar Freya seraya mengangkat piring Gathan dan mengisinya dengan nasi. Gathan melirik Nanda yang tersenyum tipis ke arahnya. "Segini udah cukup, mas?" tanya Freya.
Gathan lagi-lagi hanya mengangguk. Lalu Nanda membantu meletakkan lauk pauk di atas nasi Gathan juga menyodorkan semangkuk soto. Gathan tersenyum menyambut itu. Freya melirik senyum Gathan yang baru kali ini dilihatnya. Di bawah meja, tangan Freya mengepal hingga buku-bukunya memutih saat menyaksikan romantisme antara dua insan itu.
Kemudian mereka pun mulai makan dalam keheningan. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring sebagai irama pemecah keheningan itu. Selesai makan, Freya dibantu Nanda dan Surti pun membereskan piring-piring kotor.
"Biar aku aja, Ndan. Kamu pasti capek urusin cafe Starla seharian. Serahin aja tugas ini sama mbak." ujar Freya seraya tersenyum lebar.
"Nggak papa kok, mbak. Biar cepat selesai. Mbak juga pasti capek urusin rumah seharian ini."
"Nggak kok, Nda. Beneran deh! Mending kamu buatin teh mas Gathan kayak biasa. Urusan di sini, serahin aja sama mbak dan Surti, iya kan Sur!" ujar Freya meminta dukungan Surti.
"Eh, iya, oh iya non, bener kata nyonya Freya, biar urusan di sini serahin aja sama mbak. Non Nanda silahkan istirahat aja atau buatin tuan Gathan minum kayak biasa." ujar Surti yang juga membenarkan ucapan Freya.
"Beneran nggak papa, nih mbak?" tanya Nanda lagi untuk meyakinkan.
Freya terkekeh, "Ck ... kamu ini, kayak sama siapa aja. Mulai sekarang, anggap mbak ini mbak kamu sendiri jadi jangan sungkan. Kalau kamu ada apa-apa atau butuh sesuatu, kamu juga bisa bilang sama mbak. Mbak akan membantumu dengan senang hati." tukas Freya membuat Nanda yakin kalau kakak madunya itu dapat dipercaya hingga tidak ia sadari kalau musuh terberat itu justru yang ada di sekitar kita. Terkadang, orang terdekat dan terpercaya kitalah yang sanggup menusuk kita hingga berdarah-darah.
Tidak sedikit orang yang dikhianati orang terdekat mereka. Bahkan ada juga yang berstatus sebagai keluarga, kerabat dekat, saudara, sahabat, bahkan kadang pasangan kita sendiri pun mampu mengkhianati diri kita dan menusuk kita dari belakang.
Mereka yang dikhianati atau tertipu bukannya karena bodoh, tapi karena hati mereka terlalu percaya pada orang itu hingga tidak menyadari orang-orang itu merupakan musuh dalam selimut dan serigala berbulu domba.
...***...
Sudah 1 bulan Gathan, Nanda, dan Freya menjalani rumah tangga yang begitu tenang tanpa masalah apalagi pertengkaran. Nanda dan Freya juga kini makin akrab, mereka sudah layaknya kakak adik yang saling menyayangi. Bahkan siang ini kedua orang itu tampak asik jalan-jalan berdua di sebuah mall. Nanda begitu senang sebab ia merasa seperti memiliki saudara perempuan.
__ADS_1
"Wah, Nda, liat baju itu tuh! Kamu pasti cantik banget kalau pakai baju itu." ujar Freya seraya menggeret tangan Nanda masuk ke dalam sebuah toko pakaian. "Tuh kan, bagus banget! Kamu jadi cantik banget pakai baju ini." seru Freya riang. Nada berputar-putar seraya menempelkan baju itu di tubuhnya.
"Beneran mbak?" tanya Nanda meyakinkan.
"Iya, Nda. Mbak serius. Kamu cantik banget pake baju itu "
"Tapi ... " Nanda ragu saat melihat harga yang tertera di balik pakaian itu.
"Udah, kamu nggak usah khawatir. Harga segini masih wajar kok. Mas Gathan nggak akan marah. Kalau kamu takut pakai uang kamu, biar mbak aja yang beliin. Anggap saja sebagai hadiah dari mbak untuk adiknya."
"Beneran, mbak? Ah, tapi nggak usah aja deh mbak!" Nanda tidak enak hati kalau Freya harus mengeluarkan uang sebanyak itu untuk satu pakaian saja untuknya.
"Nggak apa-apa, Nda. Mbak seneng kok beliin buat kamu. Kamu mau kan!" bujuk Freya lagi. Ia seperti seorang kakak yang sangat perhatian dan pengertian di hadapan Nanda.
Nanda mengulum senyum, "Terserah mbak aja deh. Kalau menurut mbak bagus dan cocok sama Nanda, Nanda mau " ujar Nanda malu-malu. Memang dress 6ang ditunjuk Freya tadi sangat bagus. Warnanya pun sangat cantik bila dipasangkan di tubuh Nanda yang berkulit putih. Tetapi harganya itu sangat mahal, satu dress saja harganya hampir satu juta, hal itulah yang membuat Nanda ragu-ragu untuk membelinya.
"Okey. Yuk kita bayar sekarang terus pulang! " tukas Freya semangat. Nanda pun mengangguk tak kalah semangat.
...***...
"Ah, mas, maaf tadi Nanda lupa ngabarin. Kami tadi jalan-jalan sebentar, mas. Mas ... nggak marah kan!" tanya Nanda takut-takut.
"Iya mas, kami cuma pergi sebentar kok. Kami keluar jam 3 tadi, ini aja belum jam 5." bela Freya.
"Hmm ... " Gathan pun berlalu begitu saja dari hadapan Nanda dan Freya. Seperginya Gathan, Nanda dan Freya tertawa bersama melihat tingkah Gathan yang pelit bicara.
"hmm ... apaan itu. Kayak orang sariawan aja." cibir Freya membuat Nanda tertawa.
"Hust, nggak baik bicarain suami di belakangnya. Entar kualat." sergah Nanda seraya terkekeh.
...***...
Pagi itu Nanda merasa tidak enak badan. Kepalanya berdentum pusing dan wajahnya pucat. Bahkan untuk ke kamar mandi saja ia sampai meraba-raba di dinding agar tidak jatuh. Gathan sedang tidak ada di rumah sebab semalam ia pamit pergi ke luar kota diantar Erwin. Ia ada pekerjaan di luar karena itu ia pulang lebih cepat kemarin untuk bersiap-siap. Mereka berangkat melalui perjalanan darat.
__ADS_1
"Nanda, kamu kenapa?" tanya Freya panik.
"Nggak tau mbak, kepala Nanda pusing banget." ujar Nanda seraya memijit pelipisnya.
"Kita ke rumah sakit aja ya!" ajak Freya.
"Nggak usah mbak. Palingan setelah istirahat juga sembuh." tolak Nanda.
"Udah, nggak usah tapi-tapian. Mbak nggak mau kamu sampai sakit. Nanti mas Gathan malah marah sama mbak karena disangkanya mbak nggak perhatiin kamu."
"Ya udah deh! Terserah mbak aja." ujar Nanda .
Nanda dan Freya kini telah siap pergi ke rumah sakit, Freya pun segera memesan taksi online sebab mobilnya sedang bermasalah jadi ia tidak bisa menggunakannya.
Freya meminta Nanda duduk di kursi depan aja agar tidak pusing dan dia duduk di belakang. Tapi baru saja masuk ke dalam mobil, Freya turun lagi dengan alasan ia sakit perut.
"Kamu pergi aja duluan, Nda. Nanti mbak nyusul. Perut mbak sakit banget. Biasanya mbak lama di toiletnya." ujar Freya meminta Nanda berangkat terlebih dahulu.
"Tapi mbak ... "
"Udah , pergi aja duluan. Mas bisa antarkan adik saya ke rumah sakit ya! Nanti saya nyusul dengan taksi yang lain." ujar Freya. Sopir taksi online itu pun mengangguk.
Setelah taksi itu pergi, Freya menyeringai puas. Ia harap rencananya kali ini berhasil membuat Nanda tersingkir selama-lamanya dari kehidupan Gathan.
"Maafkan aku adik madu, aku harus melakukan ini demi kelangsungan hidupku." seringai Freya saat mobil makin menjauh.
...***...
*Mohon maaf ya, kalau Gathan nya cenderung bodoh. Itu sebenarnya bukan bodoh, tapi siapa yang tau kalau orang terdekat kita itu seorang pengkhianat. Udah sadar kan kalau Tio itu kakak Freya? Dimana-mana, asisten pribadi itu kepercayaan lho jadi mana Gathan sadar kalau ia telah ditipu asistennya sendiri. Nggak ada manusia yang sempurna. Biarpun kaya , nggak bisa membuat seseorang itu nggak mudah dikibulin. Banyak kok di dunia ini yang kayak gitu Liat aja kasus terbaru, Irwansyah ditipu adiknya sendiri. Itu adik lho. Bisa berbuat kayak gitu. Sama pasangan aja bisa dikhianati, apalagi orang lain. Sahabat kepercayaan pun bisa nusuk dari belakang. Othor emg nggak ciptakan karakter sempurna di cerita ini, biar nggak terlalu halu. 😁
Makasih buat kakak-kakak yang masih setia stay di cerita ini. Sebentar lagi masuk ******* permasalahan ya*!
...Selamat tahun baru. Selamat mengawali hari baru dengan semangat baru juga....
__ADS_1
...****...
...Happy reading 🥰🥰🙏...