
Yang terjadi sebelumnya,
Malam itu mobil yang dikendarai Erwin tampak membelah jalanan kota menuju kota lain tempat diadakannya pertemuan besar dengan sesama pengusaha dan rekan bisnis TJ Group. Semilir angin tampak memasuki jendela yang diturunkan sedikit kacanya. Tampak Gathan memandang ke luar jalanan sambil bertopang dagu. Pikirannya sedang melayang, memikirkan kejanggalan demi kejanggalan yang memenuhi harinya. Seperti mengumpulkan potongan puzzle, Gathan tampak berpikir lamat-lamat hingga suara Erwin memecahkan lamunannya.
"Bos ... " panggil Erwin memecahkan lamunan Gathan.
"Hmm ... " sahut Gathan dengan gumaman.
"Bos, boleh nanya sesuatu?" tanya Erwin membuat Gathan mengalihkan perhatiannya pada Erwin.
Gathan menaikkan alisnya sebelah, seolah mengatakan apa?.
"Bos, apa nyonya memiliki seorang kakak?" tanya Erwin ragu-ragu membuat Gathan mengerutkan keningnya.
"Setahuku dia anak tunggal. Itu yang pernah ia katakan padaku." tukas Gathan singkat.
"Bos, kamu tau tentang identitas asisten pribadimu, Tio?"
Pertanyaan Erwin sukses membuat Gathan makin bingung
"Kata papa dia anak dari panti asuhan yang karena kecerdasannya bisa mendapatkan beasiswa dari perusahaan untuk melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi. Mengapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Gathan heran.
"Maaf bos, bukan maksudku mencurigai nyonya, tapi saya sudah beberapa kali melihat nyonya dan Tio melakukan pertemuan di cafe yang kebetulan milik teman lamaku." ujar Erwin membuat Gathan sontak menegakkan tubuhnya. "Awalnya saya pikir mereka menjalin hubungan di belakang bos, tapi dari sikap mereka tidak begitu. Mereka lebih condong ke hubungan adik-kakak. Nyonya juga memanggil Tio dengan panggilan kakak. Apakah mungkin mereka sebenarnya adik-kakak?" imbuh Erwin lagi.
Gathan terdiam. Ia berusaha mengumpulkan setiap potongan puzzle yang selama ini tercerai berai dimulai dari awal permasalahan rumit yang menerpanya, yaitu kecelakaan pada malam itu dilanjutkan perjanjian yang diajukan Reza padanya.
__ADS_1
Erwin terdiam sejenak sambil memperhatikan raut wajah Gathan yang tampak sibuk berpikir.
"Ada lagi hal yang kau ketahui?" tanya Gathan dengan alis bertaut.
"Oh, ia, beberapa Minggu yang lalu, aku juga pernah melihatnya kembali bertemu dengan Tio di tempat yang sama dan di sana Tio tampak memberikan sebuah botol kecil entah itu apa pada nyonya. Setelah itu aku tidak melihatnya lagi. Tapi, aku sudah meminta temanku mengabarkan kalau mereka berdua kembali melakukan pertemuan dan memintanya memperhatikan apa yang mereka lakukan." tukas Erwin memberitahukan. Hal itu sukses membuat otak Gathan berpikir ke peristiwa yang terjadi beberapa Minggu yang lalu. Gathan menggemeretakkan giginya.
'Botol kecil? Jangan-jangan itu obat perangsang yang ia masukkan ke dalam minumanku? Apakah ia mendapatkan itu dari Tio? Breng-sek! Sebenarnya apa hubungan mereka? Apa benar mereka memang bersaudara? Tapi bagaimana bisa? Aku harus segera mencari tahu mengenai hal ini. Begitu pula dengan segala kejanggalan dan keanehan yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku.' gumam Gathan dalam hatinya.
"Win, segera kabari aku kalau mereka mengadakan pertemuan lagi. Oh ya, kalau bisa minta seseorang mendengarkan apa yang mereka bahas atau kalau perlu rekam. Entah aku memang sedang mencurigai Tio. Seperti ada sesuatu yang berusaha ia tutupi dan sembunyikan." titah Gathan dengan sorot mata menerawang. Erwin pun mengangguk. Tentu Erwin akan dengan senang hati membantu Gathan apalagi ia sudah banyak hutang budi dengan Gathan yang selalu membantunya tanpa pamrih.
Usai mengatakan itu, Gathan lekas meraih ponsel dalam saku celananya lalu menekan nomor seseorang.
"Hai, bro! Bisa aku minta tolong sesuatu?" tembak Gathan to the point saat panggilannya diangkat.
"Hei, bro! Basa-basi dulu kek. Dari dulu nggak ada perubahan sama sekali lo! " kesal seseorang yang dihubungi Gathan.
"Kau mencurigai suatu hal tentang asisten pribadimu sendiri?" tanya seseorang itu heran.
"Hmm ... cari tahu saja dulu. Kalau kau sudah mendapatkan informasinya, aku akan segera menjelaskannya kepadamu. Segera! Aku tunggu secepatnya."
"What? Secepatnya? Sialan loe!!!" umpat seseorang itu. "Udah jarang menghubungi gue, sekalinya nyariin, langsung ngasi tugas yang harus secepatnya. Emang resek banget loe jadi orang, Than!" geram seseorang itu membuat satu sudut bibir Gathan terangkat ke atas.
...***...
Semburat senja berwarna jingga kian tenggelam, berganti kegelapan yang kian mendominasi. Di antara kegelapan yang mulai menyelubungi bumi, dengan mata yang merah dan pipi yang basah, Nanda menelusuri jalanan. Pikirannya kosong. Posisinya belum terlalu jauh dari kediaman Gathan. Berat rasanya untuk melangkahkan kaki, sebab ia tidak tahu harus menjejakkan kakinya kemana. Ia kehilangan arah dan tujuan. Ia tidak memiliki tempat tuk bernaung selain panti asuhan. Tapi ia tidak mungkin ke sana sebab ia tidak mungkin membuat bunda Rieke bersedih melihat nasibnya yang diusir sang suami padahal ia baru beberapa bulan menikah.
__ADS_1
Di usapnya perutnya yang masih datar. Air matanya kembali menetes mengingat di dalam rahimnya kini telah bermukim nyawa seorang anak manusia. Buah cintanya dengan sang suami yang sangat dicintainya. Ya, Nanda sangat mencintai Gathan, suaminya. Tapi ... kini suaminya membenci dirinya sebelum ia sempat memberitahukan keberadaan sang buah hati.
"Sayang, maafin ibu ya! Masih dalam perut aja ibu udah buat kamu susah, gimana nanti. Doain ibu biar kuat ya!" lirih Nanda seraya mengusap perutnya yang masih datar.
Nanda bingung ... sangat-sangat bingung, kemana ia harus melangkah. Di saat seperti ini, kembali pikirannya melayang ke masa lalu. Ia tengah mengingat orang-orang yang menyayangi dirinya dengan tulus yang telah ia tinggalkan. Ia sebenarnya penasaran, apakah mereka pernah mencarinya atau tidak.
"Om Dika, ate Rere, Bunda Aileena, Nanda rindu. Papa ... Nanda merindukan papa. Apa papa pernah merindukan Nanda?" gumamnya dengan pikiran menerawang. "Mama ... adek ... Nanda rindu mama dan adek juga. Mengapa mama dan adek ninggalin Nanda sendiri? Mengapa kalian nggak ngajak Nanda? Apa mama cuma sayang sama adek?" lirih Nanda dengan berlinangan air mata. Kakinya terus melangkah tanpa arah. Hingga suara klakson mobil yang ditekan berulang membuatnya tersentak dari lamunannya. Ia segera menghentikan langkahnya.
Nanda pun menoleh ke sebuah mobil Mercedes A-class berwarna hitam pekat berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil tampak diturunkan menampilkan seulas senyum dari orang di dalamnya.
"Kak Erwin ... " lirih Nanda dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo, masuk!" ajak Erwin tapi Nanda menggeleng cepat. Ia takut Gathan marah jika ia menaiki mobil itu.
"Ayo, buruan! Atau kamu pingin bos marah beneran sama kamu? Ah, kalau kamu nggak mau nurut, bukan kamu aja yang bakal kena marah, tapi kakak juga terus gaji kakak dipotong, bonus melayang, rugi bandar dong kakak." seloroh Erwin membuat Nanda bengong campur bingung.
"Tapi Nanda udah diusir mas Gathan kak. Nanda takut kalau Nanda masuk ke dalam mobil , mas Gathan malah marah. Lagian, Nanda nggak punya tempat tujuan." desah Nanda sambil menyeka sisa-sisa air matanya.
"Naik aja dulu, entar si bos sendiri yang jelasin semuanya. Sing penting kamu sekarang harus nurut rut rut, kalau nggak mau si bos marah beneran." tukas Erwin membuat Nanda makin bingung setengah hidup.
"Marah beneran? Emang yang tadi ... "
"Udah, naik aja dulu, bawel!" potong Erwin mendelik membuat Nanda mengerucutkan bibirnya. Tak mau berdebat, Nanda pun masuk ke dalam mobil, Erwin terkekeh melihat wajah cemberut Nanda.
"Nah, gitu dong! Sekarang kamu kakak anterin ke apartemen si bos. Nanti kalau urusan si bos kelar, dia bakal segera nyusul jadi nggak usah sedih lagi, oke!" ujar Erwin santai sembari melajukan mobilnya kembali.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...