
Tak terasa 6 bulan telah berlalu semenjak tragedi yang membuat Nanda mengalami koma juga keguguran. Setelah menjalani pengobatan secara rutin dan teratur, akhirnya kondisi rahim Nanda telah sehat seperti sedia kala. Kini tampak pasangan yang selalu dimabuk kasmaran itu tengah bersiap untuk mendatangi akad kedua Doni dan Nuri. Akhirnya, setelah beberapa bulan melakukan pendekatan kembali, Nuri pun kini berhasil Doni taklukkan kembali. Usaha tak mengkhianati hasil. Begitulah istilah Doni yang selama beberapa bulan ini terus berjuang meyakinkan Nuri kembali bahwa ia takkan menyakitinya lagi.
Nanda baru saja selesai mengenakan dress selutut berwarna light blue. Kini ia tengah berusaha memakai kalung pemberian Lavina, tapi ia sepertinya mengalami kesulitan saat memakainya. Gathan yang melihat itu pun lantas mendekat setelah selesai mengancingkan kemejanya.
Tanpa banyak kata, tangan Gathan terulur untuk membantu Nanda hingga membuat Nanda tersentak kemudian tersipu malu saat matanya bersirobok dengan mata Gathan melalui cermin hias yang ada di depannya.
"Sudah." ujar Gathan. Kemudian Gathan melihat anting yang belum terpasang pun langsung berinisiatif memasangkannya juga. Nanda ingin menolak dan melakukannya sendiri tapi Gathan melotot membuat Nanda terpaksa membiarkannya saja ingin melakukan apa. Tapi diam-diam Nanda mengulum senyum, Gathan kini menjelma bak suami idaman, sangat berbeda dari Gathan yang ia kenal diawal pernikahannya dulu. Nanda merasa hidupnya sangatlah beruntung karena memiliki suami seperti Gathan.
Setelah selesai memakaikan anting-anting, Gathan membungkukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan wajah Nanda. Ia tersenyum manis membuat darah Nanda berdesir. Padahal pernikahan mereka sudah hampir satu tahun, tapi sikap Gathan justru makin manis, dan selalu sukses membuat jantungnya berdebar dan darahnya berdesir.
"Cantik. Sangat cantik." puji Gathan membuat wajah Nanda memerah.
"Ayo, kita pergi sekarang. Kau pasti ingin melihat momen spesial papa Doni dan ibu Nuri mu itu kan!" tukas Gathan lalu ia mengecup puncak kepala Nanda. Nanda tersenyum seraya tersipu. Lalu ia pun berdiri mengambil tas selempannya lalu kemudian ia melingkarkan tangannya di lengan Gathan. Gathan menarik tubuh Nanda hingga makin merapat dan melabuhkan sebuah ciuman singkat di kuncup merah milik Nanda.
Mobil yang membawa Gathan dan Nanda telah membelah jalanan di Minggu pagi itu. Jalanan tampak lengang membuat mereka tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah megah milik Doni. Setibanya di sana, pak Tarno membukakan pintu mobil untuk majikannya. Nanda baru saja ingin membuka pintu untuk dirinya sendiri, tapi Gathan menghalangi. Setelah turun dari mobil, Gathan berjalan memutar dan membukakan pintu mobil Nanda. Ia mengulurkan tangan yang disambut Nanda dengan senyuman cerah secerah mentari di pagi itu.
Suasana sudah cukup ramai. Para tamu undangan ternyata sudah banyak yang hadir. Nanda dapat melihat, sosok papanya tengah berdiri gagah dengan tubuh yang dibalut tuksedo berwarna hitam dan dasi bercorak garis-garis hitam-putih. Ia tengah berbincang yang sepertinya merupakan penghulu yang akan menikahkan ulang papanya itu dengan ibu Nuri.
"Mbak Nanda." panggil Januar seraya tersenyum lalu ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Nanda, bergantian dengan Gathan. Bagaimana pun usianya lebih muda dari Nanda, sudah seharusnya ia bersikap sopan pada kakak angkatnya tersebut. Ia mengagumi sosok Nanda yang tetap baik hati setelah menderita bertahun,-tahun lamanya.
"Eh, Januar! Ibu dimana?" tanya Nanda.
"Ibu masih siap-siap di kamarnya, mbak. Ayo, Januar antar."
__ADS_1
Januar pun mengantarkan Nanda ke dalam kamar Nuri. Sedangkan Gathan ikut bergabung dengan yang lainnya. Tampak di dalam sana, Nuri sedang didandani oleh seorang MUA. Nanda pangling saat melihat Nuri yang sekarang telah mengenakan hijab berwarna putih gading senada dengan kebaya yang dikenakannya membuat aura keibuannya makin bersinar. Usia senjanya pun tak dapat menutupi kecantikan sang ibu sambung. Pantas saja papanya tak dapat melupakan sosok Nuri walaupun sekian tahun berpisah, Nuri bukan hanya sosok yang sangat baik hati, ia pun sangat cantik membuat Nanda yang masih muda pun jadi iri melihatnya.
"Bu ... " panggil Nanda saat telah berdiri di belakang Nuri. Nuri yang tadinya memejamkan mata saat di dandani lantas membuka matanya. Nanda tersenyum manis saat mata mereka bersirobok.
"Eh, Nanda. Baru datang?" tanya Nuri yang juga tersenyum di hadapan cermin.
"Iya, bu. Wah, ibu cantik banget pake hijab!" puji Nanda.
"Iya kah? Alhamdulillah kalau kayak gitu. Sebenarnya sudah lama ibu pingin pakai hijab cuma masih agak ragu. Tapi saat papa kamu menyatakan ingin melakukan akad ulang, ibu bertekad untuk benar-benar Istiqomah. Ibu ingin memulai semuanya dengan serba lebih baik lagi. Memulai lembaran baru dengan jiwa yang baru dan semangat yang baru. Sungguh nak, ibu nggak pernah menyangka akan melalui sampai ke tahap ini. Ibu pikir selamanya ibu hanya akan berdua dengan Januar, tapi nyatanya Allah maha baik. Allah mengembalikan kebahagiaan ibu yang hilang. Dan ... sebelumnya ibu mohon maaf ya nak, andai bukan karena keegoisan ibu yang lebih memilih pergi, kamu pasti sudah sejak lama dapat merengkuh kebahagiaan." ujar Nuri dengan mata berkaca-kaca.
Nanda meminta MUA yang mendandani Nuri bergeser sebentar, lalu ia memeluk Nuri yang menunduk dengan wajah penuh penyesalan dari belakang.
"Ibu nggak perlu merasa bersalah. Nanda nggak pernah nyalahin ibu dan papa kok. Bagaimana pun, kalian melakukan itu ada alasannya. Mungkin inilah takdir kita, harus mengalami perjalanan yang panjang dan berliku untuk merengkuh bahagia. Malah mama dan Nanda juga ada andil dalam keretakan rumah tangga kalian. Maafin mama ya, Bu. Andai mama nggak pernah hadir dalam ruang tangga kalian, pasti semua takkan terjadi seperti ini." tukas Nanda yang sudah ikut berkaca-kaca.
"Jujur, setelah ibu pikir-pikir, seperti katamu, memang ini sudah takdir. Ibu juga nggak bisa sepenuhnya menyalahkan mama kamu, Nda. Seandainya mama kamu nggak pernah muncul dalam hidup papa kamu, mungkin hingga kini ia tak bisa memiliki keturunan karena ibu yang tidak memiliki kemampuan itu. Mungkin hal itu akan jadi penyesalan terbesar ibu di hari tua seperti ini. Ibu bersyukur, mas Doni memiliki kamu dan akhirnya kita dipertemukan kembali dan bisa saling menerima juga saling memaafkan. Terima kasih Nda, hadirmu bagai secercah harapan dalam hidup ibu dan papa." tukas Nuri dengan senyum mengembang.
"Bunda." ucap Nanda manja lalu memeluk Aileena.
"Uh, anak bunda masih manja aja." ujar Aileena seraya terkekeh.
"Mumpung nggak ada Varisha sama Vanessa, Bun. Kalau ada mereka, Nanda nggak bisa manja-manjaan, mereka kan suka cemburuan gitu ." ujar Nanda seraya terkekeh geli mengingat anak kedua dan ketiga Aileena yang suka cemburuan. Tapi sebenarnya mereka sangat baik.
"Eh eh eh, pantas saja dari tadi kuping kami panas, rupanya ada yang ghibahin kita kak Lisha." ujar Vanessa sambil bersungut-sungut.
__ADS_1
Varisha melipat kedua tangannya di depan dada, lalu tatapannya memicing pada Nanda.
"Sepertinya kita harus beri pelajaran sama kak Nanda."
"Hem, pelajaran apa kak? IPA, IPS, matematika, ... "
Varisha menepuk dahinya pelan membuat Nanda, Aileena, Nuri, dan juga MUA yang ada di ruangan itu terkekeh. Vanessa baru kelas 7 SMP karena itu pikirannya masih kurang nyambung dengan obrolan orang dewasa.
Satu jam kemudian, akhirnya Doni dan Nuri telah kembali terikat dalam ikatan pernikahan. Nuri nampak menunduk malu-malu saat Doni diam-diam menatap kagum padanya. Nyatanya, Nuri makin terlihat cantik dengan hijab yang membalut kepalanya. Semua orang terkekeh melihat pasangan yang baru saja melakukan remarried itu. Semua orang juga mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik pada pasangan itu. Semua pun turut berbahagia di hari bersejarah itu.
...***...
Sepulangnya dari kediaman Doni, pak Tarno justru membelokkan mobilnya ke arah lain membuat Nanda bingung. Gathan saat itu tengah memejamkan mata, ia terlihat begitu lelah jadi ia tidak berani membangunkannya.
"Pak, kita kau kemana? Ini bukan jalan menuju pulang." tanya Nanda heran.
Tapi pak Tarno hanya diam saja.
"Pak, kok diam aja?"
Tapi pak Tarno tetap saja diam membuat Nanda bingung lalu ia mencoba membangunkan Gathan, tapi Gathan tak kunjung membuka matanya membuat Nanda panik.
"Mas Gathan, bangun! Ini kita mau kemana? Bangun, mas." Nanda menggoyang-goyangkan lengan Gathan tapi Gathan tak kunjung membuka matanya membuat Nanda kian panik tak terkira.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🙏...