
Freya tampak mondar-mandir di kamarnya sambil menggigiti kukunya. Ia sedang memikirkan cara untuk merealisasikan rencananya. Lalu ia mengambil ponselnya di atas nakas dan menelpon seseorang.
"Halo." sapa seseorang di seberang telepon.
"Kak, barang yang aku pinta sudah ada belum?" tanya Freya to the point.
"Fre, kamu serius ingin melakukan rencana kamu dan om Reza?" tanya orang itu.
"Tentu aku serius kak. Aku udah lakuin berbagai cara tapi sulit banget bikin mas Gathan biar mau ngelakuin itu sama aku. Bahkan tak Fre sampai ... tel@nj@ng biar bisa bikin dia ter@ngs@ng, tapi bukannya berhasil, mas Gathan malah marah dan ninggalin aku gitu aja."
Seseorang itu mendesah pelan, ia tak habis pikir dengan Freya mengapa sampai bisa bertindak sejauh itu.
"Apa kau mencintainya?"
"Tidak." ketus Freya.
"Lalu untuk apa kau melakukan itu?"
"Kak, kau tau, kebutuhanku banyak pun papa. Kami sekarang sangat bergantung pada Gathan. Jika sampai tahun depan aku belum bisa membuatnya jatuh cinta padaku, bisa-bisa aku dicerai. Aku nggak mau kak."
"Tapi kan kakak bisa memenuhi kebutuhan kamu, Fre."
"Bisa? Emang sebesar apa sih gaji kakak sampai bisa memenuhi segala kebutuhanku?" cibir Freya.
"Tapi tindakanmu ini berbahaya, Fre? Ingatlah, marahnya seorang pendiam itu berbahaya. Bahkan sangat berbahaya. Karena itu lebih baik jangan bertindak terlalu jauh, Fre."
"Itu tugas kakak melindungiku."
"Tapi tidak selamanya kakak bisa, Fre. Sudah cukup masalah kecelakaan tempo hari kakak manipulasi sehingga tidak ketahuan kalau itu disengaja oleh kalian."
"Kakak cukup lakukan saja permintaanku. Kakak tenang saja, semua aman. Aku tidak akan melibatkan kakak. Lagipula tidak ada yang tau tentang hubungan kita selain papa. Cukup kakak dukung apa yang ingin aku lakukan. Apalagi, ini memang sudah hak ku. Bagaimana pun aku ini istrinya." seru Freya kesal.
"Ya sudah, terserah kau saja lah. Barangnya sudah ada. Nanti kita ketemuan di tempat biasa." tukas seseorang itu pasrah.
"Kak, apa kakak sudah mencari tau, mas Gathan itu sebenarnya laki-laki normal atau tidak? Bagaimana mungkin adik kecilnya tidak bangun sama sekali saat aku melakukan r@ns@ngan bahkan sampai melucuti semua pakaianku di hadapannya." tanya Freya serius.
"Kakak tidak tau. Selama kakak bekerja dengannya, dia tidak pernah dekat dengan laki-laki atau pun perempuan manapun. Hanya ada beberapa teman lelakinya saja yang sering mampir tapi mereka semua sudah mempunyai kekasih jadi tidak mungkin mereka memiliki hubungan terlarang dengannya." pungkas orang itu membuat pikiran Freya makin berkecamuk.
__ADS_1
...***...
Nanda telah kembali bekerja di cafe Starla, tetapi ia tidak lagi bekerja sebagai pelayan, melainkan manajer di cafe itu. Seperti biasa, Nanda selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia tentu tidak mau mengecewakan Lavina yang telah memberikan kepercayaan padanya baik dengan menikahkannya pada putranya yang kaya dan tampan, juga mengangkat dirinya sebagai manajer di cafe Starla.
"Hai Bu bos? Sibuk nih?" tegur Mila seraya menyodorkan segelas jus alpukat pesanan Nanda.
"Hmm ... lumayan sih. Makasih ya, Mil." ucap Nanda seraya tersenyum. Lalu ia mengalihkan fokusnya ke layar laptop. Memperhatikan grafik penjualan yang tertera di hadapannya. Beruntung saat di SMA ia juga belajar komputer jadi saat Alfi mengajarinya tentang pembukuan, grafik penjualan, dan lain-lain, ia tidak terlalu kesulitan.
"Nda, enak nggak jadi menantu Bu bos? Terus gimana sikap anak Bu bos ke kamu? Kayak di novel-novel itu nggak? Sadis gitu, kejam, dingin, jahat lah pokoknya." cecar Mila dengan ekspresi wajah serius.
Nanda mengalihkan perhatiannya pada Mila. Dengan mimik wajah serius, Nanda mendekatkan wajahnya.
"Enak ... enak banget malah. Tapi ... "
"Tapi apa?" Mila makin penasaran. "Apa dia suka jahat sama kamu, Nda? Atau dia sadis di atas ranjang? Ayo cerita dong!" paksa Mila.
Nanda mengangguk-anggukan kepalanya membuat Mila membelalakkan matanya.
"Ya ampun, jadi ... "
Mila mengeratkan rahangnya lalu ia mencubit pipi Nanda gemas.
"Is, dikirain serius taunya ngerjain." desis Mila kesal. "Tapi ... aku bersyukur, Nda, akhirnya kamu bisa merasakan kebahagiaan. Semoga selalu bahagia ya, Nda. Aku turut bahagia liat kamu bahagia." pungkas Mila dengan senyum lebarnya.
'Aamiin ... semoga ya, Mil. Sebenarnya aku juga masih khawatir sebab aku bukanlah satu-satunya wanita dalam hidup mas Gathan. Aku hanyalah istri kedua. Mas Gathan memang bilang dia nggak cinta sama mbak Freya, tapi tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku takut, kalau sebenarnya mas Gathan cinta sama mbak Freya. Dia cuma bohong untuk menyenangkan ku supaya tidak mengadu pada mama. Atau bisa juga dia memang jujur. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti ia akan jatuh cinta pada mbak Freya. Ya Allah, salahkah aku bila aku mengharapkan hanya ada aku di dalam hati dan hidup mas Gathan? Maafkanlah keegoisan dan keserakahan ku, Ya Allah.'
...***...
Jarum jam sudah mendekati jam makan siang. Saat sedang memeriksa keadaan di luar melalui layar CCTV, Gathan menghubunginya.
"Assalamu'alaikum, mas." ucap Nanda setelah ia mengangkat panggilan itu.
"Wa'alaikum salam, Nda." sahut Gathan.
"Ada apa, mas? Mas butuh sesuatu?" tanya Nanda.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Gathan to the point.
__ADS_1
"Belum, mas. Mas mau dianterin makan siang?" tanya Nanda lembut.
"Mas mau ajak kamu makan siang bareng? Mau?" tawar Gathan.
Nanda tersenyum mendengar Gathan mengatakan ingin mengajaknya makan siang berdua. Ia pikir hanya selama di Bali saja Gathan akan bersikap hangat, ia tak menyangka sampai saat sesudah kembali pun Gathan masih bersikap hangat dan perhatian. Walaupun ekspresinya tetap dingin di depan orang lain, tapi cara bicaranya dan perhatiannya menunjukkan sikap hangat yang mampu membuat perasaan Nanda membuncah.
"Nda ... kamu masih di sana?" panggil Gathan saat tidak mendengar sahutan dari Nanda.
"Eh, maaf, mas. Apa tadi? Makan siang bareng? Emm ... kalau tidak merepotkan mas, Nanda mau." sahut Nanda malu-malu. Gathan yang mendengarnya pun yakin, wajah Nanda sekarang nampak memerah. Beberapa hari menghabiskan waktu bersama Nanda membuatnya tau kebiasaan Nanda yang baginya menggemaskan.
"Ya udah, mas udah minta Erwin jemput kamu. Mungkin bentar lagi sampai."
"Hah? Udah di jalan. Kok baru bilang sekarang sih, mas?" protes Nanda.
Tok tok tok ...
"Bu, ada sopir suami Bu bos nunggu di luar." lapor Mardi membuat Nanda makin terkejut.
"Is mas, ngapain nanya coba kalau jemputannya aja udah datang!"desis Nanda geram.
Gathan tergelak mendengar protesan Nanda. Setelah bicara sebentar, lalu Nanda menutup telepon dan segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai Erwin.
Sepanjang perjalanan, Nanda dan Erwin nampak mengobrol akrab. Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Erwin telah tiba di kantor Gathan. Saat telah berdiri di depan perusahaan TJ Group, Nanda membelalakkan matanya. Tangannya jadi dingin. Rasanya ia ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam sana. Apalagi ia belum pernah menginjakkan kaki ke dalam sebuah perusahaan besar seperti itu. ia justru takut bersikap kampungan.
Seperti tau akan kekhawatiran sang istri yang pasti takut melangkahkan kaki masuk ke dalam kantornya, Gathan pun segera beranjak menuju lantai dasar untuk menjemput sang istri. Saat Nanda sibuk berkutat dengan rasa takutnya dengan kepala menunduk, Gathan justru telah berdiri menjulang tinggi di hadapan Nanda tanpa disadarinya.
"Mau melamun sampai kapan, hm?" lirih Gathan tepat di hadapan Nanda membuat Nanda tersentak.
"Mas ... Kok udah ada di sini?"
"Makanya jangan melamun terus. Seharusnya kamu telepon mas kalau udah sampai bukannya melamun. Untung Erwin tadi telepon. Kalau nggak, sampai jamuran pun mas nggak akan tau kalau kamu udah sampe. Yuk, masuk!" lalu Gathan merangkul pinggang Nanda dan membawanya masuk ke dalam perusahaannya.
Semua pasang mata memandang penasaran pada sosok yang dirangkul Gathan. Bagi yang diundang ke pesta pernikahan Gathan tentu tau siapa yang berdiri di sisinya. Tapi tetap saja mereka memandang dengan tatapan penuh arti. Apalagi selama ini, Gathan tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Karena itu ia kerap digosipkan sebagai penyuka sesama jenis. Tapi melihat bagaimana perlakuan Gathan pada Nanda membuka lebar mata mereka kalau putra pemilik perusahaan tempat mereka bekerja merupakan lelaki normal. Apalagi dapat mereka lihat dengan jelas bagaimana Gathan tersenyum manis dengan mata berbinar saat memandang wajah Nanda. Bahkan tanpa rasa malu, Gathan menciumi pipi Nanda di hadapan semua karyawannya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1