
"Wah ternyata cucu Oma sudah bangun." ucap Nyonya Tias tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk menggendong cucunya.
"Hai sayang, ini Oma. Apa kamu senang melihat Oma?" ucap Nyonya Tias tersenyum mencoba mengajak berbicara cucunya.
Tampak baby Daisy mengerjapkan matanya mencari-cari rupa orang yang mengajaknya berbicara. Bahkan kedua tangannya sesekali dia gunakan untuk menyentuh lalu mengusap wajahnya. Nyonya Tias hanya mampu tertawa kecil melihat tingkah laku cucunya dan itu menurutnya sangat lucu.
"Ha ha ha, mulai pintar cucu Oma. Sebentar lagi cucu Oma akan punya ibu. Jadi jangan rewel ya nak." Nyonya Tias dengan mata berkaca-kaca lalu mencium kening cucunya dengan penuh kasih.
Sementara Keynand dan Viona masih berdiri di tempatnya semula. Mereka belum beranjak pergi dan masing-masing sibuk dengan lamunannya sendiri.
Lamunan Keynand mulai terbuyarkan mendengar suara ibunya yang begitu hebohnya mengajak putrinya berbicara. Dia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Viona yang masih berdiri tidak jauh darinya.
"Keluar dari kamarku!" ucap Keynand dingin dengan sorot mata tajam.
"Baik" ucap Viona dengan anggukan kepala. Kemudian Viona melangkah menuju pintu. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar suara Nyonya Tias memanggil namanya.
"Viona!" panggil Nyonya Tias.
"I-Iya tante." ucap Viona cepat sambil mengalihkan pandangannya ke arah wanita paruh baya itu.
"Bergegaslah mandi, jangan lama-lama berada di dalam kamarmu, soalnya cucuku sepertinya sudah mencarimu untuk bermanja-manja kepadamu." ucap Nyonya Tias tersenyum tipis.
Viona hanya mampu menggangguk menanggapi ucapan Nyonya Tias. Kedua matanya sempat melihat ke arah baby Daisy yang begitu nyaman berada dalam gendongan neneknya. Setelah itu, barulah dirinya bergegas keluar dari kamar tersebut.
Sementara itu, Keynand memilih melangkah ke kamar mandi guna untuk membersihkan diri. Pasalnya dia perlu menjernihkan pikirannya dan mendinginkan seluruh tubuhnya.
Air dari shower mulai membasahi kepala Keynand hingga turun membasahi seluruh tubuhnya. Keynand begitu rileks yang sedang memandangi dinding kaca.
Maafkan aku Jasmine, aku tidak bermaksud untuk menduakanmu secepat ini. Percayalah sayang, aku sangat mencintaimu. Hanya kau wanita yang mengisi hatiku. Asal kau tahu sayang, ini hari tersialku seumur hidupku, karena aku dipaksa untuk menikahi wanita licik bernama Viona. Bahkan aku jijik menyebut nama wanita itu, apalagi harus setiap hari melihatnya. Aku bersumpah pernikahan itu tidak akan pernah terlaksana. Dan aku bersumpah tidak akan pernah menggantikan posisimu di hatiku karena hanya kau wanita yang aku cintai dan aku sayangi. Batin Keynand dengan tangan di kepal kuat.
*
*
*
"Viona!" Teriak Laurent dari arah dapur.
__ADS_1
Viona yang sedang sibuk membersihkan ruang tamu bergegas menuju ke dapur saat mendengar suara teriakan Laurent.
"Ada apa?" tanya Viona sambil membasuh bulir keringat yang membasahi keningnya.
"Buatkan aku Jus Alpukat. Karena aku mau minum jus Alpukat sekarang!, tidak pakai lama!" Jawab Laurent dengan entengnya.
"Maaf, persediaan buah Alpukat sudah habis." ucap Viona memberitahunya.
"Apa kau tidak punya kaki untuk pergi membelinya? tidak mungkin di tempat ini tidak ada supermarket ataupun pasar tradisional." ketus Laurent sambil bertolak pinggang dengan raut wajah masam.
"Untuk buah yang kau inginkan hanya ada di pasar tradisional. Tapi, jarak ke pasar tradisional begitu jauh dari Villa. Jika kau ingin jus Alpukat, sebaiknya kau sendiri yang membeli buahnya. Karena tidak mungkin aku yang harus pergi membelinya untukmu. Ganti saja jus yang kau inginkan dan buat sendiri, karena kau juga memiliki kedua tangan, jangan cuma menyuruh orang!" balas Viona dan begitu tenang meladeninya.
Laurent langsung mengepalkan tangannya dan bergerak cepat untuk menjambak rambut Viona. Sedangkan Viona yang melihat pergerakan Laurent yang ingin menyerangnya dengan cepat melakukan perlawanan.
Sehingga terjadilah aksi saling jambak menjambak rambut yang dilakukan oleh keduanya. Kebetulan sekali Keynand kehausan habis berolahraga kecil di balkon kamarnya hingga memutuskan ke dapur untuk mengambil air minum.
Keynand yang mendengar suara keributan dari arah dapur semakin mempercepat langkahnya, hingga dia langsung membulatkan matanya melihat Viona dan Laurent tengah berantem dan saling tarik-menarik rambut bahkan sampai saling pukul memukul.
"Hentikan!" teriak Keynand meminta mereka berhenti. Sedangkan kedua wanita itu tidak menghentikan aksinya karena keduanya sudah tersulut emosi.
Brukk
"Awwww" Laurent meringis kesakitan yang terjatuh di lantai. Semua itu dia lakukan untuk menarik simpati dari Keynand. Dan benar saja Keynand terlihat marah besar menatap ke arah Viona.
Sementara Viona kembali mendekati Laurent untuk menyerangnya, namun sayangnya dengan cepat Keynand langsung menangkap tangan Viona.
Dan tanpa basa-basi Keynand langsung melayangkan tangannya menampar wajah Viona.
Plakkk
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi mulus Viona, hingga membuat tubuh Viona langsung terjerembab ke belakang hingga terjatuh ke lantai.
Seketika kedua mata Viona memerah merasakan pipinya terasa kebas akibat tamparan keras dari Keynand. Bahkan sudut bibirnya ikut berdarah. Viona hanya mampu menunduk diam menyentuh pipinya. Sungguh dia mulai membenci pria yang dicintainya, karena sudah berbuat kasar kepadanya.
Sementara Laurent tersenyum kemenangan, ternyata rencananya berhasil juga. Sedangkan Keynand masih menatap ke arah Viona yang terduduk di lantai.
"Aku tidak ingin ada keributan seperti ini. Ingat baik-baik, ini terakhir kalinya kalian membuat keributan!" ucap Keynand dingin, kemudian berbalik badan untuk mengambil air mineral di lemari pendingin.
__ADS_1
Sementara Viona dan Laurent hanya mampu diam tanpa menggubris ucapan Keynand.
Setelah mengambil satu botol air mineral di lemari pendingin, Keynand melenggang pergi meninggalkan mereka.
Lihatlah sekarang, aku pastikan kau akan menderita wanita pelayan.Villa ini akan menjadi tempat neraka bagimu. Tidak ada kebahagiaan yang akan menghampirimu, hanya ada kesengsaraan yang akan kau dapatkan. Dan aku sendiri yang akan membuatnya. Batin Laurent dengan seringai licik diwajahnya.
Dengan penuh semangat Laurent bangkit berdiri, lalu diliriknya Viona dengan tatapan meremehkan. Kemudian wanita cantik itu melangkah penuh kemenangan meninggalkan Viona seorang diri.
Setelah melihat Laurent pergi dari hadapannya. Seketika air mata Viona mengalir deras membasahi wajahnya. Wanita itu hanya mampu menangis dalam diam sambil membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar keluar.
Dengan cepat Viona mengusap kasar air matanya. Dia tidak boleh lemah, dia harus kuat menghadapi orang-orang yang selalu menindasnya.
Viona memutuskan melangkah menuju kamarnya. Dia perlu mengobati lukanya terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya.
Sementara di dalam kamar Keynand, mendadak baby Daisy terbangun dan langsung menangis histeris. Nyonya Tias yang sedang menjaga cucunya bergerak cepat menggendongnya guna untuk menenangkannya.
Namun sayangnya, baby Daisy semakin mengencangkan tangisnya membuat nyonya Tias mulai panik. Keynand ikut membantu ibunya untuk menenangkan putrinya, tapi tetap saja baby Daisy terus menangis histeris.
"Panggil Viona! hanya dia yang bisa menenangkannya." teriak ibunya yang sudah panik.
Keynand langsung berlari keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Viona. Dia tidak menemukan Viona di ruang tamu dan di dapur. Sehingga dia memutuskan ke kamar pelayan yang ditempati oleh Viona.
Tok
Tok
Tok
Keynand mengetuk pintu kamar Viona dan tak berselang lama pintu kamar itu terbuka lebar dan muncullah pemilik kamar tersebut.
"Baby Daisy..."
"Maaf, aku sedang istirahat" potong Viona cepat dengan muka sembab dan langsung menutup kembali pintu kamarnya.
Keynand langsung mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras melihat tingkah wanita tawanannya.
Bersambung.....
__ADS_1