
"Kenapa hah? Villa ini bukan punya nenek moyang loh, jadi tidak perlu mengatur hidupku, apalagi kau ikut campur dengan urusan pribadiku!" ketus Laurent sambil menatap sinis pria itu.
"Santai saja nona, aku sama sekali tidak mengajakmu untuk berdebat." ucap Alex menyeringai.
"Siapa juga yang mau meladeni seorang babu." ucap Laurent dengan entengnya sambil tersenyum sinis menatap ke arah Alex.
Sontak Alex langsung mengepalkan tangannya mendengar ucapan wanita arogan itu. Sungguh dia tidak terima disebut sebagai babu oleh wanita arogan itu. Baru kali ini ada seorang wanita mengatainya babu, padahal selama ini dia begitu dihormati dan disegani. Wanita itu tidak tahu saja siapa dirinya sebenarnya.
Alex ingin membalas ucapan Laurent tapi keburu Laurent mengangkat tangannya lalu mengibaskan di depan Alex untuk menyuruh pria itu pergi.
Bahkan Laurent menatap kearah Alex dengan tatapan merendahkan. Dengan angkuhnya Laurent berjalan elegan masuk ke dalam Villa meninggalkan Alex seorang diri di teras Villa, dimana Alex tampak kesal hingga tersenyum getir dengan tangan dikepal kuat.
"Dasar hukum arogan!" ucap Alex mengumpat kesal.
Sementara itu, Nyonya Tias yang sedang membaca majalah di ruang tamu langsung meletakkan majalahnya setelah mendengar suara seorang wanita yang diyakini adalah Laurent. Ia pun bergegas bangkit dari duduknya dan pandangannya langsung dialihkan ke arah pintu hingga senyuman merekah menghiasi bibirnya melihat Laurent.
“Selamat pagi tante.” Ucap Laurent tersenyum sambil berlari kecil menghampiri nyonya Tias dan langsung berhambur memeluknya.
“Selamat pagi nak Laurent.” Balas Nyonya Tias tersenyum sembari membalas pelukan Laurent.
“Bagaimana kabar tante? bagaimana kabar Isy? Uuuh...aku sangat merindukan ponakanku, tante. Aku ingin sekali menggendonya dan mencium pipinya yang gembul itu sampai memerah” ucap Laurent antusias dan perlahan melepaskan pelukannya.
Walaupun selama sebulan tidak berkunjung ke Villa, tapi Laurent tidak pernah putus komunikasi dengan Nyonya Tias. Laurent selalu melakukan video call untuk menunjukkan sikap perhatiannya kepada baby Daisy dan juga Nyonya Tias.
Tidak hanya itu, Laurent selalu menggunakan alasan untuk melihat tumbuh kembang baby Daisy dan ia lakukan semata-mata untuk mencari muka atau ingin mengambil hati Nyonya Tias lewat baby Daisy, agar wanita paruh baya itu lebih respect kepadanya bahkan bisa-bisa akan mendukungnya bersama Keynand.
“Sangat baik, begitu halnya dengan isy cucu tante. Pasti dia akan senang melihat aunty nya kembali datang mengunjunginya.” Ucap Nyonya Tias tersenyum. “Oh iya, bagaimana dengan kabarmu sendiri nak dan juga kabar kedua orang tuamu?” tanya Nyonya Tias dengan senyuman menghiasi bibirnya.
__ADS_1
“Kami semua sehat, tante. Mommy juga sangat merindukan baby Daisy, dia ingin sekali melihat langsung cucunya. Karena selama ini, dia hanya melihat Isy lewat sambungan video call. Tapi sayang, Mommy tidak bisa bepergian jauh. Apalagi Villa ini begitu jauh dari kota. Kalau boleh tau kenapa Keynand memilih membawa putrinya di Villa ini bahkan sampai menetap lama di Villa ini, tante?” tanya Laurent yang ingin mengulik informasi dari Nyonya Tias. Karena aneh saja Keynand membawa putrinya tinggal di tempat terpencil seperti itu dan begitu jauh dari pusat keramaian ataupun kota besar.
“Tante juga tidak tau sayang. Keynand yang selalu memutuskan segalanya dan tante pernah melakukan aksi protes kepada Keynand, karena tante tidak setuju Keynand membawa cucu tante ke Villa ini. Tempat ini begitu terpencil dan jauh dari kota, bahkan untuk berbelanja kebutuhan pokok dan kebutuhan Isy harus dilakukan setiap dua kali dalam seminggu oleh orang-orang yang selalu di utus oleh Keynand. Awalnya tante tidak betah tinggal disini, tapi lambat laun tante mulai betah apalagi setiap hari melihat cucu tante yang cantik dan menggemaskan. Hari-hari yang tante jalani mulai berwarna dengan kehadiran cucu tante. Bahkan tante bisa memiliki kesempatan untuk merawat Isy, ya walau hanya sekedar bantu-bantu Viona, tapi tante sangat bahagia bisa merawatnya.” Ucap Nyonya Tias panjang lebar dan terlihat raut wajahnya memancarkan kebahagiaan semenjak tinggal bersama dengan cucunya.
“Iya tante, aku salut kepada tante. Bukan cuma tante yang bahagia atas kelahiran baby Daisy. Tapi semua orang bahagia, termasuk aku, mommy, Daddy dan seluruh keluarga besar Robinson." ucap Laurent tersenyum sambil menyentuh tangan nyonya Tias. Sedangkan Nyonya Tias hanya mampu tersenyum dan tampak manggut-manggut membenarkan ucapan Laurent.
"Ayo nak Laurent kita sarapan bersama." ajak nyonya Tias tersenyum dan Laurent langsung mengangguk cepat menanggapi ucapan Nyonya Tias.
Kemudian mereka berjalan-jalan bersama-sama menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Di ruang makan, terlihat Keynand sudah menempati kursinya dan tampak Viona sedang mengambilkan makanan di piringnya.
Kebetulan di jam-jam seperti ini, baby Daisy sedang tidur, sehingga Viona mulai bisa bergerak dan bebas keluar dari kamarnya.
Seketika senyuman Laurent pudar dan mendadak wajahnya berubah masam melihat pasangan pengantin baru itu sudah berada di meja makan. Namun Laurent harus menunjukkan sikap biasa-biasa saja dan ikut bahagia atas pernikahan mereka.
"Wah kalian begitu serasi dan juga kompak" ucap Laurent tersenyum menunjukkan sikap ramahnya menatap Keynand dan Viona secara bergantian.
Keynand hanya melirik Laurent sekilas dan terlihat begitu cuek. Dia lebih memilih menikmati sarapannya dibandingkan meladeni adik iparnya. Sedangkan Viona sempat tersenyum menatap ke arah Laurent yang masih berdiri di samping kursi.
"Sepertinya kita hanya mengganggu mereka tante." ucap Laurent dengan suara rendah seolah sedang berbisik-bisik.
"Tidak apa-apa, ayo duduk." ucap Nyonya Tias meminta Laurent duduk di kursi.
Ketika Laurent menarik kursi untuk didudukinya bersamaan pula Alex juga menarik kursi dengan posisi berhadapan dengannya. Sontak Laurent melotot menatap pria itu.
"Silahkan duduk, nak Alex. Ayo kita sarapan bersama." ucap Nyonya Tias antusias dan sudah menganggap Alex seperti anaknya sendiri.
"Baik tante." balas Alex dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Alex selalu sarapan bersama dengan keluarga tuannya dan kebetulan dia pun menginap di Villa. Kemanapun Keynand pergi, otomatis Alex selalu mendampingi tuannya.
Sementara Keynand dan Viona sudah menghabiskan sarapannya.
"Aku sudah selesai." ucap Keynand lalu bangkit dari duduknya. Begitu halnya yang dilakukan oleh Viona.
Mereka berjalan bersama-sama meninggalkan meja makan. Terlihat Bu Mary menuruni anak tangga sambil menggendong baby Daisy. Viona yang melihatnya segera menghampirinya.
"Kenapa Bu?" tanya Viona khawatir yang kembali mendengar suara tangis baby Daisy. Lalu mengambil alih baby Daisy dari gendongan Bu Mary.
"Dia baru saja terbangun dan langsung nangis." ucap Bu Mary dengan pandangan tertunduk.
Setelah baby Daisy berada dalam gendongan Viona, mendadak bayi mungil nan menggemaskan itu berhenti menangis dan begitu nyaman berada dalam gendongan ibu sambungnya.
"Saya ke belakang dulu." ucap Bu Mary pamit undur diri ke belakang.
"Iya Bu." ucap Viona.
Keynand mendekati Viona untuk melihat putrinya. Perlahan tangannya diulurkan untuk menyentuh puncak kepala putrinya lalu mengelusnya.
Tiba-tiba baby Daisy langsung tersenyum melihat wajah ayahnya dan senyuman baby Daisy terlihat sangat menggemaskan.
"Berikan padaku." ucap Keynand. Tanpa persetujuan dari Viona, Keynand langsung mengambil alih putrinya dari gendongan Viona.
Hingga kepala mereka sempat berbenturan. Refleks Viona dan Keynand kompak tersenyum hingga pandangan mereka bertemu dan terkunci sesaat.
Viona merasa canggung berdekatan dengan Keynand dan jaraknya begitu dekat. Apalagi Keynand terus menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Sontak Viona langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
__ADS_1
Kenapa jantungku berdebar-debar begini. Batin Viona sambil menggigit bibir bawahnya.
Bersambung...