Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 7


__ADS_3

"Terima kasih nona, saya pasti meminumnya. Seharusnya anda tidak perlu repot-repot membuat minuman untuk kami." ucap Alex tersenyum.


"Tidak apa-apa, karena kalian tamu di villa ini" jelas Viona tersenyum lalu pamit undur diri ke dapur.


Alex hanya mampu menatap punggung Viona yang semakin menjauh dari pandangannya, hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


"Sungguh hari yang indah, bertemu mahluk Tuhan yang paling cantik plus seksi. Tidak sia-sia aku datang ke villa tuan Keynand, hingga aku kembali bertemu dengan nona Viona." gumam Alex senyum-senyum sendiri.


Kemudian Alex bergerak cepat dengan penuh semangat untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


Oeeee....ooeee


Terdengar suara bayi kembali menangis histeris di sebuah kamar mewah bernuansa abu-abu gelap. Hingga membuat sosok pria yang tertidur kembali mengerjapkan matanya.


Rupanya pria itu adalah Keynand. Keynand yang sedang tertidur pulas kembali terbangun ketika mendengar bayinya menangis. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih akibat luka tembak yang masih berdenyut-denyut nyeri menjalar di dada bagian kiri dan lengannya. Ditambah dia kembali begadang semalaman menjaga bayinya, hingga seluruh tubuhnya tampak lemas tak bertenaga.


Bahkan ketika Keynand akan turun dari tempat tidur ia tampak linglung dan hampir saja terjatuh. Untungnya sebuah tangan langsung menangkap tubuhnya hingga tak sampai membuatnya jatuh di lantai.


Keynand langsung menunduk melihat orang yang sudah membantunya, hingga dia langsung menggeram kesal mendorong tubuh orang yang baru saja membantunya.


"Menjauh dariku sampah!" ucapnya marah dengan tatapan dingin. Matanya memancarkan kilatan amarah setiap kali melihat wanita tawanannya muncul di hadapannya.


Sementara wanita tawanannya yang tidak lain adalah Viona hanya mampu menundukkan pandangannya. Mulai sekarang dia harus tahan mental setiap kali mendapatkan makian dan cacian dari pria kejam seperti Keynand, hidupnya sudah dalam genggaman pria itu hingga seumur hidupnya dan akan terus mengabdikan hidupnya di villa tersebut.


Keynand melangkah tertatih-tatih mendekat ke arah tempat tidur sang bayi. Raut wajahnya tampak pucat dengan keringat dingin membanjiri keningnya.


Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, Keynand menghentikan langkahnya lalu memijit keningnya yang mendadak pusing. Dia terus mengerjapkan matanya sambil menggelengkan kepalanya karena pusing.


Viona yang melihat Keynand tidak beranjak dari tempatnya, dengan cepat dia melangkah mendekat ke arah tempat tidur untuk mengambil bayi mungil yang sedang menangis.


"Jangan nangis, baby girl. Maaf ya, Aunty terlambat datang menemui mu." ucap Viona tersenyum sambil mengelus lembut punggung kecil bayi mungil itu. Mendadak bayi mungil itu langsung berhenti menangis setelah Viona selesai bicara, seolah bayi itu begitu mengerti ucapan dari Viona.


"Anak pintar." Viona tersenyum sambil mengusap lembut air mata bayi mungil itu.

__ADS_1


Sementara Keynand yang melihat tingkah mereka hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu bergerak duduk di pinggir tempat tidur.


"Tuan Keynand, kau terlihat kurang sehat. Sebaiknya beristirahat lah kembali, jangan khawatirkan putrimu. Aku akan menjaganya dengan baik, percayalah." Ucap Viona membujuknya.


Keynand berdengus kesal dan kemudian memilih untuk berbaring kembali. Padahal jelas-jelas dia tidak menyukai wanita tawanannya itu, namun ucapan wanita itu ada benarnya. Karena tidak mungkin juga jika dia membiarkan bayinya terus menangis. Dia bahkan butuh beberapa jam menenangkan bayinya hingga berhenti menangis, sementara wanita tawanannya dengan begitu mudahnya mampu menenangkan bayinya dan tidak membutuhkan waktu begitu lama.


Diam-diam Keynand memperhatikan Viona tengah membantu bayinya menyusu. Sesekali wanita tawanannya itu tersenyum merekah yang sedang mencoba membuat bayinya tersenyum. Namun sayangnya bayi mungil itu belum mampu melihat apa yang dilakukannya, apalagi melihat disekitarnya, pasalnya bayi mungil itu belum genap sebulan.


"Setelah selesai membantunya menyusu, cepat bawakan aku makan siang di kamar ini. Aku malas keluar kamar dan hanya ingin makan siang disini." perintah Keynand.


"Baik tuan." ucap Viona dengan anggukan kepala.


Kemudian Viona memeriksa terlebih dahulu popok bayi yang gendongannya. Hingga dia kembali tersenyum melihat bayi itu sedang pop. Dia pun menunggunya beberapa menit, setelah itu barulah dia mengganti popok bayi mungil itu.


Viona bertingkah persis sebagai ibu kandung bayi mungil itu. Karena dia menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Walaupun belum bergelar seorang ibu, namun sifat keibuannya begitu kental dalam dirinya.


*


*


*


Terlihat wanita cantik berambut pirang dengan tinggi semampai baru saja turun dari mobil berwarna merah. Pandangannya langsung dialihkan ke arah mansion mewah yang dijaga ketat oleh para penjaga.


Sosok wanita paruh baya yang baru saja sampai di kediamannya terkejut melihat mobil yang sangat dikenal siapa pemiliknya. Dia lekas menghampirinya.


"Selamat siang, nak Laurent." sapa wanita paruh baya itu dengan ramahnya kepada wanita cantik itu. Dan wanita paruh baya itu adalah ibu Keynand.


"Hai tante, aku mampir sebentar untuk melihat ponakanku. Aku sangat mengkhawatirkannya saat tahu rumah sakit yang ditempatinya menjalani perawatan habis terbakar. Apa dia ada di dalam?" ucap wanita cantik itu yang bernama Laurent dan merupakan adik tiri Jasmine.


"Tidak! Ponakanmu di bawa ke Villa pasca kejadian kebakaran semalam. Mungkin dua atau tiga hari tante akan berkunjung ke sana untuk menemui cucu tante." ucap Bu Tias.


"Kalau begitu aku juga mau ikut tante." ucap Laurent cepat.

__ADS_1


"Baiklah, kamu boleh ikut. Kita akan pergi bersama ke villa di dekat bukit, nanti tante yang kabari kamu." ucap Bu Tias tersenyum.


"Siap tante." ucap Laurent menyeringai, seolah sedang merencanakan sesuatu.


Ini kesempatan emas bagiku untuk mendapatkan simpati dari Keynand. Semoga saja dengan kehadiranku di Villa miliknya, Keynand pasti akan mempertimbangkan kembali untuk menjadikanku sebagai istrinya sekaligus ibu sambung untuk putrinya. Batin Laurent menyeringai licik.


"Ya sudah, ayo masuk. Kita bisa mengobrol di dalam." ajak Bu Tias.


"Iya tante." ucap Laurent tersenyum disertai anggukan kepala.


Mereka kemudian berjalan bersama-sama, masuk ke dalam rumah. Lalu mereka duduk bersama di sofa ruang tamu sambil membicarakan tentang mendiang Jasmine.


*


*


*


Di Villa...


Viona membawa nampan berisi makan siang untuk Keynand. Selesai mengurus bayi mungil, sekarang giliran ayah dari bayi mungil yang harus dia urus.


Raut wajah Keynand semakin pucat saja menempati tempat tidurnya. Viona mendekat ke arah tempat tidur, lalu meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas.


"Silahkan tuan" ucap Viona mempersilakannya makan.


Dengan lemas Keynand mengulurkan tangannya untuk mengambil semangkuk bubur yang diminta. Namun tiba-tiba dia meringis kesakitan saat mencoba mengulurkan tangannya untuk mengambil mangkuk bubur tersebut.


Viona bergerak cepat mengambil semangkuk bubur untuk Keynand. Dengan perasaan takut, dia langsung duduk di pinggir tempat tidur.


"Biar saya yang menyuapi anda." ucap Viona dengan pandangan tertunduk. Karena melihat kondisi pria yang dicintainya sedang jatuh sakit.


"Hemm." balas Keynand cepat. Lebih baik dia menurunkan egonya daripada dia akan kembali kesulitan untuk menyantap makan siangnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2