
"Cepat ikat mereka, lalu cambuk mereka tanpa henti!" ucap Keynand dengan nada tinggi dan begitu menggema di ruangan tersebut.
Seketika anak buahnya langsung bergerak mengikat tubuh mereka. Alex memberontak untuk melindungi Viona, namun cambuk sudah mendarat di punggungnya. Alex hanya mampu menggigit bibir bawahnya untuk menahan kesakitan nya. Sesekali ia berteriak keras meminta mereka untuk tidak menyakiti Viona.
Namun Keynand dan anak buahnya tidak peduli dengan teriakannya. Mereka sama sekali tidak memiliki hati nurani. Viona tetap mendapatkan hukuman cambuk.
Suara teriakan Viona dan Alex menggema di ruangan tersebut yang sedang dicambuk tanpa belas kasih. Itu menunjukkan betapa tidak berdayanya mereka mendapatkan siksaan dari pria kejam seperti Keynand. Hingga perlahan suara mereka tidak lagi terdengar tergantikan dengan deru nafas berat sepanjang penyiksaan itu dilakukan.
Setelah Viona dan Alex mendapatkan hukuman cambuk, keduanya terkulai lemas tak bertenaga dan langsung limbung ke tanah ketika salah satu anak buah Keynand melepaskan ikatan tali di kedua tangan dan kaki mereka. Pasalnya Keynand meminta anak buahnya untuk berhenti mencambuk mereka. Ia tidak ingin langsung menghabisi nyawa mereka hari ini juga.
"Sudah cukup hukuman cambuk yang mereka dapat hari ini. Aku ingin hukuman mereka kembali berlanjut besok pagi." ucap Keynand dingin menatap tajam ke arah Viona dan Alex yang sudah tak berdaya.
Keynand tampak puas melihat mereka secara langsung di cambuk oleh para algojonya. Ia bahkan meminta salah satu anak buahnya untuk merekam video mereka saat dilakukan aksi pencambukan, itu sebagai bukti bahwa mereka mendapatkan hukuman cambuk. Sungguh mereka mendapatkan penyiksaan yang setimpal dengan apa yang mereka sudah perbuat.
"Itulah akibatnya jika kalian berkhianat!" ucap Keynand dingin lalu melenggang pergi. Intinya Keynand mengganggap Viona dan Alex seorang pengkhianat.
Kemudian beberapa anak buah Keynand yang sempat melihat penyiksaan tersebut bergidik ngeri, kemudian mereka ikut meninggalkan ruang bawah tanah. Salah satu diantara para anak buah Keynand merasa menyesalkan tindakan bos besarnya yang menghukum orang yang begitu setia dan sangat berjasa dalam anggota The Lion. Tapi, apalah daya pria itu tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki kuasa untuk membebaskan hukuman mereka.
Viona dan Alex sudah tak berdaya, luka yang mereka dapatkan seolah merontokkan gigi dan tulang-tulang belulangnya. Apalagi luka di sekujur punggung Alex tampak menganga mengeluarkan darah segar dan terlihat begitu parah. Berbeda halnya dengan luka cambukan di tubuh Viona, walau Viona tetap mendapatkan hukuman cambuk, namun tidak separah dengan luka di tubuh Alex. Kedua paha mulus Viona yang menjadi sasaran hukuman cambuk.
Hanya deru nafas ngos-ngosan yang berdetak kencang terdengar di ruangan temaram tersebut. Perlahan jemari tangan Alex terangkat diikuti oleh gerakan tubuhnya. Alex ingin memastikan kondisi Viona, apakah Viona baik-baik saja atau tidak. Ia tidak peduli dengan kondisi tubuhnya saat ini, karena sedari kecil ia selalu mendapatkan siksaan dari orang terdekatnya.
"Vi...Viona, apa kau baik-baik saja?" tanya Alex dengan suara parau melirik ke arah Viona yang tampak tengkurap di tanah.
Tak ada jawaban yang dilontarkan oleh Viona, membuat Alex dengan sisa tenaga yang dimilikinya mencoba menggeser tubuhnya untuk mendekati Viona. Hingga Alex mampu mendengar suara isak tangis dan rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Viona.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa melindungimu." ucap Alex penuh sesal. Alex sungguh menyesal tidak bisa melindungi wanita yang dikaguminya itu. "Tapi, aku berjanji akan membawamu keluar dari tempat ini. Mulai sekarang, aku akan menjadi pelindungmu. Tak ada yang boleh menyakitimu, Viona." ucap Alex bersungguh-sungguh dari lubuk hatinya yang terdalam.
Tak ada respon sama sekali yang ditunjukkan oleh Viona terhadapnya. Wanita cantik itu hanya larut dalam kesedihan dan kesakitan yang begitu mendalam yang tengah dirasakannya di sekujur tubuhnya yang lemah. Seumur-umur baru kali ini ia mendapatkan siksaan teramat sadis dan orang yang sudah menyiksanya sama sekali tidak memiliki belas kasihan sedikit pun.
"Aaakkhh....uuuh....huhhh" Alex merintih kesakitan saat berusaha bangkit, ia bahkan sampai terombang-ambing berkali-kali membawa tubuhnya yang tak bertenaga hingga membentur dinding karena pencahayaan yang temaram di ruangan tersebut tidak membuatnya melihat dengan jelas. Lukanya yang parah semakin bertambah parah hingga darah segar yang sempat mengering kembali keluar dari permukaan kulitnya yang terluka.
Alex melihat disekelilingnya tampak sepi. Alex tak lagi melihat algojo yang bertugas menjaga ruang bawah tanah. Sepertinya ketiga pria itu sedang berpesta atau sedang tertidur, hanya dua kemungkinannya.
Pandangan Alex beralih ke arah Viona yang masih saja posisinya tengkurap di atas tanah. Alex berjongkok mengambil jasnya yang tergeletak di tanah, lalu menyampirkannya di atas tubuh Viona.
Kemudian Alex memilih duduk di atas batu hitam berukuran sedang yang selalu dijadikan tempat untuk memenggal kepala para penghianat. Ia akan mencari jalan keluar untuk keluar dari tempat tersebut.
Aku harus membawa Viona keluar dari tempat ini. Aku tidak akan membiarkan mereka kembali menyiksa Viona. Batin Alex.
*
*
*
Nyonya Tias dan Laurent tampak kewalahan menenangkan baby Daisy. Semenjak Keynand pergi, baby Daisy terus menangis tanpa henti, bahkan tidak mau meminum susunya.
Hingga membuat seluruh penghuni Villa tampak panik dengan kondisi baby Daisy. Untuk itu, nyonya Tias memutuskan untuk membawa cucunya ke rumah sakit.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Nyonya Tias tidak menyangka cucu kesayangannya berhenti menangis, mungkin efek terlalu lama menangis membuat cucunya sudah lelah dan haus.
__ADS_1
Laurent langsung menyodorkan dot bayi berisi susu formula baby Daisy ke arah nyonya Tias, kemudian Nyonya Tias perlahan mengarahkan dot bayi ke mulut kecil baby Daisy dan dengan lahapnya baby Daisy menyesap susunya.
Nyonya Tias dan Laurent langsung menghembuskan nafasnya dengan perasaan lega. Akhirnya baby Daisy mau menyusu. Namun di depan mata tiga unit mobil sedang terparkir di tengah jalan seolah sedang menghadang mobil mereka.
Ditambah suasana disekitarnya sudah mulai gelap tanpa adanya pencahayaan dari lampu jalan, sepanjang mobil yang membawa mereka melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.
Ciiiitttt
Sang supir langsung merem mendadak ketika melihat segerombolan orang turun dari mobil dan langsung menghadang mobil mereka.
"Hati-hati pak." tegur Laurent dan tampak kesal keningnya membentur sandaran kursi di bagian depan.
"Maaf nona, sepertinya kita sedang dikepung." ucap supir yang mampu melihat situasi di depannya.
"Apa! segera putar balik." ucap Laurent meminta supir untuk putar balik. Dengan cepat sang supir putar balik dan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.
"Ada apa Laurent? kenapa kita harus putar balik?" tanya Nyonya Tias.
"Kita dalam bahaya tante, segerombolan orang yang berkeliaran di jalan seorang penjahat." jawab Laurent.
"Apa! lalu kita harus bagaimana? aku tidak ingin cucuku kenapa-kenapa." ucap Nyonya Tias yang lebih mengkhawatirkan cucunya.
"Tenang dulu tante. Aku akan menghubungi Keynand untuk membantu kita." ucap Laurent sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Kemudian Laurent segera menghubungi Keynand. Namun panggilannya tak kunjung diangkat oleh Keynand.
Sementara itu tiga unit mobil melaju kencang terus mengikuti mobilnya.
__ADS_1
Sial! kenapa Keynand tidak mengangkat panggilanku. Aiissshh... bisa-bisa kami tertangkap. Semua ini gara-gara baby Daisy, dasar anak pembawa sial. Batin Laurent kesal yang menyalahkan ponakannya sendiri.
Bersambung......