Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 38


__ADS_3

"Jadi, Viona istri tuan Keynand!" ucap Lando terlonjat kaget dan Alex hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.


Ceklek


Sontak Alex dan Lando langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu hingga membulatkan matanya melihat sosok wanita yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri di ambang pintu.


"Nenek Sara sudah menunggu kalian di meja makan. Dari tadi aku berteriak dan gedor-gedor pintu ini, tapi tak ada sahutan dari kalian. Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan di dalam kamar sampai tidak menyahut...." ucap Viona dengan mata memicing dan tidak melanjutkan ucapannya karena Alex langsung memotong ucapan Viona.


"Aahh...kami sedang membahas perjalanan kita selanjutnya. Sehingga kami tak mendengar teriakanmu di luar" ucap Alex sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh begitu. Sepertinya aku mengganggu kalian." ucap Viona tersenyum.


"Tidak!" Alex dan Lando kompak menyahuti ucapan Viona. Membuat Viona menatap heran kepada mereka.


"Kalau pembahasannya sudah selesai, segeralah ke ruang makan. Karena Nenek Sara dan Paman Gober sudah menunggu di meja makan, bukankah kita semua akan makan malam bersama. Jangan sampai mereka kelaparan, apalagi Nenek Sara memasak makanan yang super enak dan menggugah selera." ucap Viona antusias lalu berbalik badan.


Viona memilih melangkah ke ruang makan. Ia tidak bisa menunggu kedua pria itu yang sepertinya sedang berunding di dalam kamar. Perutnya sudah keroncongan hanya menghirup aroma masakan Nenek Sara yang menurutnya super enak. Sehingga Ia sudah tidak sabar untuk mencicipinya.


Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan. Kemudian Nenek Sara mempersilahkan mereka untuk makan. Dengan lahapnya Viona memakan makanannya dengan mata berkaca-kaca.


Baru kali ini ia kembali merasakan seperti memiliki keluarga sungguhan. Kehangatan, canda tawa terdengar di meja makan. Hingga membuat sudut matanya berair, buru-buru Viona mengusapnya dengan cepat. Takutnya ada yang melihatnya.


Selesai makan malam bersama, para pria meninggalkan ruang makan. Sementara Viona dan Nenek Sara masih berada di ruang makan. Tampak Viona begitu cekatan membereskan peralatan makan lalu mencucinya.


Viona tidak membiarkan Nenek Sara untuk membantunya membereskan meja makan. Ia hanya meminta wanita tua itu untuk duduk di kursi.


Nenek Sara tersenyum melihat Viona begitu cekatan mencuci piring. Nenek Sara merasa seolah cucunya kembali bersamanya, pasalnya Viona hampir seumuran dengan cucu perempuannya. Jadi ia menganggap Viona seperti cucunya sendiri.


Sementara itu, Alex, Lando dan Paman Gober berada di ruang tamu dan tengah mengobrol bersama. Kemudian muncullah Viona dan Nenek Sara membawa minuman hangat beserta kue kering untuk mereka.


"Jadi bagaimana?" tanya Paman Gober kepada Alex. Pasalnya mereka tengah mengobrol membahas rencana selanjutnya.


"Aku akan pergi seorang diri malam ini. Jika terus bersama dengan kalian, jangan sampai kita semua tertangkap anggota The Lion. Viona, tetaplah bersama dengan mereka. Jangan pernah keluar dari rumah ini, sebelum aku kembali." ucap Alex sambil melirik ke arah Viona.


"Kau mau pergi? lalu bagaimana dengan kami semua?. Dan berapa lama kau akan meninggalkan kami?" tanya Viona yang terkejut mendengar ucapan Alex.

__ADS_1


"Ya. Aku akan pergi seorang diri. Dan aku yakin kalian semua bisa jaga diri. Viona, aku ingatkan kembali untuk tetap berada disini, ada Lando, Nenek Sara dan Paman Gober yang bersedia menjagamu jadi menurut lah kepada mereka. Mengenai kepergianku, kemungkinan aku akan pulang dua atau tiga hari. Setelah itu, kita akan kembali melanjutkan perjalanan ke kota seberang." jelas Alex.


"Baiklah, aku akan menunggu kepulanganmu." ucap Viona menunduk.


Membuat Lando terkejut dan langsung menoleh ke arah Viona lalu melirik ke arah Alex, hingga akhirnya terbatuk-batuk hanya mendengar ucapan Viona. Sepertinya ia memang sengaja terbatuk-batuk demi menggoda mereka berdua.


Sedangkan Alex hanya mampu tersenyum tipis sambil mengangguk menanggapi ucapan Viona. Lalu Alex berpamitan kepada mereka semua dan bergegas pergi melewati pintu belakang.


*


*


*


Sementara Keynand masih terus mencari keberadaan Viona dan Alex tanpa menunda-nundanya. Keynand bahkan menggunakan helikopter berpindah-pindah ke suatu tempat hanya untuk mencari keberadaan kedua pengkhianat itu.


Bandara, pelabuhan dan tempat-tempat lainnya sudah ia sambangi hanya untuk menemukan sosok penghianat yang melarikan diri. Tapi sayangnya pencariannya belum membuahkan hasil.


"Lanjutkan pencariannya, aku tidak akan membiarkan para penghianat itu pergi jauh. Pokoknya mereka harus tertangkap." ucap Keynand dingin di depan anak buahnya.


Kemudian Keynand bergegas masuk ke dalam mobil yang sudah siap membawanya pulang ke rumah sakit. Lalu sang supir mulai melajukan mobil yang dikendarainya meninggalkan tempat tersebut.


"Suster dimana bayi perempuan yang dirawat di sini?" tanya Keynand kepada suster yang sedang merapikan tempat tidur pasien. Terlihat raut wajah Keynand memancarkan kekhawatiran tidak menemukan putrinya dan ibunya di ruangan tersebut.


"Maaf tuan, sejak sore pasien sudah di bawa pulang. Karena kondisinya sudah membaik." ucap Suster tersebut dengan ranah.


Keynand mengangguk mendengar ucapan suster tersebut. Ia pun memutuskan untuk kembali ke Villa. Karena ia yakin ibunya pasti membawa putrinya ke Villa.


Tapi sebelumnya, Keynand memilih menghubungi ibunya untuk mencari tahu keberadaannya.


"Apa! jadi mama membawa putriku pulang ke mansion?. Kenapa Mama? Tunggu aku di sana, aku akan segera ke sana." ucap Keynand dan panggilan telepon mereka terputus.


Keynand bergegas keluar dari rumah sakit. Lalu meminta sang supir untuk membawanya pulang ke mansion ibunya.


*

__ADS_1


*


*


Sementara di tempat lain.....


Alex baru saja sampai di villa setelah melakukan perjalanan selama tiga jam lamanya. Ia berhasil menyelinap masuk ke dalam Villa melalui jendela kamar.


Padahal beberapa para penjaga tampak berjaga-jaga bahkan melakukan patroli di sekitaran Villa dan sisanya sudah tertidur pulas di pos penjagaan.


Tampak Alex mengendap-endap persis seorang pencuri melangkah menuju kamar yang pernah ditempatinya. Ia masih ingat betul banyak kamera kecil yang selalu ia selipkan pada benda-benda di dalam kamarnya dan juga terdapat cctv yang sengaja disembunyikan di sudut ruangan.


Dan mustahil orang akan tahu di dalam kamarnya terdapat cctv dan kamera kecil. Mungkin benda itu bisa dijadikan sebagai petunjuk dan bukti orang yang sudah menjebaknya.


Tidak hanya itu, Alex bahkan tidak sempat membawa ponselnya karena sudah digiring paksa keluar dari Villa oleh anak buah tuan Keynand.


Alex menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu kamarnya. Ia melihat naik ke sudut plafon untuk melihat cctv yang tertempel di sana.


"Sial!, ternyata orang ini sungguh licik. Bisa-bisanya dia sampai memperhitungkan segala hal yang bisa dijadikan sebagai barang bukti dengan merusak dua cctv Villa sekaligus. Sungguh cerdik orang itu. Pertama, di area ruang tengah dan kedua di sini. Sepertinya pelakunya hanyalah orang dalam." ucap Alex yang mulai menebak.


Kemudian Alex membuka pintu kamarnya dengan hati-hati takutnya ada yang melihat keberadaannya. Lalu Alex bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Alex langsung mencari ponselnya dan tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah menemukan ponselnya tergeletak di lantai di samping tempat tidur.


"Itu dia." ucapnya pelan. Lalu Alex berjongkok mengambil ponselnya dan tak sengaja pandangannya tertuju pada sebuah anting berlian juga tergeletak di lantai tepatnya di dekat ponselnya.


Alex mengambil anting berlian itu beserta ponselnya lalu memasukkannya ke saku celananya. Pandangan Alex beralih pada lampu tidur, ia bergerak mendekati lampu tidur dan mulai menemukan apa yang dicarinya. Sebuah kamera kecil yang selalu diselipkan pada benda di dalam kamarnya. Alex kembali menemukan kameranya kecil di bawah meja dan pas bunga.


"Ini bisa dijadikan barang bukti." ucap Alex menyeringai sambil menatap ke arah cctv yang tersembunyi di dalam kamarnya.


Tidak ingin menunda waktu untuk melihat pelakunya, Alex langsung mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa rekaman cctv yang langsung terhubung melalui ponselnya.


Tak membutuhkan waktu beberapa menit, mendadak raut wajah Alex berubah hingga kedua matanya membola sempurna, bahkan salah satu tangannya sudah di kepal kuat saking geramnya melihat rekaman cctv tersebut melalui ponselnya.


"Laurent!" ucapnya sambil menggertakkan giginya yang sedang diselimuti kabut amarah menyebut nama orang yang sudah menjebaknya.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗


__ADS_2