
Berkali-kali Alex melepaskan kenikmatan dan mengakhirinya dengan memberikan ciuman di kening Laurent, dimana Laurent sudah terlelap dan tak bertenaga.
"Terima kasih." bisiknya dan kembali mengecup bibir Laurent berulangkali lalu menarik tubuh Laurent masuk ke dalam pelukannya.
Alex terkekeh kecil membayangkan bagaimana dirinya begitu agresif ingin meniduri Laurent dan usahanya pun akhirnya berhasil. Alex ikut memejamkan matanya dan tak berselang lama kemudian, ia sudah terlelap dan terbuai mimpi.
*
*
*
Hari terus berlalu hingga berganti bulan mampu membuat hubungan Alex dan Laurent mulai ada kemajuan hingga benih-benih cinta mulai bermunculan diantara mereka. Pasalnya Laurent sedang hamil membuat Alex harus selalu ekstra sabar menjaganya.
Dan Laurent sendiri begitu memanfaatkan kehamilannya untuk terus balas dendam kepada Alex, karena pria itu yang sudah melakukan paksaan lewat ikatan sebuah pernikahan dan pria itu juga yang sudah menghamilinya.
Walaupun dirinya sudah memiliki perasaan kepada pria yang selalu dia anggap pria babu, tetap saja ia belum bisa memaafkan perbuatannya.
Sementara Alex sendiri hanya mampu menerima segala balas dendam yang dilakukan Laurent terhadapnya yang jelas tidak sampai diluar batas. Karena calon penerusnya menjadi alasan dibalik semua ini dan menjadi prioritas utamanya.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain....
Tampak wanita cantik dengan perut terlihat menonjol sedang berdiri di teras rumah sambil menikmati udara sejuk di pagi hari. Kedua mata indahnya tampak berbinar menatap bunga-bunga bermekaran di halaman rumahnya.
Ditambah wangi semerbak bunga dan udara sejuk membuatnya betah dan ingin terus berlama-lama menghirup udara sejuk. Sesekali wanita hamil itu tertawa kecil sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.
Hingga terdengar suara teriakan seseorang dari dalam rumah dan sepertinya orang itu sedang memanggil-manggil namanya, membuat wanita hamil itu mengalihkan pandangannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Suara orang itu semakin jelas di indera pendengarannya, sehingga wanita hamil itu mulai mempercepat langkahnya.
"Vivi, tolong nenek!"
Wanita hamil itu terkejut mendengar suara yang sangat dikenalinya sedang meminta tolong.
"Nenek!" gumamnya dan segera mencari keberadaan neneknya.
"Nenek! kau dimana?" ucapnya sambil melangkah menuju kamar neneknya dan perlahan masuk ke dalam kamar, namun tidak menemukan keberadaan neneknya.
"Vivi...." Tampak wanita tua sudah tergeletak di lantai dan masih sempat memanggil nama cucunya. Dan sesaat kemudian wanita tua itu sudah tak sadarkan diri.
Sementara wanita hamil itu terus mencari neneknya sampai ke dapur, hingga kedua matanya membulat sempurna melihat sosok wanita tua sudah tergeletak di lantai dengan kening berdarah.
"NENEK!!" Wanita hamil itu lalu berteriak memanggil neneknya dan segera menghampirinya.
__ADS_1
"Nenek bangun!...tolong...tolong!" teriaknya meminta tolong.
Hingga beberapa orang berdatangan untuk menolong neneknya.
Wanita hamil itu tidak lain adalah Viona, sedang wanita tua yang sudah tak sadarkan diri adalah nenek Rosi, nenek tua yang sudah menganggapnya sebagai kerabatnya.
Warga desa segera membopong tubuh nenek Rosi ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Bibi Jane yang baru saja pulang dari kebun terkejut melihat Viona mengikuti orang-orang yang sedang membopong tubuh seseorang. Wanita paruh baya itu segera menyusul mereka.
"Vivi, apa yang terjadi?" tanya bibi Jane yang berhasil menyusul Viona.
"Bibi..itu...hiks...hiks" Viona hanya mampu menangis dan begitu sulit untuk menjelaskannya.
Sementara Bibi Jane matanya ikut berkaca-kaca dan menjadi kasihan melihat wanita hamil itu menangis. Perlahan tangannya terangkat lalu mengelus punggung Viona dengan penuh kasih.
"Nenek...nenek Rosi jatuh di dapur dan tak sadarkan diri.. hiks...hiks.." jawab Viona berderai air mata membuat Bibi Jane terkejut mendengarnya.
"Sudah, jangan menangis seperti ini. Ibuku pasti baik-baik saja." ucap Bibi Jane mencoba menenangkannya sambil mengusap air mata Viona. Ia tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak atas musibah yang menimpa ibunya.
"Aku takut jika sesuatu terjadi pada nenek." ucapnya terisak.
"Tenang Vi, Tuhan bersama kita, jadi kita hanya perlu mendoakannya semoga ibuku baik-baik saja." ucap bibi Jane membujuknya dan mencoba untuk terlihat tenang. Padahal dalam hatinya wanita paruh baya itu sedang mengkhawatirkan kondisi ibunya.
Mereka berjalan bersama-sama menuju klinik yang letaknya di samping balai desa dan tak jauh dari rumah mereka.
Di perjalanan menuju klinik, mereka di hadang oleh trio gosip, dimana mereka adalah Norin dan kawan-kawannya.
"Lihatlah, wanita yang tak tahu asal usulnya adalah seorang ****** pembawa sial. Jane jane sekarang kau akan mengerti setelah ibumu sekarat." sinis Norin.
"Tutup mulutmu! kau selalu saja cari masalah dengan keluargaku!." ucap Bibi Jane marah dan ingin menghajar mereka, namun Viona langsung menghentikannya.
"Jangan ladeni bibi. Ayo, kita harus menyusul nenek ke klinik." ucap Viona.
"Hei, wanita hamil diluar nikah, kau tak perlu ikut campur." timpal wanita gemuk dengan riasan wajah menor menatap tajam mereka.
"Jaga ucapanmu!" ucap Viona dengan nada tinggi sambil menunjuk wajah mereka. Matanya memerah memancarkan kilatan amarah mendengar penghinaan yang dilontarkan wanita gemuk itu.
"Ha ha ha... anak yang dikandungmu itu tidak jelas bapaknya siapa, jangan-jangan kau hanya korban pemerkosaan lalu di buang ke hutan." ucap Norin mengejeknya sambil tergelak tawa.
Viona begitu geram mendengar ucapan Norin, wanita itu selalu saja cari masalah dengannya. Tanpa basa-basi Viona langsung menampar keras wajah Norin.
Plakkk
"Sekali lagi kau mengejek calon anakku, aku tidak segan untuk merobek mulut kotor mu itu!." ancam Viona dengan sorot mata tajam dan terlihat tak main-main.
__ADS_1
Sudah cukup dirinya diam mendengar penghinaan mereka selama ini. Sekarang tidak ada lagi yang boleh menghina atau mengejeknya bersama calon bayinya.
Sementara Norin hanya mampu memegangi pipinya yang kebas akibat tamparan keras dari Viona. Seketika ia menjadi bungkam dan tak berani lagi buka suara.
"Ayo bibi" ajak Viona sambil menatap tajam ketiga wanita itu.
"Itulah akibatnya jika mulut kalian tidak dijaga dengan baik. Sekali lagi kau berurusan dengan kami, aku pastikan kalian babak belur." ucap bibi Jane dengan tegasnya. Membuat ketiga wanita itu nyalinya langsung menciut.
Bibi Jane segera menyusul Viona, sedangkan ketiga wanita itu hanya mampu berdengus kesal.
"Awas kalian, tunggu pembalasanku." ucap Norin kesal lalu melenggang pergi. Kedua kawannya segera mengekor di belakangnya.
Di klinik
Viona dan Bibi Jane sudah menemani nenek Rosi di ruang perawatan. Mereka merasa lega setelah dokter menjelaskan perihal kondisi Nenek Rosi yang tekanan darahnya tinggi.
"Aku sangat khawatir kepadamu, nenek" ucap Viona sambil menggenggam tangan nenek Rosi.
"Tak perlu khawatir kan aku, nak. Fokuslah pada kehamilanmu. Semoga aku masih diberikan kesehatan dan bisa melihat anakmu lahir." ucap Nenek Rosi tersenyum.
"Pasti nenek, kau harus sehat. Hanya tersisa tiga bulan lagi kita akan melihatnya dan semoga semuanya dilancarkan." ucap Viona dengan mata berkaca-kaca. Pasalnya usia kehamilannya sudah enam bulan, hanya tiga bulan lagi ia akan menghadapi yang namanya proses persalinan.
*
*
*
Di villa....
Terlihat pria dengan penampilan urakan duduk di sofa memandangi sebuah lukisan seorang wanita terpajang di dinding kamarnya. Wajahnya dipenuhi jambang dan jenggot, begitu pula dengan rambutnya yang juga panjang dan hampir mencapai bahunya.
Tatapan pria itu begitu kosong memandangi sosok wanita cantik dalam lukisan tersebut, hingga lamunannya terbuyarkan saat tangan kecil menyentuh kakinya.
"Daddyyy."
Suara merdu anak kecil mampu membuat pria itu mengalihkan pandangannya dari lukisan indah tersebut. Hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hanya melihat tingkah menggemaskan anak kecil perempuan yang memegangi kakinya untuk dijadikan pegangan saat akan berdiri.
Pria itu lalu mengangkat tubuh anak perempuan itu lalu mendudukkannya di pangkuannya.
"Uuh putri cantik Daddy sudah pintar." ucapnya lalu mencium gemes pipi gembul putrinya.
Seketika anak perempuan itu tergelak tawa merasakan jambang ayahnya mengenai pipinya. Pria itu juga tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan putrinya. Sosok pria dan anak perempuan itu adalah Keynand bersama putri kecilnya.
Bersambung.....
__ADS_1