
Setelah itu, Keynand kembali melanjutkan aksinya. Dia sudah tidak sabaran untuk melakukan penyatuan dengan istrinya, dimana pikirannya sudah diselimuti hawa nafsu.
Hingga akhirnya Keynand berhasil menerobos masuk ke dalam mahkota milik Viona. Seketika Viona menjerit histeris hingga meneteskan air matanya, mahkota yang dijaganya selama ini di renggut oleh Keynand, pria kasar yang sudah berstatus sebagai suaminya.
Hilang sudah harta berharganya yang selalu ia jaga selama ini. Tapi seenggaknya dia menepati janjinya kepada mendiang ibunya, bahwa hanya suaminya yang boleh mengambil mahkotanya.
Aku membencimu, Keynand. Batin Viona yang menjerit dalan hati.
Sementara itu, Keynand begitu bahagia berhasil memiliki istrinya. Disela-sela aktivitas bercintanya, Keynand selalu menyuarakan nama Jasmine, membuat hati Viona begitu sakit dan hancur berkeping-keping dengan perasaan sesak di dada, seolah tubuhnya hanya dijadikan sebagai pelampiasan nafsu.
Keynand sendiri begitu menggila bercinta dengan Viona, Keynand begitu menikmatinya bahkan sampai melakukannya berkali-kali, lagi dan lagi, hingga tidak membiarkan Viona untuk beristirahat.
Sedangkan Viona yang awalnya selalu memberontak untuk lepas dari kungkungngan tubuh Keynand, karena tidak ingin disentuh oleh Keynand.
Akan tetapi, perlahan lama kelamaan Viona mulai terbawa suasana dengan permainan Keynand yang menyetubuinya dengan begitu lembut dan penuh cinta tanpa harus menyakitinya. Hal itu wajar saja karena Keynand mengganggap yang bercinta dengannya adalah mending istrinya bukan wanita tawanannya. Tapi kenyataannya malah sebaliknya.
Walau perlakuan Keynand begitu lembut kepadanya. Namun sayang seribu sayang, tetap saja hati Viona begitu sakit bagaikan tertusuk ribuan jarum, dia hanya mampu menerima nasibnya setelah ini.
Jujur saja Viona sama sekali tidak bahagia bisa bercinta dengan Keynand. Dia sungguh menyesali dirinya sendiri yang tidak bisa melawan pria itu.
Dan tersimpan sebuah ketakutan besar dalam dirinya, karena pria yang baru saja merenggut mahkotanya sedang dalam pengaruh alkohol. Sumpah yang pernah diucapkan oleh pria itu, malah diingkari saat ini. Bagaimana jadinya jika pria itu terbangun esok pagi. Apakah yang akan dilakukan kepadanya, sungguh Viona sudah mewanti-wanti akan hal itu.
Keynand mengeram nikmat mengakhiri aktivitas bercintanya bersama Viona. Sedangkan Viona sudah terkulai lemas dengan seluruh tubuhnya begitu lelah habis melayani suaminya.
Terlihat tatapan mata Viona begitu kosong menatap langit-langit kamarnya sambil mengatur deru nafasnya yang masih tengal-sengal dengan dada tampak naik turun.
Tak berselang lama, Viona memilih untuk memejamkan kedua matanya, berharap semua itu hanyalah sebuah mimpi. Hingga akhirnya dia tertidur pulas dalam pelukan Keynand. Karena tubuhnya sangat lelah habis bercinta dengan Keynand. Sementara Keynand sendiri juga sudah terlelap dan terbuai alam mimpi.
Sementara itu, tampak baby Daisy tertidur begitu pulasnya. Padahal beberapa jam sudah berlalu, namun bayi mungil itu belum juga bangun, karena setiap dua jam sekali ia terbangun untuk menyusu, sepertinya bayi mungil itu tahu betul bahwa kedua orang tuanya sedang berolahraga malam.
__ADS_1
Dua jam kemudian, Viona terbangun saat mendengar suara tangis baby Daisy. Dia mulai menggeliat dalam pelukan Keynand hingga meringis kesakitan merasakan pada area selangkangannya terasa sakit. Di samping itu, seluruh tubuhnya benar-benar remuk dan dia masih merasakan lelahnya habis bercinta. Ternyata semua itu memang lah kenyataan dan bukan hanya sebuah mimpi.
Namun Viona tidak ingin memikirkan hal itu. Dengan hati-hati Viona melepaskan tangan kekar Keynand yang memeluk perutnya. Dia sempat melirik tajam ke arah pria itu yang sedang tertidur pulas. Setelah itu, dia bergegas turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya.
Viona meringis kesakitan sembari memakai pakaiannya. Kemudian Viona melangkah dengan langkah tertatih-tatih menuju kamar mandi untuk cuci muka terlebih dahulu sebelum membuatkan susu untuk baby Daisy.
Sampai tiga kali Viona terbangun untuk mengurus baby Daisy. Setelah selesai mengurusi keperluan baby Daisy, dia kembali melanjutkan tidurnya.
*
*
*
Keesokan harinya
Seketika Keynand mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Dia pun mengingat bahwa mendiang istrinya datang menemuinya, bahkan mereka sampai menghabiskan waktu bersama semalaman.
Namun Keynand langsung berpikir logis, tidak mungkin istrinya datang menemuinya. Karena orang yang sudah pergi untuk selama-lamanya dari muka bumi ini, tidak akan pernah untuk kembali lagi. Apalagi sampai menghabiskan malam bersamanya.
Seketika pikiran Keynand mendadak gusar, dia langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Lantas siapakah wanita yang sudah dia ajak bercinta semalam. Karena mabuk, dia bahkan tidak bisa mengingat jelas kejadian semalam.
Keynand langsung mengalihkan pandangannya mencari keberadaan wanita tawanannya, namun dia tidak menemukan wanita tawanannya berada di dalam kamarnya. Jangan-jangan wanita tawanannya yang sudah bercinta dengannya, pikirnya yang mulai gusar.
Keynand memutuskan untuk membersihkan diri. Ia menyingkirkan selimut dari tubuhnya hingga matanya memicing melihat noda darah di atas sprei berwarna putih.
"Ini tidak mungkin, sepertinya bukan wanita itu." ucap Keynand tersenyum getir dan tidak ingin membenarkan bahwa nona darah itu adalah darah perawan Viona.
"Ataukah jangan-jangan Laurent. Tapi, tidak mungkin wanita itu masuk ke dalam kamarku di waktu larut malam." gumam Keynand sambil mengusap rambutnya kebelakang. Dia pun memilih memakai boxernya, lalu bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Sementara Viona sedang bersama baby Daisy di balkon Villa. Viona tampak menggendong baby Daisy sambil menatap pemandangan pegunungan yang begitu indah di pagi hari.
Bayang-bayang kejadian semalam masih saja mengganggu pikirannya. Padahal Viona mencoba melupakan semua kejadian semalam dengan cara menyibukkan dirinya sendiri mengurusi baby Daisy.
"Aku ingin bicara denganmu." ucap suara berat seseorang dari arah belakang tempatnya berdiri.
Sontak Viona langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang empunya. Hingga kedua matanya membulat sempurna melihat pria yang sudah merenggut mahkotanya.
"Keynand" ucap Viona dengan suara pelan hingga tidak terdengar oleh pemilik nama tersebut.
"Aku ingin bicara denganmu" kembali Keynand mengulang ucapannya. Kedua matanya langsung memandang intens wajah cantik Viona yang tampak pucat. Bahkan bibir wanita itu terlihat bengkak. Pandangan Keynand beralih pada leher jenjang Viona, namun sayangnya dia tidak bisa melihat leher jenjang wanita tawanannya karena tertutupi oleh kerah jaket yang panjangnya sebatas leher.
"Ya sudah, katakan saja disini." ucap Viona cuek sambil buang muka.
"Katakan dengan jujur, bahwa kau yang berada di kamarku semalam atau tidak." ucap Keynand dingin dengan tatapan tajam.
"Ya. Aku memang wanita yang berada di dalam kamarmu semalaman, memangnya kenapa?" tanya Viona sambil memutar bola matanya jengah.
"Apa kau wanita yang sudah bercinta denganku semalam?" tanya Keynand dan Viona tidak menggubris ucapannya.
"Ayo jawab!" bentak Keynand meminta jawaban darinya.
"Aku memang selalu berada di dalam kamarmu. Tapi, bukan aku wanita yang sudah bercinta denganmu." tegas Viona dengan tatapan dingin lalu buang muka.
"Jangan bohong, aku tahu kau wanita yang sudah bercinta denganku." timpal Keynand dengan entengnya. Refleks Viona langsung mengalihkan pandangannya menatap kearahnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku orang yang sudah bercinta denganmu? apa kau ingin menghabisi ku saat ini juga!" tantang Viona tanpa kenal takut.
Bersambung....
__ADS_1