Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 43


__ADS_3

Sementara itu, Keynand yang sedang menunggu kedatangan anak buahnya yang akan membawa Viona ke hadapannya tampak mondar-mandir di ruangan pribadinya.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya membuat Keynand mengulurkan tangannya mengambil ponselnya lalu membukanya cepat.


Kedua mata Keynand membulat sempurna melihat rekaman video yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Tanpa basa-basi Keynand langsung berlari keluar dari ruangannya. Pikirannya langsung tertuju pada wanita tawanannya.


'Viona' nama itulah yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya sepanjang mengemudikan mobilnya menuju ke suatu tempat. Ia berharap segera sampai di tempat itu


"Arrgghhh." Keynand memukul stir mobilnya dan sesekali menjambak rambutnya di landa frustasi. Tidak seharusnya ia langsung menghukum Viona dan Alex sebelum mendapatkan bukti akurat. Tapi, ia terlalu gegabah dan dikuasai amarah menggebu-gebu pada waktu itu.


Dan beginilah jadinya, Keynand sungguh merutuki kebodohannya. Baru kali ini ia menyesali perbuatannya, seharusnya ia mempercayai dan mendengarkan ucapan sekretarisnya tempo hari. Namun semuanya sudah terjadi, ibaratnya nasi sudah jadi bubur, penyesalan selalu datangnya belakangan.


Sambil berkendara ugal-ugalan, Keynand menghubungi anak buahnya untuk segera menyiapkan helikopter untuknya. Ia tidak ingin buang-buang waktu. Ia harus menjemput Viona, sebelum semuanya terlambat.


Tak lupa Keynand menelpon pengacaranya yang mengurus berkas perceraiannya. Ia meminta pengacaranya untuk membatalkan perceraiannya. Ia tidak ingin bercerai dengan Viona.


Keynand melajukan mobilnya menuju salah satu hotel miliknya. Di sanalah helikopternya akan mendarat tepatnya di atas rooftop hotel yang akan membawanya pergi.


Tak berselang lama kemudian, mobil yang dikemudikannya mulai memasuki pelataran hotel. Keynand langsung memarkirkan mobilnya, setelah itu bergegas turun dari mobil.


Lagi-lagi Keynand melangkah tergesa-gesa bahkan sampai berlari memasuki hotel, persis orang yang sedang dikejar waktu. Ya, dia memang sedang di kejar waktu demi bisa bertemu dengan wanita tawanannya.


Sementara helikopter yang akan membawanya ke daerah tempat persembunyian Viona sudah terparkir di atas rooftop hotel dan sepertinya sudah siap terbang yang akan dikendarai oleh Pilot profesional.


Saat melihat kedatangan sang tuan muda, dua orang pria bergerak cepat menyambut kedatangan tuannya. Sedangkan dua lainnya membukakan pintu untuk sang tuan muda.


Keynand bergegas naik ke atas helikopter dan mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang. Setelah itu, helikopter mulai terbang tinggi menuju daerah tujuan.


*


*


*


Sementara itu, Viona dan Lando tampak kesulitan berjalan di dalam hutan yang gelap. Hanya pencahayaan dari ponsel miliknya masing-masing yang mampu menerangi jalan yang mereka lewati.


Apalagi mereka melewati semak-semak, ranting pohon dan jalan yang curam dan juga terjal. Padahal Baterai ponsel keduanya sudah hampir habis dan mereka tidak tahu lagi apa yang akan terjadi jika baterai ponselnya sudah habis. Ditambah suara-suara hewan penghuni hutan mulai terdengar jelas membuat buluk kuduk mereka berdiri.


Baik Viona dan Lando mempercepat langkahnya, hingga membuat Viona tersandung akar pohon.


Brukk

__ADS_1


Viona langsung terjatuh, bersamaan pula ponsel yang dipegangnya juga ikut terlempar jauh hingga terjatuh ke jurang. Viona terkejut, untung saja tubuhnya tidak ikut terjatuh ke jurang. Pasalnya ia tidak mampu melihat dengan jelas disekelilingnya, hanya pencahayaan seadanya dari ponselnya yang sedikit membantunya melewati jalan bersemak.


"Viona, kau tidak apa-apa?" tanya Lando.


"Aku baik-baik saja. Tapi, ponselku terjatuh di jurang" ucap Viona dengan wajah sendu sembari bangkit berdiri.


"Tidak usah khawatir, ponselku masih bisa digunakan untuk....." Lando tidak melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba ponselnya mati, sepertinya baterai ponselnya sudah habis.


"Ya, Viona, bagaimana ini? baterai ponselku juga habis. Jika seperti ini, kita akan terjebak di dalam hutan." ucap Lando sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tenang, bagaimana kalau kita istirahat saja." ucap Viona dengan usulannya.


Namun tiba-tiba terdengar suara auman serigala membuat Viona dan Lando terlonjat kaget bahkan sampai berteriak histeris.


"Aaaaaaa.. aaaaaaa" Viona dan Lando menjerit ketakutan hingga hampir saja tubuh mereka bertubrukan.


"Ayo Viona, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Di sini sangat berbahaya." ucapnya memelas.


"Iya...iya." balas Viona cepat yang juga dirundung ketakutan.


Dengan suasana malam gelap gulita, mereka berjalan dengan sangat hati-hati dan hanya menggunakan instingnya masing-masing. Sesekali mereka beristirahat sejenak lalu melanjutkan kembali perjalanannya.


Dor


Dor


Dor


Diluar dugaan seketika lampu senter langsung menyorot ke arah mereka. Membuat Viona dan Lando terkejut bukan main dan perlahan berjalan mundur melihat segerombolan orang langsung mengepungnya dan masing-masing membawa senjata api.


"Heh, rupanya ada dua mangsa yang memasuki hutan milikku." ucap pria jangkung dengan suara seraknya diantara segerombolan orang tersebut.


"Jerox" gumam Lando terbelalak kaget mengenali pria itu.


"Viona, ayo lari." bisik Lando melirik ke arah Viona. Lalu menarik tangan Viona untuk segera membawanya lari.


"Ha ha ha, terus lah berlari sejauh mungkin. Karena jika aku menangkap kalian, maka aku pastikan kalian akan menjadi santapan hewan peliharaanku." ucap pria itu diiringi gelak tawa. Pria itu tidak lain adalah Jerox, musuh bebuyutan Keynand. Jerox dan para anak buahnya berada di dalam hutan karena sedang berburu.


Saat anak buahnya akan mengejar dua orang asing yang berhasil masuk di hutan miliknya, Jerox langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan anak buahnya.


"Biarkan mereka berlari, setelah itu barulah kita memburunya." ucap Jerox dengan seringai licik diwajahnya. Seketika anak buahnya tampak patuh mendengar ucapannya.

__ADS_1


Sementara Viona dan Lando terus berlari melewati jalan tanpa arah tujuan, yang jelas mereka harus pergi sejauh mungkin dari segerombolan orang tadi. Karena mereka semua penjahat yang sangat berbahaya.


Mereka terus berlari bahkan sama sekali tidak tahu jurang sudah menanti. Dan tak sengaja Lando tergelincir hingga terjatuh ke jurang.


"Aaaaaaa." Perlahan suara Lando hilang bak di telan bumi.


"Lando!" teriak Viona memanggil nama Lando, karena ia begitu jelas mendengar Lando terjatuh. "Landoooo!" teriak Viona mencoba mencari-cari Lando di bawah kakinya sambil meraba-raba tanah dengan menggunakan instingnya saja.


"Lando, hiks.... hiks.... kau jangan bercanda. Jangan tinggalkan aku sendiri di hutan ini, aku sungguh takut." ucap Viona terisak.


Viona kembali mendengar suara tembakan dan setelahnya terdengar suara tawa seseorang.


"Ha ha ha, lari lah sejauh mungkin!" ucap seseorang dengan suaranya yang begitu menggema di dalam hutan.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki seseorang mulai mendekat ke arahnya. Mau tak mau Viona terpaksa meninggalkan Lando yang sepertinya terjatuh ke jurang.


"Maafkan aku Lando, aku harus pergi." lirik Viona dengan isak tangis. Air mata Viona terus bercucuran membasahi pipinya sepanjang mempercepat langkahnya melewati semak-semak. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan agar bisa keluar dari hutan tersebut.


Viona berlari tak tentu arah bahkan berkali-kali ia terjatuh hingga membuat kedua lututnya terluka. Kembali Viona menangis tersedu-sedu merasakan rasa sakit di bagian lututnya.


"Hiks... hiks... hiks, mommy.. Tolong bawa Viona ke tempat mommy. Viona ingin hidup bersama mommy selamanya..." lirih Viona sesegukan yang kembali mengingat mendiang ibunya.


Dengan sekuat tenaga, Viona kembali bangkit saat mendengar suara orang tadi. Perlahan ia berjalan tertatih-tatih menyeret kedua kakinya yang terluka.


Viona berusaha untuk kuat, namun apalah daya ia sudah tak sanggup lagi untuk berjalan dan refleks tubuhnya terhempas ke tanah. Sebelum tak sadarkan diri, ia sempat melihat bayangan mendiang ibunya dan juga Keynand hingga akhirnya semuanya menjadi gelap, bersamaan tubuhnya menggelinding turun ke jurang.


***


Sementara itu Keynand mendadak merasakan perasaan sedih, bahkan ia sempat meneteskan air mata. Keynand sama sekali tidak tahu dengan perasaannya saat ini, seolah ribuan jarum menusuk ulu hatinya.


"Viona, ku harap kau baik-baik saja." ucapnya dengan rasa sesak di dada. Jika mengingat kembali perbuatannya kepada wanita itu, sama sekali tidak ada satupun hal baik yang pernah ia lakukan untuk wanita tawanannya.


Tubuh Keynand mematung menatap rumah sederhana yang menjadi tempat persembunyian Viona, istrinya. Tanpa basa-basi ia melangkah mendekati rumah itu. Namun langkahnya terhenti saat salah satu anak buahnya menghampirinya.


"Maaf tuan, nona Viona sudah pergi!"


Deg!


Seketika jantung Keynand seakan berhenti berdetak saat mengetahui bahwa Viona sudah pergi.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏


__ADS_2