Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 54


__ADS_3

"Uuh putri cantik Daddy sudah pintar." ucapnya lalu mencium gemes pipi gembul putrinya.


Seketika anak perempuan itu tergelak tawa merasakan jambang ayahnya mengenai pipinya. Pria itu juga tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan putrinya. Sosok pria dan anak perempuan itu adalah Keynand bersama putri kecilnya.


"Sayang, ayo kita jalan-jalan. Daddy akan mengajakmu ke taman, tersenyumlah jikalau kau setuju." ucap Keynand mengajak putri kecilnya berbicara. Sontak putri kecilnya yang tampak menggemaskan itu langsung tersenyum dan juga bertepuk tangan tanda ia setuju dengan ucapan Daddy-nya.


Keynand dengan gemesnya menggendong putri kecilnya yang sudah berusia sepuluh bulan. Dimana putri kecilnya itu sudah bisa berjalan dan juga sudah pandai berbicara menyebut kata pertama yang diketahuinya seperti memanggilnya Daddy dan terkadang menyebut mommy.


Padahal selama beberapa bulan ini baby Daisy tidak lagi memiliki ibu, apalagi mendapatkan kasih sayang dari ibu sambungnya yang sudah pergi entah kemana.


Keynand membawa putri kecilnya ke taman belakang. Ia ingin memperkenalkan putrinya hal-hal baru tentang alam dan lingkungan sekitarnya. Dengan bahagianya baby Daisy begitu antusias melihat aneka bunga berwarna-warni tampak bermekaran di taman.


Keynand tersenyum tipis melihat tingkah putri kecilnya. Andai saja putri kecilnya tidak bersamanya, mungkin ia menjadi pria frustasi dan juga gila karena ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintainya, termasuk orang yang disayanginya. Cukup sekali seumur hidupnya merasakan yang namanya kepedihan mendalam dan ia tidak ingin hal tersebut terulang kembali.


Ia masih berharap bisa menemukan Viona, tak ada hal lain yang diinginkannya selama ini selain bertemu dengan Viona. Mau bagaimana lagi di saat dirinya mulai menyadari perasaannya terhadap wanita tawanannya, saat itu pula ia tidak bisa lagi bertemu dengan wanita tawanannya.


Aku percaya, kita pasti akan bertemu kembali Viona. Kemanapun kau pergi, aku begitu yakin bahwa kau akan kembali di sisiku. Batin Keynand dengan mata berkaca-kaca.


Setiap kali mengingat Viona dadanya mendadak sesak dan entah mengapa perasaannya menjadi sedih dan serba salah.


“Daddyy.” Baby Daisy kembali memanggil ayahnya lalu menunjuk bunga anggrek bulan yang tergantung di pohon. Anak itu seolah meminta kepada ayahnya untuk memetik bunga anggrek tersebut untuk dirinya.


"Kau menginginkannya nak? baiklah Daddy akan ambilkan untukmu." ucap Keynand tersenyum lalu memetiknya, kemudian bunga anggrek itu diberikan kepada putrinya.


Dengan antusiasnya baby Daisy memainkan bunga anggrek tersebut dan sesekali mengoyaknya supaya hancur, hingga ia bisa membagi-bagi beberapa bagian lalu menerbangkannya di udara.


"Rupanya kalian disini! Mama sempat ke lantai atas untuk mencari kalian. Untung Mary melihat kalian ke sini." ucap nyonya Tias tersenyum lalu meletakkan teh hangat beserta cemilan di atas meja lipat yang dibawa oleh Bu Mary.


Keynand tidak menggubris ucapan ibunya. Ia hanya sibuk berkeliling membawa putrinya melihat aneka macam bunga dan juga tanaman yang tumbuh subur di taman belakang Villa.


"Keynand, kapan kau akan membawa putrimu kembali ke rumah? jika kau terus berada di villa sampai putrimu dewasa, otomatis putrimu tidak bisa mengenal dunia luar dan tak mampu untuk berbaur dengan orang-orang di luar sana." jelas ibunya yang mulai cemas dengan tumbuh kembang cucunya.


"Aku dan putriku sudah betah tinggal disini mama. Jadi, jangan cemaskan kami." timpal Keynand dengan santai dan tak ingin mengambil serius ucapan Ibunya.

__ADS_1


"Mama benar-benar tidak setuju dengan keputusanmu. Mulai sekarang bukalah lembaran baru dalam hidupmu. Lupakan Viona, karena mau bagaimana pun Viona tidak akan mungkin kembali kepadamu. Kau sudah menyakitinya, wanita yang tersakiti pasti akan berpikir dua kali untuk kembali pada pria yang sudah menyakitinya." jelas ibunya.


Karena selama enam bulan ini, putranya begitu terpukul dan benar-benar kehilangan sosok Viona. Begitu halnya dengan cucu kesayangannya yang juga seolah-olah mencari keberadaan Viona. Namun wanita itu sudah pergi entah kemana.


"Aku tidak bisa, Mama. Aku akan berusaha keras menemukan Viona, lalu meminta maaf kepadanya, walau sampai seribu kali aku akan tetap meminta maaf kepadanya yang jelas dia mau memaafkanku. Hatiku sudah memilih Viona menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anakku. Aku sudah mengatakannya pada mendiang istriku dan berjanji akan membahagiakan Viona selama berada di sisiku." ucap Keynand lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tapi kau sudah menyakiti Viona. Kau menyalahkan Viona dan menghukumnya atas tindakan yang tidak dia perbuat." Nyonya Tias melontarkan kata-kata protes kepada putranya.


"Cukup mama, kejadian itu murni atas kesalahpahaman. Laurent yang menjadi biang keroknya dan sudah merencanakannya. Dan begitu bodohnya aku langsung percaya dengan apa yang kulihat pada saat itu." ucap Keynand sambil menunduk penuh sesal.


"Aku bersumpah akan membalas perbuatan Laurent, karena wanita itu aku harus kehilangan Viona." ucap Keynand bersungguh-sungguh.


"Tidak nak, yang lalu biarlah berlalu. Biar Tuhan yang membalas perbuatan wanita itu." ucap ibunya dengan nasihatnya.


"Sebaiknya kita pulang ke rumah dan mulailah hidup baru. Lupakan semua kenangan Viona yang tertinggal di villa ini. Fokuslah pada masa depan bersama putrimu. Karena Mama hanya ingin melihat kalian bahagia. Tolong pikirkan baik-baik ucapan mama." ucap Ibunya sambil menepuk bahu putranya, lalu melangkah masuk ke dalam villa.


"Apa yang harus Daddy lakukan nak? apa kau setuju dengan ucapan Oma? kau ingin kita pulang ke rumah atau menetap di sini?" tanya Keynand kepada putrinya.


Sementara baby Daisy hanya mampu tersenyum sambil bertepuk tangan dan tampak riang gembira.


Sudah saatnya ia harus memulai kehidupan baru. Jika suatu saat nanti ia bertemu dengan Viona, ia tidak akan pernah lagi melepaskan wanita itu.


Dan sore itu juga Keynand memutuskan membawa putri kecilnya pulang ke mansion mewahnya. Tidak seharusnya ia terus bersembunyi di villa miliknya. Jika musuhnya berdatangan ia akan siap melawannya.


Penjagaan super ketat dilakukan di mansion miliknya. Semua itu dilakukan agar putri kecilnya tetap aman. Dua babysitter profesional yang ahli beladiri juga dipersiapkan untuk menjaga putrinya.


Diawal-awal selama tinggal beberapa hari di mansion mewahnya, hari-hari yang dilalui oleh Keynand begitu berat karena masih berasa dalam hidup penyesalan. Namun perlahan ia mencoba keluar dari semua itu dan memulai kembali hidupnya.


Perlahan Keynand merubah penampilannya seperti biasanya, yakni tampil rapi dengan setelan jas dan rambut selalu klimis. Itulah menjadi ciri khas seorang Keynand.


Tapi melihat ke belakang, selama enam bulan terakhir ini, Keynand menjelma menjadi pria urakan yang seolah putus asa ditinggal pergi oleh orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Kesehariannya lebih betah menyendiri di villa dibandingkan melakukan rutinitasnya bekerja seperti rutinitas sebelum-sebelumnya.


*

__ADS_1


*


*


Pagi ini Keynand terlihat rapi dengan setelan jas berwarna hitam yang melekat ditubuh proporsionalnya. Sudah dua bulan ia kembali aktif bekerja di perusahaannya.


Ibunya begitu senang melihatnya kembali beraktivitas. Wanita paruh baya itu hanya takut jika putranya terus larut dalam penyesalan dan bisa saja putranya depresi dan memilih mengakhiri hidupnya. Itulah yang ditakutkan nya.


"Mama, aku berangkat ke kantor." pamit Keynand pada ibunya. Lalu bergerak mendekati putri kecilnya yang sedang minum susu di kursi tepat di samping ibunya.


Keynand tersenyum lalu mencium pipi gembul putrinya.


"Daddy berangkat kerja sayang. Jangan nakal ya." ucapnya kepada putrinya.


"Loh, kau belum sarapan sayang." ucap ibunya yang sedang mengupas buah jeruk.


"Aku bisa sarapan di kantor, Mama. Aku bisa telat." ucap Keynand melihat jam di pergelangan tangannya lalu berjalan tergesa-gesa keluar rumah.


Sang supir dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya. Keynand bergegas masuk ke dalam mobil. Lalu sang supir segera melajukan mobilnya menuju perusahaan.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Tampak warga berdatangan dan memenuhi pekarangan rumah milik nenek Rosi. Semua orang terlihat marah dan beberapa diantaranya membawa kayu dan golok seolah akan menebas seseorang.


"Usir mereka!" teriak orang-orang dengan geramnya.


"Bakar rumah mereka!" segerombolan orang kembali berteriak untuk membakar rumah sederhana nenek Rosi yang letaknya di lereng gunung.

__ADS_1


Tampak penghuni rumah itu diseret paksa keluar dari rumah miliknya dan akan dihakimi.


Bersambung....


__ADS_2