Terpaksa Menikahi Tawanan-ku

Terpaksa Menikahi Tawanan-ku
Bab 14


__ADS_3

"Besok pagi-pagi aku akan kembali ke kota untuk mengurus masalah perusahaanku. Jadi, aku percayakan putriku kepadamu." ucap Keynand ragu yang belum bisa percaya sepenuhnya kepada Viona.


"Baik, aku akan menjaganya dengan baik." ucap Viona cuek sambil membantu baby Daisy menyusu.


Walaupun begitu, Keynand tidak akan sepenuhnya mempercayakan putrinya kepada Viona. Dia akan memasang cctv di dalam kamarnya dan mengaktifkan kembali cctv yang tersembunyi di setiap sudut Villa.


"Memang tugasmu sekarang adalah menjaga putriku." ucap Keynand dengan tatapan sinisnya.


"Dengar itu baby girl, ayahmu yang sudah meminta tante untuk menjagamu. Jadi jangan nangis jika sampai ayahmu pergi untuk bekerja." ucap Viona tersenyum sambil mengelus puncak kepala baby Daisy yang sudah tenang dalam pangkuannya.


Keynand melangkah mendekat ke arahnya. Dia ingin memastikan bahwa putrinya benar-benar tenang selama bersama Viona. Dan benar saja, putrinya begitu nyaman dalam pangkuan Viona. Lagi-lagi dia melihat mereka memiliki ikatan batin, persis ibu dan anak.


Keputusan ibunya untuk memintanya menikahi Viona sepertinya ada benarnya. Karena melihat keakraban Viona bersama putrinya sudah tidak diragukan lagi. Viona terlihat begitu menyayangi putrinya dan siapapun yang akan melihat mereka pastinya akan mengganggapnya seperti ibu dan anak.


Walau kenyataannya Viona bukanlah sosok wanita yang sudah melahirkan darah dagingnya. Tapi, wanita tawanannya itu memiliki sifat keibuan dan mampu menjaga serta merawat bayinya layaknya merawat anak sendiri. Wanita tawanannya benar-benar mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada putri semata wayangnya.


"Kapan Mary dan Ben akan datang?" tanya Keynand membungkukkan badannya di samping Viona sambil mengusap lembut jemari tangan putrinya.


"Kemungkinan besok atau lusa" jawab Viona dengan peraduganya. Sungguh dia tidak tahu kapan pasangan suami istri itu akan datang, mengingat anak mereka jatuh sakit.


"Oh. Secepatnya aku akan menambah pelayan untuk membantumu mengurus baby Daisy." ucap Keynand.


"Tidak perlu, aku bisa merawat putrimu seorang diri. Justru aku lebih senang merawatnya sendiri dibandingkan harus berbagi dengan orang lain. Lagian, jika Bu Mary sudah pulang, dia bisa sedikit bantu-bantu." ucap Viona melontarkan kata-kata protes.


"Baiklah, tidak masalah jika seperti itu. Tapi, aku akan menyiapkan beberapa bodyguard terbaikku untuk menjaga Villa ini. Semua itu kulakukan demi keamanan putriku seorang." tegas Keynand. Sungguh dirinya tidak bisa tenang jika para bodyguardnya tidak berjaga-jaga di Villa miliknya. Mengingat musuh bebuyutannya kembali datang untuk mengincar orang-orang terdekatnya, yakni putri semata wayangnya.


"Ya, memang sepatutnya kau harus menyiapkan bodyguard mu untuk menjaga Villa mewahmu. Karena tidak menutup kemungkinan bisa saja aku kabur dari villa ini." ucap Viona tertawa kecil yang menimpali ucapan Keynand dengan sedikit candaan.


Sontak membuat Keynand langsung menoleh kearahnya. Kedua mata Keynand langsung menatap tajam manik mata Viona, membuat Viona langsung menundukkan pandangannya. Karena tidak berani bertatapan langsung dengan Keynand, dimana jarak mereka begitu dekat.

__ADS_1


Keynand langsung menyentuh dagu Viona, agar wanita tawanannya mau bertatap-tatapan dengannya. Hingga membuat Viona menjadi risih menatap kedua manik mata Keynand yang begitu tajam menatapnya, ditambah posisi mereka begitu dekat.


"Aku tidak suka dengan wanita pembangkang!. Aku sudah mengikatmu dengan rantai di villa ini. Kemanapun kau pergi, dengan mudahnya aku bisa menemukanmu kembali. Karena kau hanya sebuah barang yang harus selalu mengabdikan hidupmu kepada tuhanmu di villa ini! ingat itu baik-baik." ucap Keynand dengan entengnya lalu melepaskan tangannya yang sempat menyentuh dagu Viona.


"Aku hanya bercanda tuan, tapi kau malah mengaggapnya serius." ejek Viona tersenyum sinis sembari buang muka.


Keynand mengepalkan tangannya dan memilih melangkah keluar dari kamarnya. Dia tidak ingin terus meladeni wanita tawanannya yang mulai mengeluarkan sifat aslinya.


*


*


*


Sementara itu, terlihat Laurent sedang mondar-mandir di teras Villa dan terlihat sedang berpikir keras. Sampai-sampai dia tidak memperhatikan situasi disekitarnya hingga akhirnya dia bertubrukan dengan sosok pria tinggi.


"Harusnya aku yang berucap seperti itu nona!" ucap pria itu dengan suara baritonnya dan memasang wajah datarnya.


"Hei! kau menyalahkanku, jelas-jelas tubuhmu yang besar itu yang sudah menubruk tubuhku!. Ditaruh kemana itu kedua matamu yang lebar, sampai kau tidak melihatku berdiri di sini, hah!" kesal Laurent sambil menunjuk-nunjuk wajah pria itu, seolah ingin mencabit-cabitnya sampai hancur.


"Nona lah yang tidak memperhatikan disekitar. Ini jalan menuju pintu dan anda mondar-mandir di sini. Jadi bukan salah aku jika tidak sengaja...." ucap pria itu yang mulai terpancing emosi. Ditambah pria itu tidak sampai melanjutkan ucapannya. Karena wanita itu langsung memotong ucapannya.


"Apa! sedari tadi aku berdiri di sini. Kau sendiri yang buta tidak melihat tubuhku yang ramping ini. Dasar pria buta, gila dan juga bodoh!" maki Laurent. Sontak pria itu langsung mendorong tubuh Laurent hingga membuat tubuh Laurent langsung terduduk di kursi kayu yang tersedia di teras Villa.


Kemudian pria itu mendekatinya, membuat Laurent memberontak untuk bangkit dari duduknya, namun pria itu langsung mengurung tubuhnya menggunakan kedua tangan kekarnya.


Pria itu kembali menundukkan pandangannya dan mulai mendekatkan tubuhnya agar lebih rapat dengan tubuh Laurent, membuat Laurent semakin marah sambil memberontak untuk lepas, namun usahanya sia-sia karena tubuhnya sudah dikunci dan tidak bisa terlepas dari kungkungngan pria itu.


"Jaga ucapanmu nona, karena bisa saja ucapanmu yang akan membawamu pada kehancuran." ucap pria itu tepat di telinga Laurent.

__ADS_1


"Aku tidak takut kepadamu pria gila! kau sungguh gila dan bodoh" tantang Laurent dengan tatapan sinisnya.


"Laurent! Alex! ada apa ini?" teriak seseorang yang berdiri di ambang pintu dan tidak lain adalah Keynand.


Refleks pria yang mengunci tubuh Laurent langsung menjauh dan bergerak cepat merapikan jasnya. Dan pria itu tidak lain adalah Alex, sekretaris sekaligus tangan kanan Keynand. Sedangkan Laurent langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang empunya, hingga seringai licik muncul diwajahnya.


"Pria gila ini kurang ajar, dia ingin me....." Laurent tidak melanjutkan ucapannya karena Alex langsung membantunya berdiri.


"Maaf tuan, ini hanya salah paham. Dia hampir saja terjatuh, saat aku mencoba membantunya, tiba-tiba kami jatuh bersama di kursi." ucap Alex membela diri sembari melirik Laurent yang juga meliriknya dengan memasang wajah masam.


Keynand sama sekali tidak menanggapi ucapan mereka.


"Alex!"


"Iya tuan" ucap Alex cepat.


"Kita perlu bicara di ruang kerjaku, ayo" ajak Keynand.


"Baik tuan." ucap Alex disertai anggukan kepala. Ketika akan melangkah, tiba-tiba saja Laurent mencekal tangannya.


"Masalah kita belum selesai pria gila!" ucap Laurent dingin dengan sorot mata tajam.


"Hemm, kita bisa lanjut setelah ini." ucap Alex santai sambil melepaskan tangan Laurent yang mencekal tangannya. Kemudian melenggang pergi mengikuti langkah kaki tuannya.


Sementara Laurent berdengus kesal, saking kesalnya dia terus meninju udara. Untungnya tidak satupun orang yang melihat tingkah lakunya sekarang, karena jika ada yang melihatnya, orang-orang akan berpikiran bahwa wanita cantik itu sedang dalam masa frustasi.


"Aku Laurent Estella Robinson, bersumpah tidak akan pernah mengampuni pria gila itu." ucap Laurent penuh keyakinan. "Kau akan menjadi bulan-bulanan ku pria gila!. Awas kau!" ucapnya dengan emosional. Lalu bergegas masuk ke dalam Villa dan melangkah cepat menuju kamarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2