
“Viona.”
“Lando?”
Viona mendekat pada pria yang berdiri di depan pintu kamar nenek Sara dan pria itu tidak lain adalah Lando.
“Ada apa?” tanya Viona dengan kening berkerut.
“Kemarilah, ikut denganku.” ucapnya mengajak Viona untuk mengikutinya ke dapur, Karena ada satu hal yang ingin disampaikan kepada wanita itu.
“Baik.” ucap Viona dengan anggukan kepala. Kemudian mengikuti langkah kaki Lando menuju dapur.
"Silahkan duduk" ucap Lando menarik kursi untuk diduduki oleh Viona.
"Terima kasih." ucap Viona tersenyum sambil mendaratkan bokongnya di kursi.
"Viona, aku minta maaf. Sekarang tempat persembunyian kita sudah di ketahui oleh mata-mata tuan Keynand." ucap Lando sambil mengatupkan kedua tangannya membuat Viona terdiam mendengar ucapannya. Andai saja pagi ini ia tak keluar membeli obat untuk sang nenek, mungkin mata-mata tuan Keynand tidak menemukan tempat persembunyian.
"Tidak apa-apa, jika memang kita kembali tertangkap dan terbunuh oleh pria kejam itu, aku sudah siap dan pasrah. Karena selama aku masih hidup, aku hanya mendapatkan perlakuan buruk dan menyusahkan banyak orang." ucap Viona tersenyum sambil menepuk lengan Lando. Ia akan siap menerima takdir.
"Tapi, kau belum merasakan yang namanya perasaan bahagia. Teruntuk seorang wanita, kau belum sepenuhnya menjadi wanita sempurna. Di cintai, melahirkan seorang anak hingga menjadi seorang ibu. Kau tidak boleh menyerah begini, perjalanan kita masih panjang, Viona. Bukan mereka yang menentukan kehidupan kita" ucap Lando memberikan nasihat kepada Viona. Sebagai teman, ia harus saling memberi semangat.
"Baiklah, aku mendengar ucapanmu ini, semoga saja masih ada jalan lain agar kita tidak tertangkap." ucap Viona sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Begitu dong, semangat." ucap Lando sambil menunjukkan senyuman jenakanya, membuat Viona tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah pria itu.
"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Alex." ucap Lando dan Viona menggangguk menanggapi ucapannya.
Perlahan Lando menjauh dari Viona. Karena ia akan menghubungi Alex.
"Apa!, kau meminta kami untuk segera berangkat. Tunggu, sebenarnya kau ada dimana sekarang?" ucap Lando di ujung telepon.
"Aku sedang ada urusan. Sebaiknya pergilah, kita bertemu di kota tujuan setelah urusanku selesai." ucap Alex di seberang sana.
"Tapi..."
__ADS_1
"Jangan sampai kalian tertangkap, terutama Viona. Kau harus melindunginya." peringat Alex. Hingga panggilan mereka terputus.
"Ayo Viona, kita harus berangkat sekarang juga, jangan sampai kita tertangkap." ucap Lando sambil menghampiri Viona.
"Lalu bagaimana dengan nenekmu, paman Gober?"
"Mereka akan tetap tinggal. Aku yakin anak buah tuan Keynand tidak akan pernah menyakiti keluargaku." ucap Lando.
"Ya sudah, kalau begitu kita berpamitan kepada Nenek dan pamanmu sebelum pergi." ajak Viona.
"Ya kau benar, ayo."
Mereka bergegas menemui nenek Sara dan Paman Gober untuk berpamitan sebelum pergi. Setelah itu mereka menyelinap keluar melewati pintu belakang, agar para mata-mata tuan Keynand tidak menyadari kepergiannya.
*
*
*
Laurent baru saja selesai membersihkan diri. Hanya mengenakan lingerie seksi, Laurent tampak seksi dengan raut wajah tampak segar. Ia melangkah anggun ke meja rias untuk memakai pelembab kulit.
Ketika sedang memakai lotion, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Laurent langsung membaluri permukaan kulitnya cepat, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya di atas nakas. Orang yang meneleponnya adalah sahabatnya.
Laurent yang tengah asik bertelepon ria dengan sahatanya sama sekali tak menyadari seseorang menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Orang it terus berjalan mendekat kearahnya. Laurent yang lebih fokus bertelepon, seolah larut dalam dunianya sendiri tanpa menyadari di sekitarnya.
“Selamat malam Nona Laurent!."
Refleks Laurent langsung membalikkan tubuhnya hingga kedua matanya membulat sempurna melihat pria yang pernah menjadi bulan-bulanannya melangkah mendekat ke arahnya.
“Se-sedang apa kau disini? Dan bagaimana bisa kau masuk ke dalam kamarku.” Ucap Laurent waspada dengan tubuh menegang melihat pria itu terus melanhkah mendekatinya. Ia pikir pria itu sudah mati di tangan Keynand.
Pria itu tidak menggubris ucapan Laurent, dia hanya menatap manik mata coklat Laurent hingga akhirnya mengambil ponsel di tangan Laurent.
“Kembalikan ponselku!.” Geram Laurent mencoba merebut ponselnya dari tangan Alex, namun Alex malah mempermainkannya dengan terus mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya yang memegang ponsel Laurent.
__ADS_1
Laurent mengepalkan tangannya melihat aksi Alex, karena tinggi badannya hanya sebatas dada Alex, sehingga ia kesulitan untuk menjangkau ponselnya yang berada di tangan Alex.
Andai saja ia menggunakan high hiels mungkin tinggi badannya bisa saja hampir seimbang dengan tinggi badan pria itu.
“Sialan!” kesal Laurent melihat Alex dengan santai memasukkan ponsel miliknya di saku jaketnya. Ia pun mengepalkan tangannya untuk melawan pria itu, namun mendadak Laurent melangkah mundur karena Alex menodongkan pistol tepat di kepalanya.
Laurent tidak dapat menahan ketakutannya, kedua kakinya gemetaran dengan wajah yang gugup.
“P…pria ba-bu, turunkan benda itu.” Ucapnya terbata-bata sambil berjalan mundur, sedangkan Alex terus maju selangkah demi selangkah mendekati Laurent sambil menodongkan pistol di kepala Laurent.
“Kau tahu apa kesalahanmu?. Bagaimana jika aku membunuhmu sekarang?” tanya Alex menyeringai dan merasa sedikit puas melihat ketakutan yang terpancar dari raut wajah wanita licik itu.
Tangan Alex menempel pada dinding, menyudutkan Laurent yang masih berusaha menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja, dibandingkan mimic wajah yang terlihat gugup, shock plus takut.
“Jangan asal bicara, aku bisa saja melaporkanmu kepada inspektur kepolisian atas tindakanmu persis pencuri yang masuk ke kamar orang. Bahkan hukumanmu akan berlapis-lapis hingga kau mati ataupun membusuk di dalam penjara.” Ucap Laurent dengan tegasnya.
“Ha ha ha, kau pandai juga bercanda. Itu sesuatu mustahil nona cerewet, sementara aku hanya menghitung jari saja sudah mampu meledakkan kepalamu ini yang pikirannya teramat licik!.” Ucap Alex diiringi gelak tawa sembari menunduk menatap wajah Laurent. Sedangkan Laurent berdengus kesal sambil buang muka yang diselimuti perasaan kesal karena posisinya sekarang sudah terjebak.
“Mommy, Daddy, ughhhh…” Laurent tidak melanjutkan ucapannya, karena Alex langsung menutup mulutnya. Laurent meronta, dengan cepat Alex mengunci tubuhnya di dinding.
"Emmm Mom..."
Laurent kembali meronta mencoba melepaskan tangan Alex yang mencekiknya kuat. Ia merasakan asan pada tenggerokannya dan merasa sesak hingga terbatuk-batuk ketika pria itu melepaskannya. Laurent kehilangan tenaga, ia lemah sambil menetralkan napas yang seolah kehabisan oksigan, hingga tubuhnya merosot ke lantai tepat di hadapan Alex.
Pria berambut ikal itu berjongkok dengan tatapan mata yang tajam menatap wanita yang terlihat lemah di hadapannya itu. Namun, sikap keras kepala dan pembangkan yang ditunjukkan wanita itu akan menimbulkan masalah baru bagi hidupnya, jika tidak menuruti perintah Alex.
“Jika kau tidak ingin berkata jujur di depan semua orang, kau akan mati.” Ancam Alex kepada wanita arogan nan licik itu.
"Ak-aku tidak tahu apa-apa." protes Laurent dan mencoba untuk mengelak. Namun Alex langsung menutup mulut Laurent menggunakan lakban hitam.
"Waktuku hampir habis, aku akan segera membawamu pergi untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu." tegas Alex lalu mengikat kedua tangan Laurent menggunakan lakban. Kemudian Alex mengangkat tubuh Laurent persis karung beras dan membawanya keluar kamar melewati jendela
Laurent terus memberontak untuk lepas. Namun sayangnya tenaganya tak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh pria babu itu. Ia di masukkan ke dalam mobil, lalu mobil melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa, like, love komen dan vote ya teman-teman 🙏 terima kasih 🙏🤗